
Kevin sedikit menggeliat setelah sadar dari pingsannya, ia merasakan ada sosok tangan yang menggenggam tangannya yang ternyata itu adalah istrinya. Ia tersenyum lebar setelah mengetahui jika Dinda telah menunggunya semalaman.
Kevin meraih tubuh Dinda, dan merebahkan Istrinya di atas tempat tidur. Ia terus memperhatikan wajah Dinda yang tengah terlelap dalam tidurnya, begitu terlihat tenang dan damai.
'Ahh, si*l! Dia terlalu menggemaskan'. Gerutunya dalam hati.
Setelah kejadian semalam, untung saja mereka selamat. Meskipun beberapa pengawal terluka parah akibat insiden tersebut. Dan kerja keras mereka berbuah hasil, Dinda dan kedua orang tua Kevin selamat tanpa ada luka gores sedikit pun di tubuh mereka. Hanya rasa trauma yang tersisa kini.
**
Dinda mengerjapkan mata, ia terbangun dari tidurnya. Hanya saja kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Ia merasakan hembusan angin kecil ke arah wajahnya. Saat matanya terbuka, ia menangkap sosok pria yang selama ini ia khawatirkan.
'Kenapa aku bisa tidur di sebelahnya?' Gumamnya dalam hati. Ia segera beranjak dari tidurnya, karena tak mau mengganggu Suaminya yang tengah beristirahat untuk memulihkan lukanya.
"Tidurlah lagi, kau masih perlu istirahat". Ucap Kevin. Hal itu membuat Dinda langsung menoleh, matanya terlihat berembun menahan tangisan.
"Ka-kamu sudah sadar?" Ucapnya dengan terbata. Ia langsung memeluk Kevin tanpa memikirkan rasa malunya, saking kegirangan. "Aku khawatir melihatmu terluka seperti itu". Ucapnya kembali.
"Kau lupa Suamimu? Dia bukan hanya tampan, tetapi juga pria tangguh dan pemberani". Jawabnya dengan sombong. Dinda langsung menatapnya sinis, bisa-bisanya pria tersebut begitu percaya diri di saat ia tengah terluka seperti ini.
"Ini hadiah untukmu, karena membuatku khawatir". Ucap Dinda sambil mencubit perut Kevin, rasa kesal dan bahagia menyelimuti hatinya. Namun karena kepercayaan diri Kevin sangat tinggi, membuat Dinda sedikit geram.
"Aww.. Iya, iya. Maafkan aku, tapi ini semua karena salahmu". Jawabnya sambil mengaduh kesakitan.
"Salahku?" Tanya Dinda, kebingungan.
"Iya, salahmu. Karena wajahmu begitu menggemaskan ketika mengkhawatirkan ku". Cicitnya sambil cengengesan.
"Kamu.."
Dinda semakin kesal di buatnya, Suaminya itu terkadang sangatlah menyebalkan. Ternyata tampang dinginnya hanya berlaku untuk orang lain, tidak untuk Istri mungilnya.
Dinda ingin kembali mencubitnya, namun Kevin meraih tangannya dan langsung menariknya. Sehingga ia terjatuh di atas dada bidang Kevin, dengan wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
__ADS_1
Karena keberuntungan mengarah ke Kevin, ia pun langsung merengkuh Dinda dengan erat. Dan benar saja, gadis mungilnya tak bisa bergerak ataupun memberontak. Meskipun hanya dengan satu tangan, tetapi tenaganya tak sebanding dengan gadis mungilnya. Secepat kilat, ia ******* bibir yang sedari tadi terus menggodanya.
'Setelah menikah, dia sangatlah mes*m'. Gerutu Dinda dalam hati.
**
"Siapkan penerbangan untukku, aku harus berangkat sesegera mungkin". Ucap seorang wanita yang berpenampilan modis, dengan rambut yang terurai berwarna keemasan.
"Baik, Nona". Ucap asisten pribadinya.
Lalu ia memandang sosok pria dalam sebuah foto yang ia genggam. Perlahan ia mengusapnya dengan lembut, sudut bibirnya tersenyum tipis.
"Sebentar lagi, kita akan bertemu. Tunggu kedatanganku". Lirihnya pelan. Entah apa yang ia rencanakan saat ini.
**
"Apakah kalian tidak bisa menahannya? Sampai kedatangan kami pun, kalian tidak menyadari". Gerutu Alisha, ketika melihat sepasang pengantin baru yang saling berpanggutan menyalurkan kasih sayang.
