
Saat Dinda memasuki mobil, ia tersenyum kecut mengingat apa yang Amelia katakan tadi. Selama ini ia sudah dibod*hi oleh pria yang memang sudah jelas seorang pembual.
'Ha ha ha.. Bagaimana bisa aku tertipu oleh pria pembual sepertinya? Jelas-jelas ia hanya kasihan kepadaku, mengingat nasibku yang sangat menyedihkan. Aku saja yang begitu bod*h percaya dengan kebaikannya, ternyata semua hanya sebuah jebakan'. Lirihnya sambil mengusap air mata yang sempat menetes.
Julian yang melihat itu merasakan kesedihan yang Dinda rasakan, ia menghela nafas dalam-dalam memberanikan diri untuk menenangkannya.
"Bu Dinda, mungkin perkataan wanita itu hanya ingin memanas-manasi Ibu. Jangan percaya terhadapnya, Pak Kevin sangat baik tidak mungkin seperti itu". Ucap Julian.
"Sudahlah, saya tidak memikirkannya. Meskipun itu benar adanya pun tidak apa, saya bukan siapa-siapanya. Saya menangis hanya meratapi kebod*han diri sendiri". Jawab Dinda sambil tersenyum namun air matanya masih menetes.
Julian hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi, ia bisa menyimpulkan bahwa saat ini Dinda tengah dalam keadaan sakit hati. Hanya saja ia tak bisa mengatakannya, air mata yang keluar adalah jawabannya.
'Harusnya Anda jangan terpengaruh terhadap wanita itu, saya mengetahui karakter Pak Kevin bagaimana. Saya mengenalnya meskipun hanya dari cerita pengawalnya yang lain'. Ucap Julian dalam hati, ia tak bisa mengatakannya langsung. Ia tidak bisa memaksa Dinda untuk percaya terhadapnya, saat ini rasa sakit hati itu masih mengambil alih pikirannya. Sehingga ia tak bisa berpikir secara jernih.
'Dulu dia ingin belajar agama denganku, ternyata ilmu yang ia dapat masih kurang untuk melawan hawa nafsunya. Begitu teganya dia tidur dengan wanita yang bukan mahramnya, menjijikan'. Racaunya dalam hati, ia membayangkan bagaimana Kevin dengan teganya meniduri wanita itu. Rasa jijik menyeruak keluar dari hatinya, meskipun Dinda menahan untuk positif terhadap Kevin tetapi ucapan wanita itu lebih jelas daripada penjelasannya selama ini.
'Apa ini yang kau katakan itu jika 'jangan membuat jarak di antara kita meskipun hatimu tergores dengan ulahku'?. Ulahmu dalam arti meniduri wanita lain? Jijik aku mendengarnya'. Semua racauan Dinda menggema di hatinya. Ia terus bergumam, banyak hal yang tak bisa ia katakan namun berbeda dengan hatinya.
**
Setelah Amelia selesai dengan urusannya di restoran tersebut, ia pergi dengan taxi yang memasuki jalan penuh pepohonan yang masih rindang disetiap sisi jalan tersebut.
Taxi tersebut mendekati sebuah rumah mewah, namun terlihat kumuh dari depan jalan. Amelia pun menyuruh sopir taxi untuk berhenti tepat di depan rumah kumuh tersebut.
Amelia pun turun dengan seringaian bahagianya, ia langsung menutup gerbang lalu mendapati dua orang penjaga. Jarang-jarang bukan rumah mewah di biarkan kumuh seperti itu?
__ADS_1
Amelia di sambut dua orang yang membentangkan tangan ke arahnya, mereka menginginkan sebuah pelukan. Dan Amelia pun tanpa banyak berpikir langsung memeluk mereka, terlihat dari raut wajah diantara tiga orang tersebut yang saling melepas kerinduan.
"Kamu baru bisa mampir ke sini sekarang?" Tanya Jonathan, sang Ayah.
"Aku sangat rindu pada kalian, hanya saja aku harus mencari strategi baru untuk menjebak Kevin". Jawab Amelia.
"Anak Mommy memang pintar, tidak sia-sia Mommy menyembunyikan diri selama bertahun-tahun. Kamu harus ingat, semua rencana ini harus berhasil". Ucap Elena.
