
"Anda terlihat sangat cantik, Nona". Puji seorang perias wajahnya.
"Aku minta sebuah cermin, aku ingin melihat seberapa cantik diriku saat ini". Ucap Amelia.
"Jangan ragukan polesan make up kami, Nona. Tuan Kevin sengaja meminta yang terbaik untuk riasan Anda, sehingga tidak akan ada kegagalan dalam polesan di wajah Anda". Jawab perias make up.
"Apa itu tandanya aku tidak boleh bercermin? Apa secantik itukah diriku?" Tanya Amelia dengan wajah yang sumringah mendengar bahwa dirinya sangatlah cantik.
"Benar Nona. Sebentar lagi akad pernikahan akan segera di mulai, mari saya antar". Balas perias make up tersebut.
Mendengar hal tersebut, Amelia semakin bahagia. Sebentar lagi harapan bersama Kevin akan terwujud, CEO tampan yang sukses akan menjadi suaminya. Dengan begitu ia akan menikmati harta Kevin yang berlimpah. Orang tua Amelia pasti sangat bangga melihat pernikahan tersebut yang akan berlangsung saat ini.
**
Dinda meremas jari jemarinya saat duduk di kursi tamu undangan, banyak racauan yang tak jelas di hatin dan perasaannya semakin berkecambuk.
'Kau jangan terlihat menyedihkan, Dinda. Mungkin dia bukanlah jodohmu, akan ada masa bahagiamu di lain hari'. Lirihnya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Meskipun kata-kata dalam hatinya terdengar menyemangati, namun hal itu tidak mempengaruhi hatinya yang merasa sedih.
'Ya ampun, sepertinya aku tak tahan dengan semua ini'. Keluhnya dalam hati.
"Ayah, aku harus pergi ke toilet sebentar". Pamitnya kepada sang Ayah.
Dinda segera keluar sejenak dari gedung tersebut, mungkin dengan tidak melihat akad tersebut ia akan lebih baik. Ia pun duduk di kursi taman yang berada di depan gedung, dengan wajahnya yang ditekuk.
'Semoga mereka bahagia. Aarrgghh.. Lagi-lagi aku memikirkan pernikahan mereka, sadar diri Dinda. Kau hanya seorang janda, tak baik mengharapkan pria sempurna seperti Pak Kevin'. Racaunya dalam hati, ia sambil mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangannya, agar tidak lagi memikirkan pernikahan mereka.
Tanpa di sadari, ada seseorang yang mendekatinya dari jauh. Dengan hati-hati, seorang wanita tersebut menegurnya.
"Maaf, Mbak. Apa kedatangan saya mengganggu?" Tanya wanita tersebut.
"Ada apa ya? Apa kita pernah bertemu?" Sahut Dinda.
"Sebelumnya kita tidak pernah bertemu, saya menghampiri Anda hanya untuk meminta bantuan. Apakah boleh?" Jelas wanita tersebut.
__ADS_1
"Bantuan apa?" Tanya Dinda yang masih terlihat bingung.
"Saya tengah kekurangan seorang model, kebetulan atasan saya akan turun langsung ke tempat ini untuk memeriksa pekerjaan tim kami. Saya rasa Anda cukup meyakinkan untuk menjadi seorang model kami". Jawab wanita tersebut.
"Kau sangat berlebihan, aku mana berbakat menjadi seorang model. Mungkin kau harus mencari lagi seseorang yang mempunyai bakat luar biasa untuk itu". Tolak Dinda.
"Masalahnya, saya tidak punya waktu untuk itu. Saya mohon, Mbak. Bantu kami, jika tim kami tidak berhasil dalam kriteria tersebut pasti pemimpin kami akan membubarkannya". Ucap wanita tersebut dengan sedikit memohon.
Dinda terdiam sejenak, tapi jika ia tidak menerima tawaran tersebut, pasti ia akan berada dalam lingkaran pernikahan Kevin. Hal itu akan menjadi bayangan yang menakutkan untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, aku setuju. Tapi apakah aku bisa di temani seseorang?" Ucap Dinda.
"Tentu, pasti Anda khawatir tentang kami". Jawab wanita tersebut.
"Sebentar saya akan menghubunginya". Balas Dinda.
Ia pun segera menghubungi salah satu pengawal Kevin yang biasa menjaganya, meskipun ia ingin menghindar dari pernikahan Kevin tetapi rasa khawatirnya masih besar. Ia tidak ingin merepotkan Kevin kembali, lebih baik ia berjaga-jaga.
**
Amelia berjalan mendekati Kevin dengan di gandeng seseorang, Kevin tertegun melihatnya. Ternyata para perias itu menjalankan pekerjaannya dengan baik.
