
Sementara di ruang makan, Amelia dan kedua orang tua Kevin nampak tengah menunggu Kevin untuk turun sarapan bersama. Karena tak kunjung muncul juga ketika perut mereka sudah meronta-ronta ingin di isi, Alisha menyuruh pelayan memanggil Kevin.
Mereka sangat geram ketika baru tahu jika Kevin telah berangkat pukul 05.00, sebelum mereka bangun.
"Dasar anak itu, kenapa dia tidak bilang akan pergi sepagi itu? Sikapnya memang belum berubah". Gerutu Alisha dengan wajah cemberutnya.
"Sudahlah Alisha, anak kita sudah dewasa. Dia menginginkan kebebasan, jadi biarkanlah dia pergi semaunya. Toh selama ini dia tak pernah ke tempat yang macam-macam". Ucap William yang dengan santainya.
"Tapi kan, Sayang. Kita sudah membawa Amelia ke sini, kasihan dia dalam beberapa hari ini belum sempat kemana-mana. Kevin terlalu gil* dalam bekerja". Jawab Alisha.
"Sudah, Tante. Apa yang di katakan Om William benar, Kevin butuh ruang untuk dirinya sendiri. Jadi jangan terlalu dikekang". Timpal Amelia.
Meskipun Amelia teelihat sangat bersikap baik, namun William sama sekali tidak tertarik dengan sikapnya. Semua itu nampak seperti topeng yang di pakai Amelia untuk menarik Kevin ke dalam jeratannya.
William langsung beranjak dari kursinya, kemudian melangkah menuju kamar pribadi Kevin. Ia masih terus saja mengurusi pekerjaannya yang ada di luar negri. Ia tak mau terlalu lama berada dengan wanita bertopeng itu.
Alisha selalu memutuskan keinginannya secara sepihak, dan William sudah tahu karakter Alisha. Hanya saja William memilih diam seperti tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan Alisha, padahal selama ini ia selalu memperhatikan pergerakan mereka.
**
"Kita harus mempersiapkan gaun untuk undangan nanti malam. Agar kamu terlihat cantik dan membuat Kevin tertarik kepadamu". Ucap Alisha. Amelia langsung menyunggingkan senyuman, ia nampak kegirangan mendengar nanti malam ia akan menghadiri sebuah undangan makan malam.
'Aku dan Kevin pasti akan menjadi pusat perhatian, aahh.. Semua orang pasti akan iri terhadapku'. Gumam Amelia dalam hati.
"Oke, Tante. Aku tak ingin membuat Kevin merasa malu dengan tampilanku nanti". Jawabnya.
Mereka pun bersiap untuk pergi ke butik langganan Alisha.
**
"Pak Kevin, kita mau kemana? Arah ke kantor 'kan bukan ke sini. Apakah Anda lupa jalan menuju kantor Adhinatha ya?" Tanya Dinda dengan polos.
__ADS_1
"Hei, memang aku jarang mengemudi. Tapi otakku tidak terlalu pikun hanya untuk mengingat arah jalan, jadi kamu diam dulu. Kita harus pergi ke suatu tempat". Jawab Kevin.
"Tapi saya ada rapat jam 09.00 nanti". Ucap Dinda.
"Jam 09.00 'kan? Ini bahkan baru jam 08.00. kamu jangan khawatirkan itu". Balas Kevin yang masih dengan santai.
'Dasar kepala batu, gangguin hidup orang terus'. Cebik Dinda dalam hati.
Akhirnya Kevin memberhentikan mobilnya di sebuah butik ternama, Dinda hanya menggaruk lengannya yang tak gatal karena kebingungan.
'Siapa yang mau beli baju sih? Sampai repot-repot Pak Kevin meminta bantuan kepadaku'. Gumamnya lagi.
Jika saja Kevin tadi tidak memohon-mohon minta bantuan kepada Dinda, sebenarnya ia tidak mau. Apalagi ia tak memberi tahu bantuan apa yang harus Dinda lakukan. Ia hanya menyuruhnya untuk mengikuti kemana Kevin pergi.
**
Mereka pun masuk ke dalam butik tersebut, Dinda hanya mengekori kemana Kevin berjalan. Ia tak mau terus bertanya, agar bisa mempercepat tahu bantuan apa yang Kevin inginkan.
