Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 44 Menghadiri Pesta


__ADS_3

Meskipun Amelia kesal dengan perlakuan Kevin ketika di butik, ia kini masih memaksakan diri untuk ikut bersama orang tua Kevin. Namun ketika ia menuruni tangga dengan anggun, pandangannya tertuju pada Kevin yang belum pergi. Dan ia masih terlihat santai duduk di sofa.


'Kenapa Kevin belum pergi? Apa dia tak menjemput wanita itu? Aahh.. Atau mereka tengah bertengkar? Mungkin dia sedang menungguku, ia akan pergi bersamaku. Tak sia-sia aku berdandan cantik'. Gumam hatinya dengan penuh percaya diri.


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju Kevin dengan tersenyum, namun Kevin hanya memalingkan muka malasnya.


'Cih, dia lagi..' Desisnya.


"Kevin, kita berangkat bersama 'kan?" Tanya Amelia.


Kevin tak menjawab, ia malah asyik memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Amelia yang sedari tadi menunggu jawaban dari pertanyaannya.


Secara kebetulan orang tua Kevin datang dan sudah terlihat rapi dengan pakaian yang mereka kenakan.


"Ayo kita pergi!" Ajak Alisha.


"Kita pergi dengan mobil masing-masing, Mom". Ucap Kevin.


"Tante, aku bisa ikut dengan Kevin 'kan? Tujuan kita searah". Pinta Amelia yang bersikap genit.


"Tentu saja, Tante sangat mendukung itu. Daripada mobil Kevin harus menampung wanita rendahan, mending wanita yang berkualitas sepertimu yang menemani Kevin". Jawab Alisha dengan sedikit menyindir Kevin.


Kevin tak menggubris perkataan Alisha, ia pun lebih baik bergegas keluar menghampiri mobil yang telah di siapkan. Amelia pun cepat-cepat masuk ke dalam mobil yang di tumpangi Kevin tanpa seizinnya. Kevin hanya menghela nafas kasar melihat Amelia yang begitu ambisi ingin dekat dengannya.


Ia tak memperdulikannya yang sudah ada di dalam mobil tersebut, rasanya malas jika harus setiap hari berdebat dengan wanita yang menurut Kevin sudah hampir gil*.


Amelia sangat senang dengan Kevin yang membiarkannya masuk ke mobilnya, ia nampak tersenyum meskipun raut wajah Kevin terlihat datar.


Banyak pertanyaan yang tak penting ia lontarkan pada Kevin, namun tak ada satu pun yang Kevin jawab. Ia masih dalam mode datarnya, membuat Amelia mengerucutkan bibirnya tanda kesal.


**


Mobil pun berhenti di depan hotel mewah, Kevin turun tanpa memperdulikan Amelia yang berada di mobilnya. Ia melangkah masuk dan menyapa Dinda yang sudah menunggunya di depan hotel.

__ADS_1


"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Kevin.


"Tidak juga, saya baru saja sampai". Jawab Dinda.


Saat mereka tengah saling menyapa, Amelia dengan beraninya menggelayutkan tangannya ke lengan Kevin. Dinda sampai memicingkan matanya, tak percaya jika di kehidupannya masih saja ada wanita yang sama seperti Lidya. Mereka bisa di katakan sama, karena sama-sama terobsesi terhadap pria sampai menghalalkan segala cara.


"Lepaskan!" Sentak Kevin dengan menepis tangan Amelia.


"Kau lupa Kevin? Kita dari rumah pergi berbarengan, tetapi kenapa kau menampik keberadaanku di sini?" Protes Amelia.


"Apa harus aku ingatkan lagi siapa kau di sini? Kau hanya orang lain yang ingin menyelinap masuk ke kehidupan keluagaku dengan memaksa. Apa itu terlihat baik?" Jawab Kevin yang membuat Amelia tersentak.


"Kau menganggapku orang lain?" Tanya Amelia pura-pura sendu.


"Aarrgghh.. Mulai drama lagi, ayo kita masuk, babe! Angin malam sangatlah berbahaya". Ajak Kevin sambil mengangguk pelan, tanda Dinda harus mematuhinya. Tanpa bertanya, Dinda pun mengerti dan melangkah pergi menjauhi wanita yang terngah beraksi bersama aktingnya.


'Si*lan! Aku sampai di tinggal, apa wanita itu lebih berarti di bandinkan denganku?' Tanya Amelia dalam hati.


