
'Mungkinkah Mommy ingin segera menjauhkan ku dengan Amelia?' Tanya hatinya, ia sempat tak percaya dengan perlakuan Alisha tetapi ia tak menghiraukan hal tersebut. Kevin kembali menyantap sarapannya dengan santai.
Amelia hanya mendelik sebal, ia tak banyak bicara saat sarapan berlangsung. Hatinya bergemuruh hebat menahan emosi yang hampir membludak.
**
Dengan perasaan yang masih tak menentu, Dinda memasuki kantornya. Ucapan Sang Ayah masih terngiang-ngiang dalam otaknya. Ia bingung harus mengatakan apa terhadap Ayahnya jika Kevin benar-benar ingin membicarakan hal yang serius diantara mereka.
Saat ia membuka pintu ruangannya, orang tua Dimas tengah menunggu kedatangannya. Mereka tersenyum ke arahnya, hanya saja dari pandangan mereka terlihat ada rasa kesedihan yang mendalam.
Dinda pun ikut duduk bersama kedua orang tua Dimas, karena ia pun mengetahui jika Kevin akan memberi tahu mereka langsung setelah kejadian malam itu.
"Kami minta maaf, Nak. Karena Dimas kamu tersakiti, kami sudah mendidiknya sebaik mungkin. Hanya saja karakter yang terlalu mirip dengan Ayahnya, membuat apapun yang kami didik tidak berpengaruh terhadapnya". Ucap Utami dengan raut wajah penyesalannya.
"Ibu tidak perlu meminta maaf seperti ini, semua ini bukanlah kesalahan kalian. Aku pun minta maaf karena tak bisa menjadi menantu baik untuk kalian berdua". Jawab Dinda, dengan mengusap lembut tangan Utami.
"Dinda, kami sudah tak memikirkan apapun lagi tentang Dimas. Kami sudah lepas tangan untuk saat ini, biarlah dia mendapat apa yang seharusnya ia dapatkan. Dan kedatangan kami kesini, untuk berpesan tolong jaga perusahaan ini dengan baik. Hanya kamu yang saat ini kami andalkan". Ucap Heru.
"Perusahaan ini sejak lama sudah menjadi milikmu, bahkan dalam berkas ini kepemilikan perusahaan ini sudah dari beberapa bulan yang lalu. Ibu harap kamu bisa menerima ini tanpa penolakan". Sambung Utami sambil memberikan beberapa berkas kepada Dinda.
"Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Dinda, ia merasa tidak enak untuk menerima semua pemberian ini.
"Kamu tak perlu berbicara seperti itu, kamu berhak mendapatkan semua ini". Balas Utami sambil memeluk Dinda.
Dinda pun dengan terpaksa menerimanya, sebenarnya ia ragu hanya saja jika ia menolak pasti mereka akan sakit hati.
**
"Tante, kenapa sikap Tante berbeda kepadaku? Apa jangan-jangan Tante ingin menjauhkanku dengan Kevin?" Desak Amelia terhadap Alisha, ia memegang kuat lengan Alisha.
__ADS_1
Amelia tak terima dengan perlakuan Alisha pagi ini, ia menginginkan penjelasan atas sikap Alisha yang membuatnya sempat geram.
"Tante tak ingin mengekang kehidupan Kevin lagi, kebahagiaannya sangat berarti saat ini". Jawab Alisha.
Setelah melihat Kevin yang tertidur di atas sajadah, Alisha merasa sudah menjadi Ibu yang tidak baik untuk Kevin. Ia telah gagal mendidik Kevin soal agama, ia tak mau lagi mengekang kehidupannya. Banyak penyesalan yang ia dapatkan kini, peran yang ia peroleh menjadi Ibu ternyata telah lama ia abaikan.
Sampai saat ini ia tumbuh menjadi Kevin dewasa, ia masih tetap membuatnya merasa sedih dengan berbagai kekangan yang ia lakukan.
"Tapi Tante masih ingat saat 10 tahun yang lalu? Tante tidak mau terkurung dalam jeruji besi selama hidup Tante 'kan?" Ancam Amelia.
"Demi kebahagiaan Kevin, Tante tak akan memikirkan kesenangan Tante lagi. Setelah ini, Tante akan menyerahkan diri ke polisi". Balas Alisha, ia yakin dengan tekadnya saat ini.
"Kevin akan semakin benci loh, jika mengetahui Ibunya seorang pembunuh". Balas Amelia bermaksud mengecoh pendirian Alisha dengan tersenyum sinis.
"Tante sudah tak lagi peduli, kebahagiaan Kevin lebih berarti dari pada apapun. Kau tunggu saja, setelah kepulanganku ke luar negri aku akan segera menyerahkan diri". Balas Alisha dengan berlalu.