Selama ini Elena hanya pura-pura meninggal, tidak tahunya William membuat semua rencana mereka berjalan sempurna. Elana mengorbankan rasa sakitnya agar sang putri bisa dengan mudah masuk kedalam kehidupan William. Karena gila harta, mereka bertiga menyepakati perencanaan yang sudah di buat bertahun-tahun lamanya, sampai semua orang tak menaruh curiga.
"Mommy tenang saja, semua rencana kita akan berhasil. Karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Kevin". Jawabnya, membuat kedua orang tuanya pun bahagia setelah mendengar kabar tersebut.
"Benarkah? Mommy bangga terhadapmu, kita akan bebas mengambil harta mereka". Balas Elena.
Mereka pun kembali berpelukan saling merasakan kebahagia yang setelah bertahun-tahun lamanya sudah direncanakan.
Rumah kumuh tersebut hanya sebuah kedok, mereka menutupi semuanya agar tidak ada yang menaruh curiga. Kemewahan di dalamnya akan membuat semua orang yang memasuki rumah tersebut akan terpana, mereka begitu rapi menyiapkan segalanya. Sehingga tak ada yang bis mencium keberadaanya sampai sekarang.
**
Kevin menyeringai tajam mendengar informasi dari beberapa pengawalnya, mereka benar-benar sangat bisa di andalkan. Tak sia-sia pelatihan yang begitu khusus membuat mereka sangat lihai dalam menangani beberapa kasus.
'Mereka ternyata telah mempermainkan keluargaku, andai saja aku mengetahui kasus tersebut dari dulu, pasti mereka tak akan seenaknya seperti ini'. Gumamnya pelan.
"Kalian harus bisa mengaturnya, biarlah mereka bersenang-senang dalam beberapa waktu ini. Dan setelah itu, senyuman mereka tak akan pernah timbul kembali". Perintah Kevin, membuat beberapa pengawal bergidig ngeri. Ancaman Kevin memang tidak bisa di remehkan.
__ADS_1
"Baik, Tuan". Balas pengawalnya.
**
"Hei, apakah tugas asisten pribadi hanya bisa duduk di kursi seperti ini? Bahkan ini lebih menjengkelkan". Ketus Fania yang merasa bosan. Ia sudah bersepakat dengan Zidan untuk bekerja sama, Zidan menjadikannya asisten pribadi dan Fania tidak pergi dari tanggung jawabnya terhadap Zidan, namun masih mendapat gaji. Saling menguntungkan bukan?
"Jika kamu bosan, kamu bisa membersihkan setiap inci ruang kerjaku". Jawab Zidan sambil fokus terhadap berkas yang ia pegang.
"Ruangan ini terlalu bersih, aku tidak bisa melihat ada debu di sini. Apa aku bisa mengerjakan pekerjaan seperti orang kantoran lainnya?" Usul Fania, pandangan Zidan pun beralih kepadanya. Ia nampak menatap ragu ke arah Fania.
"Kau lulusan apa?" Tanya Zidan meremehkan.
"Aku lulusan SMP, tapi aku dulu anak pintar. Aku bisa menyanyi dan melukis, waktu itu guruku selalu memujiku setelah aku di tugaskan menyanyi di depan kelas". Jawabnya polos, Zidan mengulum senyum mendengarnya. Apa pekerjaan kantor cukup hanya bisa pandai menyanyi dan melukis?
"Oh, pintar ya? Coba sini, barangkali kamu bisa membantuku". Ucap Zidan memerintah kepada Fania untuk mendekat.
Setelah Fania mengambil satu lembar kertas dari yang Zidan pegang, ia pun langsung menyernyitkan dahi. Tulisan dalam kertas tersebut tak satu pun ia mengerti, hal itu membuat Fania terlihat menggemaskan di mata Zidan.
"Tulisan apaan ini? Tidak jelas, tidak ada yang ku mengerti sedikit pun". Ketusnya sambil menaruh kembali ke tumpukan kertas yang ada di hadapan Zidan.
"Katanya kamu pintar?" Cibir Zidan.
"Aku hanya belum siap untuk berpikir". Jawab asal Fania, ia pun kembali ke kursinya dan duduk manis, Zidan hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Fania yang begitu unik.
**
__ADS_1