Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 73 Kebencian Jonathan


__ADS_3

Dinda meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja suaminya, meskipun mereka termasuk pengantin baru Kevin harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting yang tidak bisa di ambil alih oleh pegawainya.


"Ini kopinya". Ucap Dinda.


Kevin hanya menoleh, Dinda pun mengerti jika suaminya tengah terlihat sibuk. Tak ingin mengganggu suaminya, ia segera membalikkan tubuhnya untuk pergi dari ruang kerjanya. Namun saat ia hendak melangkah, tangannya di tarik sampai Dinda terjatuh dalam pangkuan Kevin.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi? Temanilah aku di sini, ini akan selesai dalam beberapa menit lagi". Ucap Kevin, sambil sebelah tangannya memeluk tubuh Dinda.


"Sebaiknya aku duduk di sofa, posisi ini akan membuatmu tidak nyaman". Sahut Dinda.


"Justru dengan posisi inilah kenyamananku, jangan beranjak. Tetap dengan posisimu seperti ini". Bisik Kevin dengan mengeratkan pelukannya. Dinda hanya menghela nafas, posisi seperti ini membuatnya semakin gugup.


'Apakah dia tidak tahu? Jika dengan seperti ini keringatku seakan bercucuran, karena terlalu gugup'. Gerutu Dinda dalam hati.


**


Beberapa menit kemudian suara ketukan terdengar nyaring di kedua telinga sepasang pengantin baru tersebut, ia mendengus kesal melihat siapa yang memasuki ruang kerjanya.


"Mereka lagi, tidak bosan apa mengganggu pengantin baru". Gerutu Kevin yang tidak suka dengan kedatangan orang tuanya. Ia yakin jika kedatangan mereka hanya ingin mengganggu momen romantis yang telah ia buat.


"Maaf menantu, apakah kau keberatan dengan kedatangan kami? Sepertinya suamimu terlihat kesal setelah kami masuk ke ruangan ini". Sindir Alisha.


"Ti-tidak Mom, kalian masuklah. Aku hanya menemani Pak Kevin mengerjakan pekerjaannya". Ucap Dinda yang masih belum terbiasa berbicara dengan Mertua barunya. Perlahan Dinda turun dari pangkuan Kevin.


"Kau memang Menantu yang baik, tidak seperti manusia datar di sampingmu". Jawabnya sambil menunjuk Kevin dengan bibirnya. Hal itu membuat Kevin menatap kedua orang tuanya sekilas dengan wajah juteknya. Orang tuanya memang tidak mengerti situasi menjadi pengantin baru.


Dinda hanya tersenyum mendengar celotehan orang tua Kevin, ia sangat bahagia bisa berada di sisi keluarga yang unik seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa belum juga pulang ke negara asal kalian? Tidak mengerti 'kah jika kini aku butuh waktu berdua bersama istriku?" Tanya Kevin dengan nada ketusnya.


"Dasar anak ini, tidak pernah berubah. Dulu ia selalu ketus terhadap Mommy yang memaksa menjodohkannya dengan Amelia, sekarang giliran Mommy ingin mendekatkan diri dengan Mantu kesayangan masih saja seperti ini". Keluh Alisha.


Dinda hanya terkekeh melihat Ibu dan Anak ini, mereka seperti Tom dan Jerry yang selalu ribut dan tak pernah akur seperti anak kecil.


Hanya saja dengan melihat suasana tersebut, Dinda merasa hatinya tersentuh. Andai saja Ibunya masih berada di sisinya saat ini. Mungkin ia bisa melihat kebahagiaan yang kini Dinda rasakan.


**


Fania tersadar dari pingsannya, ia memegang kepalanya yang terasa sakit. Melihat itu, Zidan mendekati Fania dengan rasa khawatir. Andai ia mengetahui apa yang terjadi dengan wanita itu, mungkin saja ia akan membalaskan dendam Fania.


Karakter Zidan berbeda dengan Hendrik, ia selalu bersikap acuh terhadap pekerjaannya. Ia tidak ingin kehidupannya di tundukkan oleh sebuah pekerjaan, dan karena Fania adalah orang pertama yang dekat dengannya, rasanya ia ingin terus menjaga dan memberi rasa aman terhadapnya.


Sedangkan Hendrik lebih mementingkan pekerjaannya daripada yang lain. Karena itulah semenjak Lidya berada di mansionnya, Hendrik tak pernah menaruh sedikit curiga. Pekerjaannya selalu menjadi prioritas, sehingga jarang sekali ia berada di mansionnya untuk hanya sekedar mengobrol dengan Lidya.


"Aku dimana?" Tanya Fania.


