Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 43 Seperti Bunglon


__ADS_3

"Tuan, ini pesanan Anda sudah kami siapkan". Ucap seorang pegawai butik sambil memberikan paper bag ke arah Kevin.


Alisha dan Amelia semakin menatap tajam ke arah Dinda, mereka baru mengetahui keberadaan Kevin disini ternyata karena ingin membelikan Dinda gaun. Pikirannya yang sempat percaya diri itu berubah menjadi kusam.


'Cih, ku pikir Kevin disini karena ingin memberi kejutan untukku, ternyata untuk wanita rendah itu'. Cibir Amelia dengan memalingkan bola mata malasnya.


"Kita sudah selesai 'kan babe? Ayo pulang, kita masih banyak pekerjaan". Ajak Kevin membuat Dinda melongo semakin merasa kesal.


'Babe? Berani sekali dia mengatakan itu di hadapanku'. Gumam Amelia yang terlihat geram.


"Kamu tak menghargaiku, Kevin". Ucap Amelia dengan air matanya.


"Apa aku salah dengar? Bukannya kau yang tak menghargai keputusanku? Dari dulu aku selalu menolakmu dan itu termasuk keputusanku. Tapi nyatanya, kau malah semakin tak tahu malunya terus mendesak ku untuk bersamamu. Juga mengandalkan Mommy untuk melancarkan aksimu. Sekarang mungkin aku belum tahu maksudmu mengincarku, tapi dengan secepatnya akan ku cari tahu". Jelas Kevin.


Amelia menjadi beku mendengar perkataan Kevin, ia tak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya kelu dan rasa gugupnya mulai memburu. Namun ambisinya untuk mendapatkan Kevin, tak pernah terganggu.


Kevin pun memberi isyarat dengan anggukan kecil kepada Dinda, mereka pun pergi dengan memberikan kekesalan di hati dua wanita tersebut. Hingga mereka merasa murka dengan perlakuan Kevin yang menurutnya semakin keterlaluan.


**


"Tante, ini tidak bisa dibiarkan. Kevin sepertinya sudah terikat dengan wanita itu". Gelisah Amelia, terlihat ia semakin gusar setelah kepergian Kevin dan Dinda.


"Kau tenanglah dulu, aku tengah berfikir". Jawab Alisha.


Tiba-tiba tubuh Amelia bergetar, nafasnya sesak dan keringatnya mengucur dengan deras. Alisha yang melihat itu seketika panik, kenapa ia begitu terlihat cemas. Ia langsung mendudukan Amelia di kursi dengan sedikit menopang tubuhnya.


"K-kau kenapa?" Tanya Alisha khawatir.


"Tante.. Tante, tolong obat yang ada didalam tas ku". Ucap Amelia dengan tersenggal-senggal menahan nafasnya yang tiba-tiba berat.


"I-iya, sebentar Amelia.." Jawab Alisha dengan panik, ia pun memberikan obat tersebut kepada Amelia.


'Amelia menderita penyakit apa ya? Ko bisa seperti ini? Aku jadi cemas'. Gumam Alisha sembari memperhatikan keadaan Amelia yang agak tenang setelah meminum obat tersebut.

__ADS_1


**


"Anda sangat menjengkelkan ternyata, hari ini sudah berapa kali saya di buat terkejut dengan sikap Anda". Ucap Dinda dengan mengerucutkan bibirnya, karena sebal.


"Tapi kau menyukainya 'kan? Apalagi saat saya mengatakan kau calon istriku. Wahh.. Pasti hatimu berbunga-bunga". Jawab Kevin dengan senyuman yang merekah.


Dinda di buat semakin jengkel dengan sikap Kevin, ia pun menggelengkan kepala pelan dan menghela nafas panjang mendengar ucapan Kevin yang semakin ngawur.


Semakin hari ia semakin mengetahui sikap asli Kevin, awalnya ia menyangka jika Kevin mempunyai sikap dingin dan tegas ternyata salah besar. Sikapnya ternyata lebih random daripada teman Dinda yang selama ini ia punya.


"Saya tak bisa berkata-kata lagi, Anda sangat pandai berakting ternyata. Mereka pun sampai percaya dengan bualan itu". Jawab Dinda.


"Jika aku tak berniat bercanda bagaimana? Kau mau menjadi istriku?" Tanya Kevin dengan wajah tanpa ekspresi. Dinda di buat syok berkali-kali, dan ini ucapannya yang kesekian kali membuat Dinda merasa jantungnya berdegub kencang.


