
Namun saat mereka hendak menyentuh Dinda, terdengar pintu yang di dobrak dari luar. Dan benar saja, sosok familiar yang Dinda nantikan sudah berada di depan pintu tersebut dengan wajahnya yang memerah dan sorot matanya yang tajam.
"Sial*n! Berani-beraninya kalian menyentuhnya". Murka Kevin.
Ia lalu menghabisi satu persatu preman tersebut tanpa menyisakan untuk para pengawalnya. Emosi Kevin sangatlah memuncak, hingga ia tidak bisa menahannya. Sebab itulah ia bisa menghabisi mereka dengan sangat cepat.
Para preman tersebut terkapar di atas lantai dengan rasa kesakitannya. Lawan mereka memang tidak sebanding, akhirnya mereka menyerah dan langsung di ringkus oleh pengawal Kevin.
Kevin langsung menghampiri Dinda, melihat Dinda tidak baik-baik saja ia segera melepaskan tali yang melilit di tubuhnya. Kevin merasa aneh ketika melihat tatapan Dinda yang tidak seperti biasanya.
"Pak Kevin, tolong.. Panas.. Tubuhku panas.." Lirih Dinda.
Kevin sudah menduga bahwa ada obat yang di suntikan ke tubuh Dinda, ia pun kembali melilit tubuh Dinda dengan jasnya. Ia tak mau mengambil resiko, bagaimana pun Kevin hanyalah pria biasa yang sewaktu-waktu nafsunya bisa muncul.
"Bertahanlah, aku akan menolongmu". Ucap Kevin dengan menggendong Dinda ala bridal style menuju mobilnya.
'Sepertinya harus ada sedikit hukuman untuk gadis nakal sepertimu'. Lirihnya dalam hati. Ia memang sedikit kesal terhadap Dinda, hanya saja rasa khawatirnya lebih besar dan mengesampingkan rasa kekesalannya.
**
Lidya tak hentinya menyunggingkan senyuman saat dalam perjalanan pulang, ia cukup puas dengan kerja Rio saat ini. Ternyata balas dendamnya bisa ia lakukan dengan mudah.
"Kau lihat Dinda? Aku bukan wanita pengecut 'kan? Akhirnya dendamku telah terbalaskan. Nikmatilah pagimu yang indah itu, semoga hari-harimu lebih mengerikan. Aku yakin pria itu akan jijik ketika foto itu tersebar". Gumam Lidya.
Ia begitu ambisinya untuk menghancurkan Dinda. Namun satu hal yang ia tidak tahu, yaitu kedatangan Kevin yang secara tiba-tiba.
**
Sementara tepat di markas Kevin, Elena telah merasakan penderitaannya. Ia lemah tidak berdaya dengan banyaknya luka bekas cambukan dan pukulan yang di berikan oleh Jonathan suaminya.
Ia meringis kesakitan saat tersadar dari pingsannya, ternyata semua ini bukanlah mimpi. Mimpi indahnya untuk memenangi kembali hati William ternyata sudah tidak lagi bisa ia gapai. Semua itu hanya angan-angan dan perencanaan yang sia-sia.
Alisha dan William tidak ingin Elena begitu saja menghembuskan nafas terakhirnya, sehingga suami istri tersebut kini berada di tempat terpisah. Jika di biarkan mereka berada di tempat yang sama, kemungkinan Jonathan kembali menggila dan menyakitinya sampai Elena tiada.
"Nikmatilah kesengsaraanmu Elena, dulu aku pun merasa gil* saat putrimu selalu mengancamku atas kesalahan yang tidak ku perbuat. Dan ini belum seberapa, masih ada hadiah terindah menantimu dan keluarga tercintamu". Ucap Alisha sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
__ADS_1
"Kau pengecut Alisha, bisa-bisanya kau memperalat putramu untuk menghukumku". Jawab Elena.
"Kau pun sama halnya Elena, kau memperalat putrimu untuk sebuah kepuasanmu. Itu sebanding bukan?" Balas Alisha yang tidak mau kalah.
Elena mengeraskan rahangnya, jika saja ia berhasil dengan rencana itu maka Elena tidak akan membiarkan Alisha hidup bahagia.
**
Di sepanjang perjalanan, Kevin memeluk Dinda. Ia terpaksa melakukan hal tersebut karena Dinda mencoba untuk melepaskan kain yang membelit di tubuhnya.
"Maafkan aku, ini bukan kemauanku. Aku terpaksa melakukan hal ini, tapi aku janji. Setelah ini, kau akan menjadi ratu di hidupku dengan status kita yang halal". Lirih Kevin dengan pelan.
Dinda semakin meracau tak jelas juga selalu berusaha melepaskan pelukan Kevin. Namun tenaga yang Dinda keluarkan tidak sebanding dengan Kevin, sehingga ia masih dapat di tahan.
