Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 65 Keras kepala


__ADS_3

'PRANGG'


Gelas yang Kevin hendak di ambil tidak sengaja tersenggol, tapi hatinya serasa tidak tenang dan tiba-tiba ingatannya tertuju pada Dinda.


"Kenapa hatiku merasa khawatir terhadap Dinda? Apa mungkin ini hanya perasaanku saja?" Gumam Kevin, bertanya-tanya dalam hati. Ia pun segera menepis perasaan khawatirnya terhadap Dinda.


**


Mobil yang di tumpangi Dinda berhenti di sebuah hutan yang hanya ada satu rumah di sana, mungkin rumah itu bisa di katakan gubuk karena kondisinya sangatlah tidak terawat juga kumuh. Jauh dari pemukiman warga ataupun perkotaan.


Tak hentinya Dinda beristighfar dalam hati juga berdo'a, agar keselamatan berpihak kepadanya.


'Ya Allah, semoga ada seseorang yang menyelamatkanku. Pak Kevin, kamu dimana? Disaat seperti ini biasanya kamu menjadi pahlawanku, maafkan aku yang keras kepala. Andai saja aku mendengarkan apa kata pengawal, mungkin tidak akan seperti ini'. Lirihnya dalam hati, Dinda menyesal atas sikapnya tadi.


Para preman tersebut mendudukan Dinda di sebuah kursi, lalu mengikatnya dengan beberapa ikatan di kaki dan tangannya.


"Wajahmu cantik, Nona". Ucap pemimpin preman tersebut, sambil mengusap lembut pipi Dinda. Dinda pun mengelak, ia tidak mau menjadi seorang wanita murahan. Dan ia benci jika di perlakukan seperti itu.


"Kau sangat agresif, Nona". Ucapnya lagi sambil tersenyum. Dinda tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajah ke arah lain.


Pemimpin preman tersebut membalikkan badannya dan melangkah menjauhi Dinda. Ia sangat tertarik pada kecantikannya, hanya saja ia tidak ingin mengecewakan seseorang yang menyuruhnya untuk menculik Dinda.


"Jaga wanita itu, jangan sampai lengah. Kita baru bisa merasakan kenikmatannya besok, setelah orang itu melihatnya". Titah pemimpin preman tersebut, hal itu membuat Dinda membelalakan matanya tak percaya. Ternyata kejadian ini terdapat seseorang yang menyuruh mereka.


Dinda semakin cemas ketika preman tersebut mengatakan 'Kita baru bisa merasakan kenikmatannya besok'. Keringatnya terus bercucuran, pikirannya tidak tenang dan hatinya penuh dengan jeritan-jeritan tangisnya.


'Tidak, tidak.. Aku tidak mau mereka berbuat seperti itu. Ya Allah, tolong aku. Berikan seseorang yang akan menyelamatkanku'. Lirihnya dalam hati, ia semakin cemas setelah mendengar perkataan preman tersebut. Keadaannya semakin gusar, ia tidak mau terus lama-lama berada di tempat itu.


**


'Maafkan aku Dinda, aku tidak pernah bermaksud untuk menjebakmu. Hanya saja aku tidak bisa membiarkan Ibu dan Adikku dalam bahaya, ini sebenarnya pilihan yang berat. Namun aku tak bisa memilih keduanya'. Sesal Rio dalam hati, setelah mendapatkan kabar tentang keberhasilan menculik Dinda.

__ADS_1


Jika saja ia tak di beri ancaman oleh seseorang, ia tak akan menjadi seperti ini. Ia merasa dirinya sekarang adalah pria pengecut, ia memberikan bahaya untuk orang lain demi menyelamatkan keluarganya. Tapi Rio tidak menyangkalnya, ia mengakuinya. Di matanya, Ibu dan Adiknya sangatlah berarti.


"Aku sudah menepati janjiku, sekarang aku menginginkan Ibu dan Adikku". Ucap Rio dalam sebuah panggilan.


"Bagus, kau memang anak penurut. Tidak sia-sia aku bekerja sama denganmu. Baik, bawa dia di rumah itu. Aku akan menyuruh beberapa orangku untuk mengizinkanmu membawa mereka". Jawab wanita tersebut.


"Aku akan membawa mereka sekarang". Balas Rio yang langsung menutup panggilan tersebut.


**


Kevin mengeraskan rahangnya setelah mendapat kabar menghilangnya Dinda, ia mengepalkan tangan dan bersumpah siapa saja yang mencelakai Dinda, tidak akan ia beri ampun.


