Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 64 Tidak perlu mengotori tangan


__ADS_3

Setelah Dinda berpamitan kepada Yanwar, ia bergegas keluar dari apartementnya. Sopir sudah menunggunya dan beberapa pengawal Kevin pun masih sigap ingin mengawal kemana Dinda pergi.


"Kalian tunggu saja di sini, jaga Ayah. Saya hanya ingin pergi ke rumah sakit, tidak perlu kalian jaga". Ucap Dinda sambil memasuki mobilnya.


"Tapi, Nyonya.. Kami tidak bisa membiarkan Anda keluar tanpa pengawasan kami, Tuan akan marah jika mengetahui hal ini". Jawab salah satu pengawal tersebut.


"Saya hanya pergi ke rumah sakit, tidak perlu kalian ikuti terus kemana saya pergi. Ada Pak Darmo, dia akan bertanggung jawab atas keselamatan saya". Balas Dinda dengan sedikit terlihat kesal, ia tak ingin berdebat seperti ini. Hanya saja karena tugas mereka untuk memperketat penjagaan Dinda, mereka tak bisa melepaskan begitu saja Dinda yang hanya pergi dengan seorang sopir.


"Tapi, Nyonya.."


"Saya tidak mau berdebat lagi, kalian tetap di sini. Ini perintahku". Titah Dinda dengan keras, para pengawal hanya bisa terdiam dan tak bisa berkutik setelah nada bicara Dinda yang sedikit tegas. Mereka pun membiarkan Dinda pergi tanpa penjagaan dari pengawal Kevin.


**


"Mungkin dia ingin merayumu, Suamiku". Ucap Alisha kepada William, sambil menyunggingkan senyuman sinisnya. "Memalukan, suamimu Jonathan kau anggap apa?" Sambungnya bertanya.


"Diam, aku tak butuh komentarmu". Ucap Elena mencebik, ia pun kembali menoleh William. "William, aku mohon lepaskan aku. Semua ini aku lakukan karena aku menyesal telah mengambil keputusan yang salah. Kau mau 'kan memperbaiki hubungan kita yang telah kandas?" Ucapnya tanpa malu.


Raut wajah Jonathan memerah menahan amarahnya, meskipun ia tak berbicara namun ia bisa menilai bagaimana ia telah dibod*hi selama ini oleh dustanya Elena. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal dan alur nafasnya mulai tak tenang. Rasanya ia ingin menghabisi Elena saat ini juga.


"Kau menyesal, Elena? Manis sekali ucapanmu, kau kira aku tertarik memilih wanita yang sudah terlihat menjijikan di mataku? Tuhan memang adil, dulu aku sangat tulus mencintaimu. Tapi ketulusan itu kau abaikan dan di gantikan oleh istriku tercinta, Alisha. Kau memang berhak hidup sengsara". Ucap William yang sudah jengah mendengar bualan Elena.


"Suamiku, kau tidak merasakan perasaan suaminya saat ini? Pasti dia memendam emosi, bukan?". Usul Alisha yang ingin membuat rencana baru.

__ADS_1


"Kau pintar, Sayang. Bagaimana kalau kita lepaskan suaminya? Tangan kita tidak perlu repot-repot kotor, hanya demi ingin membalaskan dendam. Biarkan suaminya yang membalaskan itu, dia pasti sudah mengetahui alasannya merencanakan semua ini". Bisik William secara romantis, hal itu membuat Elena mendelik kesal. Ia masih tak memperdulikan perasaan suaminya atas perkataanya tadi.


William dan Alisha keluar dari ruangan kecil tersebut dengan bergelayut manja di lengan William, Elena semakin mencebik dalam hatinya.


'Aku pikir dia akan membuat hal yang tidak terduga untuk menyiksaku, tapi nyatanya tidak menakutkan sama sekali'. Desisnya dalam hati.


Alisha pun melempar cambuk tersebut ke arah pengawal Kevin. "Lepaskan suaminya, berikan cambuk itu kepadanya". Titah Alisha, ia kembali menoleh ke arah Elena dengan tersenyum tajam. Elena hanya memalingkan wajahnya, ia sangat muak dengan gaya Alisha yang terlihat sok pintar di mata Elena.


'Suamiku pasti akan melapaskanku, bukan menyiksaku meskipun ia di beri cambuk sekalipun'. Gumam Elena kembali.


Pengawal tersebut melepaskan tali yang membelit di tubuh Jonathan, Elena tersentak ketika raut wajah Jonathan yang terlihat marah. Ia ketakutan sampai tubuhnya gemetar, namun Jonathan tak berhenti mendekatinya dengan sebuah cambuk di tangannya. Dugaan Alisha memang benar, Jonathan kini tengah dilanda cemburu. Ucapan Elena memang memancing emosi Jonathan saat ini.


