
Setelah kejadian meyedihkan tersebut, Dinda menjadi pribadi yang pendiam dan dingin terhadap orang yang ada disekitarnya. Dinda yang periang kini menjadi Dinda yang pendiam.
Sementara Kevin yang memperhatikannya terlihat tak terima. Ia sudah menawarkan untuk mencari bukti melalui seseorang yang ia utus, tetapi Dinda menolaknya dengan keras. Ia selalu kekeh bisa mengatasinya sendiri.
Kevin yang masih meragukannya, memilih jalannya sendiri. Ia akan membalaskannya secara perlahan, ia sangat tahu betul sifat Dinda yang tak akan pernah menyimpan dendam dengan sungguh-sungguh. Hatinya terlalu lembut dan itu membuat Kevin kesal.
"Jack, kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Tanya Kevin.
"Iya, Tuan. Saya akan memantaunya mulai sekarang". Balas Jack.
"Ingat, secara perlahan.." Peringatan Kevin, yang di angguki olehnya.
**
"Kenapa pengeluaran kita besar sekali bulan ini? Dan lihat.. Pemasukannya pun malah sedikit, bisa-bisa kita mengalami kebangkrutan jika terus seperti ini". Ucap Dimas merasa frustasi dengan laporan bulanan yang disodorkan oleh sekretarisnya .
"Maaf Pak! Setelah di teliti, ternyata besarnya pengeluaran terjadi karena pemakaian dari kartu yang Bapak berikan kepada istri Anda". Jelas sekretarisnya dengan perasaan gugup.
"Bisa di lihat, di kertas berikutnya. Ada bukti pengeluaran Bu Lidya pada minggu-minggu ini". Sambung sekretarisnya. Dimas sangat heran, uang dengan nominal besar tersebut ia apakan? Apa sebegitu borosnya Lidya? Dimas pun bertanya-tanya dalam hatinya.
Dimas menggelengkan pelan kepalanya, baru saja beberapa minggu ia menikah dengannya tapi pengeluarannya bisa sebesar itu. Jika di bandingkan dengan dulu Dinda, ia jarang melakukan seperti ini. Apalagi di awal pernikahan, ia selalu meminta izin terhadapnya.
Aahh.. Memang benar, Dinda lagi Dinda lagi yang Dimas pikirkan. Wanita itu seakan tak ada habisnya di pikiran Dimas kali ini. Ada rasa penyesalan yang belum ia tuntaskan, meskipun begitu apa mau Dinda kembali padanya?
Jangan bermimpi Dimas, bersama Kevin saja ia tak kurang ajar. Apalagi mau bersamamu kembali ke jalan yang rumit, jawabannya pasti tidak.
"Nanti akan ku hubungi dia kembali, sekarang lanjutkan pekerjaanmu. Kita lanjutkan obrolannya nanti". Ucap Dimas yang menghela nafas panjang, benar-benar merasa frustasi.
**
__ADS_1
"Aku akan keluar kota. Aku ingin kembali pada orang tuaku". Ucap Viola yang merasa ketakutannya semakin membesar.
"Kau mau meninggalkanku? Jika kau pergi, lalu aku bagaimana?" Tanya Lidya dengan emosi yang menyulut.
Mereka kini tengah berada di restoran tempat kesukaan Lidya, ia dihubungi oleh Viola meminta pertemuan dengannya dan Lidya pun menanggapinya.
Tak bisa dipungkiri, wajah pucatnya terlihat jelas dimata Lidya. Ia sangat ketakutan mengingat kejadian tersebut. Meskipun ia jahat terhadap Dinda, tetapi ia tak memikirkan hal untuk menyakitinya dengan membunuhnya ataupun orang lain.
"Mereka tidak akan mencurigaimu jika tak mengetahui kau akrab denganku. Maka dari itu jika aku pergi, kau dan aku masih merasa aman. Kau ingat 'kan, Dinda tak bergeming saat kau memasuki pemakaman Ibunya? Itu berarti, dia kapok dan akan menjauhi suamimu tanpa membeberkan jika kita lah dalang dari semuanya". Jelas Viola.
"Jika aku mendapatkan suamiku, kau tak ingin bersama Pak Kevin? Dia kan pria yang kau incar". Balas Lidya.
"Meskipun aku tak mendapatkan Pak Kevin ataupun aku sudah tak bisa mendekatinya lagi karena sudah dipecat, itu tidak masalah. Dengan kematian Ibunya, itu sudah seimbang bukan?" Ucapnya dengan menyunggingkan senyuman tajam.
