Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 83 Berjanji Untuk Percaya


__ADS_3

Perlahan Fania terbangun dari pingsannya, matanya membeliak ketika ia berada di sebuah ruangan yang bernuansa putih. Ya, kini ia berada di Rumah Sakit. Seseorang membawanya karena iba.


Ia memegang kepalanya yang masih terasa sangat sakit, tubuhnya pun masih lemas meskipun hanya untuk memposisikan tubuhnya agar duduk.


"Jangan banyak bergerak, tubuhmu masih telihat lemas". Ucap seseorang yang tiba-tiba memasuki ruang rawat.


"Siapa kamu? A-aku haus.." Tanya Fania.


"Aku yang membawamu ke Rumah Sakit ini, saat kamu tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan". Jawab pria tersebut yang sembari menuangkan air ke dalam gelas, ia pun membantu Fania untuk duduk dan memberinya minum.


"Terima kasih!" Ucap Fania yang di balas anggukan oleh pria tersebut.


"Berikan nomor telepon keluargamu, nanti aku akan mengabarkan keadaanmu saat ini". Ucapnya.


"Emh.. Tidak apa, jika sudah agak membaik aku akan pulang. Tidak usah menelpon keluargaku". Jawab Fania yang sedikit gugup.


"Are you sure? Keadaanmu masih lemah lho!" Sahut pria tersebut.


"Aku hanya perlu istirahat, tidak perlu bertemu keluargaku". Jawab Fania sambil menundukkan wajahnya, menahan air mata.


"Oh, baiklah. Tapi maaf, aku harus pergi dulu. Kebetulan masih banyak urusan, kau yakin akan tinggal di sini sendirian?" Tanyanya kembali, meyakinkan.


"Iya, aku serius". Jawab Fania.


"Oh, ya! Namaku Riko, ini kartu namaku. Maaf ya aku meninggalkanmu. Tapi jika ada apa-apa, kabari aku". Ucapnya kembali sambil melangkah pergi.


Fania hanya tersenyum dan memandang ke pergian pria tersebut sampai menghilang tak terlihat, di zaman ini masih ada orang yang baik ternyata.


Fania menghela nafas ketika perselisihan antara kedua orang tuanya kembali teringat. Ia pun menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Dengan keras ia menepis semuanya, walau tangisannya kembali pecah.


**


Dinda keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang segar. Pandangannya mengarah ke tubuh Kevin yang tak merespon keberadaannya saat ini. Biasanya seberapa sibuknya ia, selalu melemparkan senyuman kepada Dinda. Namun kali ini berbeda, seakan ponselnya paling berhaga dan tak mempedulikan keberadaan Dinda.

__ADS_1


Karena cemas, ia pun menghampirinya secara perlahan. Namun keinginannya ia urungkan, dan kembali ke meja rias untuk merapihkan tampilannya.


'Mungkin ia membutuhkan waktu untuk menyelesaikan permasalahannya'. Lirihnya dalam hati. Ia pun membalikkan badannya, membiarkan Kevin yang tengah berkutat dengan ponselnya.


"Kenapa kamu tidak jadi mendekat ke arahku?" Tanya Kevin.


"A-aku pikir, kamu sedang membutuhkan waktu untuk urusanmu". Jawab Dinda terbata.


"Aku ingin memelukmu". Ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya, matanya memberi kode kepada Istrinya untuk mendekat.


Dinda pun segera berjalan ke arah Kevin, ia menuruti keinginan Kevin yang ingin ia peluk. Layaknya seorang anak yang membutuhkan Ibunya, Kevin menelungkupkan wajahnya di leher Dinda. Cukup lama, kemudian ia pun berbisik dengan lirih.


"Kau bahagia menikah denganku?" Tanyanya sembari berbisik. Dinda hanya mengangguk pelan, tak bisa berkata. Hatinya bukan hanya terasa berdetak kencang tetapi juga bertanya-tanya, ada apa dengannya yang sekarang?


"Percaya 'kah kepadaku?" Tanyanya lagi dengan berbisik, dan masih sama di angguki oleh Dinda.


Ia pun meleraikan pelukannya, beralih menatap mata Dinda dengan tajam. Hati gadis itu terasa semakin berdetak kencang, entah apa yang Kevin sembunyikan saat ini.


"Selalu pertahankan kepercayaanmu, ujian dalam hubungan kita masih berat. Kau mau melaluinya bersama?" Ucap Kevin kembali, seraya memberikan pertanyaan di ujung kalimatnya.


"Kamu akan mengerti nanti, tetapi yang harus kamu ingat.. Jangan membiarkan kepercayaanmu merubah segalanya. Kau harus jadi gadis kecil yang pintar". Jawabnya sambil memeluk Istrinya dengan erat.


