Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 58 Suara itu?


__ADS_3

Ketakutan pun Dinda rasakan saat ini, dalam keadaan di bekap ia selalu melantunkan doa di hatinya. Ia berharap semoga Tuhan menyelamatkannya dari hal yang ia tidak inginkan.


Tubuhnya gemetar dan jantungnya memompa dengan kuat. Ia kini di paksa memasuki sebuah mobil hitam selepas menerobos pintu belakang. Namun ada yang nampak aneh disaat kejadian berlangsung, semua pegawai restoran tersebut seakan tak menghiraukan ketika Dinda di peelakukan seperti seorang tawanan.


'Ya Allah, hal buruk apa lagi ini? Siapa yang merencanakan ini? Kenapa hidupku di kelilingi orang jahat?' Lirih Dinda bertanya-tanya dalam hatinya, ia tak menyangka jika hidupnya akan seperti ini.


Seseorang itu melepaskan bekapannya setelah pintu mobil tertutup rapat dan mungkin saja terkunci, Dinda menjauh memberi jarak di antara mereka.


"Kenapa kamu ketakutan seperti itu di hadapanku?" Tanya pria yang telah membekapnya tadi, Dinda tak bisa melihat jelas pria tersebut karena suasana di dalam mobil gelap dan pria tersebut memakai masker.


'Suara itu?' Gumam Dinda dalam hati, merasa tak asing dengan suara pria tersebut.


"Kau jangan khawatir, ini aku". Ucap pria tersebut sembari membuka maskernya dan menyalakan lampu di dalam mobil tersebut.


"Pak Kevin!" Sahutnya setelah melihat jelas wajah pria yang telah membekapnya. "Ta-tapi bagaimana kamu ada di sini? Kau masih bersamanya tadi". Sambungnya dengan gelagapan.


"Iya, ini aku. Jangan pikirkan dia ketika kita sedang bersama". Balasnya dengan tenang, membuat Dinda menyernyitkan dahinya merasa heran.


FLASHBACK*


Ketika Dinda berjalan menuju toilet, ada rasa gereget di hati Kevin untuk menemuinya. Hanya saja ia bingung cara mendekatinya di saat Amelia masih berada di sampingnya.


Dring telpon Kevin berbunyi, hal itu membuat ide konyol Kevin muncul. Ia segera berpamitan kepada Amelia untuk mengangkat telpon dan tentu saja Amelia tidak mencurigai gelagat aneh Kevin.


Setelah ia sedikit menjauh dari Amelia, ia berpura-pura menelpon namun matanya memberi isyarat kepada pelayan restoran tersebut untuk mendekat.


"Bisa 'kah kamu mengalihkan perhatian wanita itu sebentar? Ini ada sedikit uang jajan untukmu". Ucap pelan Kevin, sambil berpura-pura berjabat tangan namun di dalam tangan Kevin terdapat beberapa lembat uang untuknya.


Pelayan tersebut mengerti dengan sikap Kevin. Lalu ia mengerjakan pekerjaan kecilnya, sehingga Kevin bisa dengan mudah menghindar dari Amelia.


Dan untuk pelayan yang tak menghiraukannya saat membawa Dinda pergi keluar, bukan Kevin namanya jika tidak bisa menaklukkan orang lain. Sehingga semuanya berjalan dengan lancar dan membuatnya puas.

__ADS_1


FLASHBACK OFF*


"Kenapa kamu melakukan ini?" Tanya Dinda.


"Aku rindu terhadapmu, Dinda". Jawab Kevin, rasanya Dinda ingin muntah saat mendengar bualannya yang basi.


"Di antara kita tidak ada hubungan apapun dan jika kamu menganggapku seorang teman, kamu pun tak pantas berucap rindu kepadaku". Jawab Ketus Dinda.


"Aku masih serius dengan ucapanku sebelumnya, hanya saja ada hal yang perlu aku selesaikan saat ini. Kamu harus mengerti". Balas Kevin sedikit sendu.


"Laki-laki memang seperti itu, selalu tergoda dengan hal bening di luaran sana dan melupakan wanita sebelumnya. Aku sama sekali tidak percaya dengan bualanmu saat ini, lebih baik urus saja hubungan kalian yang indah itu". Ucap Dinda dengan ketus.


"Kamu cemburu ya? Raut wajahmu terlihat merah ketika membicarakan Amelia". Tanya Kevin sedikit menggoda.


