Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 63 Dikerjai Kevin


__ADS_3

"Anakmu memang tidak banyak berubah, Mom. Malah dia lebih gil* dari apa yang selama ini kita bayangkan". Ucap William, yang terlihat cemas.


"Itu juga anakmu, Dad. Jangan menyalahkan aku, kau yang menanam benihnya". Jawab Alisha dengan asal.


Dalam perdebatan itu, tiba-tiba mobil pun berhenti tanpa mereka sadari. Saat pintu mobil di buka oleh pengawal Kevin, mereka sedikit merinding ketakutan. Mereka saling bertukar pandangan ketika akan turun dari mobil tersebut.


Meskipun William sedikit ketakutan, ia sembunyikan serapih mungkin di dalam raut wajahnya. Ia tak ingin wibawanya menghilang begitu saja di hadapan para pengawal Kevin, hanya saja keringatnya tak bisa membohongi bahwa William kini tengah merasa cemas.


'Andai saja aku membawa salah satu pengawal terbaikku, mungkin tidak akan seperti ini'. Cebik William dalam hati.


Mereka di bawa ke dalam markas besar kepunyaan Kevin dan langsung di tujukan ke ruangan bawah tanah, tanpa ada obrolan basa-basi terhadap William ataupun Alisha. Sehingga Alisha merekatkan tangannya ke lengan William, ia semakin ketakutan.


"Kalian akan membawa kami ke mana?" Tanya Alisha memberanikan diri, namun para pengawal tersebut tak ada satu pun yang menjawab.


'Si*l, mereka memang menyebalkan'. Kesalnya dalam hati saat pertanyaannya tak ada yang menjawab.


Hingga salah seorang pengawal itu membuka sebuah pintu yang di lapisi besi, William dan Alisha tak sedikit pun ingin bergerak memasuki ruangan tersebut saat pintu sudah terbuka.


"Silahkan masuk Tuan, Nyonya.." Ucap salah seorang pengawal Kevin.


"Huh, tadi saja aku bertanya kalian tidak ada yang menjawab, lalu saat ini kami tidak bergerak masih bisa memaksa untuk masuk". Ucap Alisha mendengus kesal.


Mereka berdua pun akhirnya memasuki ruangan tersebut dengan terpaksa, para pengawal itu berhasil membuat mereka kesal.


**


"Terimakasih, Honey. Kamu sudah membelaku, mereka berdua menuduhku dengan sembarangan. Aku sangat sakit hati terhadap mereka, apalagi ucapan Mommy". Ucap Amelia masih dengan gaya manjanya.


"Tidak masalah, sekarang kamu istirahat. Pasti kamu sudah merasa cape". Titah Kevin.


"Honey, apa kamu tidak rindu dengan suasana malam itu? Emm, aku memang tidak terima kamu menodaiku. Tapi, beberapa hari lagi kita akan menikah. Aku rela memberikannya lagi untukmu". Ucap Amelia sambil mengelus dada bidang Kevin.


Kevin tak habis pikir dengan jalan pikiran Amelia, ia sampai berdecak kesal dalam hati. Untuk apa ia selama ini belajar mengerjakan shalat jika harus tergiur dengan neraka? Wanita ini sangatlah liar, berbeda dengan Dinda yang selalu menghormati tubuhnya.

__ADS_1


"Aku sangat lelah, mungkin lain waktu. Atau kita tunggu sampai pernikahan itu tiba". Jawab Kevin yang kemudian pergi meninggalkan Amelia.


Ia sudah sejak tadi menahan emosinya, ia tak ingin rencananya gagal begitu saja.


'Apakah dia memang pria tidak normal? Pria mana yang menolak tubuh sebagus ini?' Gumamnya bersecak kesal.


**


Getaran ponsel membuat Dinda tersadar dari lamunannya, di lihatnya ponsel tersebut dan bertuliskan nama 'Rio' terpampang jelas. Awalnya Dinda mengabaikannya, hanya saja ia menelponnya terus menerus sampai Dinda menyerah dan mengangkat panggilan tersebut.


Dari dalam panggilan tersebut, terdengar suara isak tangis Rio yang membuat Dinda mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa Rio sampai begitu, atau ini hanya sebuah jebakan untuk Dinda agar memaafkannya?


"Kamu kenapa, Rio?" Tanya Dinda sedikit cemas.


"Tolong aku, Dinda. Ibu dan Adikku mengalami kecelakaan saat hendak menuju ke tempat tinggalku". Ucap Rio dengan nada paniknya.


"Innalillahi, lalu mereka di bawa ke rumah sakit mana?" Tanya Dinda merasa cemas.


