BLACK PEARL

BLACK PEARL
EPILOGE


__ADS_3

...بسم الله الرحمن الرحين...


.........


Mutiara itu kini bersinar terang dibawah pantulan cahaya, terlihat begitu indah dan elegant dengan karakteristiknya yang langka dan memukau. Mutiara dengan sejarah kelam kini menemukan kebahagian, tak ada lagi si mutiara pekat dan penuh kesuraman. Dia begitu bercahaya dengan teman hidupnya. Hidup bersisian bersama sang mutiara putih saling melengkapi untuk tetap bersinar. Ditemani mutiara-mutiara kecil nan lucu sebagai pelengkap kehidupan mereka. Saling berbagi dalam masalah, duka, bahagia dan tawa. Karna sejatinya dalam hidup selalu menemukan pelangi. Tak  ada manusia yang tidak merasakan warna kehidupan sebagai pengiring langkah menuju kehidupan yang hakiki di akhirat kelak.


Tidak akan ada yang bisa menyangka apa yang akan terjadi dimasa depan msekipun seorang peramal handal yang katanya mampu menebak kehidupan. Tidak akan ada yang tau akhir dari kehiupan karna dalam fase didunia ini adalah dimana kita masih berada dalam tahap awal perjalanan, kedua alam istirahat sejenak bagi orang yang beramal dan fase kedua kehidupan bagi orang yang tidak beramal soleh didunia. Tidak ada yang menyangka bahwa kedua manusia dengan emosi yang bertolak belakang dipersatukan tuhan dalam ikatan halal diwaktu yang tidak bisa diduga siapapun. Dan lucunya mereka menikah atas dasar keterpaksaan tidak ada cinta. Dan hidup memang kadang bisa selucu itu dan saking terkesimanya selalu ada kata "kok bisa" dari gambaran perasaan ketidak percayaan kita. Dan itulah salah satu warna dunia.



Dia yang tidak pernah berencana mmeiliki teman dalam hidupnya bahkan teman-teman kecil yang kerap kali membuat hatinya berbunga. Membuat ia bersyukur atas limpahan rahmat yang telah tuhan berikan padanya. Benar.. benar sekali… manusia hanya bisa berencana namun allah sang penentu hakiki dalam rencana terbaiknya untuk manusia..


+++++


Hanna selesai menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya yang sedang berolah raga di tepi kolam, ayah dan anak itu begitu kompak hari ini, ba’da subuh biasanya duo krucil yang sudah bertmbah umur 4 tahun 4 bulan lalu bertepatan dengan annyverserry mereka yang ke 5 tahun.



“mbok, sudah mau pulang?” Tanya Hanna, karna katanya si mbk art dirumahnya ada hajatan gitu Hanna sekeluarga diundang nanti malam, tepatnya pernikahan putrinya.



“ia neng… gak papa teh.. saya pulang dulu?”



“gak papa dong mbok… sekalian bawa makanan juga buat makan dibus mbokkan belum sarapan… saya kebelakang dulu ya mbok.. mau panggil yang lain.” pamitnya yang diangguki sopan oleh si art rumah.



Hanna mengintip dibalik celah pintu menuju kolam belakang, ia tertawa melihat kelakuan duo gembul yang menaiki punggung ayahnya yang sedang melakukan push up.



“ayo bos… telus….!”’’ Pekik Ibrahim kencang saat sang ayah mulai naik.



“ia.. ayah.. ayo.. semangat…!” sang adik Abraham tak mau kalah ia tergelak saat ayahnya berayun keatas kebawah. Alardo tidak bisa melihat Hanna karna posisinya Alardo membelakangi Hanna, jadi saat Hanna mendekat dan memberi isyarat ada putranya agar tidak memberi tahukan pada ayahnya jika dia datang. Hanna menunduk dan berbisik pada kedua putranya yang diangguki setuju.



“bunda juga mau dong bang.. dek… naik dipunggung ayah.” bisiknya.



