
Semalaman Dinda mempelajari materi untuk besok, ini awal ia kembali terjun dalam dunia pekerjaan. Jadi hal wajar jika ia merasa agak canggung kembali dengan semuanya.
Mungkin ke depannya akan lebih terbiasa dengan hal seperti ini. Hingga waktu berjalan begitu larut, sampai akhirnya ia ketiduran dengan berkas yang masih berada di tangannya.
**
Pagi pun menyambut dengan sinarnya, rasa gugup tak luput menyatu dalam hatinya. Meskipun begitu, ia masih tetap merasakan semangat yang luar biasa di hatinya.
Saat memasuki kantor, ia tak lupa untuk menyapa temannya Bila. Meskipun kini mereka tidak sama, namun Dinda masih menganggap Bila sebagai sahabat baiknya.
"Hai.. Bekerja dengan baik ya! Jangan patah semangat". Ujar Dinda tidak melupakan senyuman.
"Siap.. Kamu juga ya, Dinda. Aku sudah membersihkan ruanganmu dengan rapi, jadi jangan kecewakan hari-harimu". Sahut Bila dengan tersenyum.
"Terimakasih.. Ini aku bawakan sarapan untukmu, nanti di makan ya! Aku masuk dulu". Ucap Dinda dengan melambaikan tangan.
"Wahh.. Terimakasih". Jawabnya dengan membalas lambayan tangan Dinda.
'Baik sekali dia..' Lirih hatinya dengan membuka bekal sarapan yang Dinda berikan untuk Bila.
"Ini apa?" Heran Bila ketika melihat sebuah tulisan yang berada dalam kotak sarapannya.
'Jangan lupa sarapan temanku, jangan ngirit seperti kemarin ya! Kesehatanmu lebih penting'
Isi tulisan dalam kertas kecil tersebut, membuat Bila tersenyum.
"Kau memang teman yang baik". Ucapnya dengan senyuman.
**
"Kamu sudah mempelajari materi itu?" Tanya Kevin yang kini tengah berada dalam sebuah mobil bersama Dinda, menuju restoran mewah yang sudah ia janjikan pada klien.
"Sudah, Pak". Jawabnya singkat.
"Jangan kecewakan saya, kamu harus menunjukan seberapa hebatnya dirimu. Karena ini akan menyangkut pada kelanjutan pekerjaanmu". Tegasnya penuh dengan penekanan.
"Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik". Jawabnya merasa percaya diri.
__ADS_1
Kevin hanya mengangguk mengdengar jawaban Dinda. Keheningan pun menyelimuti keadaan mereka saat ini, tak ada obrolan basa-basi di antara mereka.
**
Mereka pun akhirnya sampai di sebuah restoran mewah. Dinda tak merasa aneh dengan kemewahaan restoran tersebut, karena ia sering mengunjungi tempat mewah lainnya saat dulu dengan Heru.
Ternyata klien yang di maksudkan Kevin, telah sampai terlebih dahulu sebelum mereka.
"Selamat siang Pak Hendrik, maaf atas keterlambatan saya". Ucap Kevin sambil berjabat tangan dengan Hendrik.
"Selamat siang jugak Pak Kevin, tidak apa. Kami pun sama sebenarnya baru sampai". Jawabnya dengan sedikit melirik ke arah Dinda.
"Oh, iya Pak, ini Dinda. Sekretaris baru saya". Ucap Kevin memperkenalkan Dinda pada Hendrik.
"Saya Hendrik". Ucap Hendrik dengan mengulurkan tangan dan di sambut oleh tangan Dinda.
"Saya Dinda, senang bertemu dengan Anda". Jawabnya dengan di balas senyum oleh Hendrik.
Setelah memilih beberapa menu, mereka berbincang sedikit tentang obrolan di luar pekerjaan. Karena saking penasaran dengan kerja Dinda, Kevin tak ingin menunggu lama lagi. Akhirnya ia membuka pembicaraan ke tahap pekerjaan.
"Maaf Pak Hendrik, karena waktu makan siang masih agak lama, bagaimana jika kita memulai bisnis kita?" Ucap Kevin.
"Dengan itu saya akan menunjuk sekretaris saya untuk menjelaskannya". Ucapnya dengan menatap Dinda.
Meskipun gugup, Dinda mempunyai keyakinan dalam hatinya. Kata-kata Dimas yang ia ingat kini, semakin ia ingat semakin ia lebih menunjukan kehandalannya.
Kevin pun tak henti memperhatikan Dinda, meskipun raut wajahnya dingin tetapi dalam hatinya menyimpan ke kaguman terhadap Dinda.
