
"Kemana dia? Kenapa semalaman ia tak pulang? Tidak bisa di biarkan, bahkan malam pertama itu pun dia melewatkannya". Ucap Lidya mendengus kesal.
Perginya Dimas membuat Lidya semakin gusar, ia merasakan jika semua yang telah ia korbankan hanya sia-sia. Menyingkirkan Dinda tak membuahkan hasil baik untuknya, bahkan kesialan tak hentinya menyapa.
"Apakah wanita itu menjebak suamiku? Aahh.. Tidak bisa di biarkan, awas kau akan ku beri perhitungan". Ancam Lidya, dan kemudian pergi keluar untuk mencari Dimas.
**
Kabar baik untuk Dinda, sebab Ayahnya sadar. Hatinya tak berhenti mengucap syukur, dengan ini kehidupannya tak akan kesepian lagi meskipun sang Ibu telah meninggalkan mereka.
Senyum bercampur haru menyelimuti wajah dan hatinya setelah melihat sang Ayah yang tengah duduk bersandar. Pandangan mereka saling bertemu, Dinda tak menyia-nyiakan momen tersebut yang langsung memeluk sang Ayah dengan sangat erat.
"Ayahh.." Lirihnya bahagia meskipun air matanya berjatuhan.
"Anakku.." Sahut Ayahnya.
"Kau tak melupakanku 'kan?" Tanya polos Dinda.
"Mana mungkin aku melupakanmu, kau anak Ayah satu-satunya". Jawab sang Ayah, Yanwar.
"Aku bahagia.." Ucap Dinda yang semakin mengeratkan pelukannya.
Keheningan pun menyelimuti ruangan tersebut, hanya isak tangis yang terdengar. Mereka tak bisa berkata-kata untuk menyatakan semuanya. Namun tiba-tiba..
"Bagaimana Ibu? Apakah dia selamat? Ayah ingin segera melihat keadaannya". Tanya sang Ayah, membuat Dinda tak bisa menjawab.
Bagaimana menjawabnya? Apa sang Ayah akan menerim kepergian sang Ibu? Di sisi lain Dinda tak ingin membuat Ayahnya kecewa, namun tak ingin pula membuat Ayahnya terlalu berharap.
"Nanti kita bahas lagi, sekarang Ayah harus benar-benar istirahat. Jangan berpikir yang berat dulu. Agar kesehatan Ayah segera membaik". Hanya itu yang bisa Dinda ucapkan, dan Ayahnya pun mengangguk pelan. Terasa aneh mungkin, namun benar apa kata Dinda. Ia harus menurutinya demi kesehatan yang harus ia pulihkan kembali.
'Maafkan aku Ayah.. Aku tak bisa menjaga Ibu'. Lirihnya dengan berjalan meninggalkan ruangan Ayahnya.
**
Melihat Dinda yang tengah menelungkupkan kedua tangan di wajahnya dan tubuh yang terlihat gemetar, Kevin segera mendekatinya dengan perasaan cemas.
"Kau kenapa?" Tanya Kevin, yang kemudian duduk di sebelahnya. Namun Dinda tak menjawab, hanya saja tangisan itu terdengar mereda.
"Kau tahu? Dalam sebuah buku yang aku baca, kesedihan akan melerai jika kau memeluk seseorang. Kau mau aku peluk?" Godanya.
Jelas Dinda langsung menyeka semua air mata yang menempel di wajahnya, dan menajamkan pandangannya ke arah Kevin.
"Boleh, tapi kau harus mandi air mendidih setelah itu". Jawabnya dengan sinis dan Kevin terkekeh mendengar jawaban Dinda.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu bersedih. Kau harusnya senang dengan kedatanganku saat ini, coba kau pandangi wajah tampanku. Kau pasti akan terlihat bahagia". Ucap konyol Kevin.
"Kau terlalu percaya diri". Jawab Dinda yang terlihat kesal.
"Saya sudah menduga kau pasti akan tertarik padaku, buktinya kau tak mau memandangku". Kekeh Kevin dan seketika wajah Dinda memerah mendengar celotehan Kevin.
"Sudahlah, saya tidak suka melihatmu tersenyum. Sangat aneh menurutku jika kau tersenyum". Balas Dinda yang tak mau kalah, memang benar apa yang Dinda ucapkan. Kevin jarang tersenyum ketika berada di perusahaan, dan sangat aneh jika ia tersenyum seperti itu.
"Benarkah? Kau membuatku tersinggung". Ucap Kevin yang kemudian sedikit terdengar tawa.
"Terimakasih Pak Kevin.."
