Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 41 Masih tak percaya


__ADS_3

Selepas pertemuan itu, Dinda semakin muak terhadap Dimas. Meskipun memang ia lah yang telah menjebloskan Lidya ke penjara, tapi rasa percaya terhadapnya masih kurang. Jika harus menganggap Dimas sudah berubah menjadi baik.


Matanya terlihat mengembun, karena memang masa lalunya masih berputar di dalam pikirannya. Namun, bukan rasa kasih sayangnya yang masih ia ingat. Hanya rasa kecewanya membuat ia teringat kembali menjadi luka. Apalagi karenanya, ia harus merasa jauh dengan orang tuanya.


Ia pun mengatur nafas perlahan-lahan, seakan pertemuan dengannya menjadi trauma berat di hidupnya.


"Astagfirullah.." Lirihnya sambil mengusap-usap dadanya yang masih terasa sesak.


**


Deru suara mobil terdengar di pekarangan mansion Kevin, membuat Amelia terperanjat membuka pintu dan menghampiri Kevin. Ia merasa senang dengan kepulangan Kevin yang habis bekerja.


"Honey, kau sudah pulang. Pasti cape 'kan? Ayo, akan ku buat air hangat untukmu mandi". Ucap Amelia yang bergelayut manja di lengan Kevin. Kevin merasa sangat risih dengan perlakuannya, ia pun mengelak menyingkirkan Amelia.


"Kau tahu aku cape, tapi malah membuatku tambah risih. Jangan bersikap seperti itu, aku gak pernah menginginkanmu. Ingat itu". Ketus Kevin dengan tatapan tajam tak sukanya.


"Jangan seperti itu dong, sayang. Amelia sudah dari tadi menunggumu, dia cemas ketika kamu belum pulang juga". Ucap Alisha yang dengan tiba-tiba menghampiri mereka berdua.


Kevin tak habis pikir terhadap Ibunya, meskipun William telah mengingatkannya namun masih saja ia kekeh dengan pendiriannya untuk menjodohkan Kevin dan Amelia. Dasar, Emak-Emak kurang kerjaan.


Kevin tak menyahut ucapan Alisha, ia pergi melewatinya begiti saja. Rasanya pikiran dan otaknya baru saja di gempur habis-habisan, setelah menghadapi begitu rumitnya pekerjaan ia harus bergelut dengan makhluk yang tak memiliki urat malunya itu.


'****, makin jijik aja gue melihat drama yang mereka buat'. Lirih Kevin dalam hatinya.


Amelia dan Alisha hanya melihat kepergiannya, begitu dingin hatinya sampai membuat mereka menggeleng pelan kepalanya. Harus dengan cara apa lagi supaya Kevin bisa luluh terhadap Amelia.


"Kamu sabar ya, Kevin hanya perlu sedikit di luluhkan. Nanti juga ia akan menghampirimu dengan sendirinya". Ucap Alisha dengan percaya dirinya.


"Ko aku sedikit gak percaya ya, Tante? Apa mungkin Kevin sudah punya kekasih?" Tanya Amelia dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Gak mungkin lah, Amelia. Dia tak pernah sedikitpun tertarik dengan perempuan setelah berpisah dengan Elsa. Dan kamu jangan khawatir, jika memang Kevin sudah memiliki kekasih, kita akan singkirkannya seperti dulu Elsa". Jawabnya dengan tersenyum licik.

__ADS_1


"Terimakasih, Tante". Balasnya dengan memeluk Alisha.


**


Dimas kembali menapakkan kakinya ke club yang sering ia singgahi. Terlihat Fania yang tengah melayani beberapa pelanggan dengan membawa minuman yang ia sajikan. Wajah juteknya masih sama seperti pertama bertemu, ia memang tak suka dengan pekerjaannya. Namun nasibnya yang tak bisa ia kendalikan, mengharuskannya untuk tetap menjalaninya walau dengan keterpaksaan.


Pandangan Fania sudah tertuju ke arah Dimas, ia kembali menghampiri dengan wajah datarnya.


"Masih punya masalah yang harus di selesaikan dengan minum, ya?" Ketus Fania, membuat Dimas menggeleng pelan sembari tersenyum.


"Kau masih tampak menggemaskan setelah beberapa hari aku tak datang ke sini". Jawab Dimas dengan tatapan penuh arti.


"Aku memang menggemaskan, tak perlu kau ucapkan juga aku sudah mengetahui itu". Balasnya yang masih terlihat ketus, ia pun kemudian melangkah untuk pergi menjauhi Dimas. Namun tangannya di cekal dengan kuat, sehingga ia tak bisa pergi dengan sesuka hatinya.


"Tinggalah di sini sebentar, aku mau berbicara sedikit denganmu". Ucap Dimas, dengan wajah memohonnya.


