
Rasa kesal Fania masih menumpuk, tetapi Zidan tidak menanggapi perasaan Fania. Ia masih menatapnya datar dari ke jauhan.
"Kakimu tak merasa pegal berdiri terus di sana?" Tanya Zidan, ingin rasanya ia tersenyum melihat raut wajah Fania yang merasa kesal. Namun semua itu harus ia tahan di depan beberapa pengawal yang masih setia berdiri di belakangnya.
"Aku tak harus menjawabnya bukan? Kau pasti tahu sendiri". Jawab ketus Fania, ia memutar bola malasnya ke sembarang arah.
"Sini duduk denganku". Ucapnya sambil menepuk-nepuk pahanya.
"Aku bukan budakmu pria aneh". Jawabnya masih ketus.
"Apa perlu aku mengerahkan kembali orangku agar kamu menurut?" Ancam Zidan membuat Fania membelalakkan matanya tak percaya.
"Hei, kau curang. Baiklah dengan terpaksa". Jawabnya sambil buru-buru mendekati Zidan, lalu duduk di sebelahnya namun masih agak berjauhan.
"Aku menyuruhmu di sini, kita tidak sedang naik angkot". Jawabnya asal.
"Di sini atau aku pulang". Ucapnya sambil memicingkan mata. Zidan menghela nafas kasar, dari wajah lugu Fania memang ia mempunyai sifat yang keras kepala.
'Wanita keras kepala'. Lirih kesalnya dala hati.
Tiba-tiba pandangan Fania tertuju pada seorang wanita yang turun dari atas tangga, ia terus memperhatikan wajah wanita tersebut yang tak asing di ingatannya. Hanya saja ia melupakan dimana pertemuan terakhir mereka.
'Kenapa aku merasa kenal terhadapnya? Siapa dia?' Lirihnya dalam hati.
**
Jam kerja telah usai, Dinda masih dalam keadaan sedih namun wajahnya mulai tak terlalu di tekuk. Mungkin karena ia tak mau memperlihatkan kesedihannya kepada semua orang yang akan memperhatikannya.
Di pintu utama kantor tersebut, Rio terlihat tengah menunggu seseorang. Pandangan mereka berpapasan ketika Dinda hendak keluar, ia langsung menyeringai ke arah Dinda.
"Dinda, aku sebenarnya menunggumu. Kau tidak keberatan 'kan jika kita sedikit mengobrol?" Tanya Rio menampakkan wajah memohonnya.
Dinda sebenarnya agak ragu, hanya saja ia berpikir mungkin ajakan Rio tidak ada salahnya.
__ADS_1
"Boleh, tapi aku hanya ada sedikit waktu. Karena Ayah pasti akan mencemaskanku jika pulang telat". Jawab Dinda, meskipun begitu tetapi hal tersebut membuat Rio senang.
"Tidak apa, kita hanya melanjutkan obrolan yang sempat terputus tadi". Balas Rio. Dinda hanya mengangguk pelan.
**
Suasana hati Kevin sedang tidak baik, namun ia masih saja memaksakan menuruti keinginan Amelia. Entah apa yang membuat Kevin menuruti Amelia, hanya saja ia masih enggan untuk buka suara menjelaskan terhadap Dinda.
Amelia menginginkan suasana romantis makan malam, ia memohon kepada Kevin untuk mengganti suasana romantis makan siang tadi yang sempat kacau. Ia pun menyetujuinya karena merasa muak dengan rengekan Amelia yang tidak berhenti.
'Dinda'. Lirih Kevin dalam hati.
Ternyata ia berada di tempat makan yang sama dengan Dinda saat ini. Sebenarnya ia merasa senang, hanya saja keadaannya tak mungkin mendekatkan diri kepada Dinda karena keberadaan Amelia di sampingnya.
Kevin pun tersentak ketika ada seorang pria yang duduk saling berhadapan dengan Dinda, ia mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arah pria tersebut.
Amelia menyadari hal itu, sehingga munculah ide licik di kepalanya saat ini. Ia semakin bergelayut manja di lengan Kevin, tubuhnya semakin di rapatkan dikala mereka berjalan ke arah meja yang di tunjuk Amelia.
Meja yang Amelia tunjuk bertepatan di sebelah meja Dinda, hal itu membuat Dinda risih ketika menyadarinya. Apalagi kemesraan mereka terlihat jelas di depan mata.
