Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 46 Dukungan William


__ADS_3

Setelah tahu kebenaran tentang Dimas, Fania agak sedikit murung. Benar apa kata hatinya, ia tak seharusnya terlena dengan adanya sedikit rayuan.


Dinda hanya memeluknya erat, sambil mengusap punggungnya. Bagaimana pun, Dinda tak ingin temannya berpasangan dengan pria hidumg belang seperti Dimas. Ia tak ingin kejadian yang menimpanya dulu terulang oleh sahabatnya sendiri.


"Maafkan aku, Fania. Aku sudah masuk dalam urusanmu, tapi aku tak bermaksud ingin menghancurkanmu". Ucap Dinda.


"Kamu tak perlu seperti ini, aku baik kok! Terimakasih sudah memberi tahu ku. Tanpa kamu, mungkin aku sudah bisa di pastikan terjebak dalam lingkaran Dimas". Jawab Fania sambil tersenyum.


**


"Mau di bawa kemana aku, hah?" Teriak Dimas yang di pakaikan penutup kepala oleh para pengawal Kevin.


Para pengawal itu memilih diam, tak ingin menggubris pertanyaan Dimas yang mereka anggap tak penting.


"Hei, kalian tak punya telinga yah? Kalian tuli? Kevin memang payah, memberikan pekerjaan kepada kalian yang jelas-jelas tuli dan tidak berguna". Cibir Dimas, ia terus saja tak bisa diam. Banyak celotehan yang ia keluarkan dari mulutnya, sehingga para pengawal Kevin pun geram dengan ocehan Dimas.


'BUGH'


Satu tinjuan melayang ke perut Dimas, ia hanya mengerang ke sakitan.


"Si*lan! Kalian memang bod*h, bisa-bisanya kalian terus saja di perbudak oleh Kevin". Oceh Dimas kembali. Dan..


'BUGH'


'BUGH'


Beberapa tinjuan kembali melayang ke arah wajahnya yang tertutup, bertambah lagi coretan lebam di wajahnya dengan sempurna.


Para pengawal Kevin masih tak menggubris perkataan Dimas, ia lebih baik menghantamnya tanpa bicara. Karena bisa saja Dimas hanya memancing emosi mereka, agar mereka lengah dan Dimas bisa melarikan diri.


**


"Kevin, aku ikut pulang bersamamu". Ucap Amelia dengan wajah memohon.


"Ajak Amelia, Kevin. Kasihan dia, 'kan dia datang bersamamu. Pulang pun harus bersamamu, kau pria yang bertanggung jawab bukan?" Sambung Alisha, membela Amelia.


"Iya, Mom. Aku memang pria yang bertanggung jawab. Tapi, tanggung jawabku akan ku berikan kepada wanitaku, bukan dia. Kami tidak punya hubungan apapun, jadi jangan hentikan langkahku. Aku sudah dewasa, Mom". Elak Kevin dengan berlalu, mereka berdua mengerucutkan mulutnya karena sebal. Namun William hanya tersenyum dalam hati, benar saja anak lelakinya telah tumbuh dewasa saat ini.


"Kevin.." Teriak William, Kevin pun menoleh dengan rasa bingungnya. Ia sempat berpikir, apa Ayahnya akan mencegah dirinya untuk pergi?

__ADS_1


"Ya, Dad. Ada apa?". Tanya Kevin.


"Lanjutkan perjuanganmu, bilang padaku jika ada halangan di antara hubungan kalian yang tak bisa kau pecahkan sendiri". Jawab William dengan tersenyum. Ia berharap sang istri tersindir dengan ucapannya.


"Terimakasih, Dad. Akan ku ingat kata-katamu". Ucap kevin, kemudian melangkah kembali meninggalkan mereka.


**


Kevin pun segera menghampiri Dinda dan Fania yang terlihat tengah berbicara serius di taman hotel. Fania yang menyadari kedatangan Kevin langsung mengangguk pelan.


"Kamu hebat Dinda, lepas dari suamimu langsung mendapatkan pria tampan sepertinya. Kau punya rahasia apa bisa di dekati banyak pria tampan seperti mereka?" Bisik Fania.


"Kau ini bicara apa?" Balas Dinda dengan menyikut Fania.


"Kalian masih akan tinggal di sini atau pulang?" Tanya Kevin.


"Sebaiknya aku pulang sendiri Dinda, aku takut mengganggu pasangan yang tengah berduaan". Ucap Fania yang merasa tidak enak.


"Kau ini, kita sebenarnya.."


