Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 8 Pengadilan agama


__ADS_3

Saat waktu pulang telah tiba, Dinda masih bersembunyi di dalam toilet. Ia masih merasa takut dengan ancaman Kevin tadi.


Ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat di sekitarnya sudah sepi. Ini kesempatan bagus untuk ia pergi dari sana.


Namun saat ia hendak berlari keluar, sosok mata tengah memperhatikannya. Ia tersenyum melihat kelakuan Dinda saat itu.


'Lucu juga dia ternyata'. Gumamnya dalam hati.


"Eheemm.."


Ketika ia hendak membuka pintu untuk keluar, Dinda terperanjat mendengar suara tersebut. Ia menoleh ke belakang, lalu tersenyum kikuk melihat Kevin yang tengah berdiri di belakangnya.


"Ehh.. Bapak". Sapanya dengan cengengesan.


"Kamu keruangan saya sekarang dan jangan berani untuk kabur". Ucap tegas Kevin yang hanya di balas dengan anggukan oleh Dinda.


Wajahnya kini pucat, kakinya seakan bergetar. Bagaimana ia harus ganti rugi, sedangkan jika harus memotong gajinya saja pun tidak akan cukup untuk melunasinya dalam satu tahun.


**


Kevin pun duduk di kursi kebesarannya, ia sedikit menatap wajah Dinda yang kini tengah ketakutan dengan wajah yang menunduk.


"Kenapa kamu terlihat ketakutan? Apa wajahku begitu menakutkan?" Tanyanya dengan menyunggingkan sedikit senyuman.


"Ti-tidak, Pak". Jawabnya gugup.


Karena merasa kasihan, Kevin pun langsung berbicara tanpa basa-basi.


"Mulai besok, kamu tidak perlu memakai seragam itu lagi". Ucapnya membuat mata Dinda terbelalak kaget mendengarnya.


"Apa saya di pecat? Saya mohon Pak, jangan pecat saya. Untuk saat ini saya masih membutuhkan pekerjaan ini". Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Saya bukan memecatmu, tapi saya akan mengangkat jabatanmu sebagai sekretaris". Tegas Kevin dengan santai, membuat Dinda melongo tak percaya.


"Bapak tak sedang bercanda?" Tanyanya tak percaya.


"Membuang waktu saya saja harus bercanda denganmu. Sedikit saja waktu saya itu berharga, mana mungkin terbuang sia-sia dengan bercanda denganmu". Ucapnya dengan senyum yang menyepelekan Dinda.


"Alhamdulillah, terimakasih Pak. Dan untuk kecerobohan saya tadi, silahkan Bapak potong saja gaji saya setiap bulan". Ujarnya dengan tersenyum riang, tanpa memikirkan ucapan ketus Kevin.

__ADS_1


"Kau kira aku kekurangan uang?" Ketusnya kembali.


"Lalu, apa bapak mengikhlaskannya begitu saja?" Tanyanya heran.


"Tentu saja tidak, kau harus merapikan ruanganku setiap hari. Jangan sampai terlihat debu sedikitpun. Dan kau harus melayaniku setiap hari apapun yang ku minta". Jawabnya.


"Melayani?" Tanya Dinda agak curiga.


"Melayani jika ku panggil kau untuk membuatkan kopi dan menyiapkan makan siangku. Lalu apa yang kau pikirkan?" Tanyanya dengan menajamkan matanya ke arah Dinda.


"Aahh.. Tidak Pak. Kalau tidak ada lagi, apa boleh saya pulang sekarang?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Boleh, bawakan tasku ke dalam mobi". Perintahnya dengan menyodorkan tasnya.


"Baik pak, dengan senang hati". Ucapnya sambil tersenyum.


**


Di sepanjang perjlanan pulang, ia terlihat bahagia. Tak sedikit orang merasa aneh melihatnya yang senyum-senyum sendiri.


'Ya Allah, terimakasih telah mempermudah jalanku. Aku akan berjanji, mulai hari ini tak akan membiarkan orang tuaku merasa sedih. Aku akan berjuang demi mereka' lirih hatinya.


**


Akhirnya Dinda sampai di kontrakan kecilnya. Namun saat ingin memasuki kamarnya, ada seorang perempuan yang memanggilnya.


"Kamu bernama Dinda 'kan? Perkenalkan nama saya Fania, saya tinggal di sebelah kamarmu". Ujarnya dengan mengulurkan tangannya lalu tersenyum.


