Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 79 Tetap terasa manis


__ADS_3

Suasana semakin genting, para pengawal mulai kewalahan. Meskipun mereka memakai baju besi, hanya saja peluru masih bisa masuk dengan sengaja ke tubuh mereka. Karena peralatan itu hanya melindungi bagian intim saja.


"Terimakasih atas kebersamaan kita". Ucap William terhadap Alisha dengan lirih. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Meskipun William terkenal dengan sosok pemberani di masa mudanya, namun kelemahannya terdapat pada wanita yang kini ia peluk.


"Jangan dulu mengucapkan kata-kata terakhir, Pria Tua. Menuanya usiamu membuat pemikiranmu ikut bod*h". Teriak Kevin.


"Dasar kau anak durhaka, akan ku buktikan siapa di sini yang terlihat bod*h". Jawab William, kevin hanya tersenyum samar. Ia sengaja menyindirnya agar kelemahannya tertutupi dengan emosinya untuk melindungi Alisha.


'Hanya perlu sedikit sindiran, agar ia kembali kuat seperti semula'. Lirihnya dalam hati merasa menang.


**


Para penembak misterius masih belum menghentikan aksinya, mereka semakin membabi buta menembaki orang di sekitarnya.


Entah apa yang mereka inginkan, bahkan membuat kekacauan yang besar seperti ini. Pastinya di belakang mereka pun ada sosok terpandang yang melindungi.


'Dor.. Dor.. Dor..'


Pengawal Kevin juga turut menembak dari asal peluru tersebut datang. Entah itu mengenai atau tidaknya target, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk penjagaan keluarga Kevin.


'Dor..'


"Aakkhh.." Teriak Kevin, peluru menembus lengan kirinya. Meskipun pengawalan mereka sudah di perketat, namun masih ada peluru yang lolos dari penjagaan itu.


Dinda membulatkan matanya mendengar teriakan Kevin, wajahnya terlihat pucat dan membuatnya nyaris menangis. Kekhawatiran juga di rasakan oleh kedua orang tuanya, apalagi Alisha yang hampir akan berlari ke arah putranya. Namun William mencegahnya dengan isyarat menggelengkan kepala.


"Dia pasti bisa menyelesaikannya sendiri". Bisik William, sehingga Alisha pun menurut dan kembali menyembunyikan wajahnya karena menangis.


**


"Ka-kamu berdarah?" Tanya Dinda yangkaget juga gugup melihat tangan Kevin di penuhi oleh darah.

__ADS_1


"A-aku tidak apa-apa, lebih baik kamu kembali diam dan menjadi gadis penurut". Jawabnya untuk meyakinkan Dinda.


Dinda hanya bisa menuruti perkataan Kevin, dan kembali berjalan secara perlahan. Kevin kembali memerintahkan pengawalnya untuk tetap fokus, agar jangan lagi ada peluru yang melewati celah dan mengenai ketiga orang kesayangannya.


Semakin berjalan, Kevin semakin merasa kesakitan. Darahnya terus saja bercucuran tanpa henti. Keringatnya membanjiri tubuh dengan kaki yang berjalan sedikit terhuyung menahan sakit di lengannya.


Penginapan mereka sudah terlihat dan membuat Kevin merasa lebih lega. Namun ia terjatuh, tergeletak di atas pasir, membuat semua orang kaget. Dengan sekuat tenaga, para pengawal tersebut kembali menjaga Kevin dengan ketat.


Air mata Dinda lolos begitu saja, ia berlutut meraih kepala Kevin dan memposisikan di pangkuannya. Sementara Alisha semakin mempererat memeluk William juga menyembunyikan isak tangisnya. Ia tak bisa terlihat panik di saat seperti ini, ia mengetahui jika putranya seorang pria kuat.


"Jangan menangis, Dinda. Ku baik-baik saja". Ucap Kevin sambil mengusap air mata yang berjatuhan mengenai pipinya.


"Dinda.. A-aku ingin.." Sambung Kevin yang terbata menahan rasa sakitnya.


"Ka-kamu ingin apa?" Tanya Dinda, ia semakin cemas dan tangisannya semakin menjadi.


