Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 60 Ketampanan Zidan


__ADS_3

Dinda menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya yang terasa nyaman, namun hatinya merasa aneh dengan kejadian akhir-akhir ini.


Ia merasa orang di sekitarnya, dengan mudah mendekat lalu menjauh tanpa sebab. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini, hanya saja jika seperti itu ia akan terlihat menjadi wanita pengecut.


"Mungkin aku harus membatasi diri terhadap orang lain. Tak seharusnya hatiku terbuka dengan mudah untuk orang lain masuk". Lirihnya, ia merasa beban hidupnya begitu berat.


Ini terlihat sepele, hanya saja hatinya yang menjadi masalah. Ia tak bisa mengarahkan hatinya untuk bisa percaya atau tidaknya terhadap Kevin. Dan baru saja kejadian itu berlalu, Rio dengan mudahnya ingin mengatur kehidupannya secara pribadi. Ia tak bisa begitu saja menerima keadaan, mungkin menjauhi adalah hal yang terbaik.


Tapi, semua itu masih terlihat seperti teka-teki di hidupya, ia merasa bahwa salah satu dari mereka ada yang akan membuat kenyamanan dan juga kejahatan.


**


Konsentrasi Rio buyar saat mengingat kejadian tadi pagi, bagaimana bisa ia tidak teliti dalam mengetahui hal tersebut. Jika sudah seperti ini, jangankan dekat dengan Dinda, hanya sekedar niatnya pun juga ia harus dengan matang memikirkannya.


'Kenapa aku sangat ceroboh? Tahu seperti ini, aku tidak akan menyetujui perjanjian tersebut'. Gumamnya, merasa gusar.


'Ini belum terlambat, aku harus mempunyai cara lain agar Dinda kembali dekat denganku'. Racaunya lagi, setelah beberapa menit bertekadkan memikirkan kembali keinginannya.


**


Fania turun dari motor tukang ojek yang telah mengantarkannya, setelah ia ingin memasuki halaman mansion Zidan, wanita yang ia lihat saat itu kembali menampakkan dirinya. Namun saat Fania bergegas mendekatinya, wanita tersebut masuk kembali ke dalam mansion tanpa mengetahui keberadaan Fania yang sedang mengamatinya.


"Siapa wanita itu? Kenapa aku merasa mengenalnya? Kenapa tak mengingatnya sama sekali? Aarrgghh.. Otak ini, kadang begitu lelet". Ucapnya bertanya-tanya, sambil memukul kepalanya. Ia menyalahkan otaknya yang tidak bisa mengingat wanita itu, rasanya di dalam diri wanita itu ada hal penting yang ia lupakan.


"Apa aku cari tahu sendiri? Ahh.. Mungkin aku hanya pernah sekilas melihatnya di tempat perbelanjaan dan itu hanya kebetulan". Gumamnya sambil berpikir keras mengingat wanita itu.


Fania tak mengingat wajah Lidya yang saat itu dengan sengaja mengguyur minuman ke wajah Fania. Dan sebaliknya, Lidya pun tak mengetahui siapa Fania. Saking emosinya kepada Dimas, Lidya tidak ingin memikirkan wanita yang tengah bersama Dimas.


Fania pun bergegas memasuki mansion tersebut dengan di sambut pengawal pribadi Zidan.

__ADS_1


"Mari, Nona. Tuan Zidan sudah menunggu Anda". Ucap pengawal tersebut.


**


Zidan tengah menunggu Fania dengan sabar di ruang kerjanya, ia nampak gagah dengan belutan jas hitam dan sorot matanya yang fokus menghadap layar komputernya. Fania dengan lekat memandangnya tanpa berkedip, ia sedikit terkesima dengan penampilan Zidan saat ini.


'Ku pikir dia seorang pengangguran yang bermodalkan kekayaan orang tua, tapi penampilannya berbeda dengan sebelumnya. Dia terlihat lebih menarik'. Ucapnya dalam hati.


"Aku memang tampan, jangan melihatku seperti itu". Ucap Zidan yang bisa menebak isi hati Fania, hal itu membuat Fania tersentak dan membelalakkan matanya tak percaya. Bisa-bisanya saat ia terlihat fokus tebakannya bisa dengan mudah tidak meleset.


Pengawal pun pergi dari ruangan tersebut setelah mengantar Fania. Kini tersisalah mereka berdua, suasana seperti ini mengingatkan cerita novel yang bertemakan tentang seorang wanita cantik dan mafia kejam bukan?


Zidan mengabaikan komputernya, ia segera fokus ke arah Fania yang menginginkan untuk melepaskannya dari rasa tanggung jawab saat malam lalu. Ia nampak berfikir dan sambil memperhatikan Fania.


'Jangan-jangan dia mau menebus semuanya dengan tubuhku, seperti di cerita novel yang sudah aku baca? Jangan, semua ini tidak boleh di biarkan'. Ucapnya dalam hati yang menerka-nerka.


