Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 7 Identitas Dinda


__ADS_3

Selesai meeting, Kevin pun kembali ke ruang pribadinya. Selang beberapa menit, terdengar ketukan dari luar.


Saat ia mempersilahkan masuk, datanglah seorang pengawal bernama Jack. Yang di tugaskan untuk mencari identitas wanita yang ia maksud tadi.


"Permisi Tuan, saya ingin menyampaikan informasi yang tadi Tuan minta". Ucap pengawal tersebut.


"Cepat katakan". Jawab dingin Kevin.


"Wanita tersebut bernama Dinda Amelia, mantan istri dari Dimas Candra Adhinatha. Yang memimpin perusahaan Adhinatha Corporation. Sebelum menikah, wanita tersebut menjadi sekretaris di perusahaan tersebut selama kurang lebih tiga tahun". Jelas Jack membuat Kevin sedikit melamun.


"Adhinatha? Kenapa perusahaan itu serasa tak asing di telingaku?" Tanya Kevin.


"Pasti tidak asing lagi untuk Tuan, karena beberapa tahun lalu Anda pernah menjalin kerja sama dengannya. Saat itu masih di pimpin oleh Pak Heru Adhinatha, orang tua Dimas Candra".


Jelasnya kembali, membuat Kevin sedikit melamun teringat saat ia bertemu dengan Dinda beberapa tahun yang lalu.


'Dia itu sekretaris yang handal waktu itu. Terlihat saat ia mewakili Pak Heru presentasi, gaya bahasanya terlihat profesional. Tapi kenapa wanita itu hanya di terima sebagai cleaning service?' Gumamnya dalam hati.


"Siapa yang menerima Dinda sebagai cleaning service?" Tanya Kevin.


"Itu bagian dari pekerjaan Pak Rizal, Tuan". Ucap Jack.


"Panggil dia ke ruanganku sekarang". Perintahnya.


**


Tanpa menunggu lama, seorang pria yang bernama Rizal memasuki ruangan Kevin. Ia sangatlah gugup, karena Kevin sudah terkenal dengan pimpinan perusahaan yang tegas.


Jika ada kesalahan sedikit saja, ia tak segan untuk memecat langsung pegawainya. Karena ia membutuhkan pegawai yang tekun dan bersungguh-sugguh dalam bekerja.


"Maaf Pak, Anda memanggil saya?" Tanya Rizal yang gugup.

__ADS_1


"Kenapa kamu memperkerjakan Dinda sebagai cleaning service?" Tanya Kevin dengan suara tegas.


"Kamu yang pertama melihat berkas Dinda, sudah jelas dia lulusan apa? Belum lagi dia mempunyai pengalaman yang luas sebagai pegawai, apa ada kekurangan lain?" Sambungnya dengan sedikit memojokkan Rizal.


Rizal yang begitu ketakutan, bingung untuk menjawab apa. Pasalnya ia telah di iming-imingi sejumlah uang yang menurutnya besar oleh seorang pria, agar ia tak menerima Dinda bekerja di perusahaan tersebut.


"JAWABB!!" Bentak Kevin yang sudah mulai curiga dengan gelagat Rizal.


Rizal hanya menunduk tegang, tak mau membuka suara meskipun Kevin semakin geram terhadapnya.


"Jika dia tak mau menjawab, beri saja dia hadiah yang akan membuatnya terkesan". Perintah Kevin dengan senyum smirkn-nya.


"Jangan Pak, jangan.. Baik saya akan menjawabnya. Tapi tolong, jangan apa-apakan saya". Ucap Rizal yang kini tengah panik dan ketakutan.


"Sebelum Dinda datang ke perusahaan ini, ada seorang pria yang menemui saya. Dia meminta saya menolak Dinda untuk bekerja disini dan dia memberi saya uang. Walaupun saya sudah menerima uang tersebut, namun saya tidak berani menyentuhnya". Jelas Rizal yang semakin menunduk dan tak berani menatap Kevin.


"Kau memang tak pantas untuk bekerja di perusahaanku. Jadi pergilah dari sini, saat ini juga kau ku pecat". Geram Kevin, namun masih menampakkan wajah santainya.


Rizal hanya pasrah dengan keadaannya kini, ia menyadari kesalahannya. Masih ada baiknya ia hanya di pecat dengan keadaan tubuh yang masih utuh, tanpa polesan warna memar di tubuhnya.


