
Kevin dan Dinda berpisah setelah sampai di depan perusahaan Adhinatha. Kerinduan mereka harus tersimpan untuk beberapa jam mendatang. Ya, Rindu. Entah bagaimana kerinduan itu selalu hadir, yang jelas berapa detik pun perpisahan itu akan selalu menyimpan rasa rindu di hati mereka.
Dinda menatap kepergian mobil yang di kendarai Suaminya, rasanya tak tega untuk berpisah dengan pria tersebut. Jika saja ia tak berperan penting dalam perusahaan ini, mungkin saja ia akan mengikuti kemana Kevin pergi.
Saat isi kepalanya sedang memikirkan sedikit tidak ikhlas dalam berpisah dengan pria tersebut, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dinda sedikit tersentak, karena hal itu membuatnya merasa kaget.
Ia pun menoleh ke arah seseorang tersebut, dan kejutan pun mulai terbuka. Seseorang yang menepuk pundaknya adalah Elsa, diam-diam ia mencari tahu tentang informasi Dinda. Dengan itu ia bisa lebih bebas menghampirinya kapan pun ia mau.
"Kau lagi.." Ketus Dinda sembari memutar bola mata malasnya.
"Ternyata ingatanmu sangatlah kuat". Ucap Elsa sambil bersedekap. Ia memandangi penampilan wanita yang di cintai mantan kekasihnya dari ujung kepala, sampai ujung kaki. Menurutnya tidak ada yang menarik, ia masih merasa dirinya lah yang lebih pantas untuk mendampingi Kevin.
"Aku bisa menebakmu, kau terlalu mengidolakanku ternyata. Dari mencari informasi dimana tempatku bekerja, sampai saat ini memandangiku dengan begitu lekat. Apakah aku semenarik itu?" Kekeh Dinda, ia tidak bisa begitu saja menghadapi calon pelakor yang berada di depannya.
Menurutnya wanita harus lebih tangguh dari sebelumnya, dulu ia harus mengalah begitu saja. Tetapi dalam detik ini, Dinda harus memperjuangkan hak kepemilikannya. Satu hal lagi, pembaca akan mendemo Author jika pemeran utama wanitanya kembali lemah. Benar 'kan?
"Kau terlalu percaya diri, ku rasa kau tak ada apa-apanya jika di bandingkan denganku". Jawab Elsa, sambil memainkan rambut panjangnya yang berwarna keemasan.
"Oh, ya? Tetapi ku rasa ada sedikit keanehan di sini..". Ucap Dinda yang sengaja belum dilanjutkan, ia ingin mengetahui seberapa besar rasa penasarannya. Dan benar saja, pandangan Elsa semakin tajam. Seakan ia tengah menunggu kelanjutan ucapan Dinda.
"Aneh saja, sosok wanita yang merasa lebih dariku terlihat kebakaran jenggot. Terlihat dari seberapa seriusnya dirimu mencari keberadaanku". Sambung Dinda.
Elsa mengeratkan rahangnya, ia kembali di buat bergejolak emosi karena wanita yang memang menjadi incarannya. Ia benar-benar ingin menyingkirkannya.
"Perasaanmu saja.." Ucapnya sembari mencebik. Ia pun melengos begitu saja, peegi dari pandangan Dinda.
Melihat hal tersebut, Dinda hanya tersenyum sinis. 'Kenapa di zaman sekarang begitu banyak ulat bulu?' Gumamnya dalam hati.
**
__ADS_1
"Ini tidak bisa di biarkan, Kevin tidak bersalah. Semua ini kesalahanku. Dad, kau tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah rumit ini?" Tanya Alisha yang kini wajahnya berubah menjadi pucat, hatinya bergejolak penuh kekhawatiran.
"Aku belum memikirkannya, selain menghabisinya sekaligus belum ada cara jernih yang melintas di otakku". Jawabnya sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
Alisha menghela nafas kasar, kesalahannya di masa lalu begitu besar. Hingga ia tega memisahkan seorang kekasih yang saling mencintai, dan apa yang terjadi kini? Setelah beberapa tahun lalu, cinta itu kembali hadir dalam kehidupan nyata. Elsa yang dulu terlihat polos dan lugu, kini mempunyai sosok penjaga dari geng mafia the eagle.
"Tapi, kabar baiknya.. Aku telah menaklukkan geng mafia the eagle. Tinggal satu masalah lagi yang belum terselesaikan". Sambung William.
