
Selepas kejadian tersebut, Dinda masih merenungi apa yang telah terjadi. Meskipun tangisannya sudah usai, hatinya tetap merasa kecewa.
"Padahal aku hanya menginginkan kehidupan normal layaknya orang lain. Meskipun aku dan Mas Dimas sudah berpisah, tetapi aku tak menginginkan ada permusuhan. Apalagi menyisakan Dendam". Lirihnya sembari mengeratkan pelukannya terhadap guling.
Namun, matanya pun membulat. Terlintas sebuah ide di pikirannya.
"Apa aku perlu berbicara dengan Ibu dan Bapak mertuaku? Jika itu akan menghentikan mas Dimas untuk menggangguku kembali, aku tidak akan keberatan. Aku akan menemui mereka". Sambung lirihnya kembali.
Ia pun akhirnya bisa memejamkan matanya, meskipun rencananya belum bisa menjanjikan namun dengan itu, ia bisa sedikit lebih tenang.
**
Karena ini adalah hari libur, Dinda pun bergegas menuju rumah kediaman mantan mertuannya saat masih pagi. Sebelum mereka bepergian dari rumahnya.
Seperti biasa, di depan rumah mantan mertuanya terdapat beberapa mobil yang terparkir. Ia tak memperhatikan salah satunya, karena itu sudah menjadi hal yang wajar saat ia menemui mereka sewaktu menjadi istri Dimas.
Bel pun ia tekan dan selang beberapa menit, pembantu di rumah tersebut membukakan pintunya.
"Assalamu'alaikum, Bi.. Ibu dan Bapak, ada di rumah?" Tanya Dinda terhadap pembantu yang bernama Narsih.
"Waalaikumsalam, Nona Dinda.. Ada, mereka sedang.." Ucapan Narsih terjeda dengan kedatangan Utami, yang langsung menyambut Dinda.
"Siapa Bi?" Tanya Utami, setelah ia mendekat bibirnya pun melebar mendapatkan Dinda yang berada di depan pintu tersebut.
"Dinda.. Mari masuk Nak, Ibu senang kamu datang ke sini". Sahutnya sambil menyambut uluran tangan Dinda yang menyaliminya. Utami pun menggandeng Dinda masuk ke dalam.
Sesampai di ruang tamu, Dinda sontak terkejut melihat sosok pria dan wanita yang telah merecokinya di pesta malam tadi. Mereka berdua pun sama halnya dengan Dinda, namun Lidya menampakan wajah tak sukanya terhadap Dinda.
'Cih.. Wanita itu, mau apa lagi dia ke rumah calon mertuaku? Bikin gerah aja'. Umpatnya dalam hati Lidya.
__ADS_1
'Kenapa mereka selalu ada dimana pun aku pergi?' Lirih Dinda dalam hati.
'Kenapa jika bertemu dengannya, perasaanku mengatakan jika Dinda memang terlihat cantik setelah berpisah denganku'. Kagum Dimas dalam hati.
Mereka berbicara dalam hati masing-masing setelah saling tatap, ada penyesalan dalam hati Dinda mengapa ia harus bertemu kembali dengan mereka.
"Dinda.. Bapak senang kamu berkunjung ke sini, apa kabar?" Sapa Heru yang memang terlihat senang atas kedatangan Dinda.
"Alhamdulillah baik pak". Balas Dinda dengan sedikit senyum ketir.
"Silahkan duduk Nak, kebetulan kalian berkumpul saat ini. Ada hal yang akan Bapak sampaikan". Ucap utami yang langsung memberi kode tatapan matanya ke arah Heru.
"Kenapa dia harus ikut campur dengan masalah kita? Sekarang dia bukan keluarga Adhinatha 'kan?" Ketus Lidya.
"Hei, siapa yang boleh mengizinkanmu bicara? Lihat Dimas, belum juga dia menjadi istrimu, sudah berani angkat berbicara di depanku". Geram Heru membuat Lidya menunduk, namun hatinya kesal. Dimas tak menjawab, ia hanya menunduk sambil menggusar rambutnya yang tampak bingung.
"Saya sudah mengetahui kejadian semalam saat di pesta yang di adakan Tuan Karl. Kau sangat memalukan wanita keji, kau telah membuat nama keluargaku tercoreng. Karena kesalahannya, saya akan meminta Dinda untuk mengelola perusahaan Adhinatha Corporation". Jelas Heru dengan menyeringai tajam ke arah Dimas dan Lidya.
"Tidak bisa begitu pak, aku disini anak kalian. Seharusnya aku yang mengelola perusahaan tersebut". Kekeh Dimas.
