Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 45 Terjebak


__ADS_3

Dimas menyeringai tajam ke arah Dinda, ia masih tak melepaskan cekalan tangannya pada Dinda.


Dinda hanya mendengus kesal melihat ekspresinya kali ini, ternyata dugaannya sangat tepat. Jika Dimas hanya berpura-pura baik untuk mendapatkan kembali harta orang tuanya.


"Kamu terkejut dengan semuanya?" Tanya Dimas yang masih mempertahankan seringaian liciknya.


"Tentu tidak, Pak Dimas. Kau tahu 'kan, ini bukan cerita novel yang setiap wanita harus merasakan tindasan seorang mantan suami. Jadi janganlah bersenang hati". Ketus Dinda dengan menatap balik Dimas secara tajam.


"Kau berpura-pura kuat untuk menutupi rasa ketakutanmu 'kan? Heh, aku selalu mengetahui itu". Balas Dimas.


"Saya tak berpura-pura, tapi memang saya tak selemah dulu. Yang hanya diam saat kau berlaku tak adil kepadaku, dan kau pasti akan terkejut dengan sendiri apa yang akan terjadi". Ucap Dinda yang di akhiri dengan tersenyum.


"Aahh.. Senyummu masih sangat manis, baby. Aku memang bod*h membuangmu, tapi aku menginginkanmu di detik ini. Kau akan menjadi milikku lagi". Ucap Dimas, ia menyandarkan Dinda ke dinding sembari mengusap pipi mulus Dinda. Mata jelalatannya terus memperhatikan bibir mungil Dinda, ia sudah tak kuasa menahan hasrat yang telah terpendam selama beberapa bulan.


"Justru saya akan lebih terlihat bod*h jika kembali kepada pria dengan banyak bualan sepertimu". Jawab Dinda dengan mengelak menjauhi sentuhan Dimas di pipinya.


"Sudahlah, Baby. Jangan terlihat menolak seperti itu, ku tahu kau masih menginginkanku bukan?" Tanya Dimas sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda. Kini jarak mereka sudah tak lagi jauh, namun Dinda masih terlihat tenang walau dalam hatinya ia merasa gelisah.


"Sepertinya saya sudah selesai bermain-mainnya, kau juga pasti sudah lelahkan? Dan mari kita langsung saja ke intinya". Dinda menantang, Dimas terlihat sedikit heran dengan ucapannya. Namun ia tak menggubris apapun itu, yang ia inginkan hanyalah memiliki Dinda kembali.


"Kau lebih suka buru-buru ternyata, baiklah baby. Kau jadi milikku malam ini". Ucap Dimas.


Ia tersenyum lebar saat Dinda menantangnya, apa yang akan wanita lakukan saat ia tengah terdesak? Berontak pun percuma bukan? Hanya akan mendapat kekerasan yang begitu menyakitlan. Pikir Dimas, namun tiba-tiba..


'BUGH'


Satu tinju mendarat mulus di wajah Dimas, ia pun tergeletak di atas lantai dan mengerang kesakitan. Tinjuan tersebut berasal dari tangan kekar Kevin, kurangnya pencahayaan lorong tersebut membuat Dimas tidak memperhatikan keberadaan seseorang. Sehingga dengan mudahnya Kevin bisa menyingkirkan wajah mes*mnya yang ingin menggarap bibir Dinda.


"Kenapa kau selalu ikut campur dengan urusanku?" Geram Dimas sambil memegangi wajahnya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Ini termasuk urusanku, kau tak seharusnya mendekatinya kembali. Apalagi melec*hkannya, itu salah besar". Ucap kevin.


"Kau menyukai bekasku?" Tanya Dimas dengan nada mengejek, ucapannya membuat Kevin semakin murka. Ia tak ingin wanita yang menjadi teman kencannya itu dihina, apalagi oleh laki-laki tak tahu diri seperti Dimas tersebut.


Kevin pun mendekatinya dan memberikan beberapa tinjuan di beberapa titik wajah Dimas. Ia begitu terlihat menyedihkan dengan banyaknya luka lebam di wajahnya, karena ulah tangan Kevin yang nakal


"Kau menyukainya?" Tanya Kevin. "Akan ku berikan yang lebih dari ini untukmu". Sambungnya kembali.


"Bawa dia ke ruang rahasiaku, berikan hadiah terbaik kalian untuknya. Dan jangan lupa, video itu kirimkan kepada kedua orang tuanya". Perintah Kevin terhadap beberapa pengawalnya.


'Mereka merekam kejadian tadi? Berarti aku masuk dalam jebakan mereka, Aarrgghh.. Si*l'. Gerutu Dimas dalam hati.


