
Selepas kepergian Kevin, Willian langsung beranjak dari meja makan. Ia memilih kembali ke kamarnya untuk mengerjakan pekerjaannya di layar laptopnya.
Sedangkan Amelia nampak menekuk wajah, hatinya seakan terbakar saat Kevin dan William satu pendapat. Ia tak mungkin harus berdiam diri seperti ini, harus ada yang ia lakukan apapun caranya.
Melihat itu, Alisha menghampirinya. Ia pun mengusap pucuk kepalanya pelan, Amelia pun kemudian memeluk Alisha erat. Tangisnya pecah saat pelukan itu semakin erat.
"Kau harus bersabar ya, Amelia! Kevin pasti akan menyukaimu, kau harus yakin itu. Tante akan senantiasa membantumu". Ucap Alisha sambil mengusap lembut punggung Amelia.
"Iya, Tante. Aku akan coba untuk bersabar, namun jika aku tak bisa mendapatkan Kevin mungkin memang benar apa yang ia katakan. Aku hanya membuatnya tak nyaman dan sebaiknya aku akan segera membatalkan perjodohan ini dengan Papi". Keluh Amelia yang masih terisak.
"Jangan gitu dong sayang, kamu jangan putus asa untuk mendapatkannya. Pokoknya apa pun yang terjadi, kau harus bisa bersatu dengan Kevin". Balas Alisha yang meyakinkan Amelia.
"Sungguh, Tante?" Tanya Amelia yang terlihat berbinar-binar saat mendengar ucapan Alisha. Ia pun hanya menjawabnya dengan anggukan, membuat Amelia semakin bahagia.
Entah apa yang ada di pikiran Alisha, yang menginginkan Kevin untuk bersatu dengan Amelia. Ia pun terus meyakinkan Amelia untuk selalu semangat dalam usahanya mengejar Kevin.
'Lihat saja, Kevin. Aku akan segera membuatmu tergila-gila terhadapku. Kau hanya akan menjadi milikku'. Lirih hati Amelia.
**
"Bagaimana keadaannya?" Ucap seorang pria.
"Dia baik-baik saja, hanya saja terdapat luka ringan dan sedikif demam. Dalam beberapa hari ia akan sembuh". Jelas Dokter yang menangani Lidya. Pria tersebut hanya menganggukkan kepala.
Setelah Lidya tertabrak oleh sebuah mobil, ia dibawa oleh seorang pria yang menabraknya.
"Maafkan aku yang tak sengaja menabrakmu. Aku pun heran kenapa kau bisa dengan ceroboh berlari tanpa melihat ke segala arah". Lirih pria tersebut di samping Lidya yang masih tak sadarkan diri.
**
Riko memasuki ruangan Kevin tanpa mengetuk pintu, hal itu membuat Kevin semakin geram. Matanya menatap tajam ke arah Riko. Dengan bibir tersenyum ketir dan anggukan kepala, Riko kembali melangkah mundur keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
'Buset, serem juga dia kalau lagi marah'. Lirih Riko dalam hati.
Ia pun mengetuk pintu lebih dahulu sebelum masuk ke ruangan Kevin.
"Pak Kevin, saya ingin memberi tahukan bahwa besok malam akan ada acara diner bersama para kolega bisnis di hotel x". Ucap Riko dengan sopan, karena masih takut dengan sorot mata Kevin tadi.
"Mual gue denger ucapan lo yang seperti itu". Ketus Kevin tanpa ada ekspresi.
"Gil* lo ya! Ngerjain gue.." Protesnya. Kevin terkekeh melihat Riko yang terlihat kesal terhadapnya.
"Gue lagi banyak pikiran Rik, sejak kedatangan cewek bar-bar itu lagi. Rasanya gue mau nampol aja itu mukanya, pake sok manja sama gue lagi". Keluh Kevin.
"Wah.. Wah.. Lo mau curhat ya? Ayo cerita lagi, gue bakal dengerin semuanya". Ucap Riko yang mulai random, kemudian ia duduk berhadapan di depan meja kerja Kevin, sambil menagkupkan kedua tangan di pipinya.
"Ah, males gue kalo bicarain tentang itu cewek. Rasanya semakin jijik sama dia, apalagi dia yang dulu pernah ngerecokin hubungan gue sama Elsa". Jawab Kevin
"Harusnya lo segera nikahi Dinda aja, dengan itu orang tua lo gak pusing mikirin jodoh lo. Karena lo udah mengambil keputusan sendiri". Balas Riko.
