BLACK PEARL

BLACK PEARL
BAB 32


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


.......


.......


.......


...Selamat membaca...


.......


.......


Aku mengerjapkan mataku pelan hingga terbuka, kurasakan hangat tubuhnya yang memelukku erat, aku menyukainya tentu saja. Kupandangi wajah cantiknya yang selalu membuat aku damai, mencium keningnya dengan segenap perasaan yang tak aku tampik lagi. Lalu kembali menatapnya yang masih pulas dalam tidurnya, begitu damai dan lucu. Hingga aku melihat mata itu menggeliat membuatku mengangkat kepala dan menempatkan diatas pucuk kepalanya.


Tak ingin tertangkap basah jika aku sedang memperhatikannya. Namun ia menemukanku yang sudah membuka mata ia langsung bangun dan siaga mengecek suhu tubuhku membuatku tersenyum tipis, melihat betapa perhatiannya dia. Lalu dia bertanya apakah sudah adzan dan aku jawab ia, dia ingin beribadah pada tuhannya tentu saja aku tidak akan pernah menghalanginya tentang kewajibannya itu. Karna sejatinya mengamati dirinya saat melakukan gerakan ibadah itu, berdoa dan mengaji membuat hatiku damai dan tentram melihatnya.


Aku mengikuti semua gerakannya dengan mataku, seakan aku terhipnotis akan keindahan gerakan shalat itu. Selesai shalat dia berdoa kemudian menatapku dengan senyumnya yang indah memuat jantungku berdegup senang. Ia naik kekasur dan aku terlentang menatapnya.



“mau mendengarkan aku mengaji?” tanyanya, aku mengangguk semangat, sangat ingin mendengarkannya, aku rindu bacaan indah itu apalagi ditambah suaranya yang merdu.



“okey listen !” ujarnya dan memulai bacaannya seraya memejamkan mata menghayati bacaan yang ia hafal, aku takjub akan dirinya menghafal sebuah kitab yang tebalnya lumayan dan penuh satu halaman. Selesai mengaji aku terkesiap membeku saat ia mendekati wajahnya pada wajahku, dan jantungku meronta-ronta saat ia mengecup keningku lama berbisik lembut padaku disertai doanya untukku.



Hingga jantungku bekerja diluar batas, jika diibaratkan boom cherry dia akan meledek dalam hitungan detik. Karna apa , pernyataan cintanya untuk kedua kali. dia terlihat malu setelah mengucapkan itu lalu pergi darikamar. Aku terkekeh sebentar lalu meraba jantungku yang masih berdetak menyimpan pengakuan cintanya dalam lubuk hatiku terdalam. Memejamkan mata meresapi detak itu memang cepat namun anehnya ini menyenangkan, membahagiakan, campur aduk deh pokoknya tak bisa aku jelaskan. Karna ini perasaan asing yang kali pertama aku rasakan. Karna siapa , karna dia istriku Hanna.



Dia kembali kekamar membawa nampan berisi dua cangkir madu hangat dan sepiring kecil berisi kurma. Makanan dari negara timur tengah sana. Ia duduk disampingku membantuku bangun dengan menumpuk bantal agar aku dapat bersandar dengan nyaman. Lalu ia menyerahkan mug berisi madu hangat dimana uap panasnya masih mengepul. Saat aku hendak menyesapnya dia mencegat tanganku, aku menatapnya dengan satu alis terangkat.



“doa dulu dong Kak Rys.!” ingatnya dengan tersenyum.aku hanya diam



“ikutin aku ya.. bismillahirrahmaanirrahiim” aku mengikutinya dengan suara lirih karna jujur saja tenggorkanku sedikit serak. Lalu aku memperhatikan dirinya minum meneguk tiga kali lalu mengucap “Alhamdulillah” setelahnya ia mengelap bibirnya sendri dengan lidahnya, dan sedikit mengulumnya sebentar. Lalu menatapku cerah.



“huh.. hangatnya.. manis enak loh Kak” ucapnya.