"Mommy akan pergi menemuinya dan berbicara secara baik-baik. Yah, hanya itu yang bisa Mommy lakukan". Ucapnya setelah beberapa menit yang lalu terdiam.
**
Sepanjang perjalanan ke kantornya, Kevin sejenak terlamun dalam ingatan masa lalunya. Dimana ia tengah bersama bergandengan tangan dengan Elsa. Ia mendengus kesal ketika sosok wanita tersebut ada dalam lamunannya.
Selama beberapa tahun yang lalu ia sempat merasa frustasi akibat kehilangan sosok orang yang ia cintai. Tak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dalam dunia maya, sampai ia muak dengan sosok wanita tersebut karena tak pernah lagi muncul di kehidupannya.
Namun kenapa setelah Kevin menemukan kehidupannya yang baru, ia bisa muncul dengan tiba-tiba? Kemana ia sebelumnya? Semua cinta itu berubah menjadi kebencian, benci karena ia hampir gagal menopang hidupnya sendiri demi memikirkan gadis yang tidak jelas.
**
"Bisa-bisanya emosiku naik karena wanita itu! Dasar bedebah yang tidak berguna". Gerutunya sambil mengeratkan kedua rahangnya.
Niat hati ingin memanas-manasi Istri dari kekasihnya di masa lalu, ternyata malah ia yang terlibat dengan emosinya sendiri. Wanita itu memang tak bisa di anggap sepele.
Dring ponsel membuyarkan lamunannya, walau masih menggerutu ia tetap mengambil ponsel tersebut.
Matanya membelalak tak percaya ketika seseorang yang sudah lama kembali menghubunginya. Meskipun mereka tak lagi berhubungan, tetapi nomor ponselnya masih tetap tersimpan.
Dengan tersenyum sinis, ia mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Halo wanita tua! Kau masih menyimpan nomor teleponku ternyata". Sapa Elsa yang merasa puas.
"Kita harus bertemu, sibuk atau tidak kau sekarang aku tak peduli. Temui aku di Restoran Senja saat ini". Ucap Alisha.
"Wow, kau terlalu terburu-buru wanita tua. Kesabaranmu ternyata begitu kecil setelah lama kita tidak bertemu". Jawabnya.
Tanpa menjawab apapun, Alisha memutuskan panggilan tersebut. Hal itu membuat Elsa semakin penasaran apa yang akan wanita yang ia panggil tua tersebut bicarakan.
"Baiklah, aku datang! Bersiaplah untuk kalah dariku saat ini". Ucapnya sembari mengemudikan kembali mobilnya menuju Restoran tersebut.
**
"Kau yakin akan menemuinya?" Tanya William yang terlihat gusar, ia merasa cemas dengan keselamatan sang Istri yang harus kembali bertemu dengan pengacau kecil.
"Tentu, ini semua kesalahanku. Dan aku akan mempertanggung jawabkan semuanya". Jawab Alisha sembari merapihkan penampilannya.
"Jaga dirimu baik-baik.." Ucapnya sambil menc1um punggung sang Istri.
Alisha pun membalikkan tubuhnya, lalu tangannya melingkar di leher sang Suami. Pelukan itu ia eratkan, seakan hari terakhirnya akan segera habis.
Alisha pun pergi melangkah keluar dari mansion tersebut dengan perlahan setelah melerai sebuah pelukan hangat itu.
**
Zidan kembali memasuki ruangan tempat dimana Fania tengah di rawat. Dengan wajah datarnya, ia mengambil sesuatu yang berada di atas meja tersebut dan membalikkan tubuhnya melangkah menuju pintu keluar tanpa menyapa Fania.
Fania hanya tersenyum dalam hati, rupanya seperti ini wajah pria tersebut marah. Akhirnya ia pun membuka suara, tanpa memperdulikan rasa gengsinya.
"Semarah itu 'kah?" Ucapnya sambil mengulum senyum.
__ADS_1
"Itu tidak penting, urusi saja pria yang sudah membawamu ke Rumah Sakit ini". Jawabnya dengan masih mempertahankan pandangannya yang tak sedikit pun melihat ke arah Fania. Lalu ia kembali pergi.
Fania menyernyitkan kedua alisnya, bagaimana bisa ia marah jika hanya karena sebuah masalah yang sepele? Apalagi menyangkut dengan pria itu. Sungguh sangat tidak wajar.