Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 17 Ingin Kembali


__ADS_3

"Bagaimana kabar Dinda, ya? Setelah kejadian tersebut, aku belum melihat keadaannya kembali". Gumam Kevin dalam lamunannya.


Belum genap sehari ia tak bertemu dengan Dinda, Kevin selalu memikirkan tentang keadaan Dinda. Apalagi setelah kejadian yang menimpanya di pesta, ia selalu merasa cemas.


"Pria itu? Ah, mungkin di belum tahu akan berhadapan dengan siapa dia. Kau mau bermain-main denganku ternyata. Kau berani mempermainkan Dinda, sama saja mempermainkan harga diriku". Sambungnya dengan tersenyum sinis.


"Jack, suruh orang untuk memata-matai laki-laki yang sudah menyakiti Dinda kemarin malam. Cari tahu perkembangan bisnisnya, jangan ada yang terlewatkan. Walaupun itu hanya seujung kuku". Ucapnya memerintah pengawalnya.


"Baik, Tuan". Jawab Jack.


**


"Sudahlah Pak, wanita itu hanya masa lalu mas Dimas dan masa depannya adalah aku. Jadi buat apa kalian repot-repot ngurusi dia". Ucap Lidya dengan menatap benci terhadap Dinda.


"Jangan mimpi, dimataku kau hanya wabah yang akan membuat anakku sakit". Balas Utami yang memang sangat membencinya.


Lidya mendengus kesal, tatapan kedua orang tua Dimas sangatlah menyeramkan. Membuatnya khawatir dengan kelangsungan masa depan hubungannya.


"Ya, sudah. Jika itu memang keputusan Dinda, Bapak akan hargai. Namun, untukmu Dimas.. Jika kamu tidak becus dalam bekerja atau perusahaanmu mengalami penurunan, jangan menyesal jika perusahaan tersebut Bapak serahkan kembali kepada Dinda". Ucap Heru dengan sangat tegas.


"Dan satu lagi, jangan ganggu kehidupan Dinda. Atau kehidupan kalian berdua tidak akan seberuntung apa yang kalian pikirkan saat ini. Terutama kamu wanita licik". Sambung Heru.


Dimas hanya mengangguk tanpa banyak bicara, berbeda dengan Lidya yang mengepalkan tangannya seraya iri terhadap Dinda.


Sementara Dinda hanya tersenyum, karena jika perusahaan tersebut tetap harus ia kelola, pasti akan membuatnya hidup dengan ketidak tenangan. Ancaman demi ancaman yang akan ia terima.


'Kenapa wanita jal*ng itu lagi yang dia sebut, seberapa berharganya sih dia? Bisa membuat orang tua mas Dimas sangat luluh. Awas aja ya, aku bakal bikin perhitungan terhadapnya'. Lirih batin Lidya dengan mendelikan matanya ke arah Dinda.


Mungkin semuak itulah Lidya terhadap Dinda. Tak ada rasa berterimakasih, meskipun Dinda telah mengalah.


Di rasa masalahnya telah selesai, Dinda berpamit pulang. Dimas hanya menatap kepergian Dinda, hatinya mengatakan ingin selalu berdekatan dengannya. Namun rasa gengsi mampu mengalahkan semuanya, apalagi di sampingnya masih ada Lidya.


"Kenapa? Kamu menyesal 'kan meninggalkan Dinda?" Ucap Utami yang disengaja untuk memanas-manasi Lidya.

__ADS_1


"Bu, di sini masih ada aku. Kata-kata Ibu sangatlah tidak sopan, apalagi di depan calon menantumu". Ucap Lidya yang terlihat cemberut kesal.


"Kata siapa saya menganggapmu calon menantu? Jangan harap". Balas Utami.


'DEGG!!'


Kata-kata tersebut seakan membuat Lidya sesak nafas yang berkepanjangan. Ingin sekali Lidya memaki orang tua Dimas, namun tak bisa karena mungkin masa depannya masih berada ditangan orang tua Dimas.


Merasa iba dengan kekasihnya, Dimas pun berpamit pulang sebelum Lidya semakin terpojok dengan kata-kata orang tuanya.


**


"Kenapa sih Mas, kamu diam saja melihat aku dihina terus menerus oleh orang tuamu?" Ucap Lidya dengan memperlihatkan kesedihannya.


