
Dimas menatap cermin dengan teliti, ia menelisik penampilannya ketika pakaian kerjanya kembali ia kenakan. Ia segera merapikan rambutnya agar terlihat rapi dan berwibawa.
"Ahh.. Kau masih terlihat tampan Dimas, meskipun beberapa minggu lalu kau sukses menjadi pengangguran". Gumam dalam hatinya yang memuji-muji tampilanya saat ini.
Ia tak akan menyia-nyiakan kembali kesempatan yang berharga ini. Dimana Heru memberikan perusahaannya yang lain untuk ia kelola kembali. Ia harus sungguh-sungguh bekerja, agar bisa mendapat simpati dari kedua orang tuanya.
**
Semua karyawan memperhatikan sang atasan tengah berjalan berdampingan dengan seorang pria yang lebih muda dari dirinya. Tak sedikit dari mereka menganggukkan kepalanya, pertanda menghormati pria yang baru saja lewat ke arahnya.
Mereka saling bertanya, siapa pria yang berjalan dengannya? Karena Heru memang terlihat masih bugar jika harus di gantikan.
"Siapa pria itu, ya? Apa memang ia yang akan menggantikan Pak Heru?" Bisik salah seorang karyawan.
"Entahlah, yang jelas aku belum siap atasan kita harus di ganti. Aku masih betah dengan kinerja Pak Heru, yang tegas namun tak semena-mena dengan bawahannya". Jawab karyawan yang ada di sebelahnya.
"Iya benar, kita berdo'a saja agar semua tebakan kita tidak terjadi". Bisik yang lainnya.
**
"Kamu akan Bapak kenalkan pada seluruh pegawai di sini, mereka berhak tahu tentang kedatanganmu". Ucap Heru yang telah memasuki ruang kerja para karyawannya.
Heru pun berdiri di depan ruang kerja para karyawannya, sebelumnya ia memberikan senyum simpulnya terhadap semua karyawan yang berada di ruangan tersebut. Lalu ia menjelaskan kehadirannya saat ini.
"Saya mohon perhatiannya! Saya ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian, ini anakku bernama Dimas Candra Adhinatha. Diantara kalian pasti belum mengenalnya, karena dia di tugaskan oleh saya untuk mengelola kantor cabang menjadi direktur utama. Dan dikarenakan usia saya mulai menua, mulai beberapa hari ke depan ia akan menjadi atasan kalian. Mohon kerja samanya". Ucap Heru yang dengan bangga memperkenalkan Dimas terhadap semua karyawannya.
Dimas pun tersenyum dengan percaya diri dan mengangguk pelan. Ia berharap kehadirannya membuat semua karyawan di sini senang.
"Wahh.. Dia memang tampan, memang pantas jika di jadikan direktur utama. Tambah semangat aja kalau begitu".
"Pasti kinerjanya akan sama profesional seperti Pak Heru.."
__ADS_1
"Dari tatapannya menunjukan ketegasan, menurun dari Pak Heru.."
Bisik dari beberapa para karyawan yang antusias terhadap kehadiran Dimas, namun ada juga di antara mereka yang mencibirnya karena telah mengetahui perbuatan bejadnya saat beberapa bulan yang lalu.
"Bukannya dia pernah mencoreng nama baik keluarga Adhinatha, ya? Kenapa ia kembali di pekerjakan?"
"Dia pernah terciduk berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri oleh istinya. Memalukan".
"Apa dia akan bisa profesional seperti Pak Heru? Dia terlihat kurang meyakinkan.." Bisik beberapa karyawan yang tak menyukai Dimas.
**
"Kerja sama tersebut akan memberi keuntungan besar bagi kita dan ini harus kita rapatkan segera dengan kantor pusat. Pak Heru pasti akan sangat antusias jika mendengar hal ini". Ucap Dinda terhadap sekretarisnya.
"Baik, Bu. Saya akan segera menghubungi pihak kantor pusat. Dengan itu kita akan segera melakukan rapat dengan secepatnya". Ucap Julian sekretaris Dinda.
Dinda pun mengangguk tanda ia menyetujuinya, Julian pun keluar setelah obrolan mereka selesai. Dinda sangat berharap banyak terhadap kerja sama ini, karena akan memperbaiki ke stabilan perusahaan tersebut setelah mengalami kerugian yang cukup parah.
