
بسم الله الرحمن الرحيم
...Selamat membaca.....
...Dan jangan lupa menjaga kesehatan......
...+++...
Hanna sedang duduk disalah satu bangku taman depan fakultasnya, ia duduk sendiri karan memang tidak memiliki teman dia juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Bisa kuliah saja diuniversitas ternama ini ia sudah luar biasa bangga. Hingga ia merasakan ada seseorang yang duduk disampingnya, ia menatap seseorang itu yang ternyata orang yang ia kenal.
“assalamu’alaikum adik kecil” sapanya ramah, yap Dimas si wajah oriental salah satu mahasiswa terkenal karna ketua rohis di kampus ini.
“waalaikumsalam warahmah” jawab Hanna dan duduk bergeser memberi jarak, ia merasa tidak nyaman jika duduk terlalu dekat, dan kak Dimas dia malah tersenyum dengan pengertian ia berpindah duduk didepan Hanna.
“aku ingin meminta bantuan sepulang kuliah nanti jikakamu tidak beratan?”
“gak akan keberatan kak.. kan kakak gak nyuruh aku gotong beras.” candaku sesekali menyuapi nasi capcay yang aku bawa, bahkan saat aku memakannya pikiranku teringat pada si es balok tak berperasaan itu yang begitu lahap memakan capcay buatanku membuatku tersenyum mengingatnya.
“Hanna hei.. Han..!” panggilan itu mengintrupsi pikiranku yang asik mengingat tentang es balok tak berperasaan itu. Membuatku gelagapan.
“hei.. kamu melamun?” tanyanya, aku hanya menggeleng.
“oh ya kak.. makan.. he.. telat aku nawarinnya.”
“makan aja.. aku juga lagi nunggu pesanan” jawabnya.
Tak lama kemudian orderan gojek datang ternyata milik kak Dimas. Dia memesan bento dari restoran yang melayani bekal makan siang.
“sebenernya aku pengen nyobain capcai buatanmu Han.. karna saat kali pertama aku makan itu rasanya sangat enak.. atau kalo gak kita tukar aja makananmu dengan makananku mau ya” tawarnya dengan wajah berharap, Hanna memikirkan hal itu dan tertawa.
“lah kok malah ketawa?” tanya Dimas heran.
“gak salah nukar makanan kakak yang mahal sama makanan aku yang begini?
“Alah yang penting perut aku kenyang.” Tanpa persetujuan Hanna, Dimas menarik bekal Hanna yang isinya masih banyak lalu mendorong makanannya sendiri didepan Hanna membuat Hanna melongo.
“kak itu bekas aku loh..”
“kayak aku gak perah begitu sama kamu.. udah nih makan..!” bahkan Dimas juga menggunakan sendok yang Hanna kenakan membuat Hanna merasa tidak enak dengan Dimas.
“udah makan Han.. kasian makanan didepan kamu itu nangis loh!” suruhnya memelas agar Hanna memakan makanannya.
Hanna mengangguk patuh ia membuka tutup bening itu. Kotaknya memanjang dan disetiap kotak terdapat pemisah dengan tempat khusus, bagian besar berisi nasi merah, lalu udang hokben dengan selada sebagai lapisan bawahnya, tumis brokoli, buncis, wortel dan sosis. Dibagian paling kecil ada tomat buah.
Walau sejujurnya hal ini sering kali terjadi, tapi Hanna merasa sama sekali tidak nyaman, bahkan makanan yang ia bawa sama sekali jauh dari kata wah dari bento yang Dimas beli.
__ADS_1
“kak…!”
“makan Hanna.. cepetan entar lagi bel masuk nangis bener tuh makannya!” titahnya.
‘yallah ini enak banget.. ih kak Dimas kok mau sih makan punyaku.. sedangkan ini lebih enak’ teriak batin Hanna saat memakan udang hokben yang hanya mampu ia hayalkan. Karna mana mampu orang sepertinya memakan-makanan seperti ini, apalagi nasi merah, nasi putih saja sudah untun ia masih mampu makan.
Hanna kembali kekelas dengan hati riang akan teraktiran Dimas yang memanjakan perutnya.
“seneng banget gak sih.. temenan sama orang kaya….makanan gratis yang enak banget.. yang bahkan gak sanggup walau hanya membayangkan” sindir seorang gadis satu fakultasnya.
“ia dong Sei.. gimana gak.. lah itu aja makanannya mahal banget dibeli dilestoran termahal, eh.. di Dimas malah makan bekal kampungan makanan desa yang iuh.. jijik gak sih” sambung satunya lagi.
Seira dan Nina seperti biasa jika ia sudah kembali dari makan siang bersama Dimas, tak hanya mereka anggota geng yang berisi 4 orang itu walau beda fakultas dengan Seira dan Nina akan membullynya disaat waktu istirahat, namun yang paling sering keduanya karna satu FK dengannya. Hanna hanya mampu menghela nafas dan duduk tenang dibangkunya, menunggu profesor datang.