"Kau berada di rumah sakit. Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa kau menjadi seperti ini? Bicaralah kepadaku, aku akan membantumu". Desak Zidan yang terlalu ingin mengetahui apa yang terjadi di pada Fania.


Fania hanya mengingat kejadian sesaat sebelum dirinya terkulai dalam ketidak sadarannya. Setelah mendapat beberapa pertanyaan tersebut, Fania hanya terdiam tak bergeming. Ia sedikit bingung, apakah ia harus bicara kepada orang yang baru ia kenal? Ia tidak boleh gegabah dalam mempercayai seseorang. Bisa jadi orang tersebut hanya mengiming-imingi untuk membantunya, setelah itu ia masuk dalam perangkapnya yang mengerikan.


"Tidak ada apapun, mungkin aku hanya sedikit ke capean". Jawab Fania berbohong.


Zidan tidak percaya begitu saja dengan ucapan Fania, ia sadar mungki tak seharusnya menanyakan lebih dalam masalah pribadinya. Namun mata sembabnya menjadi jawaban jika Fania tidak sedang dalam keadaan baik.


'Maaf aku telah berbohong'. Lirih Fania dalam hati.

__ADS_1


**


Jonathan, Elena dan Amelia di kurung dalam satu ruangan kembali dengan keadaan di ikat dalam kursi yang berbeda. Jonathan masih terlihat geram kepada Elena, terbukti dalam hatinya yang mengumpati wanita tersebut. Sebaliknya Elena masih terlihat ketakutan, ia tak ingin kejadian sewaktu beberapa hari yang lalu terulang kembali.


Amelia yang melihat itu pun merasa aneh, satu alisnya terangkat saking fokus memperhatikan gelagat kedua orang tuanya.


"Kalian kenapa? Seharusnya kita terus berpikir cara melarikan diri dari sini, bukan saling memperlihatkan kemarahan". Ucap Amelia yang kesal.


"Harusnya kau bertanya mengapa aku terlihat marah kepada Ibumu, bukan dengan entengnya menyalahkan". Jawab Jonathan.


"Memangnya kalian kenapa?" Tanya Amelia yang benar-benar tidak tahu.


"Kita berdua telah di bod*hi oleh wanita ini, Amelia. Dia merencanakan semuanya hanya untuk mendapat kepuasannya dengan kembali menikah bersama William. Perasaannya masih besar terhadap mantan kekasihnya tersebut". Ketus Jonathan.


"Hei, aku tidak seperti itu. Jika saja kau tidak bangkrut, mungkin aku tidak akan melakuka hal konyol di beberapa tahun yang lalu. Aku berjuang demi kalian". Tegas Elena yang menyangkal ucapan Jonathan.


Amelia yang memperhatikan perdebatan tersebut sangat kebingungan, ia tidak mengerti dengan masalah orang dewasa. Sehingga ia hanya bisa mendengarkan apa yang mereka perdebatkan.


"Jangan mengelak, Elena. Jujurlah kepadaku, jika sebenarnya dari awal kau berniat menikahiku karena harta yang ku punya 'kan? Sehingga setelah semuanya habis, kau mencari cara licik dan berharap terlepas dariku". Tebak Jonathan.


"Ti-tidak mungkin, kau hanya terjebak dalam ilusimu saja Jonathan". Balas Elena yang masih mengelak.


"Heh, aku sudah mengetahui semuanya dari cara matamu menatapnya. Ucapanmu hanyalah pemanis agar aku terjebak dalam permainanmu".


Seketika Elena terdiam, jika tebakan Jonathan memang semua benar. Ia yang meninggalkan William ketika keadaannya tengah susah dan memilih menikah dengan Jonathan karena hartanya yang melimpah. Ia tidak menginginkan kesengsaraan, sehingga ia lebih meninggalkan rasa cinta terhadap William. Namun tak di sangka rasa cinta itu pun kembali tumbuh ketika Jonathan kehilangan semua hartanya, rasanya Elena ingin pergi dari dekapan suaminya. Amelia yang menjadi halangan ke nekadan Elena saat itu. Ia tak ingin putrinya terlantar tanpa seorang Ibu.


"Aku belum mengerti dengan perdebatan kalian, hanya saja aku berharap kalian berhenti bersikap seperti anak kecil. Kita harus segera memikirkan cara untuk keluar". Ucap Amelia yang melerai perdebatan tersebut.

__ADS_1


"Itu hanya kemauan kalian berdua, tapi yang aku mau saat ini hanyalah memberi pelajaran wanita rubah sepertinya". Jawab Jonathan. Kedua wanita itu terbelalak tak percaya, sebegitu bencinya laki-laki tersebut terhadap wanita yang masih berstatus sebagi Istrinya.


__ADS_2