Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 13 Mengkhawatirkan Dinda


__ADS_3

Langkah Dinda tergesa memasuki kantor, banyak pekerjaan yang ia harus kerjakan. Namun karena ia harus menjalani sidang perceraian, pekerjaannya harus terkesampingkan dahulu.


Saat Dinda keluar dari lift, ia sedikit berlari karena dalam pikirannya selalu tertuju pada pekerjaannya. Alhasil tak sengaja kakinya terbentur sesuatu, hingga ia pun terjatuh dan tersungkur.


Kepalanya membentur ujung meja, sehingga keningnya berdarah. Ia ingin memaksakan bangun, tetapi pandangannya buram dan akhirnya menjadi gelap. Ia pun tak sadarkan diri.


Terlihat seseorang melebarkan senyuman, tentu kejadian tersebut bukan tanpa disengaja. Melainkan ada seseorang yang merencanakannya.


"Itu akibatnya jika lo terlalu berani". Seringaian licik terlukis dari bibir Viola.


**


"Pak maaf.. I-itu Dinda.." Ucap seorang karyawan lain yang memberi tahu Kevin tentang keadaan Dinda.


Tanpa menunggu jawaban yang jelas, Kevin langsung beranjak keluar dan melihat apa yang terjadi di sana.


Kevin melihat beberapa karyawan lainnya berkerumun seakan ada hal yang tak beres di depan sana. Dan ternyata benar, ia sangat kaget melihat Dinda yang tak sadarkan diri. Kini Dinda tengah berada dalam pangkuan Bila, sahabatnya yang menangis khawatir dengan Dinda.


Kevin langsung menggendong Dinda untuk di bawa ke rumah sakit. Melihat itu, Viola berdecak kesal. Disaat ia puas melihat Dinda tengah terkapar lemas, namun tak hentinya wanita itu selalu mencari perhatian terhadap Kevin. Viola mengepalkan tangannya frustasi.


'Dasar wanita jal*ng... Bisa-bisanya disaat dia tak sadarkan diri terus saja mencari perhatian dari pak Kevin'. Batinnya bergejolak emosi.


"Saingan lo tambah berat aja Vio". Bisik Riana dengan tersenyum meremehkan Viola.


"Diem lo, gue lagi gak butuh pendapat lo sekarang". Geram Viola dengan bergegas menjauhi Riana.


"Dasar, temen yang datang disaat butuhnya aja". Cibir Riana pelan.


**


"Suster.. Tolong cepat periksa gadis ini". Perintah Kevin pada perawat yang tengah berjaga, kemudian ia membaringakan Dinda.


"Baik, Pak". Jawab perawat tersebut yang langsung membawa Dinda ke ruang khusus pemeriksaan.


"Lakukan yang terbaik untuknya, periksakan dengan teliti. Saya tidak mau ada yang terlewatkan". Ujarnya dengan perasaan panik.


"Baik, Pak. Tapi maaf, bapak tidak boleh masuk. Silahkan tunggu saat pasien sedang dalam pemeriksaan dokter. Setelah itu kami akan memberi tahukan hasil pemeriksan tersebut". Ucap perawat yang kemudian menutup pintu ruangan.

__ADS_1


Kevin tak bisa tenang saat Dinda masih dalam ruangan tersebut. Hingga kemudian Riko, sang asisten pribadinya datang mendekatinya.


"Kau terlihat sangat mencemaskannya, apa jangan-jangan.." Ucapnya yang sengaja tidak dilanjutkan, seraya untuk menggodanya.


"Apa? Jangan bicara yang aneh-aneh saat ini, gak lucu". Bentak Kevin, membuat Riko mengerti dan mengulum senyum dengan sikap atasannya yang sekaligus sahabat masa kecilnya itu.


Riko adalah sahabat Kevin dari kecil, yang dijadikan sebagai asisten pribadi karena telah 100% percaya terhadapnya. Di zaman sekarang, mencari seseorang yang bisa di percaya sangatlah sulit. Bahkan jarang ada orang yang bisa dipercaya, walaupun ia sudah di iming-imingi uang yang banyak.


"Pekerjaan lo udah gue handle, jadi jangan khawatirkan itu". Ucap Riko agar Kevin tak mencemaskan pekerjaannya.


"Gue gak peduli". Jawabnya ketus.


Riko merasa heran terhadapnya, biasanya Kevin selalu gila kerja dan jangan ada kesalahan apapun atau yang terlewat sekalipun.


'Mungkin karena wanita itu..' Gumamnya dalam hati.


**


"Keluarga pasien atas nama Dinda Amelia". Ucap salah seorang perawat.


"Saya suster.." Jawab Kevin yang langsung beranjak menemui perawat tersebut.


Kevin memasuki ruangan dokter, lalu ia mendudukan tubuhnya segera. Ia menginginkan hasil pemeriksaan Dinda dengan secepatnya.


