Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 70 Mengerjai Kevin


__ADS_3

Acara resepsi di gelar dengan begitu mewah juga di hadiri oleh beberapa tamu penting. Acara pernikahan ini layaknya seperti acara yang sudah di siapkan dari jauh-jauh hari.


Dinda pun semakin bahagia ketika Fania hadir dalam pesta pernikahannya. Senyum dan pelukan berhamburan di antara mereka berdua.


"Kenapa kau mengundangku secara mendadak? Awalnya aku tak mau menghadiri pestamu, tapi aku penasaran dengan kebahagiaan yang akan kau dapatkan saat ini". Ucap Fania sedikit cemberut.


"Undangan? Bahkan aku tak mempersiapkannya. Percaya atau tidak, aku pun tak menyangka akan menikah hari ini. Yang aku tahu, Pak Kevin akan menikah dengan wanita lain. Tapi tak ku sangka malah jadi aku yang menjadi istrinya". Bisik Dinda, hal itu membuat Fania mengerutkan kedua alisnya tak percaya.


"Mustahil.. Jelas-jelas namamu dan Pak Kevin yang ada di dalam surat undangan tersebut" Jawabnya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Terserahlah, yang jelas aku pun tak percaya hari ini statusku berubah menjadi istri Pak Kevin". Jawabnya.


Fania mendengar penuturan Dinda sedikit bingung, antara harus percaya atau tidak. Bagaimana tidak percaya? Biasanya pernikahan identik dengan perencanaan yang matang, tapi tidak untuk pasangan Dinda dan Kevin.


Kevin menyiapkannya dengan begitu rapi, sehingga Dinda tak menyadari jika orang yang akan menjadi pengantin wanitanya adalah dirinya. Saking cemburunya Dinda ia tak ingin menerima undangan dari Kevin, padahal Kevin sengaja akan memberi kejutan di hari itu. Hanya saja semuanya gagal dan kejutan tersebut ia berikan bertepatan dengan hari berlangsungnya pernikahan mereka.


**


"Hei orang-orang payah, kau harusnya mengembalikanku ke pesta tersebut, kau tidak boleh memperlakukan ku seperti ini. Aku akan menjadi Nyonya kalian, beraninya kalian membuat seorang Nyonya sepertiku terlihat menyedihkan". Oceh Amelia dalam sebuah mobil yang akan menuju ke markas Kevin. Keadaanya kini terikat oleh tali di lengan dan kakinya. Ingin meberontak pun ia tidak sanggup karena kencangnya ikatan tali tersebut.


Mendengar ocehannya, para pengawal tertawa dengan nyaring. Otaknya memang sedikit tergeser, bahkan dengan cara Kevin yang keji tersebut ia tidak bisa membedakan mana yang akan menjadi Nyonya, mana yang akan menjadi tawanan. Sungguh terlalu, kalau Bang Haji Roma Irama bilang.


"Mana ada seorang Nyonya berdandan seperti badut". Celoteh pengawal Kevin dengan kembali tertawa.


"Harusnya kau segera sadar, Nona. Mimpimu terlalu sulit untuk kau gapai". Balas pengawal Kevin yang lainnya yang terkekeh.


"Brengs*k, awas saja kalian jika aku sudah menjadi Nyonya besar. Kalian akan ku pecat". Geram Amelia.


"Bangunlah, Nona. Jangan terus bermimpi". Jawab pengawal tersebut, sehingga Amelia muak untuk berbicara kembali.


**

__ADS_1


Jonathan tengah meratapi nasibnya, ia di kendalikan oleh seorang buaya betina tanpa sadar. Banyaknya luka di beberapa bagian tubuhnya, membuat ia tidak merasa kesakitan sama sekali. Hal itu karena emosinya yang terlalu menggebu-gebu, ia belum cukup puas untuk menghajar wanita yang ia percayai selama ini.


Cinta memang buta, dan itu di rasakan oleh Jonathan saat itu. Saking ia tak mau membuat Elena kecewa, apapun yang Elena suruh ia mau melakukannya. Ia sadar, saat itu perekonomiannya menurun derastis, ia tak mau melihat kedua wanita kesayangannya menderita.


Awalnya Jonathan tak menaruh curiga jika Elena akan kembali tertarik dengan William, mereka telah bersepakat hanya untuk menyatukan putrinya dengan putra William. Agar kelangsungan hidupnya terjamin, namun siapa sangka ucapan Elena akan begitu berbeda dengan rencana awal mereka. Yang menginginkan ada hubungan kembali dengan William.


"Aarrgghh.. Bersiaplah Elena bertemu denganku kembali, kau tidak akan ku ampuni". Ancam Jonathan yang masih begitu besar menanam kebencian terhadap Elena.


**


Sementara di kediaman William, sepasang pengantin baru tengah memasuki kamar mereka berdua. Perasaan Dinda seakan campur aduk antara senang dan sedih, senang ketika bisa bersatu dengan Kevin dan sedih mengingat Ayahnya yang harus di tinggalkan olehnya sendirian.