"Saya mohon Pak Kevin, jangan buat saya semakin greget ingin memukulmu dengan sebuah kentungan". Jawab kesal Dinda, membuat Kevin tersenyum.


"Oh.. Kau ternyata jahat juga, tapi tak apalah. Mungkin dengan dipukul olehmu bisa menghasilkan butiran cinta yang lebih banyak lagi". Ucap Kevin terkekeh.


Perasaan kacau Kevin seketika hilang dengan hadirnya Dinda, ia merasa tenang dan tawanya lepas saat bersamanya.


Tak terasa mereka pun sampai di depan kantor Adhinatha, Dinda pun dengan cepat keluar dari mobil. Ia sudah tidak sanggup mendengar celotehan konyol yang keluar dari mulut Kevin. Ia tak bisa mengontrol detak jantungnya yang sedari tadi berdetak sangat kencang. Bsa-bisa ia kena serangan jantung, jika terus dekat dengan Kevin.


"Nanti malam kau pakai gaun itu, nanti saya jemput". Ucap Kevin.


"Sepertinya aku akan pergi dengan julian, kita bertemu di pesta". Jawab Dinda.


"Baiklah, saya pergi dulu". Pamit Kevin, Dinda hanya mengangguk. Namun tiba-tiba ponsel Kevin bergetar, ia pun langsung menyambar ponselnya dan menekan tombol hijau di layar tersebut.


Wajahnya yang riang berubah menjadi tegang kembali saat mendapat kabar dari panggilan tersebut, Kevin bergegas pergi meninggalkan Dinda tanpa menoleh kembali setelah mendapat panggilan.


Dinda hanya bisa mengerutkan dahinya, nampak keheranan melihat sikap Kevin yang terus berubah-ubah.


"Dia seperti bunglon, bisa berubah-ubah warna. Tadi aja dia terlihat ceria, baru beberapa menit setelah itu ia kembali ke mode datar. Dasar pria menyebalkan". Cebiknya sambil berlalu.

__ADS_1


**


Kevin bergegas masuk ke dalam kantornya dengan memperlihatkan wajah marahnya. Ia memasuki ruangan Riko tanpa mengetuk pintu. Riko hanya menahan ketakutannya melihat raut wajah Kevin yang memerah menahan emosi.


'BRAKK!'


Kevin menghampirinya sambil menggebrak meja kerja Riko, tubuhnya gemetar seketika.


"Kenapa wanita itu bisa dengan mudahnya kabur? Bagaimana penjagaan mereka di sana? Aku sudah memberi mereka uang besar, tapi nyatanya mereka tidak becus dalam bekerja". Geram Kevin.


Kevin sudah mengetahui kaburnya Lidya, ia marah karena mengkhawatirkan Dinda yang bisa saja keselamatannya terancam gara-gara wanita tersebut.


"Wanita itu mencelakakan Sarah, jadi ia tak bisa lagi memantau Lidya dengan baik. Karena ia tengah berada di rumah sakit saat ini". Jawab Riko dengan gugup, ketegangan merasuki tubuhnya kini. Melihat ekspresi Kevin yang semakin marah.


"Aku tidak mau tahu, mereka harus kembali mencari wanita itu. sebelum ku ratakan kantor polisi tersebut dengan tanah". Ucap Kevin.


"Ba-baik.." Jawab Riko.


Kevin berlalu meninggalkan ruangan tersebut, ia masih sangat geram. Riko baru bisa menghela nafas leganya setelah kepergian Kevin, ia mengusap-usap dadanya untuk menstabilkan kembali detak jantungnya.


"Lebih baik gue ikut bertarung dengan banyak musuh, daripada melihat raut wajah Kevin yang seperti itu. Ngeri banget gue lihatnya". Gumam Riko sambil bergidig ketakutan.


**


"Aarrgghh.. Awas aja kalau wanita licik itu sampai mencelakakan Dinda lagi, jangan harap dia akan ku beri ampun". Gumam Kevin.


Saking marahnya Kevin, banyak barang yang tergeletak di atas lantai. Ia menghempaskan semuanya ke lantai saking tak bisa menahan lagi emosinya.


Kevin pun mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, ia menghubungi pengawal kepercayaannya.


"Awasi terus Dinda, kamu tak boleh lengah memantaunya. Dan perketat penjagaan di apartemennya". Ucap Kevin.


"Baik, Tiuan". Balas Jack, pengawalnya.

__ADS_1


__ADS_2