
"Dalam hitungan hari, aku akan menjadi Nyonya Adhinatha. Sangat bahagia bukan? Untung otakku selalu menyimpan berbagai cara untuk meluluhkan hati Mas Dimas". Ucapnya pelan dengan senyuman liciknya.
Lidya mempunyai ambisi yang tinggi untuk mempertahankan hubungannya dengan Dimas, bukan hanya karena cinta. Namun, harta pun mempengaruhinya untuk tetap bertahan dengan Dimas.
Sehingga meskipun ia beberapa kali di campakan Dimas, Lidya tetap bersi keras untuk mendapatkan kembali Dimas. Walaupun itu dengan cara yang kotor sekali pun.
"Kau terlihat senang, Lidya. Bagaimana jika aku bocorkan rahasiamu? Karena perbuatanku, kau bisa menikah dengan Dimas beberapa hari lagi". Ucap Arvin yang tengah berdiri di depan pintu Lidya, yang memang terbuka.
Lidya tak menyadari kehadiran Arvin di dekatnya, saking bahagianya dia saat ini. Hingga ia terkejut dengan ucapan Arvin, membuatnya mengepalkan tangan karena emosi. Disaat ia tengah berhasil dengan rencananya, masih saja banyak penghalang di sela bahagianya.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Lidya dengan menampakan wajahnya yang tersulut emosi.
"Awalnya aku hanya ingin meminta sedikit uang kepadamu, namun rahasiamu kini juga rahasiaku. Jadi, kamu tahu 'kan apa yang aku pikirkan?" Tanyanya dengan mengangkat alis kirinya dan tersenyum licik.
"Sudah cukup, aku bukanlah ATM berjalanmu. Kamu gak berhak atas apa yang kini aku miliki". Geram Lidya.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika rahasiamu terbongkar. Dan harus kamu ingat, beberapa hari lagi pernikahanmu akan segera berlangsung. Aku ingin segera melihat pestamu hancur berkeping-keping setelah rahasia itu terbongkar". Ucap sinis Arvin yang kemudian berlalu meninggalkan Lidya.
Namun langkahnya terhenti, setelah Lidya memanggilnya kembali. Senyuman puas kini menghiasi wajah Arvin.
"Berapa nominal yang kamu inginkan?" Tanya Lidya dengan tangan mengepal.
"Seratus juta". Jawabnya tak lupa dengan senyumnya yang mengembang.
"Nanti aku kirim, tapi kamu jangan pernah coba-coba untuk membuka rahasia itu". Ancam Lidya, namun tak di gubris oleh Arvin yang berlalu begitu saja meninggalkan Lidya.
Lidya hanya mendengus kesal, namun hanya itu satu-satunya untuk mendapatkan Dimas. Dan angka nominal yang Arvin katakan, pasti akan ia dapatkan kembali setelah menikah dengan Dimas.
**
"Kenapa kamu sangat mempesona setelah aku ceraikan? Aarrgghh.. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap menjadi milikku". Lirih Dimas frustasi.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, Dimas selalu terbayang wajah Dinda. Hal yang ia inginkan, semuanya tak berjalan sesuai rencananya yang seharusnya Dinda kini tengah terpuruk atas kepergian Dimas.
Namun takdir berkata lain, ia semakin terlihat bahagia saat ini. Apalagi Kevin yang begitu mengistimewakannya.
"Silahkan kamu sekarang bahagia, tapi apa kamu akan sanggup jika aku melakukan sesuatu yang begitu kejam?" Ucapnya dengan nada pelan namun penuh dengan ancaman.
**
Di pagi yang sedikit agak mendung, terlihat Dinda datang dengan wajah yang agak di tekuk. Meskipun Bila hanya melihat dengan sekilas, namun ia mengetahui Dinda yang sedang tidak baik.
"Hai, Dinda.. " Sapa Bila.
"Hai, kamu rajin banget pagi-pagi sudah ada di sini". Ucap Dinda, yang tersenyum namun masih terlihat agak di tekuk.
"Iya, nih.. Kamu kenapa seperti agak murung? Kamu sakit?" Tanya Bila, dengan meraba keningnya namun tak terasa panas.
"Enggak, hanya saja beberapa hari ini aku sering ingat sama orang tuaku. Aku menghawatirkannya". Ucap Dinda dengan mata yang sedikit mengembun, menahan air mata.