"Oh, hai. Senang bisa berkenalan denganmu". Jawab Dinda dengan membalas salamannya dan tersenyum.


"Tadi ada yang mengantarkan surat ini untukmu, tapi kamu sedang tidak ada". Ucapnya dengan memberikan sebuah amplop.


"Terimakasih, Fania". Dengan mengembangkan senyuman.


"Oh, iya. Mungkin kamu masih cape, aku masuk dulu ya. Nanti kita bisa ngobrol lagi jika kamu ada waktu luang". Pamit Fania yang memang melihat Dinda kecapean.


"Baiklah". Ucapnya dengan di balas senyuman. Hingga akhirnya mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.


**

__ADS_1


"Pengadilan Angama..". Ucapnya lesu.


Meskipun Dinda sudah membuang jauh-jauh perasaannya untuk Dimas, namun di hati kecilnya masih ada rasa sakit hati saat menerima surat tersebut yang berasal dari pengadilan agama.


Isak tangis yang kini terjadi, ia tak menyangka pengorbanannya terhadap Dimas ternyata sia-sia. Pengorbanan untuk berhenti menjadi wanita karir dan lebih memilih mengerjakan pekerjaan wanita rumahan demi melayaninya.


"Terimakasih Mas, ini kado terindah untukku. Tanpamu, aku tak bisa menjadi wanita kuat sampai detik ini. Karenamu aku bisa menjalani hari meski begitu banyak beban di hidupku. Kamu mengajariku betapa tangguhnya aku menjadi wanita". Ucapnya dengan berlinang air mata.


Yang lebih menyedihkan, Dimas tak mau mempekerjakan pembantu agar Dinda bisa lebih sibuk dengan urusan rumah.


Namun semuanya hanya akal busuknya agar bisa dengan bebas berhubungan dengan wanita lain.


"Ya Allah, aku akan menerima keadaan ini dengan ikhlas. Semoga kebahagiaanku datang dengan segera, agar aku bisa menghapus semua air mataku. Dan jadikanlah aku wanita yang tegar dan kuat". Lantunan do'anya.


**


Saat Dimas tengah melamun memikirkan nasibnya, ia teringat sesuatu yang ia simpan dalam laci di kamarnya. Kemudian ia dengan cepat mengambil benda yang ia ingat tersebut.


Di pandangnya benda itu dan langsung membukanya. Ia tersenyum melihat angka di dalamnya.


"Untung saja sebagian besar uangku di simpan dalam tabungan yang berbeda. Sekarang akan ku pergunakan ini untuk mendirikan usaha baruku". Ucapnya dengan melebarkan senyuman.


Beruntungnya meskipun ia sempat frustasi dengan keadaan ekonomi yang menimpanya, tetapi di jauh-jauh hari ia telah menyiapkan segalanya.


Sebelum ia berumah tangga dengan Dinda, Dimas selalu menyisihkan uang di buku tabungan yang berbeda untuk keperluannya di masa depan.


"Aku akan bangkit lagi Pak, meskipun tanpa bantuanmu. Seenggaknya aku masih cerdik walaupun kau bilang aku anak yang gak tahu diri". Ujarnya menampakkan kebencian.


**


"Bu, apakah kita harus berbicara yang sebenarnya saja pada Dimas? Bapak merasa khawatir meskipun kini ia sudah di beri hukuman yang berat, tapi tak ada perubahan dalam perilakunya". Tanya Heru yang sedang kebingungan dengan sikap Dimas.


"Apa sebaiknya jangan dulu di katakan, Pak? Nanti jika dia malah bertindak di luar batas, bagaimana? Kita juga kan yang pusing?" Jawab Utami yang juga sama merasa kebingungan.


"Harusnya dulu kita tidak terlalu memanjakannya, akibatnya dia bersifat seperti itu". Ucapnya menghela nafas.


"Yang lalu biarkanlah masa lalu Pak, meskipun kita sudah memanjakannya tapi memang karena wataknya begitu dia akan sama meski kita didik dengan sedikit tegas". Balasnya sambil mengusap lembut punggung suaminya.


Mereka kini terlalu bingung untuk mengungkapkan hal yang terjadi dulu pada Dimas. Mungkin dengan cara bungkam adalah cara mereka yang masih menyayangi Dimas.

__ADS_1


__ADS_2