"Baik, Tuan. Mari Nona, saya akan membantumu.." Ucap pegawai butik tersebut.
Dinda pun hanya mendelikan mata kesalnya kepada Kevin, namun sebaliknya Kevin hanya mengerlingkan sebelah matanya. Ia banyak menggoda Dinda hari ini.
Selang beberapa menit, Dinda kembali keluar dengan menggunakan baju yang telah ia pilihkan. Ia mendekati Kevin yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
"Pak Kevin, apa saya cocok dengan ini?" Tanya Dinda.
Kevin pun menoleh dan matanya tak berhenti menatap ke arah Dinda, ia pun tersenyum.
"Selalu cantik.." Pujinya, membuat wajah Dinda memerah menahan malu.
Dinda pun hanya melangkah pergi untuk berganti pakaiannya yang semula, Kevin hanya memandangi kepergiannya sampai bayangan Dinda tak terlihat.
__ADS_1
Ia sedikit tertegun dengan pikirannya mengenai Dinda, Aahh.. Apa Dinda membuatnya gil*?
Tiba-tiba ia di kagetkan dengan kedatangan dua wanita yang tak asing bagi Kevin.
"Kevin.. Ngapain kamu di sini?" Tanya Alisha.
'Apa Kevin menyiapkan gaun untukku? Aakkhh.. Dia seromantis itu 'kah? Ternyata di balik ketusnya dia, bahkan rela pergi pagi-pagi sekali demi memilih gaun untukku'. Gumam Amelia sambil senyum-senyum menatap Kevin.
Kevin tak menyahut pertanyaan Alisha, ia memang sedikit risih apalagi dengan dibarengi Amelia. Alisha hanya memijit keningnya, merasa kesal dengan sikap cuek anaknya tersebut.
Dengan secara kebetulan, Dinda keluar dari ruang ganti. Mata kedua wanita tersebut beralih ke arah Dinda yang berjalan mendekati Kevin.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Kevin dan di jawab anggukan oleh Dinda. Ia merasa tidak sedang baik-baik saja, melihat tatapan tajam dua wanita tersebut mengarah kepadanya.
"Siapa dia Kevin?" Tanya Alisa dengan wajah sombongnya.
"Saya sekretaris Pak Kevin.." Jawab Dinda terburu-buru, agar Kevin tak lagi membuat ulah.
"Saya tidak bertanya kepadamu". Balas Alisha sambil memalingkan wajahnya. Dinda hanya menunduk setelah ucapan ketus tersebut keluar dari mulut Alisha.
"Dia sekretarisku sekaligus calon istriku, Mommy paham?" Jawab Kevin. Dinda membulatkan matanya mendengar hal tersebut, apalagi Amelia yang nampak syok dengan ucapan tersebut. Ia menutup mulutnya tanda tak percaya dengan apa yang Kevin ucapkan.
"Apa? Kau gil*, Kevin. Kenapa kau menyakiti hati Amelia dengan menyebutnya calon istri? Kau tak menganggap Amelia?" Geram Alisha yang tak terima jika wanita tersebut adalah calon istri Kevin.
"Salahku dimana, Mom? Sebelum Amelia datang, aku sudah menjalin hubungan dengan Dinda. Jadi jangan buat keputusan apapun tentang masa depanku". Jawab Kevin.
"Bahkan dia nampak seperti wanita dari kalangan bawah? Ya, ampun.. Matamu kelilipan apa sampai tak sadar dengan penglihatanmu?" Cibir Alisha yang masih tak terima dengan perkataan Kevin.
"Kau benar Mom, mungkin aku kelilipan cinta. Sampai-sampai mataku hanya bisa melihatnya seorang". Balas Kevin, Dinda kembali terheran ketika kerandoman Kevin mulai terlihat. Apalagi di situasi yang sangat panas seperti ini. Dinda hanya menggeleng pelan kepalanya sambi memijit keningnya.
'Dia benar-benar tak waras..' Gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Amelia mendengar hal tersebut melongo tak percaya. Pasalnya, dulu saat bersama Elsa ia tak seberani ini. Ia lebih menuruti apa kata Ibunya, namun memang hatinya tak terbuka untuk Amelia. Entahlah, apa yang ada di pikirkan Kevin saat itu sampai ia tak ingin mendekati Amelia saat itu? Dia terlalu misterius.