
Sinar pagi menerobos masuk menembus tirai kamar Lidya, ia pun menggeliat dan terbangun saat cahaya itu seakan menjadi pengganggu tidurnya yang nyenyak. Lalu ia bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah ia merasa sudah segar dengan semuanya, pandangan Lidya terarah ke tempat tidurnya. Memperlihatkan Dimas yang masih tidur nyenyak, ia pun mendengus kesal melihat ketenangan dalam tidurnya seakan-akan tak terjadi masalah di antara mereka.
"Mas.. Mas.. Bangun, kamu masih berhutang penjelasan terhadapmu". Ucapnya dengan menepuk-nepuk pundak Dimas.
Dimas menggeliat dengan perlakuan Lidya terhadapnya, kemudian sedikit membuka paksa matanya yang terasa lengket.
"Hoaamm.. Kamu kenapa sih bangunin aku pagi-pagi? Aku masih ngantuk". Ucap Dimas yang menguap dan kembali memeluk guling di dekatnya.
"Kamu harus jelaskan masalah yang semalam, aku tidak rela suamiku dekat dengan wanita lain. Bangun Mas.. Ayo bangun.." Ucapnya yang terus mengganggu tidur Dimas.
"Aku sudah jelaskan malam itu, dan kau tak perlu menanyakan itu lagi". Cebiknya dan mengambil posisi tidur yang enak kembali. Lidya hanya mendengus kesal.
"Apa kau tidak pergi bekerja? Apa kau hanya ingin bermalas-malasan seperti ini?" Tanya Lidya, membuat Dimas tak lagi nyaman dengan tidurnya. Ia bangkit dan memperlihatkan wajahnya yang terlihat kesal. Lidya hanya meneguk salivanya kuat-kuat, ternyata ia salah bicara.
"Kau 'kan sudah tahu semuanya, jika aku tak lagi bekerja di perusahaan itu. Kenapa kau terus menggangguku? Kau ingin aku pulang, aku turuti. Dan setelah aku berada di rumah, kau hanya bisa menyambutku dengan semua ocehanmu. Apa kau pantas menjadi istriku? Kau sangat merepotkan, andai dulu kau tak menggodaku. Mungkin Dinda masih bersamaku, aku menyesal memilihmu sebagai penggantinya". Luapan kekesalannya.
"Dinda, Dinda dan Dinda terus yang kamu pikirkan. Kapan aku yang menjadi prioritas di hatimu?" Balas Lidya yang merasa ia wanita tersakiti.
"Hanya mimpi.. Kau tak akan pernah seperti itu". Ucap Dimas membuat air mata Lidya kembali menyeruak membasahi pipinya.
Lidya mengepalkan tangannya, ia berdecak dalam hati mengumpat sebanyak-banyaknya. Dan pasti kalian tahu 'kan apa yang ada di pikiran Lidya? Ya, Dinda.. Oh, kenapa dia hanya bisa menyalahkan orang lain?
**
Ucapan selamat berturut-turut menyapa Dinda saat ia melangkahkan kaki menuju perusahaan Adhinatha. Ia pun membalas ucapan mereka dengan senyum ramah.
__ADS_1
Tak sedikit di antara mereka yang menyukai cara sapaan Dinda, semua karyawan tersebut membanding-bandingkannya dengan istri Dimas yang saat ini.
"Memang kelilipan ya, Pak Dimas. Wanita sebaik Bu Dinda di sia-siakan. Memang apa kekurangannya ya, selama ini?" Bisik salah seorang karyawati.
"Huss.. sudah, jangan banyak berbicara. Nanti ada seorang yang mendengar ocehanmu, dan kau akan tahu akibatnya jika itu terjadi". Bisik temannya yang memperingati.
Saat Dinda menempati ruangan Dimas, ia teringat kembali masa-masa yang begitu menyakitkan. Saat ia terlihat berselingkuh dengan Lidya, Dinda hanya bisa menelan pahit kenyataan itu. Ia menghela nafasnya dan membuang secara perlahan. Kemudian ia tersenyum ketir.
"Perbuatan kalian akan ku balas dengan kesuksesanku, kalian tahu? Aku menahan rasa sakitku begitu lama, cara kalian menyakitiku terus menerus membuatku memberontak tak sadar. Maka nikmatilah hari-hari kalian saat ini yang tengah berada di bawahku". Ucap Dinda pelan.
Ia tak meneteskan air matanya saat ini, air matanya terlalu berharga jika harus menangisi mereka.