**
Lidya telah memikirkan caranya untuk keluar dari sana. Saat ia tengah di suruh untuk membersihkan toilet kembali, ia masih memikirkan caranya untuk keluar dari kurungan penjara ini. Terlihat jendela yang hanya di lapisi kaca. Meskipun agak tinggi, ia yakin bisa keluar dengan cepat melalui kaca tersebut.
Ia pun menyalakan air yang terdengar cukup bising untuk mengalihkan suara pecahan kaca, kemudian ia memecahkan kaca tersebut dengan hati-hati menggunakan pukulan tangannya secara pelan. Sehingga kaca tersebut retak, lalu dengan perlahan ia bisa memecahkannya.
Meskipun agak sakit, namun beruntung kaca tersebut tak terdengar berisik juga semua orang tak akan merasa curiga dengan apa yang tengah ia lakukan.
Beberapa kaca yang belum pecah masih ia pukul-pukul menggunakan tangannya. Dan sampah bekas kaca tersebut ia simpan di dalam bak mandi, sehingga tak ada yang curiga jika di sana ada serpihan kaca.
'Kerjaku akan segera berhasil, sebentar lagi aku akan menghirup ke bebasan'. Ucap Lidya dalam hatinya.
Setelah ia melihat-lihat keadaan sekitarnya yang terasa aman, ia pun kembali menaiki bak mandi tersebut untuk mencapai jendela.
__ADS_1
Ia berhasil memanjat jendela tersebut, cara terakhirnya adalah melompat meski terlihat tinggi. Ia pun memejamkan matanya untuk memperkuat mentalnya, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Setelah mentalnya cukup, ia pun hendak melompat. Dan..
'BUGH'
"Aakkhh.." Jerit Lidya.
Harusnya ia melompat keluar jendela, namun ada seseorang yang menariknya dengan keras dari dalam toilet. Lidya merengek kesakitan karena tubuhnya terjatuh dari jendela yang agak tinggi. Bukannya ia lolos melarikan diri, sayangnya malah kembali lagi ke dalam toilet tersebut.
"Kau pikir akan melarikan diri dengan mudah? Hanya mimpi". Decak Sarah si tahanan wanita yang terlihat sangar. Ia berseringai tajam membuat Lidya semakin ketakutan.
'si*lan..' Umpat Lidya dalam hati. Ketakutannya mengalahkan rasa sakitnya. Bagaimana tidak? Di depannya terlihat sosok wanita dengan tubuh kekar, berkulitkan hitam dan tak hentinya mendekat pada Lidya.
"Kau sudah berani mencoba melarikan diri dan kau pasti akan tahu selanjutnya, hukuman apa yang pantas untukmu". Ucap Sarah yang masih mempertahankan seringaian nya.
"Maafkan aku! Tapi jika kau membiarkanku pergi, aku pun akan dengan senang hati membantumu. Itu penawaran menarik, bukan? Kau juga akan merasakan ke bebasan". Jawabnya sambil memecah suasana agar berpihak kepadanya, dengan cara mengiming-imingi bantuan kebebasan untuknya.
"Kau salah besar wanita jal*ng, aku tidak perlu diam-diam jika ingin melarikan diri. Aku cukup menghubungi seseorang agar membantuku, tapi kau tahu? Dengan keberadaan ku di sini, uangku akan lebih bertambah di bandingkan mencari uang sendiri di luaran sana". Ucap Sarah.
"Aku tak mengerti". Balasnya.
"Kau tak perlu mengerti, karena kau memang wanita bod*h dan ceroboh". Jawab Sarah. Kemudian ia semakin mendekati Lidya.
'BUGH.. BUGH..'
'Aakkhh..'
Beberapa tinjuan mendarat di wajah Lidya, ia berteriak kesakitan. Belum juga sembuh rasa sakitnya setelah jatuh, sekarang harus di tambah dengan beberapa hadiah dari Sarah.
"Ampun.. Aku tidak akan mencoba melarikan diri. Maafkan aku". Rengeknya yang sudah tak tahan dengan sakit yang bertubi-tubi menghujaminya.
"Aku akan memberi hadiah untukmu lebih dari ini, jika kau mencoba berulah kembali". Ancam Sarah yang kemudian berlalu setelah puas memberi riasan wajah Lidya dengan warna kebiru-biruan.
__ADS_1
'Aarrgghh.. Awas kau, akan ku balas'. Decak Lidya dalam hati.