Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 71 Terlihat tenang, tapi penuh ancaman


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Kevin menggerutu dalam hatinya. Malam pertamanya harus terganggu dalam beberapa menit. Seharusnya ia tak membiarkan semuanya terlewat begitu saja, meskipun waktunya hanya sedikit.


"Mereka mengerjaiku, awas saja aku akan membalasnya". Ancam Kevin yang tak terima.


Ia pun segera memasuki kamarnya, berharap istrinya masih belum tidur. Dan benar saja, Dinda tengah merapihkan mukena yang ia pakai. Kevin pun sampai kagum dengan istrinya yang selalu mementingkan kewajibannya dalam beribadah.


"Pak Kevin, mari kita melakukan shalat sunnah dua rakaat". Ajak Dinda.


"Baik, aku akan bersiap". Jawab Kevin sambil bergegas memasuki toilet.


**


"Rita, apakah kau merasakan apa yang aku rasa? Aku bahagia melihat anak kita bahagia, pagi tadi ia terlihat sangat cantik sepertimu. Pantas saja Pak Kevin tertarik dengan putri kita, ternyata dia memang secantik itu". Gumamnya sambil tersenyum.


"Aku selalu berharap agar deritanya tidak akan terulang kembali. Aku akan menjadi seorang Ayah yang tidak berguna jika itu sampai terjadi". Sambungnya kembali sambil mengusap beberapa butiran air mata yang menetes dari ujung matanya.


Ayah mana yang tak menginginkan putrinya menderita? Begitu pun perasaan Yanwar saat ini, ketika ia mendapatkan kabar tentang penghianatan Dimas hatinya hancur. Rasanya ia ingin menjadi pahlawan putrinya saat itu juga.


"Rita, aku sangat percaya bahwa pria yang menjadi suami anakmu itu mempunyai tanggung jawab yang besar kepada putriku. Aku percaya dia akan menjaga putri kita dengan baik, kau jangan khawatir. Semoga Dinda baik-baik saja. Aku pun selalu berharap seperti itu". Sambung Yanwar yang kembali berbicara sendiri, seakan di sampingnya ada sosok istrinya.


Yanwar menguatkan hatinya saat ini, ia yakin jika Kevin akan selalu menjaga Dinda. Namun rasa sedihnya tidak bisa ia sembunyikan kembali, kesendiriannya akan segera tiba setelah Dinda menikah. Pertemuannya dengan putrinya akan sangat jarang, hanya saja perlahan ia mengikhlaskan Dinda dalam hatinya.


**


Setelah melaksanakan shalat sunnah tersebut, Kevin memimpin doa. Betapa terpananya Dinda saat doa yang di lantunkan Kevin sangatlah terdengar merdu. Setahunya, meskipun agama yang di anut Kevin adalah islam tetapi ia belum sedikitpun mempelajarinya.


Kevin selalu berusaha untuk mempelajarinya, kecerdasan Kevin di atas rata-rata. Tentu saja dalam beberapa bulan ia bisa mempelajari beberapa aturan dan bacaan dalam Al-Qur'an.


Dinda tersenyum dengan mata yang sedikit berembum, ia merasa terharu dengan kegigihan Kevin selama ini.


'Ya Allah, terimakasih telah memberikan jodoh yang terbaik sepertinya'. Lirih Dinda dalam hati.

__ADS_1


Kevin pun membalikkan badannya dan mengulurkan tangan. Dinda langsung mencium tangan Kevin, mulai saat ini tangan yang Dinda cium akan senantiasa bertanggung jawab menjaganya.


"Boleh 'kah aku memelukmu?" Tanya Kevin, karena malu Dinda hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk.


Kevin merengkuh tubuh Dinda dalam pelukannya, kehangatan itu ia rasakan bersama rasa harunya. Tak sia-sia perjuangannya selama ini, telah memperjuangkan cintanya.


"Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku, kehadiranmu memberiku arti kenyamanan. Aku selalu berharap semoga kelak kita akan menua bersama dengan berbagai kebahagiaan". Ucap Kevin.


Dinda semakin mengeratkan pelukannya, tubuhnya gemetar beriringan dengan air mata yang menetes. Kata-kata itu membuatnya merasa bahagia yang berpadu menjadi haru.