Kevin berdecak kesal, bagaimana bisa mereka selalu merecoki kemesraannya bersama Sang Istri?
'Rasanya aku ingin tenggelam ke laut yang paling dalam'. Lirih dalam hatinya, menahan malu.
"Mom, kita sudah menikah. Apakah kalian tak ingin menimang seorang cucu?" Tanya Kevin yang menunjukkan wajah malasnya. Dinda segera beranjak dari tempat tidurnya, hendak memasuki bilik air. Hanya dengan itu ia menghindari rasa malunya.
"Sayang, aku juga ingin menggunakan toilet. Apa kau keberatan jika memegangiku? Aku takut tiba-tiba merasa pusing di dalam sana". Ucapnya sambil memegang tangan Dinda.
Alisha dan William hanya saling menatap, entah apa lagi rencana licik yang ada di pikiran putranya tersebut.
"Sejak kapan kau begitu lemah karena satu peluru? Sebelumnya bahkan lebih parah, tetapi tidak selemah ini". Sindir William.
Kevin mendengus kesal, orang tuanya memang tidak bisa di ajak kompromi. "Ini sangat sakit, Dad". Jawabnya sambil memutar bola mata malasnya. Dinda pun menemani Kevin ke dalam toilet
"Penyakit bucinnya semakin menjadi, Mom". Ucap William.
__ADS_1
"Iya, Dad. Sikapnya yang beku sudah mencair oleh gadis itu". Jawab Alisha sambil menghela nafas.
Mereka pun akhirnya meninggalkan kamar Putranya, memperhatikan sikap Kevin terus menerus membuat mereka sedikit pusing.
**
Fania tak mau berlama-lama menjadi pasien Rumah Sakit, sehingga hari ini ia pulang. Walau sebenarnya, Dokter tak mengizinkannya. Sikapnya yang bebal, membuat Zidan kewalahan.
"Baiklah, kau pulang. Tapi, harus istirahat total. Jangan dulu berkeliaran". Ucap Zidan, seperti tengah menceramahi anak kecil untuk patuh terhadapnya.
'Berkeliaran? Aku di samakan dengan hewan'. Dalam hatinya mencebik.
Fania tak menyahut, ia memutar bola matanya. Sedikit pun kata-kata Zidan tak ada yang masuk. Dalam pikirannya, ia ingin segera menyelesaikan masalahnya kali ini.
**
Setelah menempati kosan kecilnya, Fania menatap samar langit-langit kamarnya. Ia harus segera mendapatkan adiknya agar berada di sisinya lagi. Selama ini, entah kenapa Ayahnya tak memberi izin untuk bertemu adik kesayangannya itu.
"Apa yang terjadi denganmu, Kayla? Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui tentangmu selama ini?" Gumamnya, air matanya kembali menitik. Rasa sayangnya tak bisa ia kendalikan, sehingga kecemasan pun terasa di hatinya.
"Baiklah, jika Ayah tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu. Maka aku sendiri yang akan mencari tahu apa yang Ayah tengah sembunyikan dariku". Gumamnya kembali, dengan tatapan tajam yang penuh kebencian.
**
Pagi-pagi sekali, Fania sudah berada di depan rumah Ayahnya. Untung saja di depan rumahnya terdapat warung kopi yang ramai pembeli, sehingga ia tak harus ribet untuk bersembunyi agar tak ketahuan. Cukup memakai masker, semua orang tak dapat mengenalinya.
Di jam-jam seperti ini, seharusnya Kayla akan keluar dari rumah tersebut untuk pergi ke sekolah. Namun kediaman Ayahnya, nampak sepi dan tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di dalamnya.
'Aneh, kenapa Kayla tak juga keluar? Seharusnya dia pergi ke sekolah, kemana dia?' Ucapnya dalam hati, merasa bingung.
Ia pun menunggunya selama beberapa jam, namun masih tak ada pergerakan dari orang dalam rumah. Hatinya bertanya-tanya, dan menyesali kenapa dulu ia tak pernah tergerak hati untuk mencari tahu hal itu.
Namun tiba-tiba, mobil mewah berhenti tepat di depan rumah yang di tempati Ayah dan juga adiknya. Sosok wanita berpakaian sexy turun menuju rumah tersebut, lalu terlihat mengetuk pintu.
__ADS_1
Fania memfokuskan diri untuk melihat siapa wanita itu, kacamata yang di pakainya membuat Fania sulit untuk mengenalnya.
"Kayla.." Lirihnya setelah wanita tersebut membuka kacamatanya dan berjalan ke dalam rumah tersebut.