"Kita pergi ke apartement ku, siapkan es batu dengan jumlah yang banyak". Titah Kevin terhadap pengawalnya.
"Baik, Tuan". Jawab pengawal tersebut.
"Hei, Tuan tampan. Lepaskan pelukanmu, aku inginkan lebih. Aarrgghh.. Aku sudah tidak tahan, ku mohon lepaskan". Racau Dinda, membuat Kevin tersenyum.
"Kau terlihat lucu saat tak sadarkan diri". Ucap Kevin sambil mengulum senyum.
**
"Kamu akan merasa lebih baik dengan ini, segera membaiklah. Aku lebih suka dirimu yang lugu, daripada seperti tadi". Lirihnya pelan, sambil mengusap pucuk kepala Dinda. Ia pun kemudian berlalu tanpa pamit.
Dinda hanya terdiam merasakan tubuhnya yang masih tidak karuan, sambil memejamkan mata. Air bercampur es tersebut membuatnya sedikit nyaman. Sehingga lama ke lamaan, Dinda terlelap dalam tidurnya.
**
Mobil Kevin berhenti di pekarangan mansion Hendrik, ia rela meninggalkan meeting pentingnya demi membawa kembali tikus yang meresahkan bagi kehidupan Dinda.
Zidan telah mengetahui kedatangan Kevin, namun ia tak tahu ada apa kedatangan Kevin saat ini. Ia pun bergegas menyambutnya ketika Kevin memasuki ruang tamu tersebut.
"Maaf Pak Kevin, seharusnya Anda di sambut oleh kakak ku, Hendrik. Tapi dia sedang berada di luar kota saat ini". Sambut Zidan dengan mengulurkan tangannya dan Kevin menyambut uluran tangan tersebut.
__ADS_1
"Jangan khawatir, kedatangan saya kesini hanya untuk membawa buronan yang bersembunyi di mansion ini". Jawab Kevin.
"Maksud Anda?" Tanya Zidan, merasa bingung dengan ucapan Kevin.
"Lidya, dia adalah tahanan yang melarikan diri dengan kasus pembun*han. Apakah Anda tidak keberatan jika saya membawanya detik ini juga?" Jelas Kevin dengan memberikan selembar kertas, berupa bukti yang menguatkan. Hal itu membuat Zidan membulatkan matanya tak percaya.
'Pantas saja, dari pertama bertemu aku merasa tidak menyukai wanita itu'. Gumamnya dalam hati mendengus kesal.
Secara kebetulan Lidya menuruni tangga, ia hendak mengambil sebuah minuman di dalam kulkas. Namun matanya membelalak ketika tatapan Kevin mengarah padanya.
"Bawa dia, jangan biarkan kembali lepas". Titah Kevin terhadap pengawalnya tanpa menunggu persetujuan Zidan.
"Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian. Zidan, tolong aku. Mereka mungkin akan membuatku dalam bahaya". Mohon Lidya terhadap Zidan.
"Lebih baik kau dalam bahaya, daripada Kakakku yang berada dalam bahaya selalu mempercayai kebusukan mu". Jawab Zidan tidak peduli.
'Si*l! Kenapa dia bisa mengetahui keberadaanku? Aarrgghh..' Racaunya dalam hati.
Kevin menyunggingkan senyuman mendengar penuturan Zidan, meskipun ia sedikit ketus namun Kevin menyukai sikap Zidan yang tegas.
"Terimakasih atas kerja samanya". Ucap Kevin sambil berjabat tangan dengan Zidan.
"Sama-sama". Balas Zidan.
**
Dinda membuka kembali matanya setelah tertidur beberapa jam yang lalu. Ia memperhatikan sekitar ruangan tersebut yang nampak asing baginya, ia mengingat terakhir kejadian saat itu sebelum kesadarannya menghilang.
"Dimana ini?" Lirihnya pelan.
Pelayan yang bertugas menjaga Dinda mendekatinya, ia berusaha menahan Dinda agar tidak banyak gerak. Setelah itu, pelayan memberikan penjelasan bahwa Kevin yang telah membawanya ke apartement tersebut.
"Dimana Pak Kevin saat ini?" Tanya Dinda.
"Kebetulan saat ini beliau sedang mengurusi persiapan pernikahannya, Anda tidak perlu cemas. Setelah merasa baikan, pengawal Pak Kevin akan mengantar Anda pulang". Jawab pelayan tersebut.
__ADS_1
"Saya akan pulang saat ini juga". Balas Dinda, ia merasa kesal dengan pernyataan pelayan tersebut.
'Untuk apa dia menyelamatkan ku, jika akhirnya ia memilih menikah dengan wanita lain?' Lirihnya dalam hati.