"Kamu ingin bebas dari tanggung jawabmu 'kan?" Tanya Zidan.


"Kau pintar sekali, tadinya aku tidak berfikir seperti itu. Tapi kamulah yang membuat ide bagus untukku". Jawabnya sambil menyeringai tajam, hal itu membuat Fania terkejut dan tubuhnya hampir melemas mendengar perkataan Zidan yang sangat tajam.


Zidan pun mendekat, tatapannya memperhatikan tubuh Fania dengan lekat sambil tersenyum, namum senyuman itu tidak dapat Fania artikan. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Fania, membuatnya memejamkan mata.


"Aku akan menjadikanmu asisten pribadiku, sehingga aku tak merasa jauh darimu dan kau pun tak pergi dari tanggung jawabmu. Satu hal lagi, cuci otakmu dari hal-hal yang mes*m. Karena aku tak berselera dengan tubuhmu yang rata itu". Bisik Zidan, membuat wajah Fania memerah menahan malu, lalu akhirnya bisa bernafas lega. Ternyata Zidan tak seburuk yang ia kira.


"Sebutkan gaji yang kau inginkan, berapa pun itu. Dan jika kamu tidak menyetujuinya, maka kamu harus membayar denda 1 Milyar". Sambung Zidan mengancam, ia tak mau jauh lagi dengan Fania. Rasanya wanita itu terasa unik dari beberapa wanita lainnya.


"Kau mengancamku?" Tanya Fania.


"Aku hanya memberimu pilihan, bukan mengancam. Denda tersebut untuk mengganti kerugian berobatku". Jawab Zidan.

__ADS_1


"Orang kaya memang perhitungan". Cibir Fania kesal.


"Jelas, jika aku tak perhitungan, mana mungkin aku bisa kaya. Benar 'kan?" Jawabnya asal, membuat Fania semakin berdecak kesal.


**


Dinda telah selesai pertemuan dengan kliennya, mungkin saat ini suasana hatinya sangat kacau tapi berbeda dengan usaha bisnisnya yang semakin melesat. Heru tak sia-sia mempercayai Dinda untuk menjadi pemimpin di perusahaan tersebut, setelah kepemimpinannya perusahaan Adhinatha menjadi meningkat.


Dinda dan Julian pun segera meninggalkan restoran tersebut setelah urusannya selesai, hanya saja sepertinya masalah besar akan segera tiba saat melihat Amelia berjalan dengan anggun ke arah Dinda.


Sorot mata Amelia seperti menampakkan kemenangan, terlihat jelas ketika mereka berpapasan begitu dekat.


"Kamu sekretarisnya Kevin yang waktu itu 'kan? Mungkin kemarin kamu yang ia puja-puja, tapi untuk saat ini aku pemenangnya". Ucap Amelia dengan angkuh.


"Kalau begitu, selamat atas kemenangan Anda". Jawab Dinda sedikit menyanjungnya. Ia tak mungkin meladeni wanita yang kurang waras sepertinya, sehingga ia lebih baik mengikuti alur cerita yang ia buat.


"Kau tak mau tahu apa arti kemenanganku saat ini?" Tanya Amelia, berharap Dinda akan tertarik untuk ingin tahu.


"Apa hak saya mengetahui itu? Saya hanya bawahan Pak Kevin, tidak baik bukan jika mengetahui hal pribadinya secara langsung?" Jawab Dinda sedikit tajam.


"Kamu ternyata mempunyai omongan yang pedas juga, ya! Aku akan memberi tahumu untuk sekedar informasi, aku akan menikah dengan Kevin. Dan kamu tidak tahu 'kan semalam terjadi apa di antara kita?" Tanya Amelia yang ingin segera melihat wajah Dinda kecewa. "Dia sangat ganas di atas tubuhku, ups!" Sambungnya kembali.


'DEG!'


Dinda seakan tak percaya, tapi apa yang di ucapakan Amelia pasti terjadi. Pria mana yang tidak akan menolak jika melihat tubuh Amelia yang begitu sexy?


"Mulai hari ini, jangan dekati calon suamiku lagi. Aku tidak mau kamu menjadi duri dalam hubunganku". Ucap Amelia.


"Sebelum Anda menyuruh saya, itu akan segera terjadi. Selamat atas kemenangannya, saya sangat mengapresiasi kerja keras Anda yang begitu menjijikan". Balas Dinda yang tidak mau kalah, ia pun segera meninggalkan Amelia yang merasa dirinya terhina.

__ADS_1


"Sebentar lagi kau akan di pecat, selamat atas jabatan barumu menjadi pangangguran". Teriak Amelia yang di terisi ancaman.


"Oh, saya senang sekali Nona. Saya tunggu itu". Jawab Dinda dengan tersenyum sinis.


__ADS_2