**
Alangkah menyenangkan saat ini untuk Dinda, ia mengerjakan pekerjaan pertamanya di perusahaan Adhinata kembali setelah beberapa tahun yang lalu dan kedudukannya pun berbeda saat ini.
Bunyi telpon membuyarkan konsentrasinya. setelah ia mengangkat panggilan tersebut, alisnya mengkerut seakan ada hal yang lebih penting yang di ucapkan dalam panggilan tersebut.
"Biarkan dia masuk, hanya saja tetap awasi dia dan lakukan penjagaan dari luar". Ucap Dinda yang kemudian menyimpan kembali telpon tersebut.
'BRAKK!!'
Suara pintu terbuka dengan paksa, membuat beberapa karyawan tersentak dan menoleh ke arah tersebut.
"Dia lagi, dasar pembuat onar.." Ucap seorang karyawan yang merasa tak suka dengan kehadirannya.
Dinda hanya tersenyum tajam melihat kedatangannya, tentu ia Lidya. Wanita si pembuat onar, dimana pun ia berada pasti akan ada keributan yang ia lakukan.
__ADS_1
"Puas kau membuat suamiku menjadi pengangguran? Mau mu apa sih? Bisa-bisanya membuat hidupku hancur". Bentaknya membuat semua karyawan berdiri ketakutan.
"Kau menuduhku untuk itu? Huh, kau tak sadar diri rupanya. Siapa yang mengganggu siapa? Aneh.." Cebik Dinda dengan santainya.
"Jangan berlagak tenang, kau memang bermimpi menghancurkanku 'kan? Harusnya dulu aku tak hanya membun*h Ibumu, tapi Ayah sekalian dirimu". Ucap Lidya yang memang sudah di kuasai emosi.
"Dan kau begitu bod*h, membiarkanku berkeliaran seperti ini setelah kejadian itu. Ku ingat kau akan melakukan hal kejam untuk membalas dendam orang tuamu". Tantang Lidya yang sekaligus meremehkannya.
Dinda hanya tersenyum mendengar ocehan Lidya, ia pun berdiri mendekatinya. Lidya agak sedikit ketakutan melihat sikap tenang Dinda, ia sedikit mundur ketika Dinda mendekatinya.
"Tenanglah.. Aku tak akan menyakitimu. Harus kau tahu, awalnya aku kasihan melihatmu harus mendekam di penjara dengan keadaanmu yang tengah hamil. Tapi sepertinya aku salah, meski kau begitu tetapi kau memang terlihat kuat. Aku akan mengurungkan niatku untuk melepaskanmu begitu saja". Ucap Dinda.
"Kau memang wanita bod*h.. Karena kau tak punya bukti kuat 'kan? Jadi kau tak bisa membuatku mendekam di penjara, kasihan.." Cibirnya.
"Oh, kau memang pintar. Kau tahu? Seseorang menyuruhku untuk mencari bukti tersebut, namun aku ingin hal yang berbeda agar semua bukti terlihat kuat dan tak berberlit. Dan kini aku mempunyai bukti tersebut, tanpa kau sadari. Kau lihat itu?" Ucap Dinda yang membuat Lidya membulatkan matanya, lalu Dinda menunjukkan ke arah CCTV. Dan..
'DEGG!!'
Apa dia ketakutan? Tentu jelas, tubuhnya bergetar mendengar pernyataan Dinda. Begitu bod*hnya Lidya, karena emosinya terlalu memuncak ia tak bisa berpikir sedemikian rupa.
"Kenapa kau terlihat tegang? Kau takut? Pasti kau tak takut 'kan? Kau memang wanita kuat, jadi tak keberatan 'kan jika kau harus berada di penjara?" Ucap Dinda dengan seringaiannya.
"Kau tak akan bisa membuatku terjebak dalam penjara, kau salah berhadapan dengan siapa. Aku tak mungkin bisa kau kelabui begitu saja". Jawab Lidya yang terlihat sudah panik, ia berusaha menyembunyikannya.
Lidya pun pergi begitu saja dari hadapan Dinda, ia hanya bisa menyeringai dengan kepergian Lidya. Begitu bod*hnya dia merasa masih akan tenang dengan pelariannya.
Beberapa pengawal terlihat ingin mengejarnya, tapi Dinda menahannya.
__ADS_1
"Berhenti, jangan kejar dia. Dia tak akan bisa kabur jauh, kalian hanya bisa mengikutinya. Kita harus memastikan jika tak ada seseorang yang akan berpengaruh untuk membantunya nanti". Ucap Dinda, semua pengawalnya mengangguk.