Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 30 Asal-usul Dimas


__ADS_3

Terlihat dari raut wajah Lidya yang kecewa. Bagaimana tidak? Semua harapan Lidya akan pupus. Apalagi menyangkut kekayaan, sungguh sangat menyedihkan.


"Mas, gak boleh gitu dong.. jika kamu gak kerja di perusahaan itu, bagaimana nasib kita ke depannya?" Tanya Lidya yang terlihat tidak tenang mendengar keputusan Dimas.


"Kau diam.. Aku tidak butuh pendapatmu, kau sendiri yang memintaku untuk menikahimu. Jadi kau harus menerima konsekuensinya". Bentak Dimas.


Lidya semakin gusar dengan semua perlakuan Dimas. Oh.. Tapi, lebih tepatnya ia merasa tak terima dengan semua nasib yang menimpanya. Seakan kesialannya terus berlanjut.


Seharusnya kau berfikir Lidya, manusia sepertimu pantas mendapatkannya. Benar bukan?


"Kelihatannya istrimu semakin gelisah mendengar kau tak sekaya dulu, Dimas". Sindir Utami yang menyunggingkan seringaian sinisnya.


"Sudahlah Bu, aku tak ingin membahas ini dulu. Aku ingin mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi". Ucap Dimas yang terlihat kacau. Utami hanya mengangguk dan memikirkan awal pernyataan yang harus ia ucapkan terhadap Dimas.


"Sebenarnya, Ibu sudah di vonis tidak bisa mendapatkan keturunan. Kami sangat putus asa mendengar semua kenyataan tersebut. Kami pun pulang dengan perasaan kecewa. Namun saat berada di depan rumah sakit, kami bertemu dengan seorang wanita yang tengah kesakitan dengan memegang perut buncitnya.


Dan itu Ibu kandungmu, kami pun bergegas menolongnya. Ia tak merawatmu karena ia meninggal setelah melahirkanmu. Nama Ibumu Elsa, dia sangatlah cantik meskipun tengah mengandung". Jelas Utami dengan menunduk tak berani melihat air mata Dimas yang terus bercucuran.


"Awalnya kami tidak mengetahui identitas orang tuamu, namun kami tidak lepas mencari kebenaran orang tua aslimu setelah kau ku bawa ke rumah ini. Ternyata, Ayahmu masih ada hubungan darah denganku. Kau masih ingat paman Daniel? Itulah ayahmu, seorang mafia jahat yang tak pernah sekali pun melirikmu meskipun ia berkunjung ke rumah ini". Sambung Heru.


"Itulah mengapa meskipun kau ku didik dengan caraku, tapi masih saja menjadi anak pembangkang. Ibu tidak bisa menyangkal, sikapmu mungkin di peroleh dari Ayahmu. Jadi kau mengerti sampai sini, mengapa Ibu dan Bapak membawamu ke pemakaman paman Daniel saat itu? Kau pasti tahu jawabannya". Ucap Utami kembali.


Utami menghampiri Dimas yang kini terisak, ia tak bisa membendung kesedihannya. Lalu ia pun mengelus lembut punggung Dimas. Karena meskipun ia bukan anak kandungnya, tetapi kasih sayangnya tetap besar terhadapnya.


"Maafkan kami, baru memberi tahu kebenaran itu. Kami hanya tak tega melihatmu bersedih". Ucap Utami dengan suara yang bergetar menahan tangisan.


"Tidak apa Bu, mungkin jika kalian tidak mengatakan hal itu, aku akan lebih bersikap tak tahu diri". Ucap Dimas.

__ADS_1


"Aku akan memberikan perusahaan tersebut untuk Dinda kelola. Aku akan mengundurkan diri". Sambung Dimas.


Lidya membulatkan matanya tak percaya da semakin geram dengan ucapan Dimas, sementara Dinda hanya fokus dengan gumaman hatinya.


"Loh, kamu jangan seperti itu dong Mas. Kamu tidak memikirkan kelangsungan hidup kita? Pikirkan lagi baik-baik, jangan membiarkan semuanya lenyap begitu saja". Elak Lidya.


"Kelangsungan hidup kita atau kehidupanmu saja? Kau hanya memikirkan kehidupanmu, tanpa merasakan apa yang aku rasakan saat ini". Cibir Dimas yang tak tanggung di hadapan Dinda.


"Oh, ayolah Mas.. Dulu sebelum menikah kau berjanji akan membahagiakanku, tapi kenyataannya malah bertolak belakang. Kau keterlaluan, Mas.." Gerutu Lidya.


