
"Sepertinya aku menyerah, kau bisa 'kan membatalkan perjanjian itu? Wanita ini sangatlah tidak bisa di dekati dengan sembarangan". Ucap Rio dari sambungan telpon yang ia dekatkan di samping telinganya.
"Boleh saja, tapi kau harus melihat video yang aku kirimkan kepadamu. Kau yakin akan menyerah begitu saja?" Ucap seorang wanita yang berada dalam sebuah panggilan telpon.
"Si*l, kau mengancamku?" Bentak Rio. Ia pun segera mematikan sambungan telpon tersebut dan memeriksa pesan masuk di ponselnya.
Dalam video berdurasi beberapa menit itu, memperlihatkan dua sosok wanita yang di ikat dalam kursi yang berbeda. Mereka histeris ketakutan saat seorang pria tengah memegang pisau kecil yang di arahkan ke leher mereka berdua secara bergantian.
Rio menekan rahangnya dengan keras, tangannya mengepal dan matanya berubah merah.
'Dasar wanita rubah, apa yang sebenarnya dia inginkan?' Umpatnya dalam hati.
Rio kembali menghubungi nomor wanita yang mengancamnya, ia merasa perkenalannya saat itu adalah jebakan. Dan kini semuanya pun benar-benar terjadi, Rio tidak bisa berbuat apa lagi karena di belakang wanita tersebut masih ada orang-orang besar yang melindunginya.
"Apa mau mu sekarang?" Tanya Rio saat panggilan tersebut tersambung.
"Aku ingin dia dalam beberapa hari ini, kau harus membawanya kepadaku. Apapun caranya aku tidak peduli, juga jangan biarkan dia mat* dulu". Ucapnya dengan nada tegas.
"Baiklah, hanya saja beri aku waktu. Hal ini tidak mudah, ada seseorang yang selalu menjaganya. Aku harus bisa berhati-hati". Rio hanya bisa menyetujuinya, ia tidak bisa berbuat apapun lagi. Nyawa Ibu dan Adiknya terancam dalam bahaya.
Wanita itu lalu mematikan panggilan sepihak, hal itu membuat Rio semakin gusar. Ia tidak mau Ibu dan Adiknya terluka, apalagi sampai harus kehilangan nyawa.
**
__ADS_1
Amelia kembali ke mansion Kevin setelah hari menjelang sore, ia tersentak ketika melihat kedua orang tua Kevin berada di mansion tersebut dengan menatap tajam ke arahnya.
Ia pun membalas tatapan orang tua Kevin dengan malas, rasanya ia sudah seperti ratu di mansion tersebut. Ia tak berpikir jika statusnya kini belum berpengaruh terhadap kekuasaan milik Kevin.
"Akhirnya kau datang, dari mana saja, hah?" Tanya Alisha dengan suara agak tinggi.
"Maaf, Tante. Tapi dalam beberapa hari lagi aku akan menjadi istri sah Kevin. Dan kau pasti tahu, harta suamiku adalah hartaku juga. Jadi aku punya kekuasaan di mansion ini. Lalu apa kalian mempunyai hak untuk mengatur seorang pemilik rumah di sini?" Ucap Amelia dengan angkuhnya.
Alisha dan William hanya bisa saling bertatap, dari tatapan itu mereka mempunyai pemikiran yang sama. Kenapa Kevin bisa-bisanya menyerahkan kebahagiaannya begitu saja terhadap seorang wanita rubah sepertinya? Padahal Alisha lebih baik mendekam di penjara seumur hidupnya, daripada mempunyai seorang menantu licik seperti Amelia.
"Jangan mimpi kamu Amelia, kamu masih calon istri bukan istri sahnya. Lagian Kevin juga terpaksa menikahimu, aku tidak pernah melihat adanya cinta di matanya". Ucap Alisha.
"Cinta akan datang dengan sendirinya, walaupun datangnya cinta akan terlambat, tapi itu tidak akan mejadikanku masalah. Lagian Kevin harus membayar sendiri ulah dari Ibunya yang telah membun*h Ibuku. Dan pembun*h itu tida merasa bersalah sama sekali, sangat konyol bukan?". Balas Amelia yang merasa ia adalah pemenangnya.