**


Sesampainya ia di sebuah rumah megah milik orang tuanya, ia pun bergegas memasuki rumah tersebut. Lalu mencari-cari keberadaan orang tuanya.


"Pak.. Buu.. Pak.. Buu.." Panggilnya sambil mencari-cari ke setiap sudut ruangan dengan sedikit berlari.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Heru, yang membuat Dimas terkejut.


"Pak, aku mohon jangan keluarkan aku dari perusahaan itu. Perusahaan itu adalah masa depanku". Ucap Dimas tanpa basa-basi.


" Jika kamu kesini hanya ingin membahas soal itu. Kamu hanya sia-sia. Karena Bapak sudah memikirkannya dengan sangat matang, kamu tidak berhak menolak saya". Tegasnya membuat Dimas semakin berdecak kesal.

__ADS_1


"Apa ini gara-gara wanita brengs*k itu? Kenapa bapak bisa membedakan antara aku dengan Dinda?" Tanyanya.


"Sampai sini kamu belum juga paham tentang keputusanku? Kau memang tidak tahu diri". Ucap Heru sedikit mencibir.


"Tapi memang benar 'kan?" Tanyanya ingin menyudutkan Heru.


"Memang benar. Lebih baik saya mengaku mantuku menjadi anak, dari pada mengakumu yang memang anak kandungku. Meskipun Dinda hanya sebatas mantu, tapi dia tidak mempunyai sifat bejad sepertimu. Seberapa sabar saya terhadapmu, dulu apapun yang menjadi keinginanmu saya turut kan dan tidak mempermasalahkan. Tapi sekarang, kesabaran saya sudah habis saat melihat kejadian menjijikan seperti tadi". Ujar Heru yang semakin geram.


'Degg!!'


ucapan Heru membuat Dimas sangat tersinggung. Bagaimana tidak, ia membanding-bandingkannya dengan Dinda. Orang yang ia sepelekan, namun di anggap istimewa oleh orang tuanya.


"Sekarang kamu bisa angkat kaki dari sini, saya muak melihat wajahmu. Sebelum kamu berubah, jangan harap saya mau mengakui kamu sebagai anak saya". Tegas Heru, hingga Dimas keluar tanpa berbicara lagi walau ia mendengus kesal.


Utami yang kini terlihat iba terhadap anaknya, sempat mampertimbang kan hal tersebut dengan Heru. Namun Heru bersikeras untuk tegas terhadap Dimas.


"Ibu jangan khawatir, Bapak bukannya tega terhadap Dimas. Hanya saja ia butuh belajar dengan masalah ini, agar dia berubah menjadi lebih baik". Jelas Heru dengan memeluk istrinya.


**


"Bil, aku semakin gak tenang nih.. gimana nasibku yang harus berhadapan dengan Pak Kevin?" Ucapnya dengan sedikit gusar.


"Ternyata kamu menghafal namanya dengan sangat mudah. Aku curiga kamu pun akan menjadi sainganku untuk mendapatkan hati pak Kevin". Ujarnya dengan cengengesan.


"Apaan sih kamu, ngaco. Aku curhat beneran nih, kamu ko gak respon aku sih. Bagaimana sih jadi temen, mau aku pecat kamu jadi temanku?" Kesalnya pada Bila.


"Kamu tenang saja, meskipun pak Kevin gitu sifatnya. Tapi ia tak akan menyakiti wanita, apalagi wanita itu cantik seperti aku. Hahaha". Ucap Bila yang semakin random.


"Kamu ini, bisa aja ngehibur temen. Makin sayang deh sama kamu. Tapi aku lebih terhibur jika kamu juga terdzolimi seperti ini. Haha". Ucap Dinda sembari tertawa dengan menyemprotkan air ke wajah Bila, dengan semprotan yang biasa ia gunakan untuk membersihkan kaca.


"Aahh wajah glowingku.." Teriak Bila dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Dinda hanya bisa tertawa melihat wajah temannya yang kini basah. Meskipun awalnya ia merasakan sedih dengan bekerja sebagai cleaning service, tapi dengan adanya Bila, ia semakin menampakkan wajah cerianya.


Setelah menikah dengan Dimas, ia jarang sekali berkomunikasi dengan temannya apalagi sampai keluar rumah untuk bertemu dengan beberapa temannya. Ia merasa terkekang, namun berbeda dengan sekarang yang seperti menikmati kehidupan. Walaupun bertubi-tubi masalah mendekatinya.


__ADS_2