Dinda tak menjawab pertanyaan Kevin, padahal ia ingin sekali mendengar Dinda menjawab 'cemburu', agar ia mengetahui jika Dinda benar-benar telah mencintainya. Dinda masih memalingkan wajah, tak ingin memandang ke arah Kevin. Ia tak ingin tiba-tiba air matanya jatuh, ketika mengingat ia telah di kecewakan pria beberapa kali.


"Saat ini mungkin aku tak bisa menjawabnya, namun kapan pun itu kamu akan mengetahuinya dengan sendiri". Ucap Kevin untuk meyakinkan Dinda.


"Aku akan mengantarkanmu". Jawab Kevin.


"Tapi, dia? Dan temanku disana?" Tanya Dinda kebingunga.


"Mereka sudah dewasa, nanti mereka pun akan pulang dengan sendirinya". Jawab Kevin yang tak mau ribet.


Dinda menggelengkan kepala pelan, ia tak habis pikir. Sikap Kevin saat ini masih tidak berbeda dengan sebelumnya, tapi mengapa ia tak bisa menepati janjinya terhadap Dinda saat itu? Apa ini hanya akal-akalan nya saja, untuk membujuk kembali Dinda?


'Aku tidak akan kembali ke pelukanmu yang diibaratkan neraka itu, Pak Kevin. Jika kamu menganggapku mempercayaimu, itu salah. Aku sama sekali tak ingin percaya terhadapmu'. Ucapnya dalam hati.


**


Amelia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut, ia sama sekali tak melihat keberadaan Kevin. Sudah setengah jam lebih, Kevin tak kembali setelah mengangkat sebuah panggilan.

__ADS_1


"Kemana sih, dia? Siapa yang menghubunginya? Kenapa bisa lama seperti ini? Jika hanya mengobrol dalam sebuah panggilan seharusnya dia sudah selesai dari tadi". Gerutunya kesal.


Derap langkah kaki seorang pengawal Kevin terdengar memasuki restoran tersebut. Ia segera mendekatkan dirinya pada Amelia.


"Nona, maaf untuk malam ini Tuan Kevin berkata bahwa beliau sedang dalam perjalanan menuju tempat klien secara mendadak. Beliau meninggalkan pesan, bahwa Anda harus pulang bersama saya karena mungkin beliau akan pulang sedikit larut. Dan beliau sungguh meminta maaf tidak berpamitan terlebih dahulu kepada Anda". Ucap Jack si pengawal terbaik Kevin yang bisa di andalkan.


Amelia berdecak kesal, kenapa lagi-lagi kejadian sial ini terulang? Suasana romantis tersebut terasa kacau, ia tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya terhadap Jack. Tanpa menjawab, ia berjalan keluar dan tak menyadari jika Dinda pun tidak ada di ruangan tersebut.


Jack pun mengekorinya dari belakang setelah membayar semua makanan yang sudah di pesan mereka. Namun setelah tiba di dalam mobil, ia tersentak dengan keinginan Amelia.


"Aku ingin pergi ke klub malam, kau harus antarkan aku ke sana". Ucap Amelia. Jack tak merasa heran, ia sudah mengetahui bagaimana sikap Amelia ketika di luar negri, yang dengan bebasnya mengonsumsi minuman keras.


"Baiklah". Jawab Jack yang menyetujuinya.


'Pantas saja Tuan Kevin tidak tertarik dengannya, wanita ini memang tidak punya etika yang baik'. Cebik Jack dalam hati.


**


Amelia pulang dengan sedikit kesadaran, ia terlalu banyak mabuk karena merasa kesal terhadap Kevin. Sampai Jack pun mencebik dalam hatinya, ia terlalu risih dengan Amelia yang merepotkan.


Kevin yang sudah lama berada di rumah terkejut melihat Amelia yang dalam keadaan mabuk. Ia menggeleng pelan kepalanya, pikirannya pun sama halnya dengan Jack yang merasa jijik dengan kelakuan Amelia.


'Cih, dia memang terlalu rendah untukku'. Gumam Kevin dalam hati.


Jack mengantarkan Amelia sampai pada tempat tidurnya yang diekori oleh Kevin. Namun saat Jack merebahkannya di atas ranjang, Amelia memeluk Jack dengan sangat kuat.


"Jangan tinggalkan aku, Kevin. Aku akan bersedia melakukan apapun demi kamu". Ucap Amelia yang setengah sadar, hal itu membuat Kevin mempunyai ide.


Jack dan Kevin saling melemparkan senyuman, seakan pikiran mereka terhubung meskipun tanpa berbicara.


"Apa pikiranmu sama halnya denganku?" Tanya Kevin yang di angguki oleh Jack.

__ADS_1


__ADS_2