"Kau anak yang tidak bisa di andalkan, hanya bisa merusak nama baik keluarga Adhinatha. Apalagi jika wanita keji itu yang mendampingimu, tidak akan ada perubahan". Ucap Heru.
"Tapi saya bisa menjadi sekretaris yang baik Pak, saya akan membantu Mas Dimas untuk mengembangkan perusahaan tersebut". Bela Lidya dengan memasang wajah memelas.
"Kau hanya menjadi pengaruh buruk untuk anakku". Balas Heru, membuat Lidya semakin tersinggung.
"Paling juga membantu menghabiskan uang perusahaan". Ketus Utami yang langsung mengedarkan pandangan ke arah lain.
'Disaat aku menginginkan balas dendam terhadap mereka, mengapa bukan melalui tanganku? Apa karena Allah tak ingin mengotori tanganku dengan balutan dosa?' Batin Dinda yang bertanya-tanya dengan semua jalan ceritanya.
__ADS_1
Kekesalan terjadi pada Dimas dan Lidya, niat hati ingin meminta belas kasihan terhadap orang tuanya, agar dikembalikannya perusahaan tersebut kepadanya. Namun kejadian tak di sangka muncul, membuatnya tak bisa mengelak.
Perusahaan yang ingin ia kembangkan dengan uang tabungan gelapnya, ternyata sulit untuk berkembang. Kurangnya modal memperlambat perkembangan tersebut. Sehingga ia datang ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan atau bisa di bilang meminta modal untuk perusahaan tersebut.
Namun, mereka pun tak menolak jika perusahaan yang dulu akan kembali untuk ia kelola.
"Tapi Pak, apa yang di katakan Mas Dimas benar. Dia adalah anak kandung kalian, apa kalian tidak tega membiarkan anak sendiri terlantar?" Bela Lidya yang masih kekeh terhadap perusahaan tersebut.
"Kau sangat berambisi untuk memiliki perusahaanku ternyata. Apa karena anakku kaya? Sehingga kau menghalalkan segala cara untuk menguasainya. Tidak akan ku biarkan". Ucap Heru.
Lidya merasa tertampar dengan kata-kata yang di lontarkan calon mertuanya. Gejolak amarahnya menyeruak ingin dituntaskan, namun masih menguat-nguatkan demi masa depannya dengan Dimas.
"Maaf Pak, Bu.. Aku datang ke sini bukan untuk itu, hanya saja aku ke sini untuk meminta kalian membujuk Mas Dimas dan mantan sekretarisnya untuk jangan merecoki kehidupanku lagi. Aku tidak akan meminta apapun darinya, asalkan mau memenuhi keinginanku tersebut". Ucap Dinda terhadap mantan mertuanya.
"Apa kamu bilang? Jangan sok kecantikan deh! Emang kamu secantik itu? Sampai mas Dimas merecoki kamu, dasar wanita jal*ng". Ketus Lidya dengan sangat berani.
"Jika memang mereka menginginkan perusahaannya kembali pada mas Dimas, aku tidak keberatan jika kalian memberikannya lagi pada mereka. Asalkan aku tak mau ada kekacauan yang mereka lakukan terhadapku". Sambung Dinda yang tak menghiraukan ucapan Lidya.
Lidya tampak girang dengan ucapan Dinda yang sepertinya menjanjikan, namun ia tak memperdulikan keinginan Dinda agar mereka menjauhi Dinda. Yang penting perusahaannya kembali ke tangan Dimas.
"Tapi Nak, perusahaan tersebut sudah mengataskan namamu. Kami juga tidak rela jika perusahaan tersebut dikuasai oleh wanita liar seperti dia". Jawab Utami.
"Tak apa, yang penting kehidupanku tenang. Aku sudah merasa cukup dengan semua yang ku punya". Balas Dinda.
"Lihat 'kan Dimas? Kau membuang berlian demi batu kali. Ke depannya kau pasti akan menyesal membuang Dinda, demi wanita itu". Cibir Utami yang memang tidak terlihat suka terhadap Lidya.
Dimas hanya menunduk dan tak berkutik, ia merasa senang tapi ada rasa tak rela melepaskan Dinda.
Namun, sebaliknya Lidya tidak peduli dengan kata-kata calon mertuanya. Yang penting perusahaan tersebut akan kembali di kelola Dimas dan impiannya untuk menjadi seorang ratu di keluarga Dimas bisa ia gapai.
__ADS_1
'Ini bukan berarti aku menyerah ya, Mas!' Lirih Dinda yang menyeringai dalam hati.