Amelia semakin kesal, ternyata Alisha membatalkan perjanjian yang telah mereka sepakati bersama saat 10 tahun yang lalu. Nafasnya terasa sesak, tubuhnya bergetar dan perasaan cemasnya semakin menjadi. Ia pun berlari menuju kamarnya, ia harus segera mendapatkan obat penenangnya.
FLASHBACK*
Setelah 5 tahun pernikahan Alisha dan William, mereka bersepakat untuk pindah ke luar negri. William merintis bisnisnya dari nol, sementara Alisha tengah mengandung Kevin saat itu. Hingga beberapa tahun kemudian William mengalami kesuksesan dalam bisnisnya dengan pesat.
Kemudian di susul oleh Elena yang mendirikan sebuah butik dan disetiap rancangannya membuat para kalangan artis juga orang-orang kaya berdatangan. Ia merintis bisnis tersebut setelah Kevin beranjak dewasa. Mereka menjadi sepasang suami istri yang sukses saat itu, sampai William masuk dalam kategori orang terkaya nomor ke 5 di negara tersebut.
Kesuksesannya pun terdengar oleh Elena, Ibu dari Amelia. Bagaimana ia tak panas hati ketika sang mantan pacarnya berhasil sukses, apalagi mendengar istrinya mempunyai butik yang cukup terkenal.
Ya, Elena adalah mantan pacar William. Saat itu mereka berpisah lantaran Elena tergoda oleh pria kaya, ia yakin dengan menikahi pria kaya kehidupannya akan bahagia walau ia sama sekali tak pernah mencintainya.
Tapi kekayaan itu hanya sesaat, karena suaminya Jonthan mengalami kebangkrutan. Dan kehidupan Elena kembali sederhana.
__ADS_1
Rencana jahatnya mulai ia rancang dari jauh hari. Ia berharap jika Alisha bisa tersingkirkan dan ia kembali menjadi kekasih dari William.
"Aku tidak akan membiarkan William bahagia dengan wanita lain, wanita yang pantas bahagia bersamanya hanyalah aku". Gumamnya dengan mengepalkan tangan.
Saat Alisha tengah bergelut dengan pekerjaan di ruangannya, tiba-tiba pintunya terketuk dan menampakkan sosok Elena. Ia tak mengetahui bahwa Elena adalah mantan kekasih dari William, sebab ia menganggap masa lalu hanya sebuah masa yang haruslah di buang.
Elena melangkah memasuki ruangan Alisha setelah ia dengan tak sopannya mengunci pintu tersebut. Alisha heran dengan sikapnya dan terus berjaga-jaga.
"Kamu siapa?" Tanya Alisha.
"Aku adalah orang yang bersuka rela akan melenyapkan mu dari dunia, tapi jika kau bersepakat denganku, aku akan mencabut kembali ucapanku dan membiarkanmu selamat". Balas Elena.
Alisha menyernyitkan dahi, selama ini ia tak mempunyai musuh ataupun orang yang telah ia usik. Tapi dengan secara tiba-tiba ada seseorang yang dengan terang-terangan mengusik kehidupannya.
Elena mengeluarkan sebuah pisau kecil dari tas yang ia bawa, berharap Alisha akan ketakutan dengan ancamannya dan segera memenuhi keinginan Elena untuk menjauhi William. Namun siapa sangka Alisha hanya tersenyum dengan kejutan kecil yang Elena bawa.
"Kau yakin dengan itu akan membuatku ketakutan? Jika aku merasa biasa saja bagaimana?" Tanya Alisha dengan sedikit meremehkannya.
Ia sempat ragu untuk melanjutkan aksinya, hanya saja harta William begitu manis jika ia ingat-ingat lagi. Dan akhirnya Elena segera mendekati Alisha, walaupun sedikit gugup.
"Kau akan mengancamku atas dasar apa?" Tanya Alisha dengan lantang.
"Aku hanya ingin kau pergi menjauhi William, biarkan aku masuk kembali ke kehidupannya dan menikmati semua kemewahan yang ia punya. Atau kau tak sayang terhadap nyawamu saat ini? Sehingga dengan pasrahnya kau menyerahkan padaku". Jawab Elena.
"Heh, jika kau hanya membuang waktu untuk itu, maka pergilah. Aku tak ingin membuang tenagaku untuk melawan wanita rakus sepertimu". Balas Alisha.
"Kalau begitu kau menyerahkan nyawamu kepadaku". Ucap Elena.
Ia pun dengan cepat mendekati Alisha dengan pisau di tangannya. Sebuah perkelahian kecil terjadi dan saat pisau itu akan di tujukan ke arah perut Alisha, ia menahannya dan entah mengapa secara tiba-tiba mengenai perut Elena.
__ADS_1