"Rumah sakit itu jaraknya agak jauh dari apartement ku. Kamu membutuhkan biaya? Aku bisa memberikannya, kirim nomor rekeninmu". Ucap Dinda.


"Aku bukan hanya membutuhkan uang, Dinda. Tapi aku juga butuh teman, di sini ada dua korban kecelakaan jadi aku butuh seseorang untuk menemani Resa di ruang Melati, ia sudah sadar saat ini. Hanya saja aku sulit menjaganya karena harus mengurusi beberapa hal tentang Ibuku. Apakah kamu bersedia datang untukku?" Jelas Rio memelas.


Dinda tak bisa menolak, ia pun terlihat sangat cemas ketika mendapat kabar tersebut. Ia pun menyetujuinya tanpa memikirkan bagaimana keselamatan dirinya sendiri.


"Baiklah, aku akan datang ke sana". Ucap Dinda, hal itu membuat Rio tersenyum menang.


**


'Anak brengs*k itu mengerjaiku, bisa-bisanya dia membuatku tegang seperti tadi'. Umpat William dalam hati.


William nampak lega setelah melihat ada dua orang yang di ikat dengan rantai kokoh di dalam ruangan tersebut. Hanya saja ia masih berdecak kesal terhadap Kevin yang mengerjainya sampai ia harus menahan ketakutan di dalam dirinya.


Alisha pun sama halnya dengan William, ia mengumpat sejadi-jadinya dalam hati. Hanya saja ia tak berlarut terlalu dalam, setelah melihat kedua orang yang ada di dalam ruangan tersebut adalah kedua orang tua Amelia.

__ADS_1


Alisha lebih tercengang lagi ketika melihat Elena yang masih bugar tengah berada di satu ruangan bersama suaminya.


"Dia beneran Elena, atau hantunya? Aku tahu dia sudah lama mat*, tapi kenapa aku bisa melihatnya dengan jelas saat ini?" Bisik Alisha.


"Tanya saja terhadap pengawal Kevin, aku pun tak mengetahuinya". Balas William. Hal itu membuat Alisha memalingkan wajah malasnya ke arah lain, bisa-bisanya di saat seperti ini suaminya tidak seberani dulu.


"Tuan besar dan Nyonya besar, ini adalah orang tua dari Nona Amelia. Dan untuk wanita itu sebenarnya ia belum meninggal, hanya saja untuk mengambil kesempatan mendekatkan diri dengan kalian, ia merelakan tubuhnya tertusuk benda tajam". Ucap salah seorang pengawal.


"Kanapa kamu baru saja berbicara? Tanya Alisha kesal.


"Kami hanya di suruh Tuan Muda agar tidak terlalu banyak berbicara terhadap kalian". Jawabnya.


"Anak itu sangat berniat mengerjai kita, Dad". Bisik Alisha terhadap William.


**


Alisha dan William mendekati kedua orang tersebut, wajah ketakutan mereka berubah menjadi menyeramkan mengingat apa yang sudah kedua orang tersebut lakukan terhadap keluarga William.


Sampai Alisha rela di benci oleh Kevin, untuk menutupi rasa bersalahnya terhadap Amelia yang sudah tak sengaja membun*h Elena. Tapi dibalik pengorbanan Alisha ternyata hal itu hanya jebakan agar mereka mendapatkan harta dari keluarga William.


"Oh, kau ternyata belum mat*? Aku tidak menyangka kau bisa senekad ini terhadapku". Ucap Alisha sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.


"Kau tidak pantas mendapat kekayaan itu, hanya aku yang harus merasakannya". Ucap Elena dengan memicingkan matanya.


"Berikan aku cambuk, aku sedikit ingin permainan untuk malam ini". Titah Alisha terhadap pengawalnya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Elena, cemas.


"Aku ingin memberikan beberapa hadiah terhadapmu, pertemuan kita baru saja terjadi bukan? Kita harus merayakan itu". Jawab Alisha dengan menyunggingkan senyumannya. Elena dan jonathan terlihat mengeraskan rahangnya, mereka kesal karena rencananya yang akan berhasil dalam satu langkah lagi harus gagal.


"Tidak, tidak.. Jangan lakukan itu, kami pantas kaya. Kau pantas menderita di bawahku. William, tolong aku". Ucapnya sambil melirik William.


"Hei, apa hubungannya denganku? Kau sudah tidak waras, ya? Di sampingmu ada suamimu, kau menikah dengan wanita liar ternyata". Cebik William, ternyata Tuhan benar membuka jalan cerita yang baik untuk William. Apa jadinya ia jika bersama Elena saat ini? Sedangkan sikap liciknya sudah terbongkar saat ini.

__ADS_1


__ADS_2