"Itu dulu, sebelum aku jijik melihatmu". Ucap Dimas yang kemudian berlalu meninggalkan rumah orang tuanya, tanpa menoleh Lidya yang tengah mengandung.


'Duuaaarr'


Kata-kata Dimas seakan menjadi cambukan di telinga Lidya, ia tak menyangka akan dihina suaminya di depan orang lain. Lidya hanya diam tak bersuara melihat ke pergian sang suami. Setelah itu ia langsung menoleh ke arah Dinda dengan tatapan tajam.


"Aku? Kau salah.. Harusnya kau bercermin, agar kata-katamu tak membuatmu malu. Itu semua sudah menjadi hakku. Bahkan aku sudah berbaik hati loh sebelumnya, aku memberikan kesempatan untuk suamimu mengelolah perusahaan tersebut. Namun hasilnya bagaimana? Tidak baik 'kan?


Jangan berbicara kesalahan di hadapanku, jika kau tak ingin melihat aksiku karena ulahmu!" Ucap sombong Dinda, sekali-kali sombong gak apa 'kan?


"Kau beraninya.."


"Lebih baik kau pergi dari sini, rumahku bisa alergi jika kau terus berada di sini". Ucap asal Heru.


Lidya mendengus kesal dan bergegas pergi dengan menajamkan tatapan ke arah Dinda, perasaannya kini kacau. Dinda hanya tersenyum melihatnya kini.


'Sebentar lagi kau akan merasakan apa yang aku rasakan dulu. Jika kau merebut Mas Dimas dariku, aku tak mempermasalahkannya. Tetapi jika itu berhubungan dengan orang tuaku, aku akan membalaskannya'. Lirih batinnya sambil melihat kepergian Lidya.

__ADS_1


Sebenarnya Dinda merasa tak tega dengan keadaan Dimas. Hanya saja, jika tak seperti itu Lidya akan terus bersikap seenaknya terhadap Dinda.


**


Meskipun malam sudah larut, ia langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi sang Ayah. Dinda tak berhenti untuk menghawatirkannya, apalagi kondisinya yang belum juga membaik.


Dinda pun kembali memakai pakaian yang telah di siapkan oleh medis, lalu menuju ruangan dimana sang Ayah berada.


Baru saja ia melihatnya, air mata pun keluar tak mau berhenti. Dinda memandangi sang Ayah dengan lekat, satu hal yang belum ia lupa yaitu penyesalannya. Selalu saja kata itu yang ada di otaknya.


"Ayah.. Kau masih belum ingin bangun? Apa kau tak lelah dengan tidur panjangmu?" Ucap Dinda dengan terisak. Ia pun kemudian menggenggam tangan sang Ayah dengan kedua tangannya.


"Ayah.. Hari-hariku akan berat jika kau belum membuka matamu. Jadi aku mohon, segeralah sadar. Kita lewati kehidupan baru meskipun tanpa Ibu".


Jari tangan sang Ayah bergerak meskipun matanya belum terbuka. Hal itu membuat Dinda tersenyum dan mengusap pipinya yang basah akibat air mata.


"Apa Ayah merespon ucapanku? Segera bangunlah, aku akan selalu menunggu Ayah membuka mata kembali". Ucapnya dengan sedikit tersenyum.


**


Salah satu pelayan club malam tengah berjalan keluar untuk pulang, ia di kejutkan dengan seorang pria yang tergeletak di depan club tersebut. Lalu ia bergegas menghampirinya.


"Kau lagi, belum tuntas ya masalahmu? Kau pria pengecut, sama seperti yang lainnya. Meninggalkan masalah dengan banyak minum, kau pikir akan tuntas dengan seperti itu?" Cibirnya, karena pria tersebut adalah pria yang pernah ia temui.


"Apa kau pikir aku tak mendengarnya? Dasar wanita bod*h". Ucap pria tersebut, yang ternyata pria itu Dimas. Pelayan itu kaget, ia sempat berfikir jika pria tersebut tak akan sadar dengan ucapannya.


"Cepat bantu aku, tolong bawa aku ke hotel terdekat. Aku tak sanggup untuk berjalan, tapi aku masih sedikit sadar dengan semua ucapanmu". Celoteh Dimas.

__ADS_1


"Kau bukan hanya menyebalkan, tapi sangat merepotkan". Gerutunya.


__ADS_2