"Kau pintar sekali, lain kali kita bisa bekerja sama kembali". Jawab Lidya.
"Tak masalah, sekarang aku pamit".
Namun saat ia memasuki tempat parkir, seseorang membekapnya dengan kain yang sudah di beri obat bius.
Viola pun melemas tak sadarkan diri dan dengan sigap, seorang pria memasukannya kedalam mobil yang sudah tersedia di sana.
Dugaan mereka yang katanya aman, ternyata salah besar. Seseorang tengah merencanakan sesuatu untuk membongkar kebusukan mereka.
**
Malam pun beranjak begitu cepat, angin bertiup kencang seakan ingin menyapa dengan singkat. Hentakan kaki Dimas terdengar menuju rumahnya, dengan sedikit tersentak. Informasi sang sekretaris membuatnya geram dan ingin segera menemukan kebenarannya.
"Mas, kau pulang.. Aku sangat senang kau pulang ke rumah saat ini, aku merindukanmu. Kita bisa melakukan malam pertama yang gagal waktu itu, ya 'kan Mas?" Sapa Lidya dengan tak lupa memberi pelukan. Begitu percaya diri memang, ia belum memahami raut wajah suaminya yang terlihat marah.
__ADS_1
"Kau masih terlihat percaya diri seperti itu, setelah dengan seenaknya mengambil uang yang begitu banyak! Kau apakan uang itu?" Emosi Dimas pecah, ia tak bisa mengontrolnya kali ini.
"Maksud kamu, Mas?" Tanya ragu Lidya.
"Kau pura-pura tidak tahu? Dasar perempuan licik. Sekarang kembalikan uang tersebut. Jika kau tarik begitu banyaknya uang perusahaanku, bagaimana kedepannya nasib perusahaanku?" Cacinya membuat Lidya semakin ketakutan, tubuhnya gemetaran dengan sikap Dimas kini.
Bagaimana akan dikembalikan? Jika uang tersebut ia pergunakan untuk rencana busuknya dengan Viola. Ia mengira Dimas akan sebaik dulu yang memberinya apapun meski itu barang mahal sekali pun.
"JAWAABBB!!" Bentaknya.
"A-aku sudah memakainya, Mas. Maafkan aku, Mas". Jawab Lidya.
"Sudah di pakai ya? Kau terlalu mengerti ternyata jika urusan duit. Sekarang kau jawab jujur, sudah kau pakai untuk apa uang sebanyak itu?" Tanya Dimas lagi dengan seringaian jahatnya, membuat Lidya semakin ketakutan. Apalagi kini tangannya mencengkram pipinya dengan kuat.
"A-aku memakainya u-untuk emmhh.. A-ayah dan Ibuku membutuhkannya untuk perusahaannya, ya benar. Untuk modal mereka". Jawab Lidya berbohong.
Lidya pun di hempaskan begitu kasarnya ke atas sofa yang mewah tersebut. Ia meringis kesakitan, namun Dimas tak menghiraukannya.
'Ya ampun, sialku ternyata belum usai'. Benak Lidya berkata sambil mengusap-usap pipinya yang terasa sakit.
Dimas membulatkan matanya yang kini berwarna merah, ia pun menghampirinya kembali dan merapatkan jaraknya semakin dekat.
"Kau mengorbankan perusahaanku demi modal untuk perusahaan Ayahmu? Kau memang cerdik Lidya. Cerdik juga licik". Bisiknya tepat di dekat daun telinganya.
Dimas sangat murka kini, ia memecahkan barang yang ada di dekatnya. Semua barang yang ada di ruangan tersebut tak ada yang tersisa, semuanya rusak akibat kemarahan Dimas.
Namun Dimas tak menyadari saat Lidya pulang larut malam, saking emosinya ia sampai tak bisa memikirkan hal apapun. Yang ada di kepalanya hanyalah kemarahan.
Dimas pun segera keluar kembali, ia membanting pintu begitu keras. Meninggalkan Lidya yang ketakutan.
__ADS_1
"Kau benar Bu, Pak.. Aku meninggalkan berlian demi batu kerikil. Aku sangat menyesali semuanya. Kau pasti menertawakan ku Bu, Pak.. Aku menyesal, sangat menyesal". Lirih Dimas sembari mengemudikan mobilnya kembali, yang tak tahu arah tujuannya kini.