Kevin merasa frustasi setelah melihat dengan jelas mobil yang di tumpangi Dinda terlihat berantakan. Kaca mobil itu pecah dengan Pak Darmo yang tergeletak di jalanan dengan beberapa dar*h di tubuhnya. Beruntungnya ia masih bernafas, sehingga ia bisa memberi tahu keberadaannya saat itu kepada pengawal Kevin.


"Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal, lacak keberadaan Dinda saat ini. Jangan sampai mereka berhasil mencelakainya". Titah Kevin dengan menahan emosinya yang semakin memuncak.


"Maaf Tuan, tapi ponsel milik Nyonya masih ada di dalam mobil tersebut. Kita tidak bisa melacak keberadaannya saat ini, di sini pun tidak ada CCTV untuk mengetahui plat mobil yang di kendarai para tikus itu". Ucap Jack.


"Baik, Tuan". Jawab Jack.


'Kamu kemana Dinda? Aku sangat cemas, jika kamu ingin menghukumku jangan seperti ini. Hal ini membuatku sangatlah frustasi'. Lirihnya sambil mengacak rambutnya.


**


Matahari pun menampakkan sinarnya kembali, namun keberadaan Dinda masih belum di temukan. Kevin sampai tidak tidur karena mencemaskan keberadaan Dinda.


'BRAKK'


Kevin memukul meja kerjanya dengan keras, ia kesal karena orang suruhannya belum menemukan titik keberadaan Dinda.


"Mereka memang tidak berguna, mencari satu orang saja mereka kesulitan". Gerutunya seorang diri. Namun emosinya terhenti saat sebuah nomor asing menghubunginya.

__ADS_1


**


Dinda terbangun dari tidurnya, ia mendapati seorang wanita di hadapannya yang tengah tersenyum dengan penuh kemenangan di hatinya. Ia merasa sudah memenangkan permainan tersebut.


"Lidya.." Lirih Dinda saat mengenali seorang wanita di hadapannya itu adalah Lidya.


"Kau masih mengenalku? Kau juga pasti ingat dengan rasa sakit hatiku saat itu, bukan?" Sahutnya sambil mempertahankan senyumannya.


"Kenapa kau selalu menyalahkan ku? Kau sendiri yang masuk kedalam rumah tanggaku, harusnya aku yang merasa sakit hati atas sikapmu yang merebut suamiku". Jawab Dinda.


"Kau merasa sakit hati? Tapi aku di sini seperti wanita yang selalu di permalukan olehmu, jadi kau harus merasakan bagaimana perasaanku saat itu". Balas Lidya.


"Kau memang tidak waras, Lidya. Sia-sia aku berbicara denganmu". Ucap Dinda.


"Aku ke sini bukan untuk banyak bicara terhadapmu, tapi aku ingin melihat kehancuranmu". Balas Lidya.


"Jangan macam-macam terhadapku". Ancam Dinda.


"Oh, iya. Kau masih merasa dilindungi oleh pria itu? Tapi setahu ku, dia akan menikah. Masih bisa 'kah dia melindungimu? Bahkan sampai saat ini dia tidak menyelamatkanmu". Sindir Lidya, ia berharap bahwa Dinda terpengaruh dengan kata-katanya. Dan benar saja, setelah itu Dinda menundukkan kepalanya. Ucapan Lidya memang ada benarnya.


"Silahkan kalian menikmati wanita ini, jangan lupa abadikan momen hangat itu". Titah Lidya yang kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut, ia datang hanya untuk memberi bayaran dan untuk memastikan jika mereka benar-benar membawa Dinda atau hanya bualan saja. Tapi dengan melihat keberadaannya saat ini, ia sangatlah puas.


"Tidak, Lidya. Jangan lakukan itu, aku tidak bersalah. Kau sendiri yang melakukan kesalahan, sehingga karma itu datang dengan sendirinya". Ucap Dinda, namun ia abaikan dan tetap melangkah pergi.


Para preman tersebut mendekati Dinda dengan berseringai, Dinda semakin ketakutan di buatnya. Ia ingin memberontak namun tidak bisa, karena tali yang melilit di tubuhnya benar-benar kuat.


"Jangan.. Aku mohon, jangan lakukan itu. Aku akan bayar kalian berapa pun itu, tapi jangan lakukan apapun terhadapku". Teriak Dinda dengan isak tangisnya yang semakin menjadi.


Para preman itu tak menggubrisnya, ia masih mendekat ke arah Dinda dengan jarum suntik di tangannya. Di suntikkannya jarum itu ke tubuh Dinda, wajah mereka semakin berbinar setelah berhasil menyuntikkan obat perangsang tersebut.


"Kau akan terlihat lebih menawan setelah ini". Ucap salah seorang preman tersebut.

__ADS_1


__ADS_2