Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 12 Sidang pertama


__ADS_3

"Itu mantan suamimu?" Tanya Kevin setelah memasuki mobilnya.


Dinda hanya mengangguk pelan, ia merasa malu dengan sikap Dimas yang selalu saja menghinanya. Seakan ia wanita paling tak berharga.


"Kenapa kau seperti bersedih? Sepertinya kau sangat bucin terhadapnya ya?" Ketus Kevin yang membuat Dinda geram, namun di tahan mengingat ia adalah bosnya.


"Memang saya terlihat seperti itu?" Tanya balik Dinda, yang menguat-nguatkan untuk tidak emosi.


"Yap, terlihat wajahmu tertekuk seperti itu. Pasti kau sangat bucin. Sangat menggelikan". Cibirnya membuat Dinda membelalak kesal.


'Dia ini, jika bukan karena menghormatinya sudah ku makan sejak tadi, di dalam restoran'. Batinnya mengoceh.


"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?" Tanya Kevin, karena Dinda berwajah menyeramkan.


"Bapak Kevin yang terhormat, bisakah Anda sedikit diam? Jika Anda terus mengoceh, saya takut khilaf". Ucapnya dengan menyeringai, masih menahan emosinya.


"Dasar bucin". Ejeknya kembali.


'Aaiihh.. Sangat menyebalkan'. Lirihnya dengan mengelus-ngelus dadanya.


**


Dimas kini terlamun mengingat pria yang bersama Dinda tadi. Hatinya terus bertanya-tanya tentang pria tersebut. Ingin rasanya ia mencari tahu tentangnya, namun ia terkendala dalam biaya. Uang tersebut harus ia gunakan dengan baik untuk mengelola usahanya kini.


Hal itu membuat Lidya kesal, sedari tadi ia berbicara namun tak dapat sahutan dari Dimas.


"Sayang.. Kamu dengerin aku bicara gak sih?" Geramnya dengan memanyunkan bibirnya.


"Eh.. Apa sayang?" Tanyanya yang terkejut.


"Kamu kenapa melamun terus? Apa karena mantan istrimu?" Tanya Lidya memojokan Dimas.


"Eng-enggak sayang, ngapain juga aku harus mengingat dia. Kurang kerjaan banget". Jawab Dimas berbohong, sambil memalingkan mukanya.


Lidya pun tak berkutik dan memilih diam. Perasaannya berubah menjadi masam, setelah pertemuan dengan mantan istri Dimas

__ADS_1


Dimas juga merasa aneh dengan hatinya, mengapa saat melihat Dinda dengan pria lain terasa ada yang berbeda? Atau mungkin hatinya masih terikat dengan cinta Dinda?


'Jangan sampai perasaanku mengganggu pikiranku, wanita itu hanya sampah di hidupku. Gak ada yang berarti sedikitpun di dirinya'. Lirih hatinya.


**


Hari pun cepat berlalu, saat malam tiba Dinda memilih untuk melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Suaranya merdu, membuat orang lain yang berlalu-lalang di depan kamarnya tertegun takjub mendengarnya.


Setelah selesai, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dinda pun menyimpan kitab suci tersebut, lalu bergegas menuju pintu.


"Bapak.. Ibu.." Panggilnya.


"Assalamu'alaikum Dinda, maaf mengganggu". Ucap Utami menyimpulkan senyuman di ujung bibirnya.


"Waalaikumsalam.. Tidak apa Bu, saya merasa senang dengan kedatangan kalian. Silahkan masuk". Ajak Dinda.


Mereka pun memasuki kamar kecil Dinda yang beralaskan tikar.


"Kedatangan kami, hanya ingin memberikan ini kepadamu". Ucap Utami dengan menyodorkan sebuah dokumen.


"Kami sudah mengubah beberapa aset yang akan di berikan kepadamu. Kami menyerahkan satu perusahaan dan satu rumah untukmu, tanda kasih sayang dari kami". Ucap Heru.


"Seharusnya Bapak dan Ibu tidak melakukan iti, aku sudah berjanji pada mas Dimas untuk tidak membawa apa-apa setelah berpisah. Dan begitu pun dengan mas Dimas yang melarangku untuk meminta apapun darinya, karena sebelum aku menikah dengannya, ia sudah bergelimang harta. Jadi tidak ada perjuanganku sedikitpun dalam harta tersebut". Jawab Dinda menolak.


"Kamu jangan memikirkan ucapan Dimas, ini bukan pemberian dia tetapi kami yang memberinya. Ini tanda kasih sayang kami". Ucap Utami dengan mengusap punggung Dinda.


