
Malam itu mereka tampak bahagia, akhirnya setelah sekian lama keluarga William terlihat harmonis kembali. Andai saja dari dulu Alisha bisa bicara pelan-pelan tentang masalah yang menyangkut dengan keluarga Jonathan, mungkin semuanya tidak akan ada kesalah pahaman di antara mereka. Namun untung saja semuanya bisa berjalan membaik.
"Kau puas dengan makanannya?" Tanya Kevin saat berjalan di belakang kedua orang tuanya di tepi pantai. Mereka terlihat romantis dengan saling bergelayut manja dilengan suaminya masing-masing. Pemandangan ini tentulah sangat jarang terlihat.
"Ya, aku sampai kekenyangan". Jawab Dinda sambil terkekeh. Jawaban Dinda membuat Kevin tak berhenti memandang, candaan Dinda terlihat menggemaskan di mata Kevin.
"Jangan menggodaku, bisa-bisa kau habis malam ini". Bisik Kevin, membuat Dinda terdiam.
'Huh, kapan aku menggodanya? Dia kadang terlalu membingungkan'. Gerutu Dinda dalam hati.
**
"Uuhh.. Seharian ini aku tak bisa makan, bahkan mulutku tak bisa memasukkan makanan itu karena bau bangkai ini terlalu menyengat". Keluh Elena yang terus merasa mual.
"Iya, Mom. Aku bahkan merasa lemas karena tak hentinya muntah". Jawab Amelia sambil memegangi lehernya karena kesakitan.
Bau bangkai tikus tersebut sangatlah menyengat, sehingga sangatlah menyiksa bagi mereka. Meskipun di sana tersedia makanan, namun semua itu tidak terlihat menggiurkan untuk saat ini. Bagaimana tidak? Jika di seluruh penjuru ruangan tersebut terdapat banyak bangkai tikus yang sudah di penuhi dengan belatung dan baunya pun sudah bisa kita tebak.
"Kalian banyak omong! Semua ini jika bukan karena akal burukmu, kita semua tidak ada di sini". Cercah Jonathan dengan menunjuk Elena.
"Kau jangan menyalahkanku, kita sudah sepakat dalam merencanakan hal ini". Jawab Elena.
"Haha.. Rencana awal kita tidak seperti ini, kau terlalu ambisi untuk membodohiku". Jawab Jonathan yang mendengus kesal.
"Heh, sebab itulah aku menyesal hidup bersamamu. Kau terlalu bod*h, bisa-bisanya kau terjebak dalam rencanaku". Ucap Elena sambil tersenyum sinis.
"Mommy.." Lirih Amelia.
Amelia di buat tercengang dengan kejujuran Ibunya, selama ini mereka hanya di perbudak untuk memenuhi keinginan Elena. Air matanya terjatuh dengan tiba-tiba, hatinya terasa sakit mendengar ucapan Elena tanpa merasa tega sedikit pun.
"Kau.." Teriak Jonathan, ia pun bergegas menghampirinya dengan emosi yang meluap-luap.
Tangannya mencengkram leher Elena dengan kuat, emosinya sudah tidak bisa ia atur saat ini. Seakan jiwanya sudah di rasuki iblis.
__ADS_1
Nafas Elena terasa sesak dan cengkraman tersebut sangatlah menyakitkan. Sementara Amelia hanya memutarkan pandangan malasnya. Ia tak peduli apapun lagi tentang Ibunya, hatinya lebih sakit oleh kebohongannya dari pada sakitnya siksaan yang di berikan Jonathan terhadap Elena, mungkin itu sebagian hukuman atas ulahnya.
"K-kau akan membun*hku?" Ucap Elena dengan nafas yang tersenggal.
"Aku lebih baik membun*hmu dari pada menahan rasa amarahku". Bisik Jonathan dengan menyeringai sinis.
"Kau memang pria bod*h yang pernah ku temui. Aku menyesal meninggalkan William demi bersamamu, bahkan perjuanganmu sekecil ini pun kau perhitungkan". Caci Elena, hal itu membuat Jonathan kembali tak bisa di kendalikan. Dan..
'BUGH.. BUGH.. BUGH..'
Beberapa pukulan menghujami Elena, sampai ia berteriak ke sakitan. Namun Jonathan seperti kerasukan iblis, ia tak bisa mengendalikan amarahnya. Sampai Elena tergeletak tak sadarkan diri dengan banyak luka pukulan dari Jonathan.
Amelia menoleh saat tak terdengar lagi suara pukulan dan jeritan Ibunya, ia menangis histeris melihat banyaknya darah yang berceceran dengan kondisi Elena tergeletak di atas lantai.