"Mereka orang tuaku. Dan ke datangan kita kesana untuk meminta bantuan kelangsungan hidup kita. Jika aku sama halnya seperti dirimu, bagaimana kalau orang tuaku tetap tak mengizinkanku untuk mengelola perusahaannya?" Jelas Dimas yang sembari fokus dengan mengemudikan mobilnya.


"Iya, tapi kan.."


"Sudahlah, sayang.. Yang penting, apa yang kita inginkan sudah ada di depan mata". Ucap Dimas yang memotong Lidya saat ingin bicara lagi.


**


"Huuhh.. Akhirnya aku bisa bernafas panjang.. Semoga saja mereka berdua akan benar-benar menjauhiku". Gumam Dinda setelah memasuki kosan kecilnya.


Namun saat ia ingin menghempaskan tubuhnya ke dalam kasur, terdengar suara ketukan dari depan pintu kamar kosnya. Ia pun segera membukanya.


"Fania.." Sapa Dinda.


"Apakah aku mengganggumu? Sudah beberapa minggu kita menjadi tetangga, namun belum pernah kita saling berbincang". Sahut Fania.


"Ah.. Kau benar, aku memang terlalu sibuk. Mari masuk". Ajak Dinda dengan ramah.


Mereka pun berbincang di dalam kamar Dinda, kini mereka terlihat sangat akrab. Bahkan kecanggungan yang sempat terasa, menghilang dengan sendirinya beganti dengan kehangatan persahabatan.

__ADS_1


"Kamu kerja dimana Fania?" Tanya Dinda, mereka memang seusia. Sehingga agar tak ada kecanggungan lagi, mereka memutuskan untuk saling memanggil nama.


"A-aku.. Aku bekerja menjadi pelayan, di sebuah club malam". Jawab Fania yang sedikit agak gugup.


"Boleh aku mengetahui alasanmu kerja disana?" Tanya Dinda yang merasa iba. Pantas saja dari tampilannya yang sedikit agak terbuka, mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya setelah bekerja di sana.


"Awalnya aku terpaksa, pamanku terlilit hutang yang cukup besar. Sehingga mengharuskanku untuk bekerja disana. Jika aku tak membantunya, ia mengancam akan menjualku". Jawabnya dengan mata yang memerah menahan air mata.


"Kamu yang sabar, mungkin kita bernasib sama. Menyedihkan. Namun jalan kita yang berbeda. Kamu harus kuat, aku yakin kau bisa melaluinya". Ucap Dinda menguatkannya, sambil sedikit mengelus punggung Fania.


"Terimakasih.. Sebelumnya aku tak pernah bercerita tentang kehidupanku pada orang lain. Hanya saja melihatmu, seperti ada kebaikan. Dan aku yakin, kamu sangat baik". Sahut Fania.


"Kau jangan memujiku begitu, bisa-bisa hidungku lupa akan tempatnya setelah kau memujiku". Canda Dinda, yang membuat mereka tertawa.


**


Keesokan harinya, Dinda bergegas pergi ke pengadilan agama. Sidang keduanya akan segera berlangsung. Setelah sampai, ia melihat sosok pria yang pernah mengisi hatinya dulu. Ya, mantan suaminya.


Terlihat Dimas tengah memandang ke arah Dinda, memperhatikan penampilannya yang begitu elegan dengan polesan tipis di wajahnya. Balutan hijab polos berwarna cream berpadu dengan gamis hitam yang sedikit bercorak, membuatnya semakin mempesona.


'Kenapa dia begitu semakin menarik?' Gumamnya dalam hati, Dimas pun segera mendekati Dinda.


"Dinda.." Sapanya sembari memberanikan diri memegang tangan Dinda. Namun Dinda langsung menepisnya.


"Jangan menyentuhku, Mas. Perceraian kita sudah di depan mata". Ucap Dinda dengan tatapan tak sukanya.


"Aku tak peduli, aku hanya ingin kau tahu. Aku menyesal dengan apa yang sudah ku lakukan. Tolong maafkan aku, kembalilah lagi bersamaku". Pinta Dimas, dengan wajah yang begitu terlihat memelas.


"Kemarin kamu melarangku untuk tidak memohon meminta kembali, tapi nyatanya kamu sendiri yang melanggar. Huh, memalukan". Ketus Dinda seraya melipatkan tangan di dadanya.


"Harus kamu tahu Mas, meskipun kamu larang aku seperti itu, aku gak akan pernah meminta untuk kembali pada kehidupan yang menyedihkan itu. Aku tidak tertarik". Sambung Dinda.


'DEGG!!'

__ADS_1


**


__ADS_2