Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 75 Bangkai tikus


__ADS_3

Kevin tersenyum melihat Sang Istri yang terkulai lemas dalam pelukannya, dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Di usapnya pipi mulus itu dengan penuh kasih sayang.


'Inilah hasil dari perjuanganku, akhirnya kau aku dapatkan'. Gumamnya sambil mengecup kening Istrinya.


Ia merasa bangga telah memperjuangkan Dinda selama ini, walaupun ia sempat putus asa untuk meraihnya.


'Kau sangatlah berharga, sehingga aku tak bisa membiarkanmu lolos dari jangkauanku begitu saja'. Gumamnya lagi sambil mengeratkan pelukannya.


Terusik karena gerakan Kevin yang mengeratkan pelukannya, Dinda tersadar dari tidurnya yang singkat. Matanya kembali terbuka merasa Kevin begitu buas menci*mi setiap sudut wajahnya dengan singkat.


"Uuhh.. Kau mengganggu tidurku, Pak Kevin". Keluh Dinda. Sebenarnya ia merasa sangat lelah dengan pergulatan yang sengit di beberapa menit yang lalu. Namun karena saking usilnya, Kevin tak bisa membiarkan Dinda kembali terlelap dengan sempurna saat keinginan itu kembali hadir di dirinya.


"Jangan sebut aku dengan sebutan itu, usiaku belum setua itu". Gerutu Kevin, karena Istrinya terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.


Dinda merasa ada yang berbeda terhadap Suaminya, setelah ia memberikan kehormatannya secara tiba-tiba Kevin terlihat manja. Apa ini sikap asli yang tersembunyi dari dirinya? Jika semua orang tahu, mungkin itu terlihat konyol.


"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" Tanya Dinda.


"Apapun secara romantis, aku ingin hubungan ini terjalin dengan sangat romantis". Jawab Kevin.


Dinda hanya terdiam sesaat setelah mendengar penuturannya. "Baiklah, Sayang!" Sahut Dinda meskipun masih terlihat agak malu.


"Kau sangat menggemaskan, aku anggap kau sedang menggodaku saat ini. Jadi jangan mengelak jika aku menginginkan itu beberapa kali lagi di malam ini". Jawab Kevin.


"Aku? Menggodamu? Ta-tapi, kau yang menyuruhku untuk memanggilmu secara romantis". Ucap Dinda mengelak.


"Tidak, tidak.. Kau tengah berinisiatif untuk menggodaku, jadi jangan keberatan jika aku menyerangmu kembali". Jawab Kevin dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Aakkhh..." Teriak Dinda saat bibir itu kembali menjelajahi tubuh mungilnya, ini hal wajar untuk pengantin baru. Iya 'kan?


Kevin terkekeh melihat wajah Dinda yang terlihat gugup kembali, namun karena ini hal pertama untuk Kevin, aktivitas tersebut menjadi candu baginya. Ternyata pacaran sesudah menikah sangatlah terkesan berbeda, ada rasa haru juga bahagia. Tanpa harus merasa ketakutan untuk melakukan sesuatu yang intim.


Sepasang pengantin baru pun kembali saling berbagi kenikmatan, tanpa mereka sadari waktu telah sangat larut. Namun aktivitas tersebut masih berjalan. Sehingga ruangan tersebut penuh dengan suara-suara erangan kenikmatan diantara mereka berdua.


**


Tok.. Tok.. Tok..


"Kevin, bangun.. Mantuku Dinda, kau juga harus bangun, Nak. Kita harus segera berangkat ke Bali, kalian tidak boleh lupa". Teriak Alisha, membangunkan kedua sepasang sejoli tersebut.


Dinda menggeliat dari tidurnya setelah mendengar kebisingan dari ketukan pintu yang di sebabkan oleh Mertuanya. Tubuhnya terasa remuk setelah mendapat permainan Kevin yang menggila, ia hampir tak di beri istirahat setelah beberapa kali mendapat pelepasan.


Mereka kembali tertidur sesudah melaksanakan shalat subuh, sehingga mereka terbangun saat jam telah menunjukkan pukul 10.00.


"Astagfirullah, kita akan melewati jam penerbangan jika tidak segera bangun". Ucap Dinda seketika panik, setelah menoleh ke arah jam dinding. Ia tidak percaya bisa bangun ke siangan seperti ini.


"Kau sangat berlebihan, Honey. Bukankah jika tidak berangkat ke sana pun, kita bisa menikmati sisa menjadi pengantin baru di kamar ini". Ucapnya dengan santai.