"Bagaimana keadaan Dinda, dokter?" Tanya Kevin yang terlihat cemas dari raut wajahnya.


"Bu Dinda mengalami benturan yang cukup keras. Sehingga menyebabkannya tak sadarkan diri. Tapi itu tak menyebabkan masalah yang serius. Sebentar lagi, ia akan segera sadar". Jelas dokter.


"Apakah anda sudah memeriksanya secara teliti? Saya tidak mau dia kenapa-napa". Ucap Kevin yang masih mencemaskan Dinda.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan dengan teliti terhadapnya dan seperti saya bilang, dia tidak apa-apa. Hanya ada bekas luka di dahinya yang sudah kami jahit. Anda tidak perlu khawatir, selebihnya kami pun akan memantaunya jika terjadi sesuatu". Jawab dokter yang membuat Kevin merasa agak tenang.


"Baiklah, terimakasih dokter". Ucapnya yang dibalas anggukan oleh dokter tersebut.


'Kau harus sembuh gadis merepotkan, kau membuatku khawatir. Lihat saja, nanti ku balas kau dengan sebuah hukuman'. Gumamnya yang kini tergesa-gesa menemui Dinda di ruang perawatan.


**

__ADS_1


Kevin pun berjalan mendekati Dinda yang kini tengah berbaring lemas. Melihatnya lemas seperti itu membuatnya sakit, dalam hatinya selalu berharap agar ia tak apa-apa.


Beberapa saat kemudian, Dinda tampak menggerakan jari-jarinya yang dibarengi dengan mata yang bergerak-gerak meski masih terpejam. Kevin menghampirinya, ia merasa senang dengan itu. Lalu sedikit demi sedikit ia membuka matanya secara perlahan.


Dengan seketika pikirannya langsung teringat dengan pekerjaan yang belum ia selesaikan. Dinda memaksakan diri untuk bangun, namun kepalanya masih terasa pusing dan masih berat untuk ia bergerak sedikit pun.


"Kau harus berbaring dulu, tubuhmu masih lemah". Ucap Kevin, membuat Dinda menoleh kearahnya.


"Pak Kevin.." Sahutnya tak percaya atasannya menemaninya kini.


"Saya belum menyelesaikan pekerjaan pak, saya merasa tidak enak terhadap Anda". Ucapnya dengan suara yang masih terdengar lemas.


"Jangan khawatirkan itu, asisten saya akan menyelesaikannya. Kamu bisa pulihkan dulu kesehatanmu sekarang". Ucapnya dengan menunjukan wajah dinginnya, namun dalam hatinya ia merasa khawatir terhadap Dinda.


"Baik, pak. Terimakasih banyak, Anda sudah membawa saya kesini dan sudah peduli terhadap saya". Ucap Dinda sambil tersenyum.


"Jangan terlalu percaya diri dulu. Saya hanya kasihan bukan peduli terhadapmu". Jawabnya dengan mengedarkan pandangannya.


"Meskipun begitu, terimakasih.." Ucapnya yang tak diberi sahutan sama sekali oleh Kevin.


'Disaat seperti ini pun dia masih memperlihatkan ketusnya. Dasar manusia angkuh'. Gumamnya dalam hati.


Kemudian Kevin berlalu begitu saja dari ruangan tersebut, tanpa berucap apapun. Membuat Dinda semakin kesal.


'Terbuat dari apa sih dia? Keluar begitu saja, seperti ini juga aku manusia woyy..' Geram Dinda dalam hati.


**


"Jack, jaga wanita itu disini. Jangan biarkan dia sendirian, carikan seorang wanita yang bisa menemaninya saat ini. Karena di kota ini, dia hanya sendirian". Perintahnya terhadap pengawalnya, Jack.


Ucapan itu terdengar oleh Riko, membuatnya menganga tak percaya. Pasalnya ia tak pernah melihat Kevin secemas itu terhadap siapapun.


"Kau begitu mengkhawatirkannya. Apakah kau punya perasaan terhadapnya?" Tanya Riko dengan menggerak-gerakan kedua alis tebalnya.


Jawabannya pun di balas jitakan di kepalanya, Riko mengulum senyum sekaligus meringis kesakitan, dengan mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit.


"Kau memang kurang aj*r terhadap atasanmu. Apakah potongan gaji akan pantas menjadi hukumanmu? Ya, memang sekali-kali itu harus dilakukan". Ucapnya menyeringai jahat.

__ADS_1


"Kau memang sahabat menyebalkan, baiklah gue gak akan banyak bicara. Tapi jangan sampai gaji gue lo potong". Ucapnya mendengus kesal.


Kevin pun terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. Kasihan dan ingin tertawa saat itu yang ia rasakan, namun Kevin harus menjaga citranya sebagai pemimpin di hadapan pengawalnya.


__ADS_2