"Tidak menjadi masalah, ya? Tapi kalau pernikahanmu tiba-tiba batal karena ketidak cintaan Kevin terhadapmu bagaimana? Semua itu karena aku di jebak, aku bisa membuktikan hal tersebut nanti di persidangan, jika kalian bersedia bersekongkol antara Ibu dan Anak, kalian mengetahui hukumannya 'kan?" Ejek Alisha yang tidak mau kalah.
"Coba saja.." Tantang Alisha.
"Baik, akan ku buktikan". Jawab Amelia.
"Bukti apa?" Tanya Kevin dari belakang mereka, ia tiba-tiba datang dan mendengar beberapa perdebatan mereka.
"Honey, mereka menyumpahi pernikahan kita, katanya pernikahan kita akan tiba-tiba batal. Pokoknya, aku mau mereka di usir dari mansion ini. Aku tidak mau mereka menyumpahi hal buruk lagi tentangku". Ucap Amelia sambil bergelayut manja di lengan Kevin.
__ADS_1
Dengan menghela nafas, Kevin menatap kedua orang tuanya. "Maaf Mom, Dad. Malam ini telah aku siapkan sebuah penginapan khusus untuk kalian. Jadi aku mohon, kalian bermalam lah di sana". Ucap Kevin, membuat mata kedua orang tuanya membulat tak percaya.
"Kamu sudah tidak waras, Kevin?" Bentak Alisha yang merasa tidak terima dengan kekalahannya.
"Kamu tidak tuli 'kan? Calon suamiku menginginkan kalian pergi, sana pergi". Usir Amelia.
"Tapi.." Ucap Alisha terhenti.
"Sudahlah, Mom. Jangan manja, setelah kalian melihat tempat itu pasti akan merasa senang". Ucap Kevin dengan tenang. Ia pun segera membalikkan badannya sambil merangkul tubuh Amelia, namun ada satu ke anehan. Ketika Kevin mengangkat tangannya dan memberi petunjuk dengan jari jempolnya. Ia pun sedikit menoleh ke arah kedua orang tuanya dan menyunggingkan senyuman yang tidak dapat di artikan oleh orang tuanya tersebut.
'Ada apa dengan anak itu?' Gumam William nampak bingung dengan kode yang di berikan Kevin.
**
Alisha berdecak kesal ketika ia pergi meninggalkan mansion Kevin, di sepanjang jalan ia tak hentinya mengoceh kepada sang suami. Ia merasakan kekesalan terhadap putranya yang begitu berubah.
"Dad, kenapa Anak kita seperti itu? Mommy lebih suka Kevin bersama Dinda, Amelia pasti akan menjadi istri yang mengesalkan di masa depan". Gerutu Alisha.
"Kita lihat saja, perkataan itu akan benar atau tidak. Tapi aku rasa Kevin telah menyembunyikan sesuatu dari kita". Ucap tenang William.
Alisha tak membuka suaranya kini, ia lebih memilih bergumam dengan hatinya. Rasanya ia ingin mengumpat dalam hatinya terhadap Amelia.
William tertegun melihat arah jalan yang tak asing baginya, sebenarnya ia dan istrinya tak tahu hendak pergi ke mana. Namun saat pemandangan memperlihatkan kebun rindang yang tidak asing lagi baginya, matanya membelalak tak percaya.
__ADS_1
"Ini sebuah markas kita dulu, dimana para penghianat akan diberi hadian yang cukup menjajikan untuk kecacatannya". Ucap William, Alisha yang mendengarnya sama halnya dengan William. Tubuhnya bergetar, suhu udara pun begitu terasa dingin.
"Apa Kevin membawa kita ke sini untuk menghukum kita? Putra kita memang sudah gil* ternyata, ku kira dia sangat sayang kepada orang tuanya. Tapi sekarang?" Cebik Alisha, orang tua mana yang tidak akan kesal ketika anaknya berniat untuk menyiksanya? Sangat keterlaluan bukan?