
"Hei Pak Tua, berapa lama kau membesarkan anakmu itu? Bisa-bisanya dia menjadi anak penggoda kekasih orang lain". Bentak wanita yang tadi menghubungi Dinda.
Tak ada jawaban yang terlontar dari ayahnya Dinda, ia hanya bungkam dan terus merasakan ketakutan. Banyaknya penjaga yang terlihat sangar dan keadaanya pun terikat tak bisa memungkinkan untuk melawan. Jika pun itu hanya menjawab pertanyaan wanita tersebut, ia takut jawabannya akan salah juga mengakibatkan mereka dalam bahaya.
Istrinya pun sama, ia sampai gemetar ketakutan. Wajahnya terlihat pucat, keringat bercucuran dan nafasnya pun terasa sesak. Yanwar, ayahnya Dinda hanya berharap keajaiban akan menghampirinya.
Ia tak tahu harus bagaimana, jika terlalu lama dalam lingkaran para wanita jahat tersebut, ketakutan akan istrinya yang mempunyai riwayat penyakit jantung bisa kambuh sewaktu-waktu. Apalagi dalam kejadian menegangkan seperti halnya sekarang.
"Kau tidak mau menjawab ternyata.. Kau ketakutan? Itu perasaanku ketika dia ingin merebut apa yang menjadi hak milikku". Ucap wanita yang satunya dengan tersenyum sinis.
Ya, di ruangan tersebut ada dua wanita cantik yang sama-sama keji, mempunyai satu tujuan yang sama dan terhadap orang yang sama pula.
**
"Aku harus apa Ya Allah? Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap mereka?" Ucap Dinda dengan sesegukan.
Dinda hanya tertunduk lemas, mengingat orang tuanya sekarang. Namun, sebuah dering terdengar dari ponselnya. Ia pun bergegas mengangkat panggilan tersebut.
"Sekarang kamu harus datang ke alamat yang sudah aku kirimkan padamu. Ingat, jangan bawa siapapun dalam masalah ini. Atau orang tuamu menjadi taruhannya". Ucap wanita dalam panggilan tersebut.
"Baiklah, tapi jangan apa-apakan orang tuaku sebelum aku tiba disana". Jawab Dinda.
Dinda pun tak banyak berfikir langsung sigap menuju alamat tersebut, yang terletak di kota tempat ia merantau untuk bekerja. Ia sedikit bingung, tapi tak banyak berfikir untuk sekarang. Ia cemas dengan keadaan orang tuanya dalam bahaya.
**
Lamunan Kevin tertuju pada Dinda kini, ia tak mengetahui kenapa setelah bertemu dengannya selalu menyisakan kerinduan jika ia tak berada di sampingnya. Perasaan khawatir menyelimuti pikirannya begitu saja tanpa tahu tempat.
"Ya ampun, wanita itu sangatlah mengganggu pikiranku". Ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau terlihat sangat kacau Pak Kevin, tapi saya suka melihatmu seperti itu". Ucap Riko berniat menggodanya.
Kevin yang tak sadar kapan Riko masuk keruangannya, sedikit tersentak apalagi dengan ucapannya yang terdengar sopan. Itu sangatlah mengganggu indra pendengarannya, karena asistennya belum pernah berucap sesopan itu.
__ADS_1
Kevin hanya menatapnya sebentar, lalu menangkupkan kedua tangan di wajahnya karena frustasi.
"Belum genap sehari kau tak melihat wanita itu, tetapi raut wajahmu terlihat mengerikan". Ejek Riko dengan menahan tawanya.
"Diam kau.. Aku sedang tidak berselera menanggapi ocehanmu". Jawab malas Kevin.
"Heuh.. Seorang Kevin, pemimpin perusahaan besar galau oleh janda berhijab. Sangatlah tidak masuk akal". Cibirnya yang kemudian lari dari ruangan Kevin.
Sontak Kevin membulatkan matanya, geram atas ucapan asisten sekaligus sahabatnya itu. Kemudian ia hanya menggeleng pelan, mungkin yang di katakan sahabatnya benar.
**
Siang pun berganti malam, tak terasa Dinda akan kembali ke kota perantauannya dalam beberapa jam lagi. Hal itu terdeteksi oleh Jack, sang pengawal Kevin yang melihat pergerakan Dinda dalam alat yang terpasang di ponsel Dinda. Ia pun segera menemui Kevin yang tengah berada di ruang kerjanya.
"Tuan.." Panggilnya.
"Ada apa?" Tanya Kevin dengan wajah datar.
"Saya lihat, Bu Dinda sedang dalam perjalanan menuju kembali ke kota ini". Ucapan sang pengawal membuat Kevin keheranan.