Lalu aku menyerbunya dengan bibirku pada bibirnya, ingin merasakan manisnya madu ini dengan benar, dia diam tak membalas bibirnya kaku, tentu saja karna aksiku memang mendadak dan aku tak peduli. Karna aku menikmatinya. Setelah serasa kita sama-sama membutuhkan nafas aku melepaskannya, menyeka bibirnya yang sedikit bengkak dan bertambah merah. Lalu menatapnya yang dimana pipi cubbynya itu memerah.


“yap… sangat manis.. Alhamdulillah” ucapku meniru ucapan syukurnya tadi lalu tanpda dosa aku meminum madu hangat ini, sangat hangat dan nyaman ditubuhku seperti rasa bibirnya yang manis melebihi madu dan itu canduku, selain hidung, kening dan rambutnya. Aku terkekeh dibalik gelas saat melihat dia yang mengipasi wajahnya salah tingkah, lalu mendaratkan pukulan ringan didadaku.



“kebiasaan deh!” tegurnya namun ekpresinya tak merasa keberatan. Setelah kita menghabiskan 3 butir kurma, aku mengajaknya tidur, karna aku merasa masih sedikit pusing, dia meng iakan dan kami kembali tidur dengan berpelukan.


-----------


Kami sedang berada kembali dikamar kami, dia baru saja selesai mengerjakan shalat dzuhur. Dia duduk disampingku dengan kepalaku berada diatas pangkuannya. Sangat nyaman dan aku menjadikan ini posisi berbaring ternyaman. Dia mulai mengenalkan tentang islam padaku menceritakan apa yang ia tau dan sesekali aku menimpalinya dengan pertanyaan.



“bagaimana kamu bisa seyakin itu tentang tuhan yang kamu maksudku allah?” tanyaku, kini aku menatapnya serius. “dia tak Nampak bagaimana bisa kamu yakin dia ada? Tanyaku lagi.


__ADS_1


“eum.. apa kamu yakin aku mencintaimu?” dia balik bertanya.



“ tentu saja. Dan aku yakin akan hal itu”



“bagaimana bisa kamu yakin? Tanyanya.



"Tentu saja keyakinan itu datang dari hatiku?” jawabku.



“bingo. Kamu saja bisa yakin akan cinta padahal dia tak terlihat, bentuknya saja ambigu, berbentuk hati, padahal hati manusia tidak berbentuk seperti itu. Begitupun keyakinan aku padanya. Aku yakin dia ada karna itu berasal dari hatiku terdalam. Percaya itu dibangun dari sini (mengusap dadaku), dan dipupuk dengan ketaatan agar kepercayaan itu tidak pudar. Kita bisa merasakan kasih dan cintanya melalui segala kenikmatan yang dia beri, lihat mataku.. apakah  kamu mampu membuatnya indah seperti ini, dan berfungsi baik seperti ini?” tanyanya, tentu saja tidak, aku menggelengkan kepala.



“tentu tidak, allah yang menciptakannya makanya begitu indah dan berfungsi dengan baik, sedangkan manusia allah subhanahu wata’ala memberi kita pengetahuan sehingga ada beberapa orang yang mampu memperbaiki kerusakan. Dan dari manusia juga kerusakan itu berasal.” Jelasnya terdengar masuk akal dan memang benar.



“lal…” ketukan dari pintu kamarku mengurungkan niatku untuk bertanya lagi. Aku berteriak sebal, siapa yang mengganggu Quetime kita.



“siapa?” tanyaku.



“aku!” itu suara Anthony. Aku menatapnya dan dia sudah sigap dengan hijab instannya itu, benar dia tak bercadar didepan paman Anthony, namun didepan Daniel jangan harap aku metoleransi hal itu.




“ada apa?” tanyaku saat dia sudah masuk, dan istriku melambaikan tangannya pada paman Anthony yang mengernyitkan mata sebagai tanggapannya. Membuatku mendengus sebal.



“keluarga anda dalam perjalanan menuju kesini” beritahunya membuatku sontak menatapnya terkejut.