Kevin menyadari raut wajah Dinda yang sedikit tertekuk, ia pun memberanikan diri memegang tangannya dan tangan Kevin satunya lagi mengusap pelan pipinya.


"Apa ada yang salah dengan pernikahan kita, Istriku?" Tanya Kevin dengan lembut.


Dinda terbelalak mendengar Kevin menyebutnya dengan kata 'Istriku', dulu saat ia di persunting Dimas bahkan ucapan sekecil itu pun ia tak pernah mendengarnya.


"A-aku hanya teringat dengan Ayah, ia kini harus sendirian di apartemen". Jawab Dinda dengan lesu.


"Semudah itu 'kah kamu menyiapkan semuanya?" Tanya Dinda yang sedikit tercengang dengan jawaban Kevin.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, maafkan aku sebelumnya yang telah menoreh luka di hatimu. Itu hanya sebatas rencana gil*ku, agar kebohongan Amelia terbongkar". Jawab Kevin.


"Kamu sudah beberapa kali meminta maaf soal itu, aku sudah bosan mendengarnya". Sahut Dinda terkekeh.


"Kau sudah berani menggodaku, ya? Aku akan membalasnya.." Ucap Kevin, tanpa meminta izin terlebih dahulu Kevin mengecup bibir Dinda dengan singkat. Hal itu membuat wajah Dinda merah seperti kepiting rebus karena menahan malu.


"Kau suka?" Goda Kevin kembali.


"A-aku harus pergi ke toilet.." Pamit Dinda yang tiba-tiba, ia bingung harus menjawab apa saking malunya. Kevin hanya menggeleng pelan dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Dia masih saja malu, apalagi jika melakukan yang lebih dari itu". Gumamnya dengan sedikit pikiran kotor di otaknya.


**


Pikiran Kevin tersebut buyar seketika oleh suara ketukan dari depan kamarnya. Ia mendengus kesal, bisa-bisanya di malam pertamanya harus ada orang yang mengganggu kesenangannya. Di buka pintu tersebut, nampaklah William dengan wajah seriusnya meminta untuk Kevin datang ke ruang kerjanya. Meskipun kesal, ia mengikuti perintah William dengan beberapa celotehan dalam hatinya.


"Ada apa, Dad? Kalian mengganggu saja malam pertamaku". Gerutu Kevin, bahkan bukan hanya William yang ingin berbicara dengannya. Alisha pun tengah duduk dengan santainya di ruangan tersebut saat mereka memasukinya.


"Kami hanya menginginkan pendapatmu, bagaimana rencana selanjutnya untuk para bakteri tersebut?" Tanya William dengan serius, ia menyebut keluarga Jonathan dengan panggilan 'para bakteri'.


"Kau menggangguku di malam pertama hanya untuk membahas hal tidak penting ini?" Tanya Kevin yang tidak habis pikir.


"Ini sangat penting, bahkan kita saja kesulitan untuk memikirkan cara apa lagi untuk menghukum mereka". Jawab Alisha.


"Kalian berpikir saja lagi, aku mau kembali ke kamarku. Malam pertamaku bisa saja terlewat jika membahas masalah tidak penting ini". Ketus Kevin yang bergegas hendak keluar.


" Tunggu, tunggu.. Sejak kapan kau terobsesi terhadap seorang wanita? Bahkan dulu pun terhadap Elsa kau tidak seperti ini". Tanya Alisha yang heran dengan sikap Kevin.


"Sejak malam ini". Jawab singkat Kevin.


"Kau harus memikirkan rencana selanjutnya, Kevin. Jangan biarkan rencana kita gagal untuk kedepannya". Desak ulang William, ia berniat untuk mengerjainya agar tak buru-buru kembali ke kamarnya.


"Aarrgghh.. Kalian pikir saja, aku sudah menangkap mereka dengan rencanaku sendiri. Apa kalian tidak malu melimpahkan semua rencana kepadaku?" Ucap Kevin, frustasi sambil mengacak rambutnya.


"Kami hanyalah orang tua, seharusnya mengandalkanmu". Jawab William.


"Sudahlah, aku akan pikirkan lagi nanti". Balas Kevin lalu bergegas hendak keluar.


"Kau begitu bersemangat, memangnya kau mampu melakukan malam pertamamu?" Goda Alisha. Dengan raut wajah malasnya ia menatap ke arah kedua orang tuanya tersebut.


"Kalian memang menyebalkan". Jawab Kevin dengan berlalu.

__ADS_1


'BRAKK!'


Ia menutup pintu dengan keras, Kevin menyadari jika mereka hanya mengerjainya. Orang tuanya pun cekikikan di dalam ruang kerja Kevin, mereka berhasil mengerjai Kevin. Siapa suruh Kevin mulai mengerjai mereka? Bukankah hal yang wajar jika balas dendam?


__ADS_2