"Baik, Tuan".
Pengawal tersebut pergi, menyisakan Tuannya yang sedikit kebingungan.
**
Di tengah malam ini, Dinda sudah berada di depan sebuah gudang yang terlihat kumuh dan menyeramkan. Namun karena orang tuanya, ia memberanikan diri walau memang masih ada rasa takut di hatinya.
Saat ini, nyawanya tak lagi berharga. Apalagi mengingat ia sempat menentang kedua orang tuanya, ada rasa penyesalan juga kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
"Aku sudah berada di depan, sekarang beritahu aku. Dimana orang tuaku?" Tanya Dinda dalam panggilan telpon.
"Silahkan kamu masuk, aku menunggumu di dalam sini. Nanti akan ada orangku yang akan menjemputmu". Ucap santainya.
__ADS_1
Tanpa menjawab ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam, dan benar saja ada dua orang pria kekar yang menghampirinya. Dinda pun sudah paham, kemudian melanjutkan memasuki gudang menyeramkan yang sedikit pencahayaan itu.
**
"Ku pikir kau tak akan datang, dan cuma akan menangis meratapi semuanya". Ucap salah satu wanita tersebut yang keduanya memakai topeng.
"Saya mohon, lepaskan orang tua saya. Jangan buat mereka menderita". Mohonnya dengan tak bisa menahan tangisnya, ketika melihat kedua orang tuanya yang terikat dalam kursi yang berbeda. Ia pun lebih khawatir ketika sang Ibu yang terlihat lemas.
Dua wanita tersebut membuka kedua topeng yang menutupi wajahnya. Dinda semakin tersentak dengan apa yang ia lihat saat ini. Mereka adalah Lidya dan Viola.
"Kenapa? Kaget?" Ucap Lidya dengan menampar pipi mulus Dinda dengan keras. "Itu tak sesakit hatiku yang kini di campakan oleh Mas Dimas". Sambungnya.
Viola pun mendekati Dinda yang sedang terisak dan melakukan hal sama dengan Lidya. Namun Dinda tak bergeming, ia terus saja menikmati rasa sakit itu tanpa mengeluh.
"Gara-gara ulahmu, aku di pecat oleh pak Kevin. Aku tak akan membiarkanmu bahagia begitu saja, sementara aku kini terpuruk". Ucap Viola yang meluapkan rasa kekesalannya.
"Apa kau ingin melihat yang lebih hebat?" Ucap Lidya dengan mengangkat sudut alisnya dan tersenyum licik. "Berikan Pak Tua itu hadiah tinjuan terbaikmu Jason". Perintahnnya terhadap pria bertubuh kekar.
"Jangan.. Jangan menyentuh orang tuaku. Tidaakkk..". Dinda menjerit histeris ketika beberapa tinjuan melayang ke arah Yanwar. Menyisakan darah segar yang keluar dari salah satu lubang hidungnya dan lebam di beberapa wajahnya. Hingga ia terkulai lemas juga akhirnya tak sadarkan diri.
"Jangan sakiti mereka, aku mohon.. Sakiti aku saja, mereka tak berhak menerimanya". Jerit Dinda kembali sambil memohon.
Di saat Dinda tengah histeris melihat Ayahnya, Rita Ibunya Dinda semakin tegang ketika melihat kejadian tersebut. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dan nafasnya kini terasa sangat sesak.
Dinda menoleh ke arah Rita, ia pun berlari ke arahnya tanpa memperdulikan beberapa orang yang menatapnya.
"Ibuu.. Ibu kenapa? Astagfirullah.. Ibu". Dinda pun mengecek nadinya, namun denyutnya tak terasa. Tangisnya pun pecah setelah tahu bahwa Ibunya meninggal.
Ketegangan dalam ruangan tersebut membuat penyakit Rita kambuh, ia sangat terkejut melihat orang yang selama ini ia sayang disiksa oleh orang lain. Apalagi melihat sang suami yang kini tak sadarkan diri. Hingga serangan jantung membuat nyawanya menghilang.
"Nyonya, wanita tua itu mat*". Bisik pengawalnya.
Sementara Lidya dan Viola merasa ketakutan. Niat hati hanya ingin menggertak Dinda, tak menyangka akan membuat Ibunya Dinda meninggal.
__ADS_1
"Sial! Permainanku belum selesai dia sudah mat* duluan". Gerutu Lidya. "Kita pergi sekarang, sebelum masalah besar tercium orang lain". Perintah Lidya.
Mereka pun akhirnya melarikan diri, meninggalkan Dinda yang menangisi kepergian Ibunya juga Ayahnya yang kini tak sadarkan diri setelah beberapa tinjuan munghujami tubuhnya.