Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 6 Awal dari karma


__ADS_3

"Bagaimana bisa kamu membuat ulah dengan pimpinan perusahaan ini?" Ucap Bila, teman Dinda yang dalam beberapa hari ini sempat berkenalan.


"Pimpinan perusahaan?" Tanya Dinda sedikit terkejut.


"Iya, dia pemilik perusahaan ini. Apa kamu baru mengetahuinya?" Tanya heran Bila.


"Iya, aku baru tahu sekarang. Karena beberapa hari yang lalu aku tak pernah melihatnya masuk ke kantor". Jelasnya.


"Dalam beberapa hari lalu, dia sempat pergi keluar kota. Mungkin hari ini dia baru bisa datang ke kantor". Jelas Bila yang membuat Dinda sedikit terperanga.


'Oh, jadi waktu aku kecopetan, dia sedang berada disana. Beruntung sekali ada dia, jika tidak Ibu tak bisa melanjutkan pengobatannya'. Lirih batin Dinda.


Heran dengan Dinda yang tengah melamun, Bila melambai-lambaikan tangan ke arah mata Dinda.


"Hey, kenapa bengong? Kamu tertarik ya? Tapi jangan sampai itu terjadi, bisa-bisa kamu patah hati. Karena dia orangnya dingin dan belum ada wanita yang bisa meluluhkannya. Ada yang bilang juga dia mungkin suka dengan lawan jenis". Ucap Bila dengan sedikit cengengesan.


"Huuss.. Apaan sih kamu. Jangan asal bicara, aku saja tidak tertarik dengan laki-laki ketus seperti dia". Ucapnya kesal mengingat sifat pria tersebut yang selalu ketus, jika bertemu dengan Dinda.


"Aahh.. Lega aku mendengarnya, jika kamu mengaguminya berarti sainganku bertambah". Ucapnya dengan tertawa.


"Siapa namanya?" Tanya Dinda yang penasaran.


"Kevin William. Ternyata kau penasaran juga, aku akan selalu mengawasi gelagatmu yang mencurigakan. Bisa-bisa kau sainganku juga". Ucapnya dengan tertawa.


"Kau ini, sudahlah. Mana mungkin cleaning service sepertiku bisa merebut hatinya, ya kan?" Ucap rendah Dinda, yang meyakinkan Bila.


"Sudahlah, mari kita bekerja". Ajak Bila.


**


"Aku ingin mencari tahu informasi tentang wanita yang menjadi cleaning servis tadi". Perintah Kevin terhadap pengawalnya.


"Baik Tuan". Ucap pengawal tersebut.


'Sepertinya aku sempat melihatnya dulu, tapi dimana ya?' Lirih hatinya penasaran dengan Dinda.


Kemudian ia bergegas keluar dari ruangannya, menuju ke ruangan meeting.

__ADS_1


**


Sementara Dimas yang berjanji pada Lidya untuk mengurusi perceraiannya dengan Dinda, merasa agak berat.


Tapi demi Lidya, Dimas segera mengurusi perceraiannya yang di percayakan pada salah satu pengawalnya.


Ia percaya, Dinda pasti akan tergantikan dengan adanya Lidya. Karena Lidya memang terlihat sempurna di mata Dimas.


'Jangan pikirkan wanita itu lagi Dimas, sekarang ada Lidya. Wanita yang sempurna, dia akan lebih jauh berbeda di banding Dinda'. Lirih hatinya yang terus meyakinkan dengan keputusannya.


Saat ia sedang berada dalam lamunannya, tiba-tiba Lidya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia kemudian duduk di pangkuan Dimas dan mengalungkan kedua tangannya di leher Dimas.


"Sayang, apa kamu masih ragu dengan perceraianmu bersama wanita sialan itu?" Tanyanya dengan mencibir Dinda.


"Kamu kalau sedang cemburu, makin cantik aja. Ya, enggak lah. Aku akan segera mengurusi perceraianku dan aku gak akan menyesal dengan itu. Karena ada kamu". Ucapnya dengan sedikit menggoda.


"Kamu harus gerak cepat, karena aku mau pernikahan kita juga harus berlangsung secepatnya". Balas Lidya.


"Kamu jangan cemaskan hal itu, aku milikmu". Ucap Dimas yang membuat Lidya makin kegirangan.


Hingga mereka terbuai dengan godaan nafsu yang kini melanda. Hingga pergulatan penuh dosa pun terjadi di antara mereka.


