
Dinda berdiri di depan jendela kamar apartementnya, menatap langit malam yang semakin terlihat gelap dan terdengar suara angin yang menabrak kaca jendelanya. Suara Kevin masih terdengar kuat di telinganya, apalagi kata-kata yang membuatnya terjatuh kembali.
"Aku memang jahat telah mengingkari janjiku, tapi kamu harus tahu semua ini tak seperti yang kamu lihat. Jika nanti semuanya menyulitkan hatimu, tetaplah tenang menjaga hati dan pandanganmu dari orang lain. Kau harus ingat selalu kepadaku, aku tak pernah tega terhadapmu sedikitpun. Jadi aku mohon, jangan membuat jarak di antara kita meskipun hatimu tergores dengan ulahku". Ucap Kevin setelah mereka akan berpisah dari pertemuan singkat di mobil tersebut.
Dinda semakin heran dengan ucapan Kevin yang seperti teka-teki baginya. Dalam hatinya banyak pertanyaan, tapi ia tak sampai mengungkapkan.
'Apa mungkin aku bisa mempercayaimu kembali? Aku takut terjatuh pada lubang yang sama dan mungkin hal itu akan sulit untuk ku obati, mengingat dirimu yang selalu berlaku hangat kepadaku'. Lirihnya dalam hati.
**
Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar Amelia, ia menggeliat sadar akan hal tersebut. Ia merasa ada yang aneh di dirinya kali ini, tapi ia belum menyadari apa ke anehan tersebut.
Ia kemudian menyibakkan selimutnya yang menutupi seluruh tubuh, sontak ia terkejut dengan tubuhnya yang tak mengenakan sehelai pakaian. Ia mengingat kembali pada kejadian malam yang terlalu banyak mabuk, namun sedikit pun ia tak mengingatnya.
"Kenapa ini? Siapa yang melakukannya? Atau, jangan-jangan.. Semua ini ulah Kevin? Aahh.. Benarkah? Ini akan menjadi kesempatan terbaikku agar segera menikah dengannya". Ucapnya sambil memikirkan beberap ide licik di otaknya.
"Tapi, jika ini pengawal Kevin yang buat? Tapi, tidak mungkin. Pengawal itu sangatlah setia kepada Kevin, tidak mungkin dia yang melakukannya". Ucapnya lagi tengah menerka-nerka.
"Aku harus segera memohon minta pertanggung jawaban Kevin". Desisnya, sambil menyeringai licik.
Amelia melangkahkan kakinya ke dalam toilet, tak ada rasa penyesalan di hatinya. Malah senyum gembira tersimpul di sudut bibirnya.
'Aku akan segera menjadi istri Kevin'. Gumamnya dalam hati.
**
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan terdengar dari depan pintu kamar Kevin, ia tak mendengarnya sebab tidurnya masih terlihat nyenyak. Tiba-tiba pintu pun terbuka tanpa persetujuan Kevin.
Amelia melangkahkan kakinya mendekati Kevin, ia tersenyum penuh dengan kemenangan. Kebiasaan Kevin yang bangun pagi menjadi pertanyaan Amelia, yang justru saat ini ia masih terlihat nyenyak.
__ADS_1
'Apa kamu sudah bekerja keras tadi malam, Honey? Sayang sekali, aku tak mengetahui kejadian itu. Aku tak bisa melihat ke ganasanmu saat itu'. Lirih hati Amelia, ia sudah yakin jika ulah Kevin semua pakaiannya menghilang saat tidur.
Ia segera mengulurkan tangnnya untuk mengusap wajah Kevin, namun dengan sigap Kevin terbangun dan menjauh dari sentuhan Amelia.
"Kenapa kamu ada di kamarku?" Tanya Kevin yang terkejut dengan kedatangan Amelia ke kamarnya.
"Justru aku datang ke sini untuk meminta pertanggung jawabanmu, kamu 'kan yang sudah membuat pakaianku semua tak ada di tubuhku?" Tanya Amelia yang berharap Kevin menjawab 'Iya'.
"Pertanggung jawaban? Kamu sudah tidak waras, ya?" Balas Kevin kebingungan.
"Tapi, karenamu aku ternodai. Kamu tidak bisa seperti ini, Honey. Kamu harus menikahiku". Jawab Amelia sedikit menangis, pura-pura menangis lebih tepatnya.
"Ya, sudah. Terserah!" Balas Kevin singkat.
