Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 55 Sudah tak berarti


__ADS_3

Dengan cepat Julian menuju Dinda, namun saat dalam langkahnya ia berpapasan dengan Kevin. Ia bahkan terkejut adanya wanita yang ia gandeng dan bersikap manja terhadap Kevin.


Kevin pun sempat memandang ke arah Julian, hanya saja ia kembali bersikap acuh dan mengabaikan Julian yang dengan gugup menganggukkan kepalanya. Sampai Kevin terlihat menghilang dari pandangannya.


'Pak Kevin pernah memintaku menjaga Bu Dinda, kenapa dia seperhatian itu tapi akhirnya bersama wanita lain?' Gumamnya sambil tertegun dengan pikirannya.


**


Sosok langkah wanita menghampiri Dinda yang tengah terlihat tidak baik, ia tersenyum saat mengetahui Dinda tengah bergelut dalam kegelisahannya.


"Hai wanita udik, kayanya disini ada yang berharap menjadi Nyonya Kevin ya? Sebaiknya urungkan saja niatanmu itu, kamu lihat tadi 'kan? Wanita itu lebih berkelas daripada kamu. Kamu bisa menyingkirkan Viola, tapi menurutku tidak dengan wanita itu". Hujat Riana.


Riana melihat awal pertemuan Dinda dengan Kevin dan tebakannya tak salah, sekarang Dinda terlihat menyedihkan setelah mengetahui Kevin tengah bergandengan tangan dengan seorang wanita. Kemudian ia segera mendekatinya untuk melihat betapa menyedihkannya Dinda.


"Maaf, aku tak berurusan denganmu". Jawab singkat Dinda, ia tak bisa membohongi hatinya jika kedatangan Riana membuatnya semakin terpuruk.


"Huh.. Masih saja belagu jadi orang, kau pikir kau siapa? Hanya seorang janda penggoda, bisa apa janda sepertimu selain menjadi penggoda?" Cemoohan Riana sukses membuat Dinda semakin sakit hati. Ia pun memberanikan diri memandang Riana dengan tajam, hal itu membuat Riana sedikit agak memundurkan langkah.


"Aku bukan penggoda, meskipun aku seorang janda tapi aku masih punya harga diri. Apa salahnya menjadi janda? Semua itu bukan keinginanku dan kamu jangan sekali-kali mencoba untuk menyinggung soal ini. Karena aku memang tak mempunyai urusan denganmu". Tegas Dinda.


Riana agak ketakutan melihat sorot mata Dinda yang semakin tajam, namun demi balas dendam untuk Viola ia tak akan melepaskan Dinda lagi. Karena ulah Dinda, Viola berada di sel tahanan, pikir Riana.


"Kau tersinggung? Atau hanya membela diri saja? Menyedihkan". Balas Riana tak mau kalah.


"Kau.."


Dinda semakin terpancing emosi mendengar ucapan Riana, namun Julian segera menahannya. Ia khawatir terhadap Dinda yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Bu Dinda, cukup. Sebaiknya Anda kembali ke perusahaan, atau pulang saja. Biar semua saya yang handle. Dan jangan urusi wanita ini, mungkin dia sedikit kurang waras jadi bertindak sesukanya". Ucap Julian, hal itu membuat Dinda agak tenang.

__ADS_1


"Siapa yang kau bilang kurang waras? Berani-beraninya kau.." Geram Riana, tangannya ingin menampar Julian hanya saja Julian tahan, ia tak mengetahui jika Julian bukan hanya sekedar sekretaris. Ia adalah suruhan Kevin yang telah mendapatkan pelatihan khusus.


"Kau masih kurang tenaga jika ingin menamparku". Ucapnya sambil menepiskan tangan Riana.


Riana pun bergegas pergi, hari ini ia memang kalah. Julian hanya tersenyum melihat kepergian Riana.


"Bu Dinda sebaiknya beregas pulang, mari saya antar Anda ke mobil". Ucap Julian sambil memapah Dinda.


'Kasihan Bu Dinda, mungkin ia melihat Pak Kevin dengan wanita tersebut. Sehingga ia tak kuasa menahan kesedihannya. Meskipun begitu, aku haru tetap menjaganya walau Pak Kevin telah bersama wanita lain'. Lirih hati Julian yang merasa kasihan terhadap Dinda.