**
"Honey, kamu mau makan apa?" Tanya Amelia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kevin. Hal itu membuat wajah Dinda memerah, ia kembali menahan diri untuk tidak terpancing emosi.
"Amelia, kau tak perlu seperti ini. Di sini banyak orang lain, beberapa pandangan mengarah kepada kita". Ucapnya sambil sedikit mendorong tubuh Amelia agar menjauh.
"Honey, jangan khawatir. Kita adalah sepasang kekasih, sangat wajar bukan jika kita selalu menaburkan kemesraan". Ucap Amelia sengaja terliha liar di hadapan Dinda.
"AMELIA!" Bentak Kevin yang tak taham dengan sikap menjijikan Amelia.
Amelia hanya mengerucutkan bibir, ia sampai berdecak kesal dalam hatinya. Bisa-bisanya Kevin membentaknya saat ia menginginkan suasana romantis.
**
__ADS_1
Kevin tak henti menatap tajam ke arah Dinda saat mereka tengah asyik bernostalgia, mengingat masa kecil mereka. Emosi dalam hatinya meluap-luap, seakan ia ingin segera melahap pria tersebut dan menelannya bulat-bulat.
Dinda merasa tak nyaman dengan tatapan Kevin, ia pun kemudian pamit kepada Rio untuk ke toilet.
Setelah berada di toilet, ia baru bisa menghela nafas lega. Tatapan Kevin membuat detak jantung Dinda kencang, seakan ingin lepas dari tempatnya.
"Jika dia sudah tidak peduli, kenapa dia menatapku seperti itu?" Lirihnya pelan, di balik rasa sedihnya masih ada rasa kesal terhadap Kevin. Bisa-bisanya ia memandang Dinda dengan tatapan membun*h, untung saja Rio tak menyadari hal tersebut.
Merasa hatinya sudah tenang, Dinda keluar dari toilet. Namun sebuah tangan mengejutkannya ketika membekap mulutnya agar tak bisa berteriak. Tangannya memberontak, hanya saja tenaga seseorang yang membekapnya terlalu kuat.
**
"Tanganmu merasa pegal tidak?" Tanya Zidan dengan santai.
"Kau pikir saja sendiri, aku dari pagi memijitmu. Kau kira aku robot, dasar pria aneh". Gerutunya sambil mengerucutkan bibir. Zidan hanya tersenyum tipis, ia merasa dalam ketusnya Fania terlihat menggemaskan.
"Oh, kau merasa pegal? Kalau begitu sekarang gantian aku yang memijitmu, bagaimana?" Tanyanya sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya dan tersenyum mengejek.
"Kau mau aku pukul? Kenapa ada pria yang menyebalkan sepertimu?" Kesal Fania yang tak hentinya di kerjai oleh Zidan.
"Jangan terlalu ketus terhadapku, bisa-bisa kau jatuh cinta terhadapku". Balas Zidan yang terus saja menggoda Fania.
"Sudahlah, aku menyerah. Aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan semua perintahmu. Aku juga harus mencari pekerjaan untuk biaya sekolah adikku. Saat kejadian malam itu, mungkin aku merasa frustasi dan berteriak secara tiba-tiba di depanmu karena aku baru saja dikeluarkan dari pekerjaanku. Aku mohon, lepaskan aku". Ucap Fania yang mendadak sedih mengingat ancaman Ayahnya.
'Gadis ini, ternyata di balik sikap ketusnya menyimpan beberapa kesedihan'. Gumam Zidan yang merasa kasihan tentang cerita singkat Fania.
"Akan aku pertimbangkan, sekarang kamu boleh pulang. Orangku akan mengantarmu, besok kamu datang kembali untuk mendengar keputusan terakhirku". Sahutnya.
"Jangan membuat hidupku tertekan, aku harap keputusanmu tidak aneh. Aku benar-benar tidak berbohong, semoga ada sisi baik di hatimu untuk membebaskanku'. Balas Fania.
"Apa katamu? Kau menuduhku jahat? Kau wanita pertama yang berani mengatakan hal tersebut, aku terharu mendengarnya". Jawab Zidan.
Fania hanya mengerutkan kedua alisnya, ia merasa aneh dengan sikap pria yang satu ini. Biasanya orang lain akan marah ketika disebut jahat, tapi lain halnya dengan pria aneh tersebut. Ia malah haru, haru dari segi apanya?
__ADS_1
'Aku hampir gil*, lama-lama berada di dekatnya'. Keluhnya dalam hati.