“dasar gak tau malu.. ck.. bukankah sama aja dengan pengemis berkelas” lanjutnya beluem selesai.
“yah bener.. oh atau kita ikutan sedekahin dia aja Nin.. kasian nin.. biar dia sama kakeknya sesekali bisa makan enak” keduanya tertawa heboh berdua sedangkan mahasiswa yang lain memandang mereka jengah, terbiasa dengan sikap mereka, bahkan terkadang ada beberapa anak kelas menegurnya dan itupun yang berani karna yah taulah sistem kasta.
“ck.. kalian bicara seperti sudah bisa menghasilkan uang sendiri, bahkan aku yakin sekali kita juga pengemis berkelas, kenapa karna sebagian dari kita sangat mungkin masih mengemis uang dari orang tua, jadi sesama pengemis diam saja!” ujar seorang gadis yang Hanna kenal dengan nama Aisyah, gadis berhijab gaul yang memiliki kepribadian jutek dan dingin namun baik dengan caranya tak banyak bicara namun sekalinya bicara lihat.
Ia duduk disamping Hanna dan ini kali pertama selama perkeluhian berlangsung dan mereka selalu satu kelas tak pernah sekalipun Aisyah melakukan hal itu. Pakaiannya selalu modis dan jelas salah satu anak pengusaha terpandang seIndonesia. Perkataan Aisyah mampu membungkam Seira dan Nina.
“eh lo.. gak usah dipikiran.. disini lo belajarkan.. jadi biar aja tadi ada anjing kelaparan makanya begitu” bilangnya pada Hanna, Hanna yang hanya diam karena terkejut, iapun hanya mengangguk.
“bagus..!
Perkuliahan selesai, Hanna sudah hendak keluar dari kelas namun Aisyah mencegat langkahnya.
“tunggu dong.. bareng gue aja yuk pulangnya!” ajaknya, membuat Hanna mengerjapka mata lambat.
“sa..ya..?” tanyanya gagap merasa tidak percaya.
“heum.. ayo.. gue tau kok lo selalu diantar kakek lo dan dijemput di halte desa lo”
“kok..?”
“kan rumah gue ada dikawasan jalan raya itu jadi gue tau.”
“tapi saya masih harus bantuin kak Dimas..”
“udah selesai, gue yang urus… mending kita pulang sekarang..! gue pengen main kerumah lo juga.” jawabnya, tanpa tendeng aling ia menarik lengan Hanna tidak kuat namun mampu membawa Hanna mengikuti langkahnya.
“kamu naik motor dari sana? Bukanya jauh.”
__ADS_1
“gak gue lebih suka naik motor dari pada naik mobil.” Jawabnya, ia menyerahkan helm pada Hanna dan Hanna menerimnya, bahkan jujur saja dia bingung memasang tali pengaman helmnya, membuat Aisyah gemas dan berinisiatif membantu tak lupa dengan perkataannya yang terbilag lugas dan blak-blakan.
“kampungan banget sih lo. .. pasang gituan aja gak bisa..!” ucapnya tak percaya masih saja ada manusia yang tidak tau memakai helm, ‘untung tuh gak terbalik pakeknya’ gumamnya dalam hati.
Tuutut… tututut (suara dering ponsel jadul)
“saya angkat telfon dulu.” ijinnya sopan, ia menatap no. ponsel yang sama sekali tidak ia kenal. ‘bismillah semoga bukan no. si rentenir itu’ batinnya berharap.
Hanna : Hallo
No. new : apakah benar ini no.. nona Hanna cucu dari kakek Fatah?”
Hanna : ia.. benar ini saya.. mbk ini siapa ya?”
No. new : saya dari bagian resepsionis rumah sakit.. kakek anda berada dirumah sakit Healing Medice apakah anda bisa kesini?”
No. new : hallo.. hallo.. nona Hanna.. hallo…
Hanna berharap ia salah dengar, apa yang ia dengar barusan hanyalah sekedar hembusan angin yang lewat tanpa badai. Tapi.. ia mencoba tak percaya namun kakinya memang menapak di bumi.
“han..!” panggil Aisyah, air matanya telah jatuh membasahi pipi namun pandangannya kosong. Aisyah yang tidak tahan langsung merebut ponsel Hanna dan menggantikan Hanna berbicaradengan entah siap itu, dan ia terkejut akan hal itu dan tau apa yang menyebabkan Hanna menjadi serapuh ini dimana kali pertama ia melihat sosok Hanna yang ia kenal 3 tahun belakangan ini yang ceria, ramah, selalu murah hati dengan pertolongannya tanpa pamrih. Kini mata itu begitu rapuh dan kosong.
...TBC...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
..........
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
^^^Terimakasih....^^^
^^^Jangan lupa dukungan kalian ya sobat.....^^^