Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 39 Bertemu kembali


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, Kevin yang sudah rapi berjalan menghampiri ruang makan. Terlihat kedua orang tua Kevin dan Amelia tengah duduk menunggu kedatangannya. Kevin hanya mendengus sebal ketika melirik Amelia yang tersenyum manja kepadanya.


'Cih, menjijikan'. Ucap Kevin dalam hati yang merasa tak suka dengan kehadiran Amelia.


"Honey, sini duduk di sebelahku". Ucap Amelia, membuat Kevin semakin mual mendengarnya.


"Aku tak berselera untuk sarapan, aku harus segera berangkat masih ada banyak pekerjaan yang harus segera ku di selesaikan". Ucap Kevin, sontak kedua orang tua mereka pun saling pandang mendengar ucapannya.


"Makan dulu dong, sayang. Kamu tak menghargai kedatangan kami kalau seperti itu". Jawab Alisha.


"Aku akan menghargai kalian, jika kalian pun sama halnya menghargai keputusanku. Aku sudah bilang, aku tak ingin perjodohan ini. Jadi, jangan harap aku hargai apabila kalian masih kekeh dengan ambisi konyol itu". Ketus Kevin tanpa merasa bersalah.


Alisha ingin berdiri menghampiri Kevin, namun William mencegahnya untuk berbuat konyol.


"Apa yang dikatakan Kevin benar Alisha, dia berhak atas keputusannya sendiri". Balas William. Hal itu membuat Kevin merasa agak tenang, William masih selalu membelanya disaat Alisha yang selalu mementingkan keinginannya sendiri.


"Tapi, sayang.."


"Sudahlah, jika memang Kevin berjodoh dengan Amelia, mereka masih akan bersama meski kita tak ikut campur tangan". Ucap William yang memotong Alisha berbicara.


Amelia mendengus kesal dengan ucapan William, matanya bergerak-gerak memikirkan bagaimana nasibnya ke depan.


'Gak bisa seperti itu, Kevin hanya bisa menikah denganku'. Lirih batinnya.


Kevin langsung berpamitan kepada semuanya setelah pembicaraan tersebut selesai. Ia merasa puas dengan pembelaan William. Ternyata harapannya masih besar untuk memilih seorang pendamping yang sesuai hatinya.


**


"Bu, 10 menit lagi kita akan melangsungkan rapat bersama Pak Heru". Ucap Julian, sang sekretaris.


"Baik, saya akan segera bersiap". Jawab Dinda.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap-siap, Dinda dan Julian melangkah memasuki ruang rapat. Namun, ia tersentak ketika matanya menangkap sosok Dimas yang tengah duduk di ruang rapat.


Beberapa kali ia mengerjapkan mata, ia memang tak salah melihat. Ia pun berusaha menetralkan perasaanya yang hampir saja terasa gelisah.


Sebelum di mulainya rapat, Heru dengan sengaja menyampaikan tentang keberadaan Dimas. Karena bukan hanya Dinda yang keheranan melihat Dimas, namun beberapa orang yang berada di sana pun sama halnya dengan Dinda.


"Maaf sebelumnya saya ingin memberi tahu tentang keberadaan anak saya, Dimas. Ia sengaja saya ajak, agar semua tau bahwa Dimas telah di angkat sebagai direktur utama di kantor pusat. Jadi saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik tanpa mempermasalahkan masa lalu Dimas". Ucap Heru.


Dinda yang mendengarnya merasa khawatir, meskipun orang tuanya kembali menerima Dimas tapi sejujurnya Dinda masih belum percaya terhadapnya. Entah apa yang membuatnya enggan berdekatan kembali dengan Dimas, hanya saja hatinya selalu menolak walau hanya sekedar memaafkan.


**


Di sisi lain, Lidya terlihat pucat, tubuhnya bergetar hebat dan suhu tubuhnya sangat panas. Ia terkena demam, sehingga ia di alihkan ke ruang rawat karena kondisinya yang sangat lemah.


Selang infus tertanam di kulit lengannya, karena ia memperlihatkan kondisi yang melemah kepada dokter yang memeriksanya.


"Ia hanya butuh istirahat, biarkan dulu ia tinggal disini karena ia memang terlihat lemah. Sampai ia terlihat bugar kembali, baru ia bisa kembali ke sel". Ucap dokter yang memeriksanya.