"Mesum.." Cebik Dinda sambil mencubit pipi Kevin.


"Aaww.. Kau ternyata jahat, belum juga genap seminggu pernikahan kita, kau sudah melakukan KDRT terhadapku". Jawabnya dengan terkekeh.


Dinda pun sama terkekeh karena ucapan Kevin, ia baru menyadari ternyata wajah datar Kevin yang dulu hanyalah sisi luarnya saja. Tapi ia menyukai karakter Kevin yang justru memperlihatkan ke manjaannya hanya kepadanya seorang. Karena setiap berpapasan dengam setiap orang, ia selalu memperlihatkan tatapan tajamnya seakan ingin memakan orang yang berani mencoba memandangnya.


**

__ADS_1


Keluarga Jonathan sudah tidak kuat dengan siksaan yang mereka rasakan saat ini. Bahkan tubuhnya hampir seluruhnya memerah saking merasakan gatal oleh ratusan kecoa yang berani merayap ke sembarang tubuhnya.


Suara mereka pun hampir hilang karena di sepanjang malam berteriak ke gelian. Sampai tubuh mereka melemas dan tak bisa memberontak saking banyaknya kecoa berkerumun merangkak ke tubuhnya.


"Siksaan mereka tidak begitu mengerikan, tetapi hal ini membuat kita mat* secara perlahan". Keluh Elena dengan suara seraknya.


"Aku sudah tidak sanggup lagi, kenapa kita bernasib si*l? Harusnya kita tengah menikmati kekayaan keluarga William saat ini". Balas Amelia yang sama mengeluh.


Dengan tiba-tiba tiga orang pengawal kembali menyeret keluarga Jonathan keluar dari ruangan tersebut. Mereka menghela nafas panjang, akhirnya hukuman tersebut bisa mereka lewati walau hampir seluruh tubuh mereka memerah karena ulah beberapa ratus kecoa.


'Mungkin ini adalah akhir dari siksaan yang telah keluargaku alami. Setelah ini, balas dendam harus segera direncanakan kembali'. Gumam Elena yang percaya diri.


Mereka di bawa ke sebuah ruangan yang berbeda saat ini, namun masih di satukan dalam satu ruangan. Mata mereka tampak membelalak ketika beberapa makanan yang menggugah selera tersedia di ruangan tersebut. Air liur mereka seakan menetes melihat hidangan yang telah tersaji.


Mereka di bebaskan dari lilitan tali yang kencang itu dan menyuruhnya makan, agar hukuman tersebut bisa kembali berjalan dengan lancar. Para pengawal membawa wadah besar di tangannya saat keluarga Jonathan gengah menikmati makanannya.


Tidak di sangka dalam wadah besar tersebut terdapat ratusan bangkai tikus yang sudah membusuk. Dan tanpa aba-aba, para pengawal menaburkannya di setiap penjuru ruangan itu. Makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulut akhirnya keluar karena tak bisa menahan mual.


"Aarrgghh.. Ku kira hukuman ini sudah berakhir, ternyata masih banyak trik yang mereka simpan untuk membun*h kita secara perlahan". Keluh Elena, sambil menutup hidungnya. Namun hal tersebut tak membantu, dan akhirnya ia kembali mual saking merasa bau.


"Awalnya aku merasa lapar saat melihat makanan ini, tapi setelahnya aku tidak bisa makan makanan enak tersebut. Aarrgghh.. Ternyata mereka lebih licik dari yang kita bayangkan". Ucap Amelia yang kesal.


Jonathan tak bisa berkutik, ia bukan hanya menahan hukuman ini. Tapi ia juga tengah menahan rasa dendamnya kepada Elena, tali itu sudah terbuka dan dengan itu ia bisa leluasa menghabisi Elena dengan gangannya.


Tanpa ia sadari, instingnya membawa mendekati Elena. Dan..


'BUGH.. BUGH.. BUGH..'

__ADS_1


Ia menghujamkan beberapa tinjuan ke arah Elena, putrinya menjerit histeris melihat Ibunya terkapar lemas di atas lantai yang beralaskan bangkai tikus.


"Mommy, kau terluka.. Kau tak apa? Bertahanlah, jangan sampai kau meninggalkanku". Teriaknya, pandangan Amelia pun tertuju pada Jonathan dengan tajam. Dalam hatinya ia mengutuk Jonathan, tidak ada lagi rasa tega yang selama ini terjaga dalam hatinya kepada Elena.


__ADS_2