"Akhirnya lo jujur, berarti selama ini kecurigaan gue benar terjadi". Ucap Riko dengan sedikit cengengesan. Kevin hanya menutupi wajahnya karena ia baru menyadari ucapannya yang dengan tak sadar jujur kepada Riko.
**
"Dinda, Bapak harap kamu bisa menjaga kerja sama dengan perusahaan yang Dimas kelola. Bapak tidak menuntutmu, hanya saja Bapak ingin melihat kedua perusahaan yang telah Bapak rintis dari nol sukses bersama. Meskipun kamu masih membenci Dimas, tapi kamu harus bisa bersikap profesional". Ucap tegas Heru.
"Baik Pak, saya akan berusaha untuk itu". Jawab Dinda dengan menunduk. Heru hanya tersenyum kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Dinda.
Namun Dimas mendekatinya dengan seringaian yang penuh kemenangan. Sangat percaya diri sekali kamu Dimas.
"Dinda, kamu harus mendengarkan ucapan bapak saya. Sekarang aku adalah rekan kerjamu, jadi bersikaplah profesional. Jangan jadikan masalah dulu terbawa ke suasana pekerjaan". Ucap Dimas yang masih meyeringai tajam.
"Anda tak perlu menceramahiku, Pak Dimas. Saya sudah mengetahui konsekuensinya, jadi Anda tidak perlu khawatirkan itu". Jawab Ketus Dinda. Ia pun bergegas untuk pergi meninggalkan ruang rapat tersebut, ia masih muak melihat seringaian yang terbit di wajahnya.
__ADS_1
"Tunggu, Dinda.." Ucapnya sambil memegang tangan Dinda, namun Dinda langsung menepisnya.
"Saya hanya bisa membicarakan masalah pekerjaan, seperti yang Anda katakan tadi. Kita hanya rekan kerja. Jadi mohon, saya tak ingin ada drama lagi diantara kita. Saya sudah muak". Tebak Dinda, yang terlihat Dimas memandang Dinda dengan pandangan yang berbeda, kemudian ia cepat pergi dari sana.
Dimas merasa kesal dengan perlakuan Dinda, apa sebegitu ia bencinya? Sampai ia tak mau kembali membuka hatinya untuk Dimas. Ia hanya mampu menatap kepergian Dinda dengan rahang yang ditekan keras.
'Kau begitu meremehkanku Dinda! Aku jadi semakin tergila-gila kepadamu jika kau bersikap seperti itu, jangan harap kau bisa pergi dariku lagi'. Lirihnya dalam hati.
**
Lidya perlahan-lahan membuka matanya, ia memperhatika suasana ruangan tersebut yang bernuansa putih. Ia menangkap sosok pria yang tengah berdiri di sampingnya, kemudian ia membulatkan matanya.
'Apa aku kembali menjadi tahanan?'
'apa dia salah satu polisi yang tengah menjagaku?'
'Ya, Tuhan.. Aku tak mau mendekam di penjara. Aku hanya ingin bebas dan kembali membalas semua dendamku'. Lirih Dinda yang terlihat cemas.
"Kau jangan terlihat cemas seperti itu, kau aman di sini". Ucap seorang pria tersebut. Lidya tak menyahut ucapan pria itu,dalam pikirannya masih menerka-nerka siapa dia sebenarnya.
"Maaf aku yang telah menabrakmu, tapi aku tak sengaja. Aku akan bertanggung jawab dalam pengobatanmu". Sambung pria tersebut kembali.
"Tuan, tolong saya. Saya tak mau kembali menjadi tahanan polisi. Saya hanya seorang wanita yang di tuduh, padahal saya tak pernah melakukan kesalahan apapun. Saya mohon, Tuan. Kasihanilah saya". Ucap Lidya yang memohon kepada pria tersebut, sampai pria itu sedikit berpikir.
"Baiklah, aku akan membantumu. Kau sepertinya orang baik, tidak akan tega jika aku membiarkanmu kembali dalam sel tahanan". Jawab pria tersebut.
"Terimakasih, Tuan.." Ucapnya yang hanya di balas dengan anggukan.
"Namaku Hendrik, kau siapa?" Tanya pria tersebut yang ternyata bernama Hendrik.
"Saya Lidya.." Balasnya.
__ADS_1