Lain cerita dengan para undangan yang melihat penampilan Amelia, mereka tampak berbisik dan menahan senyum agar tak terdengar keras untuk menghormati Kevin. Orang tua Kevin pun memandang Amelia tanpa berkedip, dengan kedua alis yang mengkerut.
Lama-lama para tamu undangan tidak bisa menahan tawanya, suasana menjadi riuh oleh tawa semua tamu undangan, tak terkecuali orang tua Kevin.
Bagaimana mereka tidak tertawa? Jika pengantin wanita berdandan mirip dengan seorang badut. Meskipun ia memakai gaun pengantin selayaknya pengantin yang lain, namun wajahnya terlihat aneh.
Amelia bertanya-tanya dengan sikap tamu undangan. 'Apa ada yang salah pada diriku? Padahal aku memakai riasan paling mahal, kenapa mereka seperti menertawakanku?' Lirih Amelia bertanya-tanya.
Kevin segera berdiri ketika Amelia berada di sampingnya, ia segera mengambil mikrofon untuk sebuah pengumuman penting baginya.
"Selamat siang semuanya, saya ucapkan terimakasih atas ke datangannya. Hari ini saya sangatlah bahagia, mungkin saking bahagianya saya tidak akan melupakan hari ini". Ucap Kevin yang berhenti sejenak. Amelia merasa bangga telah berada di samping Kevin, apalagi setelah Kevin memberikan pengumuman jika dirinya kini tengah bahagia. Itu akan sangat berarti bagi Amelia untuk ke depannya, ternyata menaklukkan Kevin sangatlah mudah.
"Kalian sangat penasaran apa yang menjadi kebahagiaan saya saat ini? Tentu karena orang yang ada di samping saya ini". Ucap Kevin kembali, sambil melirik ke arah Amelia dengan tersenyum. Hal iti membuat Amelia semakin tersanjung.
__ADS_1
"Karena orang yang ada di samping saya ini adalah seorang pendusta, saya dan keluarga saya pun hampir terjebak olehnya. Dan itu yang membuat saya bahagia saat ini". Sambung Kevin.
'DEG'
Amelia merasa tersentak dengan kata-kata Kevin saat ini, sanjungannya tersebut hanya untuk menjatuhkan nama baik Amelia. Tidak di sangka usahanya yang terlihat mulus ternyata sudah tercium oleh Kevin sebelumnya.
"Saya mana mau menikah dengan seorang pendusta, bukan begitu? Saya melakukan ini hanya untuk membalaskan dendam orang tua saya, karena wanita ini secara tidak langsung menghancurkan tawa dalam keluarga saya". Sambung Kevin kembali, kini mata tajamnya terlihat tengah mengancam keselamatan Amelia.
"Tidak, Honey. Kau salah paham, aku bisa menjelaskan semuanya". Ucap Amelia.
"Menjelaskan bahwa Ibumu masih hidup? Dan kau telah membohongi Mommy ku selama bertahun-tahun?" Tanya Kevin.
"Ka-kau mengetahui itu?" Amelia semakin tersudut ketika Kevin mengetahui bahwa Ibunya masih hidup, selama ini ia berbohong tentang kematian Ibunya.
**
Dinda membuka matanya perlahan ketika tukang rias telah selesai mendandaninya. Ia membelalak tak percaya saat berhadapan dengan cermin, ia merasa tampilannya sangatlah berbeda.
"Kau terlihat sangat cantik, tidak salah saya menunjukmu untuk menjadi modelku". Ucap wanita tersebut.
"Tapi kenapa gaun yang ku pakai harus berwarna putih?" Tanya Dinda.
"Sebab tema yang akan kau peragakan adalah tentang pernikahan". Jawabnya, Dinda hanya mengangguk pelan.
"Mari ikut denganku, mungkin atasanku sudah datang". Sambung wanita tersebut.
Dinda hanya mengekori wanita tersebut, ia sempat bingung bagaimana nanti ia akan berfose. 'Mungkin ini lebih baik, daripada menghadiri pesta peenikahan itu'. Pikir Dinda.
**
Dalam perdebatan antara Kevin dan Amelia, Dinda datang dari pintu belakang. Ia pun sempat bingung, kenapa ia bisa berada di acara pernikahan Kevin kembali? Bahkan ia kini berada di depan para tamu undangan dengan memakai gaun pengantin.
Kevin menghentikan perdebatannya dengan Amelia, ia langsung melirik ke arah Dinda tanpa mengedipkan mata. Ia pun mengacungkan jempolnya ke arah wanita yang telah membawa Dinda dengan tersenyum.
"Terimakasih telah membawakan calon istriku yang sebenarnya". Ucap Kevin.
__ADS_1
Semua para tamu nampak tersentak, apalagi Amelia yang masih berada di samping Kevin. Emosinya kini menggebu, ternyata ia telah di jebak dengan cara Kevin yang tersusun rapi.