"Sayang, kamu mau apa?" Tanya Elena dengan sedikit gugup.


"Aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran, karena kau sudah mencoba menggoda pria lain di hadapanku. Kau menyesal 'kan rumah tangga bersamaku? Aku pun menyesal telah mendengarkan ucapanmu untuk menuruti semuanya, ternyata rencanamu itu ada alasannya. Alasan untuk dekat kembali dengan mantanmu dan membuangku setelah kejayaanku berakhir. Iya, 'kan?" Jawab Jonathan membuat Elena kembali tersentak dengan ucapannya.


"Oh, jadi rencana mu seperti itu, Elena? Tadinya aku ingin memberi kesempatan kepadamu, tapi kau hanya membual ternyata tentang perasaan itu". Ucap Willian dari celah dari pintu besi tersebut.


Ucapan William ternyata membuahkan hasil, Elena menoleh kearah pintu sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ternyata ia benar-benar wanita pembual.


"Ti-tidak William..".


Jonathan yang melihat itu semakin geram, ia menarik sebelah sudut bibirnya. Ternyata selama ini Elena masih mempunyai rasa terhadap William, ucapan manisnya tak sesuai dengan buktinya. Ia hanya di perbudak setelah kekayaan Jonathan yang dulu habis karena bangkrut.

__ADS_1


"Kau memang wanita licik, Elena. Kau pantas mendapatkan cambukan dariku". Ucap Jonatham yang sudah tidak tahan dengan emosinya semakin memuncak.


"Ti-tidak, Sayang.. Jangan.. Aarrgghh". Jerit Elena saat sebuah cambuk melesat dengan cepat ke arah tubuhnya, oleh ulah Jonathan.


William dan Alisha tersenyum menang dengan hal tersebut, ia merasa puas meskipun belum sepenuhnya dendam itu terbalaskan. Hanya saja melihat sifat asli Elena, ia telah mengetahui bahwa kekayaanlah yang hanya ada di kepala wanita licik itu.


"Biarkan suaminya yang mengambil alih pekerjaan kita". Ucap William sambil mengelus pucuk kepala Alisha.


"Maafkan aku, karena menyembunyikan semuanya darimu. Aku tidak ingin kamu membenciku, setelah mengetahui bahwa aku seorang pembun*h". Ucap Alisha menunduk.


"Jangan kau pikirkan lagi, semua itu sudah kita bahas. Jangan merasa bersalah, justru aku yang merasa bersalah. Aku tak ada di saat kau membutuhkanku". Jawab William yang kemudian memeluk erat Alisha. Pelukan itu membuatnya tenang, seakan tak ingin melepaskannya.


**


'Kenapa dia masih tetap memikirkan keselamatanku saat ini? Harusnya dia fokus saja dengan wanita itu'. Gumamnya dalam hati, 'mungkin dia hanya kasihan, ya hanya itu saja'. Sambungnya kembali, perasaan kesal masih terus menyeruak masuk begitu saja di hatinya tanpa ingin pergi.


Ia masih saja bingung dengan sikap aneh Kevin yang selalu berubah-ubah. Kadang ia terlihat peduli terhadap Dinda tapi kadang juga ia lebih memilih wanita lain daripada memikirkan hatinya yang tengah sakit hati.


Mobil pun terus melaju dengan tenang, sedikit demi sedikit rasa kantuk itu pun Dinda rasakan, sehingga ia tertidur dengan nyaman. Namun kenyamanan itu pun berubah menjadi tegang, saat gerombolan preman menghadang mobil yang di tumpangi Dinda.


Pak Darmo terpaksa menekan rem secara mendadak, sontak tubuh Dinda terguncang dan membuatnya terbangun. Para preman tersebut langsung memecahkan kaca mobil Dinda dan dengan cepat pintu pun terbuka.


'Ya Allah, ada apa lagi ini?' Gumam Dinda ketakutan.

__ADS_1


Preman tersebut menyunggingkan senyuman saat melihat keberadaan Dinda saat itu, mereka langsung membawa paksa Dinda. Tenaga mereka sangatlah kuat, sehingga memberontak pun hanyalah sia-sia.


"Pak Kevin.." Teriak Dinda dengan tidak sadar. Ia selalu merasa jika Kevin lah yang selalu membuatnya rasa aman, sehingga dengan tidak sadar ia berteriak memanggil namanya.


__ADS_2