"Iya, Nak. Dimas tak ada hak untuk melarangmu menolak semua ini. Apalagi sekarang kehidupanmu menyedihkan, yang harus bekerja sebagai cleaning service. Kami tidak ingin kamu seperti ini". Sambung Heru yang prihatin dengan keadaan Dinda.


"Maaf Pak.. Bu.. Tapi memang aku tidak bisa menerimanya. Dan masalah pekerjaan, bapak dan Ibu tidak usah khawatir. Saya sudah mempunyai pekerjaan yang layak, tidak seperti kemarin". Tolaknya sembari menenangkan mereka.


"Kenapa kamu terus menolak, Nak? Apakah sebegitu kamu bencinya terhadap Dimas? Hingga pemberian kami pun kamu tolak". Ucap Heru.


"Bukan begitu Pak, aku hanya ingin mencari kesuksesanku tanpa bantuan orang lain". Tegasnya meyakinkan mertuanya.


"Kamu memang anak yang baik, sangat di sayangkan Dimas tak melihat sisi baikmu, Dinda". Ucap Utami yang memeluk Dinda.

__ADS_1


"Sudahlah Bu, semuanya sudah berlalu. Semuanya sudah menjadi takdirku, aku sudah ikhlas". Ucap Dinda.


Perasaan mereka seperti tak ikhlas dengan kepergian Dinda dari kehidupannya, seakan melepaskan berlian yang sangat mahal. Dan entah itu akan tergantikan kembali, atau kah terganti dengan batu kerikil saja.


Setelah perbincangan selesai, Utami dan Heru berpamit pulang. Mengingat waktu yang semakin larut. Dinda hanya menatap kepergian mereka, rasanya ia pun sama berat dengan kepergiannya. Terlebih Dimas mempunyai orang tua yang sangat baik terhadapnya.


"Maafkan aku Pak, Bu.. Kata-kata mas Dimas terlalu menyakitkan, aku tak ingin menjadi bahan hinaanya jika menerima pemberian kalian. Biarlah aku menderita terlebih dahulu, kemudian kesuksesan akan berakhir di depan mata". Lirihnya pelan.


**


Hari persidangan pun tiba, setelah Dinda mendapatkan izin dari Kevin, ia pun bergegas pergi.


'Kenapa dia penampilannya berbeda? Apa sengaja ia mencoba untuk menggodaku? Ya, pasti dia ingin menggodaku'. Lirih hatinya.


Pandangan Dimas terbelalak melihat penampilan yang berbeda pada Dinda, biasanya ia terlihat kucel dan tak terurus. Namun kini ia terlihat seperti dulu saat mereka pertama bertemu.


Meskipun berdandan tipis, namun bisa membuat Dimas merasa pangling melihatnya. Balutan pakaian yang Dinda kenakan, seperti seorang wanita karir yang terlihat anggun dan elegan.


"Aku berharap, kamu jangan mempersulit perceraian kita. Jika kamu merasa menginginkanku lagi, jangan harap masa itu akan kembali". Ujar sombong Dimas.


"Tidak Mas, lagian yang meminta perceraian 'kan aku. Jadi jangan khawatir, aku akan pergi jauh-jauh dari kehidupanmu". Balas Dinda sangat acuh.


Agenda sidang pertama mereka adalah agenda mediasi, dimana mereka di pertemukan untuk saling mengingat kenangan kisah cinta mereka dulu. Mereka akan dimintai kembali untuk mempertimbangkan rencana perceraiannya.


Namun dengan tegas, mereka menolak membatalkan perceraian. Meski sudah berkali-kali mediator membujuk mereka berdua untuk mempertimbangkannya.


"Saya sudah merasa bosan terhadapnya, jadi tidak akan ada lagi pertimbangan untuk itu". Ujar Dimas mencibir Dinda.


"Saya tidak menginginkan kembali pada lelaki yang tak bisa menghargai dan berselingkuh terhadap saya. Lebih baik saya memilih berpisah demi kelangsungan masa depan saya". Balas Dinda.


Sidang mediasi hari ini diakhiri dengan perseteruan yang sengit, dan akan dilanjutkan sidang mediasi kedua dipekan depan.


keduanya menginginkan perceraian dan tak ada harapan untuk mereka bisa kembali lagi. Namun mediator hanya berharap di sidang mediasi kedua, mereka bisa mengurungkan niatnya untuk bercerai.


Meskipun Dimas terlihat menginginkan perceraian, namun dadanya serasa tak mau menerimanya. Seakan penyesalan masuk menyeruak hatinya.

__ADS_1


'Perasaan apa ini? Dia bukan wanita berharga. Lidya lebih baik daripada wanita itu'. Lirihnya frustasi dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2