"Baiklah, ayo katakan apa yang mau kau bicarakan. Aku masih banyak pekerjaan yang menyebalkan". Balasnya datar.


"Kau harus menemaniku besok malam untuk menghadiri undangan". Ucap Dimas membuat Fania melongo tak percaya.


"Tidak.. Tidak.. Aku sudah akan menceraikannya, dia tengah berada di penjara saat ini. Dan aku akan membayarmu jika perlu, karena undangan ini sangat penting bagiku. Aku tak bisa melewatkannya, hanya saja syaratnya mengharuskan untuk membawa pasangan". Ucap Dimas yang mendesak agar Fania ikut dengannya.


"Aku tak punya gaun dan semacamnya, aku akan mempermalukanmu nanti". Ucapnya lagi.


"Akan ku urus semuanya, kau hanya tinggal ikut denganku nanti malam". Balas Dimas.


"Terserahlah.." Jawabnya dengan berlalu. Dimas merasa senang ketika Fania bisa menyetujui keinginannya tersebut.


**


Dinda tersentak ketika Ayahnya tengah terduduk sambil memeluk foto Ibunya. Ya, memang setelah Ayahnya keluar dari rumah sakit, Dinda menyewa apartemen untuk tempat tinggal mereka. Ia tak mau jauh dari sang Ayah, cukup kejadian nahas itu sekali saja. Selebihnya ia ingin menjaga sang Ayah, sekaligus merawatnya selagi ada.

__ADS_1


'Sebegitu 'kah Ayah menindukan Ibu? Maafkan aku, karena aku Ibu tiada'. Gumamnya dalam hati. Masih saja ada rasa penyesalan yang terus menghampirinya, apalagi melihat Ayahnya kini terlihat menyedihkan. Ia pun perlahan menghampiri sang Ayah.


"Ayah, kau belum tidur?" Tanya Dinda.


"Ayah hanya tengah menikmati malam dengan memeluk foto Ibumu, terasa nyaman. Meskipun Ibu sudah tiada, tapi Ayah selalu merasakan keberadaan Ibu yang masih sangat dekat dengan kita". Jawab Ayahnya, Dinda hanya bisa menahan tangis ketika mendengar hal itu. Dalam hatinya ia tak henti berucapkan sesal.


"Bagaimana jika kita berdo'a bersama yuk? Pasti Ibu akan senang melihat kita yang selalu kompak". Ajak Dinda untuk mencairkan suasana sang Ayah.


"Kau memang pandai mengalihkan suasana". Jawab Ayahnya sambil tersenyum.


Dinda pun membalas senyuman itu, ia merasa tenang saat sang Ayah menjadi lebih baik. Mungkin dengan bersama seperti ini, Ayahnya akan senantiasa merasa lebih baik.


'Kau Ayah yang kuat, aku akan belajar darimu Yah'. Lirih Dinda dalam hati.


**


Pagi yang cerah Dinda dapati saat ini, ia bergegas meninggalkan apartemennya setelah mencium punggung tangan sang Ayah. Namun ia sangat terkejut ketika melihat Kevin yang tengah duduk bersandar di diding apartemennya. Kakinya ia selonjorkan dengan mata masih terpejam.


'Kenapa dia? Dari jam berapa dia berada di sini?' Gumamnya dalam hati, ia pun membangunkannya secara perlahan agar tak terlalu mengejutkannya.


"Pak.. Bangun.. Sejak kapan Anda berada di sini? Anda telah memiliki rumah, tetapi memilih tidur di sembarang tempat". Ucap Dinda yang membangunkan Kevin sambil menggerutu.


Kevin sedikit bergerak, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Pandangannya langsung tertuju ke arah Dinda.


"Aahh.. Istriku sudah terlihat cantik.." Ucapnya ngelantur, karena beberapa nyawanya belum terkumpul dengan baik.


"Astagfirullah, Pak. Kapan kita menikah?" Balasnya dengan sedikit terkejut mendengar kata 'istri' yang terlontar dari bibir Kevin.


Menyadari hal itu, Kevin langsung terperanjat dari halunya. Aarrgghh.. Betapa malunya dia, menyadari kebod*hannya ini.


"Maaf Dinda, aku ketiduran lagi saat ingin bertemu denganmu". Ucap Kevin sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.

__ADS_1


"Anda tidak bekerja? Dari kapan tidur di sini? Apa itu tidak membuatmu sakit? Anda pasti belum sarapan 'kan?" Tanya Dinda yang tak sadar ada rasa perhatian terhadap Kevin.


"Kau perhatian sekali, terimakasih". Ucap Kevin dengan percaya diri. Dinda hanya menyernyitkan dahinya sambil membulatkan matanya. Kerandoman Kevin masih saja sama, pikir Dinda.


__ADS_2