Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 56 Ingin mengambil hati Kevin


__ADS_3

Beberapa hari tanpa kabar dari Dimas membuat Utami sedikit gelisah, sebenarnya ia merasa kecewa terhadap Dimas. Hanya saja karena ia telah merawatnya dari bayi, bagaimana pun karakter Dimas ia tetap menyayanginya.


"Pak, bagaimana kabar Dimas ya?" Tanya Utami sedikit resah.


"Kamu jangan khawatir, bagaimana pun dia sekarang itu karena ulahnya sendiri. Dia memang harus di beri sedikit pelajaran". Jawab Heru dengan mengusap pucuk kepala Utami.


"Apakah kita salah telah memanjakannya dulu?" Tanya Utami kembali.


"Banyak orang tua memanjakan Anaknya, namun jika karakter mereka sudah tak bisa di ubah, ya mau bagaimana lagi? Kita tidak sepenuhnya salah, memanjakannya pun karena ingin ia terlihat bahagia. Tapi dia sendiri yang selalu berbuat sesuka hatinya". Jelas Heru.


Utami mendekap dalam pelukan Heru, ia benar jika mereka tak sepenuhnya salah. Memanjakan seorang Anak adalah keinginan setiap orang tua. Hanya saja Dimas terus salah melangkah meskipun kedua orang tuanya telah beberapa kali memberi peringatan.


**


Perlahan Fania menggeliat tersadar dari obat yang pria kekar itu suntikkan kepadanya. Kesadarannya belum pulih, sehingga ia masih terlihat biasa saja ketika membuka mata.


Kemudia ia baru memperhatikan ruangan yang menjadi tempatnya di sekap kini. Ia pun tersadar jika beberapa waktu yang lalu ada segerombolan pria kekar menculiknya.


Fania bergegas turun dari tempat tidur dan menuju ke sebuah pintu, ia menggerak-gerakkan gagang pintu tersebut namun susah untuk di buka.


'BUKK'


Ia menendang pintu tersebut saking kesalnya tak bisa di buka.


"Kalian mengunciku di sini, keluarkan aku.. Tolong.. Siapapun di luar sana, tolong aku". Teriaknya.


"Siapa lagi yang membuatku begini? Aku sangat takut". Lirih pelan Fania dengan menangkupkan dua tangan ke wajahnya. Ia sedikit terisak, ia tak mempunyai masalah sedikitpun dengan orang lain, tapi dengan teganya ada orang yang menculiknya.


Tersadar tawanannya sudah bangun, seorang pria mendekati ruangan tempat Fania di sekap dan membuka kunci pintu kamar tersebut.


Fania menoleh ke arah pintu yang terlihat dibuka orang dari luar. Matanya memicing dan alisnya mengkerut saat memperhatikan pria yang memasuki ruangan tempatnya di sekap.


"Kamu.." Ucapnya saat mengingat pria tersebut adalah Zidan.

__ADS_1


"Hai! Sudah bangun ternyata". Sahutnya basa-basi.


"Kenapa kamu menculikku? Urusan kita sudah selesai". Ucapnya mendengus kesal.


"Aku tidak menculikmu, kau sendiri yang tak mau menuruti orangku. Sehingga mereka memaksamu datang ke sini. Urusan kita juga belum selesai, lihat 'kan lukaku masih cukup bengkak? Kau masih harus merawatku". Jawabnya sambil tersenyum dan menggerak-gerakkan salah satu alisnya.


"Tapi mereka membuatku tak sadarkan diri, apakah itu bukan tindakan kriminal?" Balas Fania yang kesal.


"Tapi tubuhmu tak ada yang luka sedikit pun 'kan? Sudahlah, sekarang ikut denganku. Kau masih harus tanggung jawab atas kejadian malam tersebut". Ucap Zidan yang tak mau berbelit-belit.


Sambil mencebik dalam hati, Fania mengekori Zidan turun ke bawah. Ia tak menyangka bahwa pria ini akan nekad membawanya kembali, padahal ia berharap tak bertemu lagi dengannya. Pertemuan mereka hanyalah sebuah kesialan.


**


Dengan perasaan kalut, Dinda memasuki kantornya kembali. Ia tak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini, Ayahnya akan merasa khawatir jika tahu tentangnya.


Ia berjalan sambil menundukkan kepala, beberapa pegawainya menyapa namun ia abaikan. Tak ingin berlama-lama menjadi perhatian orang lain, ia sedikit berlari menuju ruangannya. Namu tiba-tiba ia menabrak seseorang dari arah berlawanan.