"Kau memang terlihat sibuk akhir-akhir ini, aku do'akan semoga kedua orang tuamu baik-baik saja". Ucap Bila dengan mengusap punggung Dinda, kemudian ia memeluknya. Perlakuan Bila membuat Dinda agak nyaman.
"Jangan khawatirkan itu". Jawab Bila, yang kemudia mereka berpisah untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Kevin yang sekilas mendengar percakapan mereka berdua dari belakang tampak merasa iba. Memang benar apa kata Bila si cleaning service, Dinda sangat sibuk sekarang.
Beberapa klien yang dulu bekerja sama dengan perusahaan Adhinatha, mengetahui Dinda yang kini bekerja di perusahaan Kevin. Mereka tahu bagaimana pekerjaan Dinda, berbeda dengan sekretaris Adhinatha yang saat ini. Sehingga beberapa dari mereka memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan Kevin.
Itu sangat menguntungkan perusahaan Kevin, sehingga kini pekerjaan Dinda semakin sibuk.
**
"Anda memanggil saya, Pak?" Tanya Dinda kepada Kevin.
__ADS_1
"Iya, saya hanya ingin memberitahu mu, bahwa minggu depan kamu boleh meminta cuti untuk pulang, namun jangan terlalu lama. Karena saya mengandalkan pekerjaanmu saat ini". Ucap tegas Kevin.
Dinda bersorak dalam hati, ia berjanji akan menemui orang tuanya saat cuti.
"Terimakasih, Pak. Saya sangat senang". Ucap Dinda dengan berseri-seri.
"Kamu boleh kembali bekerja". Titah Kevin.
"Baik, Pak. Permisi". Pamit Dinda.
Di dalam kamera CCTV, Kevin bisa melihat Dinda yang kegirangan mendapat kabar cutinya. Mungkin itu keinginan terbesarnya saat ini, ia tak akan menyia-nyiakan waktu cuti yang di berikan Kevin terhadapnya.
'Bahkan kamu nampak seperti anak kecil, meskipun pernah bergelut dalam rumah tangga. Dasar.. Wanita aneh, semoga aku bisa membahagiakanmu dan selalu menjagamu'. Lirih batin Kevin.
Kevin hanya tersenyum melihat tingkah Dinda, sangat mudah membuat ia tersenyum. Dan hal itu membuat Kevin merasa puas.
**
"Kenapa lo senyum-senyum?" Tanya Viola yang merasa tak suka dengan tingkah Dinda.
"Mungkin gak sih, kalau dia ini adalah simpanan Pak Kevin? Lihat aja tuh, balik dari ruangannya terlihat senyum-senyum gitu. Kepala aja pake jilbab, kelakuannya gak beradab". Sambung Riana dengan tersenyum ke arah Viola.
"Jika kalian tidak mengetahui urusan saya, maka jangan berburuk sangka dulu. Percuma sih kalian mau ngomong apa, saya hanya menganggap kalian angin berlalu saja". Jawab Dinda dengan santainya.
"Jangan mentang-mentang kamu pegawai kesayangan Pak Kevin, ya! Bisa seenak jidat ngomong sama orang". Ucap Viola yang geram.
"Saya gak ngerti, kalian yang mulai mengolok-ngolok saya, jadi kalian yang marah sama saya". Jawab Dinda.
"Lo udah mulai berani yah, sama kita?" Ucap Riana yang mencekal lengan Dinda, karena sempat ingin pergi dari hadapan mereka.
"Kenapa saya harus takut? Disini yang menggaji saya, bukan kalian. Bahkan meskipun tak ada kalian, gak akan mempengaruhi kehidupan saya. Jadi, jangan ganggu kehidupan saya. Karena sebaliknya, saya tidak pernah sekali pun mengganggu kalian". Ucap berani Dinda, ia pun menghempaskan tangan Riana yang mencengkram lengannya dan pergi meninggalkan mereka yang tengah kesal.
__ADS_1
"Siapa bilang di tidak mengganggu kehidupan kita? Karena adanya dia, pak Kevin jadi susah di deketinnya sama gue. Dasar, cewek cleaning service gak tahu diri". Ucap Viola yang tak terima.
Namun Dinda berlalu tanpa menghiraukan ucapan mereka. Ia tak mau ribet dengan hal kecil tersebut, karena memang Dinda merasa tak mempunyai masalah apapun dan lebih baik berpura-pura bod* amat untuk saat ini.