Begitu juga dengan Hendrik yang sama kagum terhadap Dinda, bukan hanya karena kehandalannya saja tetapi ia juga kagum terhadap kecantikannya.
Hendrik yang mempunyai status duda, tentu tak bisa mengelak dengan perasaannya. Namun ia harus menepikan perasaan tersebut agar hubungannya dengan Kevin tidak kacau.
"Penjelasannya sangat baik, saya kagum dengan kecerdasaan sekretaris Anda dan cara menyampaikan materi pun sangat teliti. Saya akan bekerja sama dengan perusahaan Anda". Ucap Hendrik membuat Dinda tersenyum dan berucap syukur.
"Alhamdulillah.. Terimakasih Pak". Ucap Dinda.
Tentu saja Kevin merasa senang, ia mempunyai sekretaris cerdas dan keuntungannya bekerja sama dengan perusahaan Hendrik akan sangat besar.
__ADS_1
Mereka pun menyantap makanan yang telah mereka pesan sebelum kemudian berpamitan untuk mengakhiri pertemuan tersebut.
Kevin meminta untuk tetap berada di restoran tersebut setelah kepergian Hendrik.
"Saya salut terhadapmu, mulai sekarang kamu akan menjadi sekretaris saya. Ini kontrak kerja kamu, silahkan kamu baca terlebih dahulu sebelum menandatanganinya". Ucap Kevin dengan menunjukan wajah dinginnya.
Setelah membaca surat tersebut, Dinda sangat terkejut dengan gaji yang setiap bulannya akan ia terima.
"Ini tidak salah Pak? Apa tidak terlalu besar untuk menggaji saya?" Tanyanya dengan terkejut.
"Oh iya, gajimu akan saya potong setiap bulannya untuk melunasi hutangmu atas kecerobohanmu tempo dulu. Dan kamu tidak perlu lagi membersihkan ruangan saya setelah ini". Jawab Kevin tanpa merasa malu.
Dinda hanya terheran mendengar jawaban Kevin, ia pun tak banyak bicara dan langsung mengangguk pelan. Meskipun dalam hatinya merasa kesal.
'Cih.. Katanya tidak butuh uangku, tapi masih saja gajiku di potong. Dasar cowok aneh, jika bukan atasanku sudah ku banting kau dari tadi' gerutunya dalam hati.
**
Tanpa di sadari, sosok mata tengah menatap tajam ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Dimas dan Lidya. Secara tidak kebetulan mereka bertemu di restoran tersebut. Kemudian mereka berjalan mendekati Dinda.
"Cepat sekali kamu menggantikanku. Apa jangan-jangan karena pria ini, kamu ingin berpisah denganku?" Tanya Dimas dengan tersenyum meremehkan Dinda.
Dinda pun terkehut dengan kedatangan mereka berdua, kenapa harus ada mereka di saat seperti ini?
"Meskipun kepalanya dililit kerudung pun, jiwanya sangat liar ternyata mantan istrimu Mas". Sambung Lidya mencibir Dinda.
"Maaf, saya tidak punya waktu berbincang dengan kalian". Jawab Dinda dengan memalingkan wajahnya.
"Udah lah, ngaku aja kamu. Kemarin kamu yang menjelek-jelekanku terhadap Mas Dimas, tapi buktinya belum juga perceraian kalian selesai sudah semau jidat pergi dengan pria lain". Ejek Lidya.
"Pak, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Hawanya sudah mulai panas, pemandangannya pun mulai agak gersang. Alergi saya lama-lama disini". Ucapnya pada Kevin.
Kevin pun mengerti dengan perkataan Dinda yang memang sudah terlihat tidak nyaman. Akhirnya ia menurutinya untuk pergi dari restoran tersebut.
"Jangan lupakan sidang perceraian kita besok, jangan harap kamu meminta rujuk kembali padaku. Karena aku sudah merasa muak terhadapmu". Ucap Dimas, menghentikan langkah Dinda yang baru beberapa langkah untuk pergi meninggalkan mereka.
"Tenang saja, aku gak akan sudi kembali padamu. Hanya orang bodoh yang mau terhadap pria sepertimu". Ucap Dinda yang kembali berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Dimas pun mendengus kesal dengan ucapan Dinda. Meskipun ia berkata mengejek terhadap Dinda, namun hatinya merasa sakit ketika melihat Dinda bersama pria lain.
"Sial.. Keputusan meninggalkanku akan membuatmu sangat menyesal, lihat saja ke depannya siapa yang akan berlutut meminta rujuk". Gumam Dimas dengan menatap tajam ke arah Dinda yang kini telah berlalu meninggalkannya.