**


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan membangunkan Fania di tengah malam, ia kaget sekaligus takut dengan seseorang yang bertamu malam-malam ke rumahnya. Dalam hatinya bertanya-tanya, haruskah ia membuka pintu itu?


Dengan terpaksa Fania membuka pintu tersebut walau tubuhnya gemetar menahan rasa takutnya.


"Kau masih mengenaliku? Kemana saja kau? Bahkan beberapa minggu ini tidak memberiku uang". Tanya Erham yang terlihat menahan emosinya.


"A-aku belum bisa memberimu uang, aku.."


'PLAK'


Satu tamparan mendarat di pipi Fania, Ayahnya sudah tak bisa menahan emosinya. Memberikan uang kepadanya tak boleh terlewatkan, semua itu seperti wajib di lakukan oleh Fania.


"Anak payah, kau harusnya bekerja dengan benar sehingga menghasilkan uang untukku". Geram Erham.


"Aku belum mendapatkan pekerjaan, tapi nanti setelah aku bekerja aku akan memberikan semuanya kepadamu". Jawab Fania dengan gugup.


"Aku tunggu beberapa hari lagi, jika kau masih belum memberiku uang. Akan ku jual adikmu yang merepotkan itu". Sahut Erham.

__ADS_1


"Ayah, jika memang adikku merepotkanmu kenapa kau mau merawatnya? Biarkan aku saja yang menjaganya". Ucap Fania dengan memohon di kaki Erham, hal itu membuat Erham memalingkan wajah tak sukanya.


"Kau hanya perlu memberiku uang, itu yang harus kau lakukan saat ini". Jawab Erham sambil melepaskan pegangan tangan Fania di kakinya.


Fania terus saja menangis, ia terlalu khawatir terhadap adiknya. Keputusannya untuk pergi dari rumah tersebut membuatnya bisa bergerak bebas. Hanya saja karena adiknya ia masih bisa di kendalikan oleh sang Ayah. Tapi mengapa ia tak mau melepaskan adiknya begitu saja? Apa yang Ayahnya lakukan?


**


Pelukan itu masih saja terlihat erat, mereka seakan tak mau melepaskan satu sama lainnya. Mereka seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan kini saling melampiaskan kerinduan itu dengan pelukan.


"Kau tak bosan memelukku seperti ini?" Tanya Kevin, hal itu membuat Dinda sadar dan melepaskan pelukannya. Wajahnya kembali memerah, meskipun mereka sudah halal namun rasa malu itu masih di rasakan oleh Dinda.


Kevin hanya tersenyum melihat sikap Dinda, ia mengerti jika dulu kasih sayang Dimas tak ia rasakan dengan hangat.


"Kau sudah siap melakukannya?" Tanya Kevin tanpa malu, hal itu membuat Dinda gelagapan.


"A-aku.. Emmhh.."


Tanpa menunggu jawaban Dinda, Kevin menggendong Dinda menuju ranjangnya. Di hempaskannya tubuh Dinda di atas kasur, membuat jantungnya berpacu dengan kecepatan tinggi.


"Kau terlihat gugup, tenang saja. Aku hanya akan menina bobokanmu, tidurlah malam ini. Aku tahu kau masih terlalu canggung terhadapku, maka khusus untuk malam ini kau aku biarkan lepas dari tanggung jawabmu memenuhi kewajiban seorang istri terhadap suaminya". Ucap Kevin sambil tersenyum, namun dalam kata-kata tersebut menyimpan beberapa ancaman yang mematikan. Entahlah, meskipun tidak terucap namun Dinda seakan terancam.


"Terimakasih". Jawab Dinda.


Malam ini Dinda bisa terbebas dari Kevin, ia merasa lega. Namun jika memikirkan kembali malam-malam selanjutnya, hal itu membuat jantung Dinda kembali bergetar.


'Dia terlihat tenang, tapi penuh ancaman'. Gerutu Dinda.


Kevin meletakkan kepala Dinda di atas lengannya, tangan satunya mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Kenyamanan itu kembali terasa oleh Dinda, seakan ia aman berada di dekapannya. Tak terasa matanya tertutup dengan rapat, suara nafas yang sudah beraturan terdengar di telinga Kevin.


'Istirahatlah malam ini, tapi kau tidak akan bisa lari lagi mulai besok malam'. Lirihnya dalam hati, sungguh terlihat sangat mengancam.

__ADS_1


__ADS_2