**


"Astagfirullah Dimas.." Utami yang kaget melihat hal tersebut.


"Kau benar-benar kuarang ajar". Ucap Heru yang kini geram.


"Bapak.. Ibu.." Ucap Dimas yang tak kalah kaget melihat kedatangan orang tuanya.


Lidya pun merasa ketakutan, lalu merapihkan kembali pakaiannya yang sedikit terbuka akibat pergumulan tadi.


Keinginannya untuk menjadi menantu yang baik di hadapan mereka, kini berantakan setelah kejadin tersebut.


"Apa yang kamu lakukan di perusahaanku? Pantas saja kini perusahaan mengalami penurunan, pemimpinnya juga tak tahu diri. Kamu mau mempermalukanku dengan hal ini?" Ucap Heru yang kini tengah tersulut emosi.


"Bapak sama Ibu ngapain ke kantor? Harusnya aku yang marah, melihat ketidak sopanan kalian yang masuk tanpa mengetuk pintu". Jawab ketus Dimas.

__ADS_1


"Siapa kamu disini? Meskipun kini kamu yang memimpin perusahaan, tapi saya tetap yang mempunyai kekuasaan. Karena perusaan ini milik saya. Disini kamu sudah paham?" Tanya Heru yang menyudutkan Dimas.


"Ta-tapi Pak.." Ucap Dimas terhenti.


"Sekarang saya sudah sangat yakin, mulai besok kamu tidak boleh menginjakkan kakimu ke perusahaan ini. Karena perusahaan ini sudah saya ambil alih". Tegas Heru yang sudah tidak peduli lagi dengan keadaan anaknya tersebut.


"Dan kamu, saya ucapkan terimakasih telah merusak kehidupan anak saya. Dari rumah tangganya bercerai dan kini menghancurkan pekerjaan anak saya. Kamu sangat berbakat menjadi seorang pelakor, tapi tidak berbakat dalam menjadi wanita baik-baik. Hari ini juga kamu saya pecat secara tidak hormat". Sambung Heru yang emosinya semakin menjadi dan kemudian berlalu meninggalkan mereka.


'DEG'


Lidya saat itu tersentak dengan pernyataan Heru.


"Gak bisa gitu dong Pak.. Pak.." Teriak dimas yang tak di hiraukan oleh Heru.


Dimas hanya terdiam frustasi, baru saja ia akan mendapatkan kenikmatan dalam dosa, kini semuanya menjadi kacau.


Para karyawan lain ikut ketakutan, melihat Heru yang kini tengah marah. Hingga tak ada yang berani memandangnya, apalagi bersuara kepadanya.


Lidya pun diam tak bisa berbicara, impiannya menjadi orang kaya pun pupus. Karena Dimas kini sudah tidak punya hak dalam perusahaan tersebut.


Meskipun Dimas memiliki rumah yang agak besar dan mobil, tapi semuanya tak menjamin untuk kelangsungannya nanti.


"Sayang, setelah ini bagaimana? Kamu mau kerja apa setelah nanti kita menikah? Jika perusahaanmu di ambil oleh orang tuamu kembali" Tanyanya memberanikan diri.


"Kamu bisa gak sih jangan dulu banyak ngomong? Aku itu lagi pusing, kamu bisanya cuma mikirin diri sendiri". Bentak Dimas frustasi.


Tak mau banyak berdebat, Lidya pun keluar dari ruangan Dimas dengan wajah yang di tekuk. Banyak pegawai yang lain menatap Lidya dengan tatapan penuh cibiran.


"Gak nyangka, ternyata dia dalang di balik cerainya pak Bos". Bisik pegawai yang lain.


"Iya, ku kira dia wanita baik-baik, tampang saja cantik tapi kelakuannya licik". Bisik yang lain juga.


Lidya pun bergegas melangkah cepat ke ruangannya dengan wajah yang memerah. Tentu kini ia menjadi gunjingan para karyawan yang baru mengetahui kelakuannya selama ini.


'Arrgghh.. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini? Harusnya sebentar lagi aku menjadi menantu di keluarga Adhinatha, bukan di cap pelakor oleh calon mertua. Ini gara-gara wanita itu'. Lirih batinnya yang tak terima dengan perlakuan orang tua Dimas.


'Aku harus mencari cara untuk memberi pelajaran wanita itu'. Sambungnya.

__ADS_1


Ia pun bergegas merapihkan barang-barangnya yang ada di ruangan tersebut untuk keluar, karena ia di pecat secara tidak hormat.


__ADS_2