“abi.. dan ummii?” tanyaku memastikan, dia mengangguk.



“beserta nona, Alina dan tuan Alan” jawabnya setelah itu dia pergi, aku terdiam dengan pemberitahuannya yang tiba-tiba, kenapa mereka tidak mengabariku lebih dulu, hingga pintu kamarku terbuka lebar dan seseorang berlari kearahku tidak lebih tepatnya pada Hanna istriku yang menatapnya bingung.



“kakak ipar.. huh cantiknya… ck.. jahat sekali sih kabir\* gak bawa kakak ipar kerumah kita” berondongnya.



“sayang, kakak iparmu pasti terejut, perkenalkan dengan baik nak!” tegur wanita yag begitu mencintaiku setelah ibu, dia sama sekali tidak membeda-bedakan aku dengan Alin ataupun Alan, namun aku yang sadardiri bukan bagian resmi dari mereka memilih pergi dan hal ini sempat ditentang dan aku tetap pada pendirianku tinggal sendiri. Ia menaiki kasur lalu membawaku dalam pelukan.



“ummi rindu” ucapnya lirih, aku membalas pelukannya, yang juga aku rindukan. Lalu mengurai pelukan dan ummi menatap hangat Hanna.


__ADS_1


“pasti menantu ummi.. apakabar nak?" Tanyanya. Hanna masih terdiam sepertinya dia sochk hingga aku menyenggol pelan lengannya. Dia tergagap dan mengucapmaaf, ummi dan Alina tertawa.



“alah kau Al.. sok-sokan sakit.. pengen dimanjain istri ya bilang, pakek pura-pura segala” suara bass yang khas, dan terlihat sosok tinggi tegap yang tak lagi muda  dia Abi adik ayahku.



“ck.. memang sakitlah” jawabku tak terima. “kalian datang tiba-tiba membuat istriku bingung lihat.” Tunjukku pada semua orang yang tertawa melihat tampang bingung Hanna.



“suruh siapa kamu tidak pernah membawanya kerumah!” protes ummi lalu berpindah duduk dengan melewatiku, duduk didepan Hanna dan menggenggam tangannya.



“eh.. mereka yang difoto itukan?” bisiknya padaku namun terdengar cukup keras, dan aku mengangguk.



“yaampun maaf paman bibi, saya tidak tau kalian akan datang jika tau aku akan menyambut kalian.” Ummi terkekeh lalu membawa Hanna dalam pelukan.



“tak perlu nak.. kami senang dia menjadikanmu istri.. cuman anehnya kenapa kau mau dengannya?” Tanya ummi Heran membuat dia menunduk malu. Sedangkan aku berwajah membanggakan diri seolah berkata ‘karna aku ganteng.



“Hanna. Dia Alina putri bungsu ummi dan abi dan Alina dia Hanna” ujarku memperkenalkan mereka. Alina tersenyum lalu mencium punggung tangan Hanna yag sedikit tidak nyaman.



“salam kenal kakak” sapanya ceria.



“eh.. salam kenal juga.” jawabnya tak kalah ramah. Dia menyalami ummi lalu bangun menyalami abi.



“eh silahkan duduk!” ucapnya kikuk membuat abi terkekeh dan menepuk pelan pucuk kepalanya.



“tak sudah gugup begitu nak.. duduklah lagi, dan ya.. jangan panggil kami paman dan bibi, tapi panggil kami abi dan ummi!” pintanya dan Hanna mengangguk kaku, dia masih saja gugup, salahku juga kenapa tidak mengenalkan dia pada mereka lebih awal. Namun setelahnya dia telah berbaur dan lebih nyaman dari sebelumnya.


...TBS...


.......


.......


.......


.......


...Terimakasih, sudah mau membaca cerita sederhana ini.. He..he.....


.......


.......


...Jangan lupa dukungan berharga kalian ya sobat untuk kemajuan cerita ini he..he.....


...With love....

__ADS_1


__ADS_2