Dinda masih belum mencerna perkataan Kevin, hatinya masih bertanya-tanya kebingungan. Tetapi, ia berpikir sejenak tentang ucapan itu kembali.


'Apa ini menyangkut kejadian waktu itu? Tapi kenapa ucapannya tak di perjelas? Dia membuatku kebingungan'. Gumamnya dalam hati, menggerutu.


Walaupun ia tidak paham dengan maksud Kevin, namun ia berjanji akan memegang selalu kepercayaannya terhadap Kevin.


**


Ponsel Fania bergetar, mengganggu istirahatnya. Ia pun segera mengambilnya dan mengangkat panggilan tersebut, yang merupakan panggilan dari Zidan.


"Hei, wanita nakal! Kau berada dimana saat ini? Aku sudah bilang, kau perlu istirahat. Tetapi kenapa kau sangatlah keras kepala? Apa perlu ku kurung kau? Dan menginkatmu dengan rantai? Supaya kau tak bisa lagi menganggap ancamanku sebuah lelucon?" Umpatan Zidan dalam panggilan tersebut. "Kanapa kau tak menjawab?" Sambungnya lagi yang tak sabaran.

__ADS_1


"Kau terlalu banyak bertanya, sampai aku kebingungan harus menjawab yang mana dulu". Ketus Fania, ia merasa jengkel dengan sikap Zidan yang tak pernah lembut. Jika bersamanya pasti akan ada adu mulut yang berkepanjangan.


"Kau dimana sekarang? Kenapa tak ada di kosanmu yang kecil?" Tanyanya.


"Aku sedang istirahat.." Jawab Fania yang tak meneruskan lagi ucapannya, membuat Zidan kembali naik darah.


"Istirahat dimana bod*h? Kau membuatku tak sabar". Ucapnya geram.


"Di Rumah Sakit, puas kau.." Jawab Fania dengan ketus.


"Apa? Cepat katakan, berada di Rumah Sakit mana? Kau memang benar-benar wanita keras kepala, memang seharusnya kau di ikat dengan rantai". Tanyanya sambil tak henti menggerutu.


"Aku juga tidak tahu ini Rumah Sakit mana, yang jelas tadi aku sempat pingsan di jalan dan ada seseorang yang baik hati membawaku ke sini". Jawabnya.


"Siapa yang kau sebut baik hati? Tidak ada yang boleh kau sebut baik hati selain aku, kau tunggu di sana. 15 menit lagi, aku sampai". Ucapnya sambil mematikan sambungan panggilan tersebut.


Fania menyernyitkan dahinya, ia di buat bingung dengan sikap pria ini. Kenapa Tuhan menciptakan pria sesombong sepertinya?


"Apa? 15 menit lagi? Dia mungkin sedang bergurau, aku saja tidak tahu ini Rumah Sakit yang mana. Dia seenaknya berbicara akan sampai dalam waktu 15 menit". Ucapnya berbicara sendiri.


"Mungkin jika aku mempunyai penyakit jantung, seketika aku mat* di tangannya. Orang ini membuatku ingin meninjunya". Gumam Fania kembali yang belum puas menggerutu.


**


Meskipun Kevin masih di selimuti rasa gelisah, tetapi ia mengakui jika saat ini wangi tubuh Istrinya sangatlah menggoda. Mungkin bukan hanya pelukan yang ia inginkan, tetapi sesuatu yang membuatnya ingin merasa lebih.


"Kamu ingin menggodaku kembali dengan memakai wangi-wangian di tubuhmu, ya?" Tanyanya yang membuat Dinda semakin bingung.


Pria ini tadi terlihat tengah berfikir keras, tetapi kenapa sekarang pikirannya kembali nakal? Perasaan Kevin bisa berubah-ubah dalam waktu yang sangat singkat. Dinda pun melepaskan pelukan itu, dan memandang Kevin dengan pandangan yang sinis.


"Kalau tidak salah kamu tadi tengah gelisah? Kenapa pikiran nakalmu kembali begitu cepat?" Tanya Dinda, membuat Kevin menyunggingkan senyuman. Tatapan Kevin yang haus akan tubuh gadis kecilnya pun kembali tercium. Dinda hanya menghela nafas pelan, mungkin 'kah kali ini ia akan lepas dari Suaminya? Jawabannya tidak mungkin.


"Kau yang terlalu menggoda, Sayang". Jawabnya yang kemudian mengunci tubuh Istrinya dengan membawanya ke atas kasur.

__ADS_1


'Dia benar-benar buas..' Lirihnya dalam hati.


__ADS_2