**


"Kau terlalu berlebihan menilai tentang penampilanku". Jawab Fania yang terlihat merah di sudut pipinya.


Hatinya bergemuruh hebat saat Dimas memuji kecantikannya, namun dengan keras ia menolak. Ia tak mau terjebak dalam hati pria, ini hanya sekedar membantu Dimas. Tak lebih dari apapun. Fania pun menghirup nafas dalam-dalam, berharap perasaannya kembali normal.


Saat Fania memperhatikan suasana dalam acara tersebut, tak sengaja ia melihat Dinda tengah berjalan ke arahnya. Ia tersenyum dan langsung menyapanya, sehingga Dinda nampak begitu terkejut dengan adanya Fania.


Begitu pun dengan Dimas yang sama halnya terkejut, ternyata teman yang menjadi kencannya terlihat akrab dengan mantan istrinya.


'Ini sangat menarik..' Lirihnya sambil tersenyum dalam hati.


"Kau di sini juga ternyata?" Tanya Dinda dengan sedikit meleraikan pelukannya, Fania pun mengangguk.


"Ya, aku senang bertemu denganmu Dinda. Sudah lama kita tak bertemu". Jawab Fania, Dinda semakin tersentak ketika mengetahui siapa yang menjadi teman kencannya. Ia pun segera memalingkan wajah tak sukanya.

__ADS_1


"Kau datang bersama Pak Dimas?" Tanya Dinda.


"Iya, kalian saling mengenal?" Tanya balik Fania.


"Ya, kita hanya rekan bisnis". Jawab singkat Dinda. "Aku akan menemuimu lagi nanti, sampai jumpa". Pamit Dinda, yang di balas anggukan oleh Fania.


Ia tak ingin lama-lama dekat dengan Dimas, selain membuatnya tak nyaman tentu ia merasa tak suka dengan tatapan yang Dimas arahkan. Fania tak menyadari hal itu, karena ia terlalu fokus dengan rasa bahagianya bertemun teman.


'Semoga Fania tak akan terjerat oleh bualan pria hidung belang sepertinya'. Harap Dinda dalam hati.


**


Amelia masih merutuki nasibnya yang telah di campakkan oleh Kevin. Hatinya menjerit, emosinya membludak tak tertahan. Berungung Alisha segera datang, sehingga ia tenang dengan kehadirannya.


"Tante, Kevin.."


"Sudah ku katakan, jangan ganggu kesenangan anakku. Harusnya kau bercermin, apa yang salah darimu? Sehingga Kevin tak sudi mendekatimu". Ketus William yang sudah terlihat muak dengan sikap Amelia, ia terus saja menggantungkan harapan kepada Alisha. Dan hal itu semakin di benci oleh William.


Amelia bungkam karena perkataan William yang begitu tajam, ia tak menyangka William akan menentang keras niatnya untuk mendekati Kevin. Hanya saja urat malu Amelia sudah putus sejak lama, sehingga ia selalu merasa percaya diri akan mendaoatkan hati Kevin.


"Kau harus merencanakan sesuatu, jika tidak aku akan melaporkannya kepada Papih. Kau tak ingin 'kan rahasiamu terbongkar begitu saja". Bisik Amelia setelah William berlalu, ada nada ancaman dalam ucapannya. Membuat Alisha membulatkan matanya tak percaya.


'Si*l, dia sudah berani mengancamku. Jika saja bukan karena itu, aku tak akan tunduk mematuhi keinginannya mendekati putraku. Lagian aku tak berharap mempunyai menantu sepertinya, ia bagaikan iblis yang terus datang menghantuiku'. Ucapnya yang merutuki dirinya sendiri.


**


"Pak Kevin, saya harus pergi ke toilet sebentar". Pamit Dinda, yang di angguki Kevin.


Ketika Dinda tengah berada di dalam toilet, ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Ia pun bergegas keluar, namun sebuah tangan mencengkram dengan kuat. Ia tak bisa menghentikan aksinya, hingga mereka sampai di sebuah lorong sepi yang terdapat dalam hotel tersebut.


Dinda tersentak melihat wajahnya dalam remang cahaya yang sedikit penerangan. Ia hanya bisa menepis tangan yang mencengkramnya dengan kuat, hanya saja tangan itu sangat kokoh sehingga tak bisa dengan mudah ia lepaskan.


"Anda mau apa lagi, Pak Dimas?" Tanya Dinda dengan memberanikan diri.

__ADS_1


__ADS_2