**


Kevin memasuki ruangannya, wanita itu nampak puas dengan kerjanya untuk membuat Dinda cemburu. Senyum kemenangan ia ukirkan di bibirnya, dengan itu Dinda tak akan berani mendekati Kevin lagi.


"Amelia, aku sudah akan duduk. Kau tidak perlu seperti ini, di sana ada sofa untukmu duduk". Ucap Kevin dengan ketus. Ia menepis tangan Amelia yang sedari tadi tangannya tak henti bergelayut di lengan Kevin.


"Pekerjaanku banyak, jangan biarkan kesabaranku menipis hingga kamu ku usir dari ruanganku". Kesal Kevin.


Dengan mengerucutkan bibirnya, Amelia menuruti perintah Kevin. Meskipun ia berhasil dekat dengan Kevin, namun ia belum berhasil mendapatkan hati Kevin. Hatinya seakan keras dan tak bisa ia jinakkan dengan mudah.


'Si*l, dia begitu dingin terhadapku. Tapi, jangan kira aku tak bisa menaklukanmu Kevin. Selama kamu bersamaku, sedikit demi sedikit kau pasti akan segera luluh'. Ucapnya dalam hati.


Meskipun kekesalan terlihat dari raut wajah Amelia, ia segera menepisnya kembali. Ia sangat yakin jika sedikit lagi Kevin akan segera luluh kepadanya.


**


'Dulu kamu memperlakukan wanita itu seperti tak ada artinya, tapi kenapa sekarang dia lebih berarti di bandingkan denganku? Apa kamu hanya ingin membuatku sakit hati? Apa aku hanya dijadikan olehmu pelampiasan?'


'Aku kecewa telah mempercayaimu, ku kira kamu tidak seperti pria lain yang selalu peduli terhadapku. Tapi, nyatanya kamu banyak membuat kebohongan yang telah disembunyikan dengan rapi'.

__ADS_1


'Aku benci kamu, Pak Kevin'.


Racau Dinda dalam hati, hatinya terus saja mengoceh tanpa henti dengan lelehan air mata yang dengan seenaknya membasahi pipinya.


Kekecewaannya terhadap Kevin semakin besar, ia seperti di bohongi oleh kebaikan-kebaikan Kevin yang sebenarnya tak nyata.


**


Fania tersentak kembali dengan suara ketukan, rasanya ia tak ingin membuka pintu tersebut karena ketakutan. Takut akan Ayahnya kembali menemui dirinya untuk melampiaskan kemarahannya lagi.


Awalnya ia mengabaikan ketukan itu, tapi sepertinya suara ketukan itu semakin mengganggu ketenangannya. Dengan tangan dan kaki gemetaran, ia memberanikan diri untuk membukanya.


Ia di kejutkan kembali dengan sosok beberapa pria bertubuh kekar berada di depan rumahnya, ia sempat berfikir apakah Ayahnya berencana untuk menjualnya ke pada orang kaya? Rencana apalagi yang ada di pikiran Ayahnya tersebut?


"Nona, kamu harus ikut dengan kami". Ucap salah satu pria tersebut.


"Aku tidak mau, aku tidak punya masalah dengan kalian. Dan jika tua bangka itu menginginkanku untuk di jual kepada Bos kalian, jangan harap aku mau menyerah begitu saja". Jawab Fania memberanikan diri.


Para pria kekar tersebut tak bicara apapun lagi, mereka saling pandang seperti memberikan sebuah kode. Kemudian salah satu dari mereka mendekati Fania, ia langsung menggendongnya dan membawa masuk ke dalam mobil.


Banyak orang lain yang memperhatikan kejadian tersebut, namun mereka tak berani melawan para pria kekar tersebut.


"Lepaskan aku, aku tak mau pergi bersama kalian. Cepat turunkan aku.." Teriak Fania saat berada di dalam mobil.


Tanpa ingin ribet, salah satu pria kekar tersebut menyuntikkan obat tidur agar Fania tenang dan tak memberontak. Fania akhirnya tak bergeming, pandangannya memburam dan tubuhnya melemah. Sampai ia tak sadarkan diri.


"Dengan cara ini dia bisa tenang, tanpa menyakitinya. Bos pasti akan memakluminya". Ucap salah satu pria kekar tersebut.


"Sebaiknya kita bergegas sebelum wanita ini sadar kembali, obat yang kita berikan dosisnya sedikit". Timpal pria kekar lainnya.

__ADS_1


__ADS_2