"A-aku i-ingin ke.. Cupan.. Eemmhh, cepat.." Jawabnya sambil menunjuk bibirnya sendiri. Semua orang yang menyaksikannya, termasuk Dinda terperangah mendengar penuturan Kevin.


Awalnya Dinda ragu juga malu, kenapa suaminya bisa segil* ini? Dalam keadaan sekarat pun, ia malah meminta sebuah ke cu pan.


Setelah beberapa hari pernikahan mereka, Kevin menjadi candu akan bibir Dinda yang terasa lembut dan manis baginya. Sehingga ia tak bisa melewatkan sedikitpun kesempatan untuk meminta kecu pan itu.


"Tetap terasa manis.." Ucap Kevin, kemudian tubuhnya melemas dan tak sadarkan diri setelah beberapa saat.


Dinda menangis histeris, ia tak percaya Kevin begitu beraninya melindungi Dinda dengan sekuat tenaganya.


Para pengawal langsung membawa Kevin masuk ke penginapannya, mungkin saat ini penginapan adala salah satu tempat aman bagi keluarga Kevin.


**


Berbeda dengan William, ia berdecak dalam hati melihat sikap Kevin yang menjadi manja setelah menikah. Dulu ia terlihat baik-baik saja meskipun beberapa peluru mengenai tubuhnya.

__ADS_1


"Dasar, Anak nakal. Dia bisa mengejekku bod*h, tapi sekarang dia yang terlihat lebih bod*h. Cinta memang benar-benar terlihat konyol". Gumamnya pelan.


Alisha yang mendengar gumaman William pun baru tersadar. Mereka saling berpandangan dengan mengulum senyum, walau dari sudut mata mereka memerah karena sedikit menangis.


"Apakah dia masih tetap putra kita yang kuat seperti dulu?" Tanya Alisha.


"Mungkin dia sudah terserang penyakit bucin". Jawabnya dengan menahan tawa.


Mereka berdua sudah tak terlalu cemas dengan keadaan Putranya, dengan adanya Dinda membuat Kevin akan nampak baik-baik saja.


**


Sementara Amelia di pindahkan ke ruangan khusus, saking merasa syok ia terus saja terdiam dalam lamuanan kosongnya.


"Dia terlihat depresi terhadap semua kejadian ini". Ucap Jack yang di perintahkan untuk menjaga markas tersebut. Ia telah memeriksa keadaan Amelia.


"Iya, tapi dengan itu, Tuan Kevin tidak perlu lagi mengotori tangannya sendiri. Karena dendamnya sudah terbalas dan di rasakan lebih sakit jika itu di lakukan oleh keluarganya sendiri". Sahut salah seorang pengawal yang lain.


"Kau benar juga, dan ini salah satu rencana cerdik Tuan William. Jika wanita itu tidak termakan omongan Tuan William, mana mungkin semua akan terjadi seperti ini". Jawab Jack dengan senyuman sinisnya.


"Sungguh keluarga yang tenang, tapi mematikan". Ucap pengawal lainnya.


**


Perlakuan Jonathan terhadap Elena, membuat wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuhnya sangatlah menghawatirkan dengan beberapa luka di wajahnya yang cukup parah. Dengan tanpa ampun, ia menghancurkan semuanya begitu singkat. Termasuk akal sehat Amelia.


Jonathan tak merasa menyesali dengan apa yang telah ia lakukan, malah ia merasa puas dengan caranya menyingkirkan Istri yang telah ia puja selama bertahun-tahun.


"Kau akhirnya mat* di tanganku, itu sepadan dengan perbuatanmu. Kau harus menanggung semuanya dan kini aku sangatlah puas". Ucapnya bergumam sendiri, merasa puas.


Namun entah mengapa ia memukulkan tangannya ke arah dinding secara keras. Sampai tangannya mengeluarkan darah. Tanpa sebab ia pun menangis histeris dan mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Kau membuat hidupku semakin hancur, sia-sia aku mencintaimu selama ini. Ku memuja dirimu, namun kau menghempaskan ku setelah kau membawaku terbang melayang. Aarrgghh.."


Kini keluarga Jonathan terlihat sangat berantakan, entah bagaimana dengan rencana yang telah mereka persiapkan itu. Malah bukan hanya rencana mereka yang berantakan, tetapi ikatan keluarga mereka pun hancur tak berkeping.


__ADS_2