“boleh bunda.. kita udahan udah capek.” jawab mereka. Mereka turun dan melangkah kebelakang agar tak terlihat oleh Alardo yang sepertinya begitu focus, sedangkan Hanna  sudah menggantikan posisi duo gembul itu.



“kok kalian tambah berat sih nak?” gumam Alardo saat dirasa punggungnya tambah berat.


__ADS_1


“kalian gak ngajak Chiko naik juga kan..?” tambahnya lagi. Siapa Chiko itu si kucing berwarna abu-abu kucing ras Norwegia permintaan sikembar yang tidak pernah bisa ia tolak apalagi memberikan jurus ampuh dengan wajah imutnya itu. Hanna terkikik geli dengan membekap mulutnya agar tawanya tak terdengar oleh Alardo.



“aduh ayah udah capek.. udahan ya…?” Hanna tetap tak bergeming. Walaupun Alardo sudah tengkurap sempurna diubin lantai.



“kalian udah berat loh nak…”keluhnya  halus.



“jadi maksudnya bunda tambah berat ayah… gemuk gitu?” akhirnya Hanna membuka suara membuat Alardo terkejut lalu menoleh kebelakang semampunya.



“loh kok….?”


“kenapa?” Tanya Hanna dengan wajah cemberut.



“aku pikir duo gembul loh bun… pantesan tambah berat’ gumaman terakhir masih mampu Hanna dengar. Dia mencebik kesal seakan dia begitu berat. Ia menatap perutnya yang terlihat menyembul jika duduk walau masih kecil, mengusapnya pelan dan berkata.



“bunda dibilang tambah berat nak… ayah gak sadar siapa yang buat bunda tambah endut.. kan lagi hamil kalian… yaudah nanti kita cari ayah baru.. yang gak ngeluh berat sama bunda saat hamil kalian.” Ujarnya membuat mata Alardo membulat. Hanna turun dari sana dan hendak pergi namun dia kalah cepat dengan Alardo yang sudah menariknya hingga jatuh terduduk dipangkuannya. Ceritanya mereka sedang lesehan di pinggir kolam.



“maksudnya tadi apa deh … ayah gak paham bun.”tuntut Alardo dengan lengan merangkul erat pinggang Hanna agar tidak lepas darinya.



“apa.. maksud yang mana.. bunda tambah gendut. Berat jugakan.” sensinya. Ia lantas memalingkan wajah tak mau menatap Alardo.. dia jadi mood swing… sekarang bawaan bayi mungkin ya’ pikirnya.



“sayang…” pintanya memelas.. ia sangat yakin tak salah dengar tadi. ‘aku gak salah dengerkan tadi?” tanyanya memastikan, memalingkan paksa wajah Hanna dengan lembut agar menatapnya. Hanna tersenyum kecil manatap mata biru yang begitu amat penasaran itu. Hanna mengambil sesuatu dibalik saku lalu memberikannya pada Alardo. Alardo melepaskan belitannya dan mengambil apa yang istrinya berikan. Sebuah tespack dan foto usg dengan dua titik buram disana. Ia menatap hal itu bergantian dengan menatap Hanna. Matanya berkaca-kaca lalu memeluk sang istri.



“Alhamdulillah…” syukurnya. Keluarganya akan bertambah anggota baru. “kembar lagi bun?” Tanya Alardo pelan, kini keduanya saling bertatapan. Hanna mengangguk kuat lalu mengusap perutnya yang tertonjol.



“umurnya masih muda ayah.. 12 minggu.. he.. seperti biasa aku telat taunya sampai dokter Tari menggelengkan kepala tak percaya padahal dua kali hamil tapi telat taunya.. untung yah.. mereka kuat” jelasnya. Alardo tersenyum.. ia ikut mengusap perut sang istri disana ada calon buah cintanya bersama dengan mutiaranya yang indah ini.