**


Beberapa menit kemudian, seorang perawat menghampirinya. Memeriksa keadaan dan memberikan beberapa obat untuk memulihkan kembali Lidya.


Namun saat perawat tersebut tengah fokus memperhatikan yang lain, pundaknya di pukul oleh tangan Linda dengan sekuat-kuatnya. Sehingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Awal yang baik, dengan ini aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan". Gumam Lidya dengan seringaian liciknya.


Flashback*


Lidya sengaja berendam di air dingin saat orang lain tengah tertidur malam itu, sampai tubuhnya menggigil dan tak sanggup lagi untuk berendam. Ia lalu bergegas menyudahi hal tersebut.


Dan benar saja, keesokan harinya ia langsung demam. Tubuhnya menggigil, suhu tubuhnya panas dan keringat dingin mulai bercucuran ketika ia sudah tak kuat menahan rasa pusing di kepalanya.

__ADS_1


'Aku harus bertahan dan harus bisa memastikan bahwa aku memang benar-benar sakit. Setelah itu aku akan memikirkan kembali cara yang baik untuk keluar dari penjara ini'. Lirihnya dalam hati, meskipun tengah merasakan sakit di tubuhnya, namun otaknya selalu berjalan dengan licik.


Ia pun di pindahkan dari sel tahanan, ke ruang pemeriksaan. Ia dengan lihainya berpura-pura di depan dokter, memperlihatkan keadaanya yang lemah. Bahkan saat tadi akan di pindahkan saja, ia pura-pura tidak bisa berdiri. Memang sangat licik kamu Lidya. Sampai dokter pun memerintahkan Lidya agar ia segera di rawat di ruangan tersebut untuk beberapa hari.


Ide gilanya muncul saat seorang perawat datang memberi beberapa obat kepadanya. Lalu saat ia tengah lengah, dengan tak meyia-nyiakan kesempatan ia langsung memukul punggungnya dengan keras. Sehingga ia langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.


Flashback off*


Ia mengganti pakaiannya denga pakaian yang di pakai oleh perawat tersebut, lalu ia menidurkan perawat tersebut di tempat tidur. Tak lupa Lidya menyiapkan masker untuk mengelabui para polisi yang berjaga di depan.


Lidya pun dengan santainya keluar tanpa di curigai siapapun, ia tersenyum dalam hati.


'Kali ini udara kebebasan akan segera ku hirup. Aahh.. Memang menyenangkan, rencanaku berjalan dengan baik. Terimakasih Sarah, karena kamu koma sekarang aku bisa bebas dengan mudah. Bye'. Lirih hatinya senang, ia terus berjalan dengan santainya menuju keluar.


**


Saat ia akan melangkahkan kakinya keluar dari kantor kepolisian, tiba-tiba suara seseorang berteriak dari belakang.


"Hei.. Kamu jangan pergi, kamu harus mempertanggung jawabkan dulu kesalahanmu di dalam sel tahanan ini. Jangan kabur.." Teriak seorang polisi yang menyadari jika sosok wanita berpenampilan perawat itu adalah seorang tahanan yang menyamar.


Ya, perawat itu sadar saat Lidya akan segera keluar dari gedung menyeramkan tersebut. Perawat tersebut langsung memberi tahu polisi yang berjaga di luar ruangan pemeriksaan. Dengan sigap, para polisi tersebut langsung bergegas menuju keluar.


Lidya panik seketika saat terdengar teriakan seorang polisi di belakangnya, ia kemudian berlari tanpa untuk menghindari para polisi yang mengejarnya.


Lidya terus berlari, otaknya hanya fokus pada satu kata yaitu 'kabur'. Namun saat polisi berjarak dekat dengannya, ia berinisiatif untuk bersembunyi dalam sebuah drum besar yang ada di belakang gedung besar. Idenya sangat baik, polisi yang mengejarnya sampai kehilangan jejak, mereka pun mencari ke segala arah dan meninggalkan lokasi dimana Lidya tengah bersembunyi.


"Untung aku bisa bersembunyi, jadi mereka tak bisa lagi mendapatkan ku dengan mudah". Gumam Lidya sambil keluar dari persembunyiannya.


Ia pun kembali mencari cara untuk menjauhi lokasi tersebut, ia berjalan menyusuri jalan sepi. Matanya sibuk menoleh ke arah lain, sehingga ia tak menyadari di depannya ada sebuah mobil yang mendekat ke arahnya. Dan..


'BUGH!'

__ADS_1


__ADS_2