"Mommy.." Lirihnya, tak lama kemudian ia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
**
Alisha dan William duduk di tepi pantai, mereka menikmati angin malam yang berhembus. William membuka jas yang membalut di tubuhnya dan mengenakannya ke tubuh Alisha. Mereka seakan sepasang kekasih yang terlahir kembali saat ini.
"Menurutku, kau yang tetap manis. Senyumanmu, tatapanmu dan kasih sayangmu tidak pernah berubah". Puji William, membuat Alisha tersipu malu.
"Liburan kali ini, aku merasa hubungan kita seperti terlahir kembali". Jawab Alisha.
"Itu pasti, karena dari pertama hati kita tidak pernah salah memilih". Balas William sambil memeluk Alisha.
Sementara dari jarak yang agak jauh, Kevin berdecak kesal melihat orang tuanya seperti anak remaja yang tengah kasmaran. Dinda menyadari hal tersebut, ia hanya tersenyum geli.
"Mereka sudah tahu berumur, tapi masih tetap bermesraan di hadapan umum. Sangat menggelikan bukan?" Ucap kesal Kevin.
"Kenapa kamu merasa kesal dengan sikap kedua orang tuamu?" Tanya Dinda.
"Lihatlah, semua orang memperhatikan mereka tanpa sadar. Itu sangat memalukan". Jawabnya sambil mengusap kasar wajahnya. Dinda hanya menggeleng pelan dan sesikit tersenyum.
__ADS_1
"Yang menggelikan itu kamu, umur udah tua masih saja kesal sama orang tua yang tengah bermesraan. Harusnya kamu bersyukur, mereka masih ada di hadapanmu kini. Lihatlah nasibku! Menyedihkan tanpa Ibu". Ucap Dinda yang menyentuh hati Kevin, ia sadar ternyata dirinya belum bisa sepenuhnya bersyukur.
"Aku tahu, aku tua. Jangan di sebutkan lagi, meskipun tua tetapi aku masih terlihat tampan". Jawabnya dengan terkekeh.
"Haha.. Emang ada sudah tua tapi masih tampan?" Tanya Dinda.
"Buktinya aku.." Jawab Kevin, membuat Dinda tak bisa menahan tawanya.
'Hampir saja aku melihatmu bersedih. Kamu harus terlihat bahagia, wajahmu selalu menggemaskan jika tengah tertawa seperti ini'. Lirih Kevin dalam hati. Kevin membawa Dinda ke dalam pelukannya, ia tak menghiraukan beberapa mata yang memperhatikan. Cinta membuat seseorang merasa masa bodo, asalkan bersama orang yang ia cinta.
**
"Tuan, segeralah kembali ke penginapan. Saya rasa, ada yang memperhatikan Anda dari kejauhan". Bisik salah satu pengawal.
Kevin menyahutnya dengan anggukan, ia mendengus kesal. Bisa-bisanya di malam yang membuatnya bahagia telah di perhatikan orang lain.
"Aku akan membawamu kembali ke penginapan, angin malam tidak baik untukmu". Ucap Kevin sambil meraih tangan Dinda.
Tanpa bertanya, Dinda pun mengikutinya dan memang angin malam sangatlah tidak baik untuknya. Diekori juga oleh kedua orang tuanya dengan penjagaan yang ketat.
'Ada apa ini? Kenapa penjagaannya di perketat?' Gumam Dinda dalam hati. Meskipun ia menuruti keinginan Kevin, ia masih menyimpan curiga dengan gelagat para pengawal itu.
'Dor.. Dor..'
Suara tembakan terdengar nyaring membuat Kevin dan William panik, ia tidak menginginkan orang tercintanya terluka. Andai saja tak ada Dinda dan Ibunya, mungkin Kevin dan William tak sepanik ini.
'Aarrghh.. Si*l, mereka datang di saat tidak tepat'. Gumam Kevin.
Jarak antara mereka dengan penginapan tinggal beberapa meter lagi, peluru-peluru itu masih menembak asal. Beberapa teriakan pilu terdengar , bahkan suara keributan akibat perkelahian pun nampak bersahutan.
Di dalam pelukan Kevin, matanya mengerjap-ngerjap mengenai dada bidang Kevin, rasa menggelitik itu membuatnya geram. Rasanya ia tak kuat jika terus bersentuhan dengan gadis tersebut. Binatang buas dalam dirinya ikut terbangun, mengaum ingin memangsa gadis kecil ini.
"Jangan menggodaku, Dinda". Bisiknya dengan lirih.
__ADS_1
"Aku tidak.." Ucapannya tidak di teruskan, Kevin menatapnya dengan tatapan kelicikan. Dinda hanya memanyunkan bibirnya, di saat seperti ini pikiran mes*mnya masih bersarang di kepalanya.