"Kau teman Dinda, pasti saya akan mengantarmu juga. Kau tidak keberatan 'kan, babe?". Jawab Kevin yang berusaha memotong ucapan Dinda. Dinda membulatkan matanya, bisa-bisanya di saat seperti ini ia mengatakan hal tersebut.


'Kenapa dia harus membuat masalah besar seperti ini?' Gerutu Dinda dalam hati.


"Ayo!" Ajak Kevin dengan berjalan ke arah mobilnya.


Fania merasa takjub dengan panggilan yang di lontarkan Kevin terhadap Dinda.


"Kau sudah menjalin hubungan? Kenapa tidak mengatakannya kepadaku? Tapi, tidak apa. Pria itu nampak baik untukmu yang sama baiknya. Aku akan mendukung kalian" ucap Fania sambil menepuk pelan pundak Dinda.


"Aku.."


'BIP.. BIP..'


Suara klakson memberi isyarat agar mereka berdua harus segera naik. Dinda pun berjalan medekati mobil Kevin dengan rasa kesalnya, ia bingung harus menjelaskan apa kepada Fania. Kevin memang membuatnya gelisah.


'Dia menjebakku saat ini..' Lirih Dinda sambil mendekati mobil tersebut.


**

__ADS_1


"Kenapa kamu membiarkan Kevin pergi?" Tanya Alisha sambil memengang kepalanya, ia tak habis pikir dengan pola pikir suaminya.


"Kau ingin aku membiarkan anakku satu-satunya terjerumus dalam wanita licik sepertinya?" Tanya William.


"Om, kenapa bicara seperti itu? Aku sangat mencintai Kevin, dan pasti Kevin akan sama mencintaiku. Ini hanya masalah waktu". Ucap Amelia yang tak terima.


"Cinta? Sungguh aku tak percaya terhadapmu. Dan kau Alisha, jika kau masih terus ingin memberikan anakmu kepada dia. Kau harus berpikir lebih dalam lagi, jangan karena ambisimu yang tinggi masa depan Kevin akan menjadi taruhannya". Balas William sambil berlalu, membuat Alisha terdiam.


Amelia semakin gusar dengan perkataan William, ia takut jika Alisha pun akan berpikir sama dengan William. Ia tak mau rencananya yang ia bangun dari dulu, gagal begitu saja.


'ini tak bisa di biarkan, aku harus menyingkirkan wanita itu dengan cepat'. Lirih Amelia.


**


"Aku pulang dulu, kalian hati-hati di jalan ya!" Pamit Fania.


"Baiklah, kau pun harus hati-hati juga dalam memilih pasangan". Balas Dinda sambil memeberi masukan terhadap Fania.


"Siap, Nyonya Kevin". Jawab Fania sambil tertawa kemudian berlari karena takut dengan omelan Dinda. Ia hanya menggeleng pelan melihat tingkah temannya tersebut.


Dinda bukan tak mempunyai perasaan terhadap Kevin, hanya saja ia tak ingin berharap terlalu lebih kepada Kevin. Ia tak ingin karena kebaikan yang Kevin berikan kepadanya, Dinda menjadi tidak tahu diri.


Kevin terus melajukan mobilnya, namun ia sengaja tak langsung pulang. Mungkin sedikit waktu bersama Dinda akan menjadi momen indah untuk malam ini. Dan ini adalah malam langka bagi mereka, yang sebelumnya jarang ia dapati.


"Kita mau kemana?" Tanya Dinda.


"Saya ingin mengajakmu ke suatu tempat, tenanglah. Aku tak akan menjagamu". Jawab Kevin.


**


Mereka berhenti di sebuah taman, Dinda hanya menyernyitkan dahinya. Ia heran mengapa Kevin membawanya ke tempat seperti ini?


Mereka duduk di bangku yang tersedia di sana, agak menyenangkan bagi Dinda. Apalagi pemandangan malam terlihat begitu alami saat malam.


"Kau tahu kenapa saya membawamu ke sini?" Tanya Kevin, namun Dinda hanya menggeleng pelan.


"Saya hanya ingin memperlihatkan pemandangan malam saat ini. Dan.. Saya ingin memperjelas hubungan di antara kita". Ucap Kevin.


'DEG'

__ADS_1


Detak jantung Dinda berpacu sangat kencang, perasaannya gugup dan semakin tak menentu. Apa Kevin ingin mengutarakan perasaannya? Tapi, kenapa Dinda merasa tak enak hati seperti ini? Ia tak ingin perasaannya berlanjut, namun keadaan yang selalu memaksanya berdekatan dengan Kevin, mengharuskan rasa itu tumbuh dan berkembang sangat cepat.


__ADS_2