"Untuk?"
"Untuk semua bantuan Anda, saya sangatlah berhutang budi terhadap itu semua". Jawab Dinda.
"Itu tidak gratis. Kau harus membayarnya". Ketus Kevin, Dinda pun membelalak mendengar jawaban tersebut.
"Berapa? Aku akan cicil untuk itu, meskipun seumur hidupku". Ucap Dinda yang terlihat tegang.
"Kau harus menikah denganku, baru semuanya lunas".
'DEGG'
"Aku bercanda.." Ucap Kevin dengan tertawa kembali. Dinda dibuat kesal olehnya, jika saja ia bukan orang yang selalu membantunya mungkin sedikit tinjuan membantu meredakan sedikit malunya.
"Kau terlihat tegang, apa kau benar ingin menikah denganku?" Tanyanya kembali dengan senyum dan alis yang di gerak-gerakan.
"Kau harus membuatkan ku candi jika ingin menikah denganku". Balas Dinda, dan mereka pun terkekeh dengan semuanya.
**
Mobil Dimas terparkir di depan sebuah club malam, ia mengayunkan kakiny memasuki clib malam tersebut. Arah pandangannya pun terlihat tengah mencari-cari seseorang. Dan ya, pandangan tersebut terhenti pada seorang pelayan wanita yang sudah tak asing baginya.
Ia pun kembali mengayunkan kakinya mendekati pelayan wanita tersebut.
"Hei.." Sapa Dimas.
"Apa itu caramu menyapa seorang wanita? Sangat mengerikan". Ketus pelayan tersebut.
"Aku hanya ingin berterimakasih terhadapmu, jika kau tak ada mungkin malam tadi aku jadi tidur di luar". Ucap Dimas dengan tersenyum.
"Iya, jangan sungkan seperti itu". Jawab pelayan tersebut.
__ADS_1
"Aku Dimas, kau siapa?"
"Fania.."
Tak sengaja sosok mata menatap mereka dengan tatapan tajam, ia terlihat geram.
'Ternyata kau tak pulang karena pelayan wanita itu? Menjijikan'. Gerutunya dengan melangkah mendekati mereka.
'BYURR!'
Sebuah minuman mendarat di kepala Fania, sang pelayan club malam tersebut. Matanya menajam, jantungnya bergetar dan tangannya mengepal dengan kuat. Dan
'PLAKK'
Satu tamparan melayang di pipi Lidya, kini skornya seimbang. Wahh.. Kapan lagi Lidya di tampar orang, bukan begitu?
Tak terima dengan perlakuan Fania, ia mencoba menamparnya kembali. Namun tangan Dimas menahannya.
"Kau memilih tak pulang demi perempuan jal*ng ini hah?" Bentak Lidya terhadap Dimas.
"Kau sadar diri Nyonya bar-bar, yang terlihat jal*ng disini siapa? Cara berpakaianmu saja melebihi jal*ng". Ucap Fania yang tak mau kalah.
"Sudahlah Lidya, aku malas membahas tentang ini. Kau hanya mempermalukan diri sendiri jika seperti ini". Jawab Dimas.
"Kau memilih dia di banding aku? Hebat, kau memang pria pengecut yang hanya bisa mempermainkan wanita". Cerocos Lidya.
"Memang aku seperti itu, kenapa kau dulu ngebet pengen nikah sama aku? Kau harusnya jangan heran seperti ini, dulu aku meninggalkan Dinda demi kau. Dan mungkin hari ini akan terjadi hal yang sama seperti dulu". Jawab asal Dimas yang terlihat sudah kesal dengan istrinya tersebut.
"Mas.."
"Sudahlah, kau pulang saja. Aku tak ingin kau ganggu.." Usirnya agar terbebas dari rasa malu dengan kedatangan Lidya.
Malam ini karma telah berjalan dengan sempurna, Lidya tak bisa berkutik dengan ucapan Dimas. Ia langsung pergi dengan rasa kekesalan.
Dimas dan Fania saling tatap setelah kejadian tersebut, Fania sangat bingung dengan perlakuan Dimas terhadap istrinya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Dimas memang sebej*d itu atau kah ada kesalahan dari sikap istrinya?
"Kau tak mengejarnya?" Tanya Fania heran.
"Untuk apa aku mengejarnya? Kurang kerjaan.." Jawabnya asal.
"Kau memang suami yang kurang aj*r". Cibirnya.
"Sekali-kali.." Jawabnya lagi dengan tersenyum, sehingga Fania hanya menggelengkan kepala dan memutar bola mata malasnya.
__ADS_1