"Ahh.. Maaf, aku tidak sengaja". Ucap Dinda masih menunduk merapihkan pakaiannya.


Dinda mendongkakkan wajahnya ke arah pria tersebut, matanya membulat saat dengan tidak sengaja bertemu dengan teman masa sekolahnya sewaktu di kota kelahirannya.


"Rio? Itu kamu?" Tanya Dinda sambil tak henti memperhatikan pria tersebut takut salah.


"Benar, Dinda. Kau bekerja di sini ternyata?" Tanya Rio.


"Iya, apakah kamu pun sama bekerja di sini?" Dinda bertanya balik.


"Iya, kebetulan sekali ya! Aku baru saja di terima kerja dua hari yang lalu". Sahut Rio bahagia.


"Kalau begitu, aku harus kembali ke ruangaku. Selamat atas keberhasilanmu menjadi pegawai di perusahaan Adhinatha". Ucap Dinda sambil memberi selamat kepada Rio.


"Terimakasih, Dinda. Kapan-kapan kita harus ngobrol lagi". Balas Rio.

__ADS_1


Dinda hanya mengangguk pelan dan bergegas menuju ruangannya. Perasaannya yang sedih masih menghantui pikirannya.


'Dia masih saja terlihat cantik, pertemuan ini membuatku jadi salah tingkah'. Gumam hati Rio.


**


Amelia menyiapkan meja makan kecil untuk ukuran dua orang di ruang kerja Kevin, ia menghiasi meja dan kursi tersebut dengan rangkaian bunga yang berbagai jenis. Ia berharap Kevin akan menyukai hal romantis yang Amelia buat.


"Dengan ini semoga aku bisa mengambil hati Kevin dengan mudah". Gumam Amelia sambil tersenyum bangga terhadap dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Kevin masuk kembali ke ruangannya setelah menjalani rapat. Ia terkejut melihat pemandangan ruang kerjanya yang menurutna terlihat udik. Ia pun melemparkan tatapan tajamnya ke arah Amelia, karena sebelumnya ia tak pernah ingin merubah ruang kerjanya menjadi aneh seperti ini.


"Apakah kau senang dengan hasil karyaku ini?" Tanya Amelia dengan percaya diri. Ia belum mengenal lebih dalam tentang Kevin, sehingga ia tak tahu jika Kevin membenci seseorang yang dengan lancangnya mendekor ruang kerjanya.


"Cepat bereskan semuanya, jika kau tak ingin aku berbuat macam-macam kepadamu". Ancam Kevin yang menatap sinis Amelia.


"Tapi, aku menyiapkan ini untukmu. Aku ingin menikmati suasana romantis di ruang kerjamu". Ucap Amelia yang sedikit gugup dengan sikap menyeramkan Kevin.


"Bereskan sekarang, atau kau yang aku bereskan!" Maki Kevin, membuat Amelia bergegas membereskan kembali ruangan tersebut.


Kevin keluar dari ruangan tersebut dengan wajah garangnya, tak ada satu pun karyawan yang menyapanya. Mereka ketakutan melihat wajah Kevin yang di penuhi dengan luapan emosi.


Amelia hanya berdecak kesal, ternyata usaha menaklukkan hati Kevin berjalan dengan kacau. Ia salah terhadap dugaannya yang menganggap remeh dalam mendapatkan hati Kevin.


"Aarrgghh.. Si*l, hatinya memang beku terhadap wanita lain. Aku harus segera mengikatnya dengan pernikahan". Gumamnya kesal.


**


Dinda menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangannya, tak sengaja butiran bening keluar begitu saja dari sudut matanya. Ia tak kuasa menahan rasa sakit yang Kevin torehkan di hatinya.


'Kenapa ucapanmu tidak sesuai dengan kenyataan? Kamu dengan mudahnya berbohong mengatas namakan cinta, tapi nyatanya ada wanita lain yang begitu manjanya berada di sampingmu'.


'Kamu jahat, Pak Kevin. Aku benci kepadamu, aku tak akan mempercayaimu kembali'.

__ADS_1


'Aku memang bod*h menganggap kebaikanmu adalah suatu luapan perasaanmu terhadapku'.


Hatinya terus menyesali atas tindakan gegabahnya yang terlalu berharap kepada seorang pria.


__ADS_2