Dimas membelalakan matanya melihat beberapa pengawal yang sudah berdiri di belakangnya, ia tak mengetahui saat ini Dinda tengah berada dalam penjagaan ketat. Ia pun mendengus kesal, lantaran sebentar lagi ia akan kembali di cercah oleh kedua orang tuanya. Dan perjanjian perusahaan yang akan Dimas miliki, akan hancur begitu saja.


"Aarrgghh.. Awas kau Kevin, aku tak akan mengampunimu". Teriak Dimas, namun Kevin hanya menyimpulkan senyumnya.


"Jika kau sudah berada di sana, kau pasti tak akan lagi merasa besar kepala. Bahkan untuk kabur pun kau tak akan punya kesempatan". Jawab Kevin dengan santai. Lalu beberapa pengawal tersebut langsung membawa Dimas dari tempat tersebut.


**


"Terimakasih, Anda datang disaat yang tepat. Saya sudah hampir cemas ketika ia ingin berusaha melec*hkan saya". Ucap Dinda.


"Saya hanya menjalankan tugas sebagai calon suami". Ucap Kevin dengan terkekeh.


"Astagfirullah.. Anda masih saja membuat saya.. Emh, merasa sebal". Jawab Dinda dengan sedikit agak gugup setelah jantungnya merasa bergetar kembali oleh kata-kata Kevin.


"Sebal atau gugup?" Tanya Kevin masih terkekeh. Dinda hanya membulatkan matanya, ia bingung dengan sikap Kevin yang bisa menebak perasaannya saat ini. Hal itu membuatnya sangat malu, sampai wajahnya berubah menjadi merah.


"Kau masih harus berhati-hati, karena masih ada tikus yang berkeliaran di sekitarmu saat ini. Maka dari itu, aku akan selalu memperketat penjagaanmu mulai saat ini". Jelas Kevin membuat Dinda semakin terbengong.

__ADS_1


"Tikus?" Heran Dinda.


"Lidya kembali berulah, dia kabur dari penjara. Dan itu akan membahayakanmu jika keluar tanpa penjagaan. Jadi maafkan saya jika hal itu akan membuatmu risih, namun ini untuk kebaikanmu". Jawab Kevin.


Dinda hanya mengangguk pelan, entah bagaimana lagi ia harus berterimakasih kepada Kevin. Ia sudah terlalu banyak merepotkannya sejak awal bertemu.


**


Fania terus saja melihat ke arah jam yang berada di lengannya, ia gelisah ketika Dimas tak kunjung datang setelah pamit untuk pergi ke toilet.


'Apa dia hanya ingin mengerjaiku? Setelah ia membawaku terbang tinggi, lalu ia akan menghempaskanku begitu saja secara tiba-tiba. Kau keterlaluan Dimas'. Celotehnya dalam hati.


Dinda merasa sedih ketika temannya menjadi korban mantan suaminya, terlihat dari sorot mata Fania yang begitu berharap terhadap Dimas. Namun disaat ia mendapat kepercayaan oleh Fania, justru ia menjadikannya hanya sebuah pelampiasan.


"Kau sendirian?" Tanya Dinda.


"Iya, Dimas berkata akan pergi ke toilet dalam beberapa menit. Tapi, ini sudah setengah jam lebih ia belum juga kelihatan". Keluh Fania, ia terlihat menekuk wajahnya.


"Sebaiknya kamu ikut pulang denganku, aku akan mengantarmu". Ucap Dinda.


"Tapi, Dimas?"


"Akan ku bicarakan apa yang terjadi saat ini, ikutlah denganku". Ajak Dinda sembari memegang tangan Fania dan membawanya pergi.


Namun saat ia tengah berjalan, seseorang yang ternyata rekan kerja Dinda tersenyum dan menganggukan kepalanya. William begitu tertarik dengan Dinda, ia ingin tahu tentang latar belakang wanita yang menjadi teman kencan putranya.


"Anda mengetahui siapa wanita yang baru saja keluar?" Tanya William terhadap seseorang tersebut.


"Ya, dia adalah pemimpin perusahaan Adhinatha. Ia adalah mantan istri dari putra Pak Heru, pemilik perusahaan tersebut. Namun karena perceraian tersebut, Pak Heru memberikan perusahaan tersebut kepadanya. Karena ia telah berjasa memajukan perusahaan tersebut, sebelum ia menikah dengan putranya. Saya pun merasa bangga terhadapnya, karena ia sangatlah profesional dalam menjalankan bisnisnya". Jelasnya.

__ADS_1


William hanya mengangguk pelan, ia pun tersenyum dan merasa bangga terhadap putranya, Kevin.


'Kau pantas mendapatkan wanita tersebut, Anakku. Dia memang terlihat baik dan berpendidikan'. Lirihnya.


__ADS_2