“calon mutiara ayah ini.. mutiara ayah dan bunda…” bisiknya lirih dan mencium perut Hanna hingga.


__ADS_1


“ayah jangan.. peluk-peluk bunda..” teriakan kedua rivalnya yang tidak pernah mau kalah. Hanna dan Alardo tertawa saat keduanya berlari dan duduk didepan mereka. Hanna turun dari pagkuan Alardo dan duduk bersila. Mereka saling berhadapan.



“tadi ayah apain bunda itu?” todong Abraham dengan ata menyepit pintar sekali. Alardo yang gemas mencubit hidung sang anak yang sudah kelihatan seperti dirinya.



“disini.. kalian tau … disini… ada calon adik kalian” beritahu Alardo seraya menepuk pelan perut Hanna, ekspresi anak kembarnya itu datar alisnya mengernyit tak mengerti.



“adik… mana.. kok gak kelihatan?” Tanya Abraham bingung.



“hooh.. adik itu kayak punya Maira kan yah?” Tanya Ibrahim


memastikan, dan kedua orang tua itu mengangguk, Hanna gugup akan tanggapan yang diberikan kedua anaknya.


“nanti perut bunda akan besar.. setelah itu adik kalian bakalan lahir… yang akan abang dan adik jaga dan sayangi… seperti kalian sayang sama adik Alen”  kedua anaknya masih terdiam, mengerjap lucu namun setelahnya mereka tertawa dan bertepuk tangan membuat Hanna dan Alardo mendesah lega Alen anak Lena dan Alan. Dan berteriak.



"Yeye.. punya adik.. yeye punya adik’ girang Abraham, namun Ibrahim hanya tersenyum tipis dan bertepuk tangan, Hanna yang semula lega mendesah lirih saat melihat ekspresi putra sulungnya seakan memendam sesuatu putra sulungnya memang lebih pendiam seperti sang ayah dan suka memendam sesuatu sepertinya. Hanna mengembil tangan Ibrahim kecil lalu membawanya kepermukaan perutnya dibalik gamis.



“abang… adek disini… abang sayang adek.. dan adek.. sayang abang.” ucap Hanna dan menatap mata biru kecil yang jernih seperti langit yang indah Ibrahim juga menatap mata coklat Hanna dengan mata berkaca-kaca.


Hanna tak tahan dan membawa putra sulungnya dalam pangkuan ia dekap dan benar putra sulungnya menangis. Hanna hanya diam membiarkan putranya menangis meluapkan apa yang ia pendam sendiri. Alardo membawa Abraham yang juga menangis dalam gendongan. Perasaan anak kembar memang begitu saling terikat. Ikatan batin mereka luar biasa. Alardo dan Hanna saling tatap. Mereka saling bicara lewat isyarat, sejujurnya Hanna juga masih ingin menunda menunggu kedua putranya berumur 5 tahun.. namun rezeki sudah allah kasih masa harus ditolak. Dan ini tantangan sekaligus pelajaran baru bagi Alardo dan Hanna untuk membuat kedua putranya mengerti dan berkomitmen dalam hati agar tidak terlalu focus dengan adik mereka dan melupakan mereka karna terlalu focus. Apalagi mereka sama-sama anak tunggal yang tidak tau bagaimana rasanya kawatir dan gelisah akan kedatangan anggota baru.


Terkadang seorang anak belum tentu bisa menerima kehadiran anggota keluarga baru, dan sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mmebuat mereka mengerti tanpa memaksa.


...Tamat...


.........



...Alhamdulillah......


...Tamat juga...


...Jazakallah untuk kalian semua yang sudi membaca karya yang masih amatir ini...


...Insyaallah jika ada kesempatan akan di revisi menjadi lebih baik lagi, baik dari segi tanda baca,typo dalam tulisan dan lainlain....


...Pokoknya makasih banyak buat kalian ya.....


...Salam cinta dariku...


...skyabright...

__ADS_1


__ADS_2