"Benar 'kah? Kalau begitu aku ingin dalam seminggu lagi kita mengadakan acara pernikahan. Aku akan menyiapkan semuanya tanpa kamu bantu". Ucap Amelia dengan semangat.
Kevin hanya menyernyitkan dahinya, ia tak menyahut ucapan Amelia yang kini terlihat halu.
**
Saat Dinda hendak memasuki kantornya, terlihat Rio tengah menunggunya dengan setia di depan pintu utama. Ia menginginkan penjelasan mengenai malam tadi yang sempat kacau, karena Dinda menghilang tiba-tiba.
Dinda sudah menebak hal tersebut, apalagi melihat ekspresi Rio yang sedikit menahan kekesalan di wajahnya.
"Dinda, aku butuh penjelasan mengenai kejadian semalam". Ketus Rio, membuat Dinda mengerutkan dahinya. Ia heran dengan sikap Rio yang posesif.
"Aku hanya pulang.."
"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Kamu tidak menghargai keberadaanku?" Tanya Rio, penuh dengan penekanan.
"Hei, sejak kapan kamu mengatur hidupku? Sejak awal aku sudah bilang, aku tidak punya banyak waktu. Bahkan aku memberi kabar kepadamu melalui pesan singkatku agar kamu tak menunggu lama kedatanganku. Kenapa sekarang kamu begitu menekanku?" Jawab Dinda yang merasa tak suka dengan sikap Rio.
__ADS_1
"Ma-maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya.."
"Jam kerja sudah berlangsung, sebaiknya kamu pergi bekerja dan jangan membawa masalah pribadimu ke tempat kerja". Ucap Dinda yang memotong ucapan Rio. Saking kesalnya terhadap Rio, ia pun berlalu tanpa berpamitan terhadapnya.
Rio hanya tertegun dengan kepergian Dinda dari sisinya, tak menyangka sisi lembut Dinda menyimpan keberanian yang begitu memukau. Ia sampai merasa bersalah atas sikapnya yang keterlaluan, harapannya untuk dekat kembali dengan Dinda perlahan mulai menghilang.
"Hei, kamu sangat berani sekali membuat pimpinan perusahaan ini marah". Ucap karyawan lain yang kebetulan memperhatikan keduanya bertengkar.
"Pimpinan perusahaan?" Tanya Rio, bingung.
"Jangan bilang kamu tidak tahu jika Bu Dinda adalah pemimpin perusahaan ini?" Jawab karyawan tersebut.
Rio semakin gusar dengan jawaban rekan kerjanya, bagaimana bisa ia tidak mengetahui jika Dinda adalah pemimpin perusahaan tersebut. Dengan bod*hnya ia tak sempat menanyakannya.
**
"Kamu sedang menunggu wanita itu?" Tanya seorang wanita yang menghampiri Zidan.
Zidan tersadar dari lamunannya, ia kemudian beranjak dari kursinya. "Ini bukan urusanmu, kau bukan siapa-siapa di rumah ini. Jangan berlagak menjadi seorang ratu yang dengan seenaknya ingin mengetahui apapun di sini". Jawabnya ketus.
Merasa tak nyaman dengan kedatangan wanita tersebut, ia pun berlalu begitu saja tanpa memikirkan perasaan orang lain.
'Si*l, anak itu terlanjur tak menyukaiku. Jika seperti ini, aku tak bisa leluasa untuk menguasai rumah ini dan membalas dendamku pada orang yang telah melukaiku. Dia memang berbeda dari Kakaknya, Hendrik'. Lirih Lidya dalam hati.
Ya, Lidya kini berada satu rumah dengan Zidan. Seorang pria yang sempat menabraknya dulu adalah Hendrik, kakak dari Zidan.
Hendrik memperlakukan Lidya sangat baik, bukan karena ada perasaan tertentu terhadapnya. Hanya saja rasa tanggung jawabnya sangat besar, berbeda dengan Zidan yang bersikap acuh terhadap orang lain.
Ia tak suka dengan keberadaan orang baru di rumahnya, namun berbeda dengan Fania. Begitu bertemu dengannya, rasa nyaman itu bersarang di dalam dadanya.
'Aku harus menaklukkan tikus keras kepala yang satu ini'. Gumam Lidya, ia menginginkan kepercayaan dari orang-orang yang ada di sekitar rumah tersebut. Hal itu akan mempermudahnya membalaskan dendam, karena ada dukungan dari beberapa pihak.
__ADS_1