
"Kenapa Daddy kasar terhadap Mommy?" Tanya Amelia, ia heran kenapa Jonathan bisa sekasar ini terhadap Elena.
"Kau masih bertanya setelah aku menjelaskan semuanya? Kau memang sama seperti dia". Balas Jonathan sambil menunjuk Elena. Seharusnya Amelia harus mengerti mengapa Jonathan masih geram dengan Elena. Namun perasaan seorang anak terhadap orang tuanya pasti ingin yang terbaik, bukan saling menyakiti seperti ini.
"Tapi kalian sudah hidup bertahun-tahun, kenapa kau tega menghapus kepercayaanmu terhadap Mommy". Ucap Amelia yang masih tak terima dengan prilaku kasar Jonathan.
"Karena aku baru menyadari, kenapa dia bisa sesabar itu menanti hari itu tiba. Dia selalu berusaha mencari cara untuk kembali dekat dengan William, mantan pacarnya dulu dan menendangku saat aku tak lagi ia butuhkan". Jelas Jonathan. Seketika Amelia mematung setelah mendengar penuturan Jonathan, antara bingung dan sayang terhadap keduanya membuat hatinya berkecambuk tak menentu.
"Benarkah itu, Mom?" Tanya Amelia terhadap Elena. Kepercayaan Amelia sedikit memudar akibat penjelasan dari Jonathan, entah mengapa ia melihat ada sesuatu kebohongan di mata Elena.
"Tidak Sayang, Daddy mu hanya cemburu terhadap Mommy. Ini hanya salah paham". Ucap Elena, mengelak.
Amelia ingin sekali mempercayai Elena, namun entahlah hatinya kini terasa berbeda setelah mendapat penjelasan dari Jonathan.
Ruangan tersebut terasa hening seketika, rasanya enggan untuk berbicara. Sementara Jonathan hanya menjauh dari dua wanita itu, rasanya jika memandang kembali raut wajah Elena, mungkin saja kekerasan fisik akan terjadi kembali. Bukan hanya bau ruangan bangkai tikus yang menjadi penyebab masalah hari ini di keluarga Jonathan, tetapi bau masalah yang tak bisa di selesaikan pun ikut tercium.
**
Di sepanjang jalan perjalan, Dinda telihat bahagia bersama Kevin. Ia nampak tertawa dengan lepas ketika Suaminya bertingkah lucu dihadapannya.
'Sungguh tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata kebahagiaan ini'. Gumam Dinda sambil mengeratkan tangannya yang memegang tangan Kevin.
Senyuman yang Dinda terbitkan pun membuat Kevin mengerti tentang perasaannya kini. Ia pun segera mengecup kening Dinda dengan lembut, lalu mengusap-usap pucuk kepalanya dengan lembut pula.
'Aku akan tetap mempertahankan senyuman itu. Semoga kau bisa membuang semua rasa traumamu dulu, dan mari melangkah bersamaku menuju kebahagiaan yang abadi'. Ucap hati Kevin, entah hanya sebuah ucapan ataupun janji dalam isi kata-katanya tersebut. Tetapi ia selalu berharap untuk membahagiakannya.
**
"Kau harus kerja! Kau harus bisa memberiku uang. Jika tidak adikmu akan ku korbankan demi kelangsungan hidupku". Ucap Ayahnya.
__ADS_1
"Kak, tolong aku. Aku tidak mau menjadi korban dari kejahatan Ayah, tolong lepaskan aku". Pinta Kayla dengan memelas kepada Fania.
"Ayah, jangan lakukan itu. Biarkan Kayla bahagia untuk menjalani kehidupan remajanya. Jangan biarkan dia menderita, aku mohon". Teriak Fania sambil menarik Kayla yang di bawa paksa oleh Ayahnya.
Namun meskipun ia menarik sekuat tenaganya, Kayla tidak berhasil di pertahankan oleh Fania. Kuatnya tenaga Ayahnya membuat Fania malah jatuh tersungkur, saat hendak menarik Kayla.
"Tidak, jangan Ayah.. Jangan bawa dia". Teriak Fania dengan histeris. Hatinya sakit, jiwanya tersiksa ketika melihat Adiknya di seret dengan paksa oleh Ayahnya. Fania tidak bisa menyelamatkannya, ia hanya bisa terisak dengan tangisan dan menyalahkan dirinya sendiri.
"TIDAKKK.." Teriaknya kembali seketika terbangun dari tidurnya.
Ya, itu hanya mimpi namun terlihat nyata untuk sekedar mimpi. Kekhawatirannya membuat semua masalahnya ikut dalam sebuah mimpi.
Zidan yang melihat itu langsung tersentak dan khawatir, perasaannya benar jika kini Fania tengah berada dalam masalah besar. Tetapi sampai saat ini ia belum mengetahui apa masalah yang Fania hadapi. Ia segera menghampirinya dan memeluk erat tubuh Fania.
"Kau aman denganku". Bisiknya sambil mengeratkan pelukannya.
Awalnya Fania belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, namun setelah ia merasakan jika ini bukan lagi sebuah mimpi akhirnya teriakannya lolos kembali.
"Hei tenanglah, aku hanya ingin menenangkanmu dari mimpi buruk itu". Jawab Zidan. "Sini, aku akan memelukmu kembali". Sambungnya dengan wajah yang tak berdosa. Tangannya kembali merentang, lalu mendekati Fania kembali, berharap Fania akan kembali berada dalam pelukannya.
Fania dengan cepat mencubit pinggangnya, sampai Zidan pun meraung kesakitan. Kepercayaan dirinya untuk berada di dalam pelukannya pun pudar, karena wanita itu malah berlaku kasar terhadapnya.
"Kau ingin mencuri kesempatan dariku, dasar mesum". Cebiknya.
"Aku sudah mengatakannya, bahwa aku ingin membuatmu tenang. Kau harus percaya itu, tapi aku lihat tadi kau juga menikmati pelukan bersamaku". Ejeknya.
"A-aku.. Emmhh.. Tidak.. Aku belum sadar sepenuhnya tadi, pokoknya kau pria mesum". Balas Fania sambil menjauhkan jarak dengan Zidan.
"Memang kalau wanita itu terlihat menjaga sikap, tapi dalam hatinya meronta-ronta ingin di peluk. Apalagi oleh pria seganteng aku". Jawab sombongnya dengan merapihkan rambut yang sedikit berantakan.
__ADS_1
"Terlalu percaya diri kau ini, mau aku cubit kembali?". Ancam Fania, sampai Zidan pun bergidig ngeri.
"Kau terlihat seperti preman". Cebiknya. Membuat Fania terkekeh mendengarnya.
**
Dinda kini telah sampai di tempat tujuan, sebelum memutuskan untuk jalan-jalan mereka memasuki terlebih dahulu sebuah vila yang berada di dekat pantai. Sehingga pemandangan pantai tersebut pun bisa terlihat dari dalam vila yang mereka tempati.
"Ini sangatlah indah, apalagi melihat orang yang tengah berada di sampingku". Ucap Dinda dengan tersenyum. Kevin membelalakan mata tak percaya, bisa-bisanya Dinda yang begitu pemalu mencoba menggodanya saat ini.
"Coba satu kali lagi kau ucapkan, aku ingin mendengarkannya kembali". Jawab Kevin. Ia sangatlah senang dengan ucapan Dinda tersebut, ia bisa mengartikan bahwa sosoknya saat ini benar-benar telah menjadi keindahan di diri Dinda.
"Tidak ada kata ulang". Ucap Dinda.
"Apa aku harus memaksamu, agar kau bisa mengulang kembali ucapanmu?" Ancam Kevin.
"Apakah kau sedang mengancamku?" Tanya Dinda dengan sedikit menantang.
"Oh, jadi kau berencana menantangku, ya? Siap-siaplah menjerit keenakan". Jawab Kevin dengan berbisik.
Tanpa basa-basi, Kevin kembali melahap bibir Dinda yang manis dengan sedikit brutal. Kemudian ia menariknya kearah tempat tidur mereka dan menguncinya dengan menindih Dinda di bawah.
Dinda sadar jika Kevin akan berbuat nakal terhadapnya, ia langsung memberontak dan berharap Kevin akan menyingkir dari tubuhnya. Namun ternyata Kevin sudah tidak bisa melepaskan Dinda, ia malah semakin buas menikmati keindahan yang ada pada diri Dinda.
"Kau curang, berniat sekali membuatku kelelahan setelah menikah". Ucap Dinda.
"Kau yang membuatku lupa diri, sehingga aku tak bisa melewatkan sisi keindahan mu saat ini". Jawab Kevin dengan tersenyum.
"Gombal.." Balas Dinda.
__ADS_1
Tak bisa di pungkiri, mereka kembali terbuai akan permainan itu. Mereka seakan tak pernah puas untuk menggambarkan betapa romantisnya kehidupan baru